FRIENDS WITH BENEFITS

FRIENDS WITH BENEFITS
Dia berbeda


__ADS_3

Malam ini , sesampai dirumah aku lepas sepatu ku , meletakan tas , sambil ingin segera mandi .


Tapi badan ini terasa begitu lelah setelah kejadian siang tadi, semua emosi ku terkuras habis.


Aku hanya bisa berbaring dengan setengah badan di atas kasur sambil memandangi cahaya lampu di langit langi kamar.


Haahhh, hela nafasku sudah tak lagi bisa tertahan, sesak sekali rasanya dada ini.


Aku yang terbiasa menahan semua emosi apapun mulai kelelahan.


Pikiranku mulai mundur ke masa lalu..


Masa kecil ku yang tak pernah merasa spesial.


Aku yang selalu belajar dengan tekun dari masih SD , selalu dapat peringkat pertama dikelasku, tapi tak pernah aku mendengar kata “bangga” dari orang tuaku.


Tapi aku tak pernah menunjukan kecewaku.


saat SMP aku selalu jadi korban bully beberapa teman dikelasku, tapi tak pernah sedikit pun aku marah pada mereka . Bahkan saat ujian aku masih sering memberikan merak contekan dengan berharap mereka akan baik padaku.

__ADS_1


Setiap orang baru yang aku kenal, aku selalu berusaha mengakrabkan diri, mencari tau kesukaan mereka, kenyamanan mereka demi tetap berteman dengan mereka.


Dan itu terus berlanjut hingga kini.


Hingga aku punya keluarga sendiri, aku selalu berusaha menyenangkan mereka.


Aku tak lagi tau apa yang sebenarnya aku mau, aku bahkan sering tak mengenal diriku.


Sikapku ke setiao orang yang aku kenal selalu menyesuaikan dengan apa yang mereka suka , aku terbiasa beradaptasi dengan orang yang aku kenal.


Dan untuk pertama kalinya aku merasa aku bisa berbicara semauku bertindak sesuai inginku saat mengenal Tian.


Entah apa yang menarik dari Tian sampai aku merasa seperti ini.


Dia hanya orang baru dalam hidupku, yang akupun tak tahu sifatnya, kesukaannya, atau apapun. Padahal aku selalu berusaha mencari tau sifat fan kesukaan orang lain yang baru aku kenal hanya untuk beradaptasi.


Bahkan suamiku, orang yang aku terima untuk menjadi keluargaku, lebih membuatku menahan diri dan tak pernah merasan nyaman untuk menjadi diriku , karena aku pun sejujurnya tak tau seperti apa sebenarnya diriku ini.


Dengan Tian untuk pertama kalinya aku bisa berbicara bebas tanpa harus memikirkan reaksinya seperti apa, suka atau tidak, tersinggung atau tidak .

__ADS_1


Dengan Tian orang yang baru aku kenal bahkan belum genap sebulan, aku bisa menceritakan semua tentang diriku, masa lalu ku , hari hari ku, kelelahanku yang sejak kecilpun tak pernah aku keluhkan pada orang tuaku.


Tapi disaat yang sama tekanan batin ini datang, aku begitu nyaman , hingga sering terlupa bahwa aku punya suami.


“Ah sudahlah, aku sedang tak ingin peduli”


aku memulai diriku untuk egois, aku tak ingin Tian menjauh, aku tak ingin kehilangan orang yang mau mendengarkan ku, membuatku menjadi bebas.


Aku memulai chatting kembali setelah insiden siang tadi.


Tian : maafin aku yaaa gak niat bicara kaya tadi


sofia : tenang aja , aku gak marah, aku emang punya suami, lagian kita kan bisa jadi teman


Tian : aku gak lagi bahas obrolan dewasa deh


Sofia : hahaha santai saja, kita simbiosis mutualisme aja, aku dapet temen ngobrol kamu bebas deh.


Akhirnya aku dan Tian sepakat, hubungan kami hanya FWB , bennefitnya aku punya teman cerita dan dia bebas untuk menggerayangi tubuhku.

__ADS_1


Ya menggerayangi tubuh mungkin baru sebatas aku biar kan dia menyentuh saja, aku berpikir hanya itu yang bisa jadi bennefit untuk dia yang selama


Tanpa harus ada perasaan antara kami.


__ADS_2