
"Kamarnya satu?" tanya Siti saat dia dan Teddy baru saja sampai di Nusa Penida sore itu.
"Mau kamar dua juga nggak apa-apa sih, tapi kamu yakin mau tidur sendirian?" Teddy meyakinkan Siti sambil melihat sekeliling villa itu.
"Sayaaang," ucap Siti manja. "Tapi janji ya ...."
"Oh kalo itu aku nggak janji," kekeh Teddy.
"Kita kesini aku udah bohong loh sama bapak, jangan sampe aneh-aneh," kata Siti sambil mencebikkan bibirnya.
"Iya ... iya, aku janji ...aku janji, pulangin kamu ke rumah sama utuhnya sebelum kamu berangkat," ujar Teddy memeluk Siti.
"Kita makan malam apa?" tanya Siti.
"Eem ... pecel ayam," jawab Teddy.
"Kok pecel ayam ... jauh-jauh kesini cuma makan pecel ayam." Siti terkekeh.
"Kamu udah laper?" Teddy merengkuh tubuh mungil itu mendekat padanya.
"Belum sih ...," kata Siti mendongakkan wajahnya menatap Teddy yang tingginya jauh dari dirinya.
"Kalo gitu kita nikmati sunset di restoran hotel aja dulu," ujar Teddy.
Hotel itu langsung menghadap ke laut, pemandangan yang disajikan memang benar-benar indah. Tidak jauh dari tempat mereka duduk terdapat sebuah kolam renang.
"Jadi, bilang apa ke bapak?" tanya Teddy sambil memeluk Siti dari belakang.
"Keluar kota, ada proyek baru." Siti menoleh, hampir saja bibirnya mencium pipi Teddy. "Tapi hanya tiga hari, nggak boleh lebih."
Teddy mengangguk, "lalu, selama tiga hari ngapain?" Teddy tersenyum nakal.
"Nemenin kamu kerja," jawab Siti lalu mengurai pelukan Teddy dan beralih melingkarkan tangannya pada leher lelaki itu.
Mata Teddy menatap sayu mata Siti, tangannya merapihkan helaian-helaian rambut kecil yang menutupi kening kekasihnya.
"Kalo kita susulin Azzura dan Raka gimana? kamu siap?"
"Susulin gimana?"
"Nikah sama aku," ujar Teddy sungguh-sungguh.
__ADS_1
Siti terdiam.
"Masih ragu?" tanya Teddy. "Karena masa lalu aku, kamu nggak yakin?"
Situ menghela napas panjang, Siti hanya merasa ini terlalu cepat, masih banyak waktu untuk lebih saling mengenal satu sama lain. Memang hingga detik ini Teddy selalu bersamanya, Teddy menepati janjinya tidak berbuat seperti yang Siti takutkan. Tapi entah mengapa masih ada keraguan di hatinya.
"Aku perlu waktu," ujar Siti. "Kalo kamu masih mau menunggu dan memberi sedikit waktu—"
"Aku akan tunggu, kamu bisa lihat kesungguhan aku," kata Teddy. "Bahkan pulang dari sini pun aku berani langsung meminta kamu pada Bapak," ujar Teddy.
"Aku tau, tapi aku masih mau meyakinkan hati aku," ujar Siti.
"Apa lagi yang mau di yakinkan?" Kali ini Teddy meraih tangan Siti lembut dan menuntunnya menuju kamar mereka. "Semenjak menetapkan pilihan hati aku ada di kamu, maka aku tinggalkan semuanya, masa lalu aku kebiasaan aku ... aku sungguh-sungguh, Ti."
Siti berbalik ke arah pintu kamar mereka lalu menutupnya perlahan. Melangkah mendekat pada Teddy yang berdiri dengan wajah murung.
Siti meletakkan tangannya di dada Teddy lalu membelai lembut rahang lelaki berwajah sedikit oriental itu. Dengan lembut Siti menautkan bibirnya pada bibir Teddy, meluumatnya dan menyesap bergantian bibir kekasihnya itu.
Teddy membalas ciuman itu sama lembutnya, dia tahan tengkuk leher Siti, semakin dalam mereka terhanyut. Tangan Teddy turun pada pundak Siti, turun ke arah lengan dan meremasnya. Tangan Teddy perlahan masuk, menelusup ke dalam kaos crop polos berwarna putih yang dikenakan Siti.
Siti menarik dirinya perlahan, melepaskan cumbuan lembut yang Teddy berikan. Dia usap bibir Teddy yang basah lalu menikmati belaian tangan kekasihnya yang masuk di sela-sela pakaiannya.
Mata mereka saling menatap sayu, kaos Siti lolos begitu saja. Pelan Teddy menjatuhkan tubuh Siti di atas tempat tidur. Teddy memandangi tubuh indah Siti dengan dada yang berbalut renda dan hotpants itu dengan senyum mengembang. Dia merangkak naik, Siti kini berada di bawah kungkungannya.
Teddy kembali menciumi bibir Siti, tangannya perlahan di letakkan di atas dada Siti, menyingkirkan helaian penutup itu ke sisi tempat tidur.
"Pas," lirih Teddy.
"Apa?" Siti mengerutkan alisnya.
"Penuh di telapak tangan aku," ujarnya polos.
"Teddy ...." Rona merah di wajah Siti pun tak dapat dielakkan.
"Haha ... becanda, Sayang." Teddy kembali memberikan ciuman lembut sama dengan lembutnya rematan di dada Siti.
Lirih suara halus Siti begitu indah di telinga Teddy. Kaos yang dia kenakan pun sudah tidak lagi melekat di dada. Tubuh mereka saling menyentuh, benda padat yang berada di bagian bawah tubuh Teddy pun sudah menegang. Teddy masih asyik memainkan lidahnya di pucuk dada Siti membuat gadis itu semakin bergerak tidak beraturan.
Masih dengan bagian bawah yang tertutup, Teddy bergerak maju mundur menahan buncahan rasa yang seakan ingin meledak di bawah sana. Teddy menahan rahangnya keras, sementara suara-suara indah itu semakin memacu adrenalinnya untuk terus bergerak.
"Ya ampun, Ti." Tangan Teddy turun ke bawah ingin rasanya dia melepaskan pertahanan terakhir yang menutupi tubuh mereka.
__ADS_1
"Jangan," ujar Siti menahan tangan Teddy yang hampir saja membuka hotpants miliknya.
"Jangan ragu sama aku, Ti," ujar Teddy menatap dengan pandangan sendu.
Siti menarik tubuh Teddy lalu menciumnya bertubi-tubi seakan lepas dari kontrol diri mereka, Teddy merasa ini lah saatnya dia membuktikan keseriusan itu pada Siti.
Saling membalas ciuman dengan liar, Teddy bergerak maju mundur. Perlahan melepaskan hotpants yang menutupi tubuh inti Siti, membuangnya jauh-jauh ke sudut kamar begitu juga dengan celana pendek yang dia kenakan.
Dan, pemandangan indah itu begitu nyata. Teddy kembali merangkak naik mengungkung tubuh Siti. Membelai lembut wajah gadis itu yang malu, menatap dada bidang Teddy yang berada tepat dihadapannya.
"Sentuh aku, Ti."
Teddy menuntun tangan Siti menyentuh dadanya lalu turun ke perut Teddy. Bisa Siti rasakan perut itu memang begitu menggoda, pelan Teddy kembali menuntun tangan itu turun ke bawah.
"Kenapa?" tanya Teddy saat Siti menarik tangannya.
Siti menggeleng lalu kembali merasakan cumbuan Teddy yang membawanya melambung hingga ke angkasa.
"Ti ... boleh sekarang ya," pinta Teddy.
Tubuh Siti menegang, desaahannya membuat Teddy lebih lekat lagi menempelkan tubuhnya pada Siti. Sedikit menekan bagian intinya yang mulai basah namun masih dilapisi helaian terakhir.
"Sayang," lirih Siti yang mencengkram kuat lengan Teddy.
"Ti, aku nggak bisa nunggu terlalu lama," ujar Teddy yang akhirnya menarik pembungkus terakhir tubuh mereka dan memposisikan dirinya tepat di hadapan bagian inti Siti.
Hingga dering ponsel Teddy di atas nakas berbunyi, sebisa mungkin Teddy mengacuhkannya namun dering telepon itu tidak berhenti begitu saja.
"Sayang." Siti meringis saat milik Teddy berusaha menerobos masuk ke inti tubuhnya. "Sakit ... stop!" Siti memukul lengan Teddy, menahan tubuh Teddy yang masih berusaha keras memasukinya.
"Angkat teleponnya," ujar Siti saat ponsel itu kembali berbunyi.
"Tapi aku belum selesai," ujar Teddy kesal.
"Siapa tau penting," sahut Siti menarik dirinya.
"Astagaa ... siapa sih!" geramnya meraih ponselnya dan melihat nama yang tertera di layar ponsel.
"Dasar syaiton!" kesal Teddy melihat nama Raka di layar ponselnya. "Ganggu orang lagi berusaha keras," dengusnya geram.
**Jangan lupa Teddy tetaplah Teddy si Casanova🤭
__ADS_1
Enjoy reading 😘**