FRIENDS WITH BENEFITS

FRIENDS WITH BENEFITS
Satu Minggu Lagi


__ADS_3

Taksi yang mengantarkan Raka dan Azzura dari Bandara Soekarno Hatta, berhenti tepat di depan gerbang rumah besar milik Langit Kelana. Tepat pukul tujuh malam sesuai perkiraan Raka mereka sampai. Dengan di bantu oleh supir taksi menurunkan barang bawaan mereka, pintu gerbang besar itu pun terbuka perlahan.


"Mbak Zurra," seru Udin tergopoh-gopoh membantu Raka membawakan koper-koper mereka. "Kok nggak bilang mau pulang hari ini, Mbak?" tanya Udin mengangkat satu kardus yang mungkin berisi oleh-oleh.


"Aku bilang, Din ... tapi bilang sama Mima bukan sama kamu," ujar Azzura melangkah menuju pintu rumah.


Udin mencebikkan bibirnya, menoleh pada Raka yang mendorong dua koper sekaligus. "Mas Raka, baru sampe juga?" tanyanya seakan meminta jawaban yang tepat.


"Iya, Mas. Kan aku perginya sama Azzura," jawab Raka meletakkan koper di samping sofa.


"Oh, berdua?" tanya Udin lagi.


"Iya, Mas. Kenapa sih?" Raka tersenyum melihat ekspresi wajah penjaga rumah Azzura itu. "Oh ya Mas Udin, itu kardus langsung bawa aja ke dapur, ada oleh-oleh banyak, bisa buat bagi-bagi sama yang lain," kata Raka agar Udin segera berlalu dari hadapannya.


"Ya sudah kalo gitu, rival nya ini ke belakang dulu," sungut Udin.


"Dih, rival." Raka tertawa.


"Ka, langsung makan malam aja, Mima sama Didi kebetulan lagi makan malam."Azzura menggandeng tangan kekasihnya. "Siapkan?" Gadis itu kembali memastikan lagi dan Raka hanya mengangguk.


"Yang pulang kampung sudah pulang," ujar Langit. "Silahkan, Ka. Gimana kabar ayah dan ibu kamu, sehat?"


"Sehat, Pak." Raka menerima beberapa macam menu di atas piringnya yang sudah di berikan oleh Azzura.


"Syukurlah, ayo di makan. Tadi Mima bilang ada tamu spesial yang datang, saya pikir siapa. Ternyata kalian berdua." Langit menyuapkan sesendok nasi bercampur telur balado kesukaannya.


"Spesial lah ini, calon mantu," ucap Jingga membuat Langit tersedak. "Pelan-pelan, Didi." Jingga memberikan segelas air pada Langit, yang langsung meneguknya.


"Gimana maksudnya?" tanya Langit menatap Azzura.


"Em, jadi gini Pak ... saya datang kemari sekaligus mengantarkan Azzura pulang dan ... em, itu ...." Raka berucap gugup.


"Gimana?" tanya Langit dengan wajah serius.


"Ka," ujar Azzura dengan suara pelan.


"Iya, jadi gini—"


"Gimana?" Langit memajukan duduknya menunggu jawaban Raka.


"Ka!" Azzura menepuk bahu Raka.

__ADS_1


Raka tersentak. "Saya mau melamar Azzura untuk menjadi istri saya, Pak."


"Nah ... gitu. Harus berani, berani mengambil keputusan apalagi masalah hubungan dua hati." Langit meneguk kembali air di hadapannya. "Jadi, kapan?"


"Hah?" Raka tercengang, seperti sebuah bom yang meledak tepat di depannya.


"Ya, kapan menikahi Azzura?"


"Gini, Pak ... maksud saya, saya akan membawa ayah dan ibu datang untuk melamar Azzura dua minggu ke depan, kami baru sudah merencanakan acara lamarannya."


Raka masih saja gugup, menata detak jantungnya. Ini lebih-lebih dari presentasi proposal kerjasama dengan perusahaan besar yang sering dia lakukan.


"Dua minggu? Yakin dua minggu? itu waktu yang lama, bisa terjadi apa saja selama dua minggu itu."


"Maksud, Didi?" tanya Azzura bingung.


"Ketika ada niat baik, segera laksanakan. Jangan sampai hal-hal yang tidak diinginkan diantara waktu itu terjadi," ujar Langit mengusap sudut bibirnya dengan tissue.


"Maksud Didi, jangan sampai di tinggal selama satu tahun ke Jepang." Jingga tertawa, dia ingat sekali perjalanan cintanya bersama suami kesayangannya itu.


