
"Kok nggak bilang mau ke Jogja, tiba-tiba udah di sini aja," ujar Azzura lagi, hatinya bersorak senang Raka akhirnya datang mengunjunginya.
Raka masih diam, tangannya menggenggam erat tangan Azzura. Sementara tatapannya beralih pada Rey yang masih berdiri di dekat mereka.
"Bang Rey, makasih ya ... udah di ajakin makan di Raminten, tau aja aku pengen kesana," kata Azzura tersenyum.
"Sama-sama, Ra ... aku balik ke kamar dulu," ujar Rey membalas tatapan Raka. "Duluan, Ka," Raka menjawab dengan anggukan.
"Di kamar nomer berapa?" tanya Azzura namun yang di tanya hanya diam. "Ka ...."
"Kemana tadi?" tanya Raka ketus.
"Makan malam ... kan tadi udah bilang, aku ke The House of Raminten, kebetulan aku pengen makan di sana ... terus mau ke alun-alun tapi karena macet parah, ya udah balik ke hotel," jelas Azzura. "Kamu di kamar berapa?"
"Aku belum booking," jawabnya.
"Kamu kenapa sih?" tanya Azzura memperhatikan wajah Raka.
"Harusnya tanpa aku kasih tau pun kamu ngerti aku kenapa." Raka menatap mata Azzura.
"Marah? cemburu? ya ampun ... mau berapa kali aku bilang, Rey itu udah kayak kak—"
"Tapi Rey nggak, Ra ... harusnya kamu peka," jawab Raka.
Azzura mengedarkan pandangan matanya ke sekitar, untung saja tidak banyak orang yang berlalu lalang di sana.
"Terserah kamu," ujar Azzura menghempaskan genggaman tangan Raka lalu berjalan menuju lift. Raka melangkah dengan cepat, menahan pintu lift sebelum tertutup oleh Azzura.
Raka mengikuti langkah Azzura dari belakang, dia kembali menahan pintu kamar Azzura dengan tangannya.
"Ra ...."
"Kamu tuh nggak beralasan tau nggak cemburu nya," ketus Azzura saat lengannya di tahan oleh Raka.
"Nggak beralasan gimana, jelas kok ... Rey itu suka sama kamu, bahkan mungkin sebelum kamu sama Bima atau sebelum-sebelumnya lagi, kamu yang nggak peka."
"Jelek banget pikiran kamu, Ka ...." Azzura duduk di sofa kamar itu sementara Raka masih berdiri di dekat kaca jendela.
__ADS_1
Lama mereka saling diam, Raka melepas sweater coklat serta sepatu yang dia pakai, melangkah lunglai masuk ke dalam kamar mandi meninggalkan Azzura yang sedari tadi malas menatapnya.
Dengan wajah yang nampak segar dan pakaian yang sudah berganti, Raka mendapati Azzura sudah meringkuk di atas tempat tidur. Gadis itu sudah berganti pakaian, Raka merapikan kembali selimut yang menutupi tubuh Azzura hingga ke batas leher lalu memberikan kecupan pada kening kekasihnya itu.
Raka merebahkan dirinya di antara dua sofa yang digabungkan. Beralaskan satu bantal di kepala dia berusaha membuat posisi yang nyaman untuk tidur malam itu. Berkali-kali memiringkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri akhirnya Raka memutuskan untuk tidur di samping Azzura.
Perlahan Raka naik ke atas tempat tidur dimana Azzura sudah tertidur pulas. Sebetulnya jika saja tidak ada perang dingin diantara mereka mungkin malam ini akan Raka habiskan dengan sesuatu yang manis.
*****
Sinar matahari menerobos masuk dari celah-celah tirai kaca jendela pagi itu. Dua manusia yang tidur saling berpelukan itu tanpa sadar mereka saling memberikan kenyamanan. Sudah pukul enam pagi, lamat-lamat mulai terdengar suara aktivitas di bawah sana membuat mata keduanya perlahan terbuka.
Azzura meregangkan otot-otot tubuhnya, dengan posisi miring seakan memeluk guling namun dia mencium harum yang khas dari tubuh lelaki yang semalam dia diamkan.
"Pagi," sapa Raka dengan suara seraknya, dia menyunggingkan senyuman.
Azzura memundurkan wajahnya, matanya menyipit kala dia melihat Raka sudah berbaring di sisinya. Di dalam satu selimut yang entah kapan bisa menyatu, pandangannya turun ke bawah.
"Aku nggak ngapa-ngapain," ujar Raka menarik kembali lengan Azzura. "Pagi, Sayang," katanya lagi mendaratkan kecupan di kening Azzura.
Masih dengan mengernyitkan alisnya dan bibir yang masih cemberut Azzura melepaskan pelukannya.
"Kamu tuh terlalu overthinking, mengkhawatirkan yang nggak penting, Rey itu cuma—"
"Iya, sudah nggak usah di bahas, kita lupain, ya? jangan marah-marah ...." Raka memeluk Azzura lagi.
"Tapi nanti - nanti kamu bahas lagi," sungut Azzura.
"Nggak, aku nggak mