
"Ketemu di cafe Abang Ar? kamu tau?" tanya Azzura.
"Iya ... tunggu aja di sana," jawab Raka siang itu.
Sore nanti rencananya Raka akan bertemu dengan Azzura, satu minggu sudah mereka tidak bertemu semenjak Raka memberikan access card pada Azzura.
"Ciee ... gimana?" tanya Teddy yabg berdiri di depan meja gambar memperhatikan gerak gerik Raka menorehkan pensil pada desain gambarnya.
"Gimana apa sih Ted? gue sama dia berteman ... cuma berteman nggak lebih."
"Jangan sampe nyesel aja sih, pesen gue. Lagian lo nggak-nggak tapi di sosor juga," kekeh Teddy.
"Sok tau lo," sergah Raka.
"Ya tau lah, kan gue bilang jangan ngadalin syaiton," ujar Teddy meraih gulungan kertas berisi gambar desain dari Raka.
Raka menjauh dari meja gambarnya, menempelkan bokongnya pada sisi meja kerjanya, melipat kedua tangannya lalu memandangi Teddy.
"Gue tuh paling sebel kalo di liatin kayak gini," ujar Teddy membalas tatapan Raka.
"Anjriitt lo." Raka tergelak. "Jadi menurut lo gimana?"
"Gimana apanya?"
"Azzura lah," sahut Raka.
"Ya kalo mau aman lo pacarin, masa mau lo jadiin temen deket terus, tanpa status lagi."
"Gue takut dia kecewa aja kayak Jenna dulu, Ted."
"Kan beda, Ka ... keadaan lo sama Jenna kan berakhir karena jarak dan kesibukan lo kemarin, kalo sama Azzura beda."
"Sama aja ... gue tinggal-tinggal juga nanti, nggak tau deh, jalani yang seperti ini aja dulu," ucap Raka.
"Cewek itu butuh pengakuan, bukan penjamahan," ujar Teddy asal.
"Mulut lo Ted, minta di sambelin," ujar Raka menarik kursi kerjanya. "Emang elo."
"Nah ... karena itu, gue nggak mau lo ikutin jejak gue," kekeh Teddy.
*****
Tepat pukul lima sore, hujan mulai membasahi bumi. CRV berwarna putih itu berhenti di halaman parkir sebuah cafe dengan gaya yang cozy (nyaman). Tak jauh dari tempatnya memarkirkan mobil, Raka melihat sedan putih milik Azzura berada di sana.
Raka berlari kecil menghindari rintik hujan jatuh membasahi tubuhnya, membuka pintu kafe itu. Dia mengedarkan pandangan matanya mencari sosok gadis yang katanya sudah menunggunya lebih dari setengah jam itu.
Azzura duduk di dekat jendela kaca menghadap ke taman, dia tidak sendiri ada satu wanita cantik dengan seorang bayi di dalam gendongannya.
"Ka." Sapa suara itu, Raka menoleh ternyata Kalla dan Arkana berdiri tidak jauh dari meja bar.
Raka melangkah mendekat, mengulas senyum pada kedua lelaki yang wajahnya hampir sama itu.
"Bang." Raka menjulurkan tangannya pada Arkana. "Kal," ujar Raka menyambut uluran tangan Kalla.
__ADS_1
"Janjian sama Zurra?" tanya Kalla.
"Iya, ada yang mau di bahas mengenai interior di project aku, aku minta pendapat dia," jelas Raka.
"Oh ...," ujar keduanya Kalla dan Arkana saling pandang.
"Gimana?" tanya Raka yang bingung dengan wajah keduanya.
"Nggak ... gue kira lo kesini emang mau ketemu Zurra dalam hal lain, ternyata tetap dalam hal pekerjaan," kata Arkana.
Sepupu Azzura yang satu ini memang lebih perhatian pada Azzura di bandingkan Kalla kembaran Azzura. Sedari kecil Arkana lah yang selalu memberikan perhatian lebih pada Azzura.
"Beda caranya kali pedekate nya," celetuk Kalla.
"Haha ... bisa jadi, jadi inget gue pedekate sama bini gue," ujar Arkana.
"Bersaing dengan yang nggak ada itu lebih berat ya, Bang," kata Kalla.
Raka hanya mendengarkan celotehan dua lelaki berwajah ganteng itu, tanpa mau mengulik lebih dalam. Tatapan mata Raka tertuju pada Azzura yang sedang bermain-main dengan bayi di gendongan yang mungkin saja salah satu dari istri saudaranya Azzura.
