FRIENDS WITH BENEFITS

FRIENDS WITH BENEFITS
Malam Kita


__ADS_3

Azzura mematut dirinya di depan cermin besar di kamar hotel tempat mereka menginap. Tubuhnya masih berbalut gaun berwarna putih, sementara gemericik air di dalam kamar mandi baru saja terhenti.


Azzura tersenyum saat mendapati Raka keluar setelah membersihkan dirinya. Lelaki yang hanya menggunakan bath robe berwarna putih itu pun ikut tersenyum. Sisa- sisa tetesan air dari helai rambutnya serta wajah yang sudah segar itu menambah aura manis lelaki itu.


"Kenapa senyum-senyum?" Raka meraih pinggang istrinya.


"Kamu kenapa senyum-senyum juga?" Wajah Azzura merona.


Sedekat ini tanpa ada rasa takut, tanpa ada lagi yang menghalangi bahkan mengganggu momen mereka berdua.


"Istri aku," lirih Raka membelai lembut pipi Azzura.


"Suami aku, gagah banget tadi," ucap Azzura meletakkan tangannya pada dada Raka yang terbuka sedikit.


"Aku buktikan gagahnya malam ini," goda Raka sambil mengecup bibir Azzura.


"Tapi aku belum bersih-bersih," ucap Azzura pelan dengan tatapan mata sendu.


"Nggak perlu, biar sekalian nanti bersih semua," bisik Raka menurunkan resleting gaun pengantin Azzura yang masih melekat di tubuh wanita yang sekarang sudah berganti status itu.


Ciuman lembut itu saling terpaut, hawa panas itu terasa penuh gelora. Ciuman yang berbalas itu semakin lama semakin menuntut, gaun pengantin pun telah tergeletak di lantai. Raka memandangi dengan jelas bentuk tubuh istrinya, menelan ludahnya kasar dengan mata yang tak berkedip.


"Indah," bisiknya merengkuh tubuh Azzura lebih menyatu lagi pada tubuhnya.


Tangan Raka menjalar ke punggung belakang istrinya, membuka pengait longtorso yang berjumlah banyak itu.


"Kenapa banyak sekali pengaitnya," kata Raka dengan wajah kesal.


Azzura tertawa, menatap tingkah lucu suaminya yang akhirnya memutar tubuh Azzura membelakanginya.


"Harusnya pake yang resleting, adakan?" tanya Raka.


"Ada, tapi kurang menantang," kekeh Azzura.


"Berarti ini ceritanya nantangin," ujar Raka yang akhirnya berhasil membuka seluruh pengait itu, lalu memeluk Azzura dari belakang.

__ADS_1


Hembusan nafas Raka yang menghangat begitu terasa menerpa tengkuk leher Azzura. Desiran darah yang mengalir begitu terasa seperti sengatan listrik yang menjalari tubuhnya. Raka menangkup kedua buah dada yang sudah tidak lagi berbalut sehelai benangpun.


"Ya ampun," lirih Raka memejamkan matanya merasai benda itu penuh di tangannya.


Raka memutar tubuh Azzura menghadap padanya, diangkat sedikit dagu istrinya yang sudah tersipu malu.


"Di tempat tidur, yuk," ajaknya lalu menuntun Azzura berbaring di tempat tidur.


Raka merangkak ke atas tubuh Azzura lalu tersenyum, kala melihat istrinya menatap tubuhnya. Tali bath robe yang Raka kenakan pun Raka tarik, kimono mandi itu di lemparkannya ke sembarang tempat. Seketika Azzura tersentak melihat suaminya sudah tak lagi memakai satu helai benang pun. Malu-malu di tatapnya tubuh Raka yang tidak terlalu sixpack namun cukup menggetarkan hatinya.


"Ka," lirihnya halus.


Raka hanya diam, dia sedang menikmati cumbuan yang dia berikan pada Azzura. Menciumi setiap inci wajah istrinya, lalu turun hingga ceruk leher jenjang itu, berhenti tepat di atas dadanya. Raka bermain sebentar di sana, satu hal yang Raka suka saat benda itu tersentuh, desaahan Azzura begitu terdengar merdu di telinganya.


"Kenapa?" Raka melepaskan sesapannya. "Takut?" Azzura mengangguk pelan.


"Sama." Raka terkekeh kecil. "Ini pertama buat aku," ujarnya. "Mungkin terasa sakit, tapi kata orang kita harus rileks," katanya lagi lalu memberikan ciuman pada bibir Azzura.


Ciuman itu saling berbalas, Azzura menggeliiat kala Raka kembali menyesap dada wanita itu. Memainkan lidahnya bergantian dari satu tempat ke tempat yang lain lalu turun menyusuri perut rata Azzura.


"Ka." Lagi Azzura memanggilnya, menutup matanya rapat-rapat karena malu.


Raka merangkak naik memberikan kecupan di kening Azzura. "Malu? kenapa? kita sudah halal." Raka tersenyum menggoda. "Buka matanya, lihat aku ... lihat aku seorang," ujar Raka membelai lembut pipi Azzura.


Mata itu terbuka perlahan, wajah Raka begitu dekat, dadanya, lengannya keseluruhan tubuhnya berada di atas tubuh Azzura.


"Astaga," ucap Azzura tercekat ketika dia merasai bagian inti Raka tepat berada diatas miliknya.


"Nggak ada pembatasnya, kali ini berbeda, Sayang ... rileks," ujar Raka kembali mencumbui tubuh istrinya.


Azzura menekuk kedua lutut nya, menyamankan dirinya seperti yang Raka katakan, agar tidak terlalu tegang. Dirasa jika Azzura sudah nyaman dengan posisinya, perlahan Raka menempatkan dirinya.


"Sekarang ya, Sayang," ujar Raka dengan suara seraknya dan tatapan mata yang sendu.


Berulangkali dia menelan ludahnya kasar, memandang takjub. Pelan namun pasti Raka memasuki tubuh inti Azzura. Azzura menahan pekiknya, tangannya mencengkram lengan kokoh Raka saat benda itu menyentuhnya lebih dalam lagi.

__ADS_1


Raka kembali memberikan ciuman lembut agar Azzura melupakan sedikit rasa sakitnya. Dirasa Azzura sudah merasa nyaman, lelaki itu mulai mengayun lembut, begitupun Azzura mulai menikmatinya?.


Dibawah kungkungannya, Raka dengan leluasa memandangi wajah Azzura. Senyumnya mengurai ketika menatap wajah Azzura dengan mata terpejam menggigit bibir bawahnya.


"Masih sakit?" bisik Raka lembut di telinga Azzura.


Azzura menggeleng, buncahan rasa itu sedapat mungkin dia tahan. Menikmati semua sentuhan yang Raka berikan. Raka mengayunkan tubuhnya semakin lama semakin cepat. Rahangnya mengeras, tangannya kembali berada di atas pucuk dada Azzura. Azzura meringis kala genggaman itu semakin erat, lalu lirih suaranya menemani setiap hentakan yang Raka berikan.


Mata keduanya saling menatap, peluh keringat sudah membasahi tubuh mereka. Hawa ruangan itu semakin panas, Raka bergerak maju dan mundur. Kali ini kedua kaki jenjang istrinya dia tumpangkan ke dua bahunya.


Gerakan itu semakin cepat, dada Azzura semakin bergerak mengikuti ritme yang Raka berikan.


"Ra ...." Erangan Raka terdengar begitu jelas.


"Ka ... oh ...." Suaranya semakin lirih semakin membuat adrenalin Raka terpacu.


Hentakan dan hunjaman itu berkali-kali Raka berikan pada Azzura, dan mereka saling menikmati hingga pelepasan itu saling bersamaan mencapai titik puncaknya, hangat terasa buncahan itu memenuhinya.


"Ugh ...." Raka mengerang berkali-kali di akhir malam percintaan mereka.


Raka menjatuhkan tubuhnya di atas tubuh Azzura, nafas mereka masih menderu. Jantung pun masih bertalu, sekiranya alunan napas mereka masih saling berbalas.


"Capek?" tanya Raka mengangkat sedikit tubuhnya, Azzura mengangguk lalu menahan rasa saat Raka menarik miliknya.


"Makasih, Ra," ujar Raka memberikan kecupan di dahi sang istri lalu menarik tubuh indah Azzura merapat padanya. Menjadikan lengannya sebagai bantalan wanita itu. Azzura memeluk tubuh Raka erat, sembari membenarkan selimut menyelimuti tubuh mereka yang masih saling menempel penuh peluh dan rasa yang berdesir.


"Tidur, Sayang ... besok pagi kita berangkat ke Bali," ucap Raka mengeratkan pelukannya, mengusap punggung sang istri yang nampak lelah karena ulahnya.


"Bali?"


"Tidur, karena malam kita di sana akan sangat panjang," ujar Raka tersenyum.


**Kuta, Bali 10 Maret 2022


Enjoy reading 😘**

__ADS_1


__ADS_2