"Mima curhat." Langit mengusap lembut kepala istrinya. "Ya sudah, selagi kalian yakin, lakukan lah. Didi hanya bisa memberi restu buat kalian, saya percayakan Azzura, anak saya sama kamu, Ka. Ini bukan semata karena karena kamu seorang pekerja keras, tapi saya melihat kesungguhan kamu pada anak saya." Langit beranjak dari tempat duduknya lalu menepuk pundak Raka.


"Mima, turut bahagia untuk kalian, ya. Raka, jaga Azzura baik-baik." Jingga berkata dengan mata berkaca-kaca, lalu ikut meninggalkan anak dan calon menantunya itu.


Keluarga Langit Jingga memang terkenal sebagai keluarga yang tidak pernah mengekang anak-anaknya dalam menentukan pilihan hidup. Asal kedua anak mereka bahagia, menjalani semuanya, saling percaya dan komunikasi adalah hal terpenting dalam suatu hubungan.


"Jadi gimana? minggu ini apa minggu depan?" tanya Azzura.


"Minggu depan, ya. Siapkan?" Raka menarik sudut bibirnya.


"Lamaran atau nikah?" goda Azzura.


"Nikah aja lah ya, kelamaan kalo harus nunggu lagi dua atau tiga bulan ke depan, kan intinya sama aja, NI-KAH." Raka berdiri lalu mengulurkan tangannya pada Azzura untuk ikut berdiri.


"Berarti?" Azzura melingkarkan tangannya di pinggang Raka.


"Malam ini aku telpon keluarga di Bangka untuk datang ke Jakarta, karena waktunya hanya seminggu sudah pasti pernikahan kita tidak akan seramai dan semegah pernikahan saudara-saudara kamu yang lainnya."


"Nggak masalah, yang penting halal." Azzura tersenyum.


"Udah nggak sabar ya?" Raka menyentil hidung mancung gadis itu.

__ADS_1


"Nggak ke balik, bukannya kamu," kekeh Azzura. "Ya udah, kamu mau pulang bawa mobil aku ya. Biar di siapin sama Udin." Azzura menarik tangan Raka menuju teras depan rumahnya dan memanggil Udin untuk menyiapkan mobil agar di bawa oleh Raka malam ini.


"Soal Udin," kata Raka menguncir rambut panjang Azzura tinggi-tinggi. "Mana kunciran nya?" Raka mengikat tinggi rambut Azzura. " Kalo kayak gini, aku lebih bebas cium ini," ujar Raka menyesap leher jenjang Azzura.


"Ka, nanti di liat sama Udin." Azzura menjauhkan tubuh Raka.


"Oh iya, soal Udin. Tadi dia bilang, dia rival aku."


"Hah? rival? rival gimana?"


"Iya, rival ... saingan. Itu berarti dia suka sama kamu," ujar Raka meraih kembali tubuh Azzura.


"Astaga, Udin di dengerin," ucap Azzura dengan mata yang sudah mengarah pada bibir Raka.


"Kenapa? mau ya?" Senyum nakal Raka membuat Azzura tertawa lepas.


"Seminggu lagi," lirih Azzura, namun bibirnya mendekat pada bibir Raka.


Raka akhirnya menautkan bibirnya pada bibir Azzura, Raka tahu betul mereka tidak begitu banyak menghabiskan waktu berdua di Bangka, selalu saja ada pengganggunya.


"Uhuk ... uhuk."


Suara Udin mengagetkan pasangan kekasih itu. Buru-buru Raka melepaskan ciumannya, namun tangannya masih berada di pinggang Azzura.


"Mobilnya sudah siap, Mas," ujar Udin membuang pandangannya ke arah lain dengan ekspresi wajah sebal.


"Oh iya, makasih Mas Udin," ucap Raka menguluum senyum melihat tingkah penjaga rumah itu.


"Iya." Jawaban Udin yang seakan kesal pada Raka.


"Gimana oleh-olehnya? sudah di bagi-bagi?" tanya Raka basa basi dan berjalan ke arah mobil masih dengan menggandeng Azzura.


"Sudahlah, sudah habis. Cuka nya pedes, sampe perih hati aku." Udin menendangkan kakinya pada kerikil kecil menuju pelataran.


"Cuka pedes yang perih perut, Mas, bukan hati," kekeh Azzura.


"Hati lah, sudah tercabik-cabik ini, perih tapi nggak berdarah," ujar Udin dengan wajah sedih lalu berlari ke pos jaga.


Raka dan Azzura pun tertawa, sungguh tidak pernah mereka sangka ternyata Udin begitu suka nya pada Azzura.


"Aku pulang ya, " pamit Raka mengusap bibir Azzura. "Besok kita lanjutin lagi," ujar Raka diiringi kedipan mata nakal.

__ADS_1


enjoy reading 😘


__ADS_2