Azzura melambaikan tangan pada Raka, gadis itu tersenyum kala Raka berjalan melangkah ke arahnya.
"Hei, udah lama?" tanya Azzura.
"Baru, cuma tadi ketahan sama satpam kamu," kekeh Raka.
"Ra, aku ke Kalla dulu ya," ujar wanita yang masih memakai blazer putih itu.
"Siapa?" tanya Raka.
"Masa, kayak bukan dia."
"Beda kalo masih pake jas dokter ya," ujar Azzura tersenyum.
"Oh, dokter."
"Iya. Jadi gimana? bawa kan gambarnya dan yang di mau kayak apa?" tanya Azzura kembali duduk di kursinya.
"Ada, tapi di mobil," jawab Raka.
"Loh, kok di mobil?"
"Hujan, kalo aku bawa turun malah basah," ujar Raka tersenyum.
"Modus banget," kekeh Azzura. "Makan apa?" tanya Azzura menatap netra Raka.
"Kenapa nggak ke apartemen?" Alih-alih menjawab pertanyaan Azzura, Raka lebih senang jika Azzura menjawab pertanyaannya.
"Hah?"
"Kartunya udah aku kasih, kenapa nggak datang?" tanya Raka lagi.
"Harus?" tanya Azzura, Raka menjawab dengan mengangguk.
__ADS_1
"Nggak ada yang cuci piring," ujar Raka tersenyum.
"Dasar." Azzura melempar tisue yang berada di genggaman tangannya.
*****
Dan, di sinilah mereka. Memutuskan untuk menghabiskan sore di temani rintik hujan di apartemen Raka dengan kertas gambar yang berserakan.
"Menurut aku sih lebih baik ini," ujar Azzura menunjukkan satu kertas pada Raka.
"Klasik ya," ucap Raka mengangguk angguk.
"Iya, pas untuk karakter penghuninya ... mau aku buatin kopi lagi?" tanya Azzura.
"Nggak ... nggak usah."
Duduk berdekatan, kulit yang saling bersentuhan kadang gelak tawa pun terdengar, dua anak manusia yang belum sadar akan isi hati mereka ini merasakan kenyamanan.
"Mau pesan makan, nggak?" tanya Raka.
"Aku mau pulang aja, ya ... udah jam delapan," ucap Azzura meraih tasnya di samping Raka.
Harum tubuh Azzura, serta kibasan rambutnya yang menerpa wajahnya membuat lelaki itu tak dapat menghindari desiran darah yang mengalir seakan ada kupu-kupu yang bermain-main di perutnya.
"Mau pulang?" tanya Raka meraih lengan Azzura.
"Iya, kenapa?" tanya Azzura menatap dalam netra Raka.
Raka menggeleng, dia juga cukup sadar jika meminta Azzura untuk tinggal lebih lama di apartemennya, status mereka saja saat ini belum jelas.
"Mau aku lama-lama di sini?" goda Azzura tersenyum.
Raka menyematkan helaian rambut Azzura, mendekatkan wajahnya pada wajah gadis yang bahkan hanya teman bagi dirinya.
"Kalo aku minta kamu ... maksud aku ... kamu di sini nemenin aku, mau?'
"Kenapa?"
"Aku cuma mau kamu agak lama di sini," ujar Raka.
"Alasannya?"
Raka mengangkat kedua bahunya, "pengen aja kamu di sini," ujar Raka semakin mendekatkan wajahnya membuat tubuh Azzura menegang.
Raka meraih tengkuk leher Azzura, lagi-lagi dia sudah menautkan bibirnya pada bibir gadis itu. Seperti magnet yang saling berbalas, Azzura menerima perlakuan lembut Raka tanpa merasa terbebani. Ciuman yang saling berbalas, tubuh yang semakin berdekatan serta jari jemari Azzura yang memilin pada ujung rambut Raka seakan menjawab seperti apa hubungan mereka sekarang.
"Ka," lirih Azzura saat ciuman itu terlepas.
"Ya," jawab Raka dengan mata sendu menatap Azzura dan mengusap bibir penuh milik Azzura dengan jarinya.
"Aku suka kamu," ucap Azzura dengan pandangan mata penuh selidik. "Aku suka kamu dari awal kita bertemu," ujarnya lagi.
**enjoy reading 😘
__ADS_1
06.18 wib menuju Jogja**