FRIENDS WITH BENEFITS

FRIENDS WITH BENEFITS
Coffee Shop


__ADS_3

"Wita!"


Azzura dan Raka bergerak dengan sangat cepat, setelah semuanya selesai merapikan diri, Raka berdiri di balik pintu. Azzura merapikan kembali rambutnya lalu membukakan pintu untuk Wita.


"Ta?" Azzura membuka pintu dengan ekspresi wajah yang di buat seakan baru saja bangun tidur.


"Kak Zurra liat Kak Raka?"


"Hah? nggak ... kenapa? Bukannya Wita pergi tadi ke rumah Jenna?"


"Nggak jadi, Wita nggak ikut pasti nanti lama, jadi tadi cuma ke toko empek-empek di perempatan. Nih buat Kakak, makan yuk ... enak loh, kita abisin aja kalo Kak Raka nggak ada," ujar gadis itu dengan kepala yang bergerak kesana kemari mencari tahu keberadaan Raka yang mungkin saja ada di dalam kamar.


"Eh, mau dong ... aku mau rasain empek-empek Bangka, sama nggak sih dengan empek-empek Palembang?" Azzura keluar dari kamar dan menutup pintu itu rapat-rapat.


Raka sedikit bernapas lega. "Ganggu aja," gerutu Raka lalu perlahan membuka pintu kamar dan memastikan jika keadaan sudah aman.


"Darimana, Kak?" tanya Wita saat melihat Raka mendekati meja makan.


"Tidur," jawab Raka sekenanya.


"Tidur? dimana?"


"Ya di kamar lah, masa di rumah tetangga." Raka meraih satu empek-empek bulat dan mencampurnya dengan cuka. "Ini yang di perempatan ya?"


"Iya, sekarang yang jualan anak gadisnya, dia bilang si Koko kena stroke."


"Oh ...."


"Langganan kalian?" tanya Azzura.


"Iya, dari jaman aku SD udah ada di sana, selalu rame ... anaknya pinter-pinter lagi, ada yang di luar negeri kalo nggak salah."


"Oh ... sekolah?"


"Nggak." Raka masih asyik mengunyah bahkan sudah mengambil lagi satu pempek yang berisi telur dengan ukuran besar.


"Nggak sekolah, terus ngapain?"


"Jualan empek-empek juga lah."


"Ish ...." Azzura menepuk bahu kekasihnya yang sedang tergelak. "Bedanya dengan empek-empek Palembang apa?"


"Sama aja kalo kata aku," ujar Wita. "Enak semua."


"Kenapa?"


"Nggak kenapa-kenapa, istrinya Abang Ar pinter bikin empek-empek, dulu jaman dia pedekate sama Abang, suka bikinin Mama Cha-Cha empek-empek ... enak."


"Oh Anwa kan, namanya? dia orang Palembang?"


"Orang Lampung, eh nggak tau juga deh." Azzura meneguk segelas air karena rasa pedas.


"Pedas?" tanya Raka berbisik di telinga Azzura.

__ADS_1


"Iya." Mata Azzura mulai berkaca-kaca.


"Mau di sembuhin?" Senyum nakal itu tiba-tiba muncul.


"Ada aku loh di sini," ujar Wita sambil mengunyah pempek bulat-bulat.


Azzura tertawa melihat tingkah gadis berusia 21 tahun itu, yang katanya masih jomblo itu.


"Besok bilang ke ibu, mau belajar bikin empek-empek." Raka meneguk air dingin di hadapannya. "Jadi mau jalan?" tanya Raka.


"Ayo, belum terlalu sore ... ada kan pantai dekat di sini?"


Raka melirik jam tangannya. "Ada, 30 sampai 45 menit, masih sempat kalo mau liat sunset. Ikut nggak, Ta?"


"Ogah, jadi obat nyamuk."


"Pengertian," kekeh Raka. "Ayo, Sayang."


"Dih, sejak kapan romantis?" Wita beranjak dari tempat duduknya berjalan mengarah ke dapur.


****


Tepat pukul lima sore, mobil Raka sudah berhenti di pinggir pantai kota Bangka. Tempat ini dulu, tempat favorit bagi Raka dan Jenna, mantan kekasihnya. Raka membuang jauh-jauh pikiran itu, sekarang yang ada hanya Azzura, gadis yang datang tiba-tiba dengan segala hal yang Raka suka.


"Mau siomay?" tanya Raka.


"Nggak ... masih kenyang."


"Ka ...."


"Iya."


"Iya. Ra, siomay nya enak loh ... kamu mau coba nggak?" Raka masih berusaha menawarkan siomay yang biasa dia beli jika berada di sana.


"Aku udah kenyang, kamu beli aja kalo masih mau makan."


Azzura membuka pintu mobil, melangkah menuju bibir pantai. Ombak kecil yang saling berkejaran, langit yang masih biru serta ramainya suara riuh rendah, tertawa penuh keceriaan menjadi satu kesatuan yang sangat serasi.


Azzura menoleh ke arah Raka yang berdiri tepat di sampingnya dengan tangan yang terlipat di dada. Dia perhatikan wajah manis yang sudah beberapa bulan ini menjadi kekasihnya. Sudut bibir Raka yang selalu tersenyum, tatapan mata yang sendu, Azzura serasa tak percaya bisa menjadi kekasih lelaki yang tadinya dia pikir kaku itu.


"Ngeliatin terus, nanti makin cinta loh," ujar Raka merengkuh pinggang gadis berambut panjang itu.


"Emang udah cinta," kekeh Azzura. "Ka."


"Hhmm."


"Kamu belum jawab pertanyaan aku," ujar Azzura.


"Tentang apa? perasaan tadi nggak nanya apa-apa deh."


"Yang tadi, kamu sering ke sini dengan Jenna?"


"Oh."

__ADS_1


"Oh doang? jawab dong."


"Mau jawab gimana?"


"Ya jawab aja, iya sering ... gitu," kata Azzura dengan wajah cemberut.


"Aku bilang iya muka kamu gitu, aku bilang nggak, kamu nanti nggak percaya," kekeh Raka mengusak-usak rambut Azzura.


"Mataharinya mulai turun," ujar Azzura dengan wajah yang kembali ceria. "Mima suka sekali kalo liat matahari terbenam kayak gini."


"Pantes namanya Jingga," ujar Raka.


"Iya, menurut Mima semburat jingga itu indah, syahdu, memukau, membuat kita terpaku menatapnya."


"Aku lebih milih menatap kamu, lebih nyata dan lebih berasa," ujar Raka dengan sudut bibir yang mengembang, menggenggam erat tangan Azzura.


Menatap senja tepat di hadapan mereka, dengan suasana pantai yang semakin lama semakin sepi.


"Mau pulang sekarang?" tanya Raka, Azzura menjawab dengan anggukan.


Melewati alun-alun kota yang kali ini sedang terdapat pasar malam, mata Azzura jatuh pada sebuah coffee shop dengan tempat yang nyaman.


"Sayang, aku mau ngopi ... mau makan cake, di sana ada nggak?" tanya Azzura menunjuk coffee shop itu.


"Hah?"


"Kesana yuk, kayaknya tempatnya nyaman."


"Kesana?"


"Iya, emang kenapa?"


"Nggak— nggak apa-apa," jawab Raka, lalu memutar balik mobilnya mengarah pada coffee shop yang ingin Azzura kunjungi.


"Bener, tempat nya asik," kata Azzura saat mereka memasuki coffee shop itu. "Pinter pemiliknya nyari tempat, bisa pas gitu. Kalo kita duduk di sini pemandangannya langsung ke pasar malam itu," ujar Azzura mengangguk-anggukkan kepalanya mengikuti irama musik.


"Pesan apa?" tanya Raka pada Azzura.


"Latte terus aku mau cake tiramisu," jawab Azzura yang sesekali bersenandung.


Raka meninggalkan Azzura yang sedang asyik dengan ponsel dan alunan musik yang menyita perhatiannya.


"Sayang, " ujar Raka yang kembali lagi membawa beberapa potong buah yang di sajikan secara gratis di sana.


"Eh, ada buahnya," ujar Azzura. "Aku suka tempat ini, mirip-mirip coffee shop Abang Ar yang di Tebet kan," kata Azzura lagi.


"Iya, nyaman ...."


Beberapa saat kemudian pesanan mereka pun datang, Azzura cukup menikmati satu cangkir kopi latte dan cake tiramisu di tambah satu porsi french fries sebagai tambahannya.


Mata Raka menatap ke arah pintu masuk, rahangnya mengeras. Azzura yang mendapati Raka dengan tatapan tak bergeming itu mengikuti arah pandang kekasihnya.


"Ka ...." panggil Azzura.

__ADS_1


enjoy reading 😘


__ADS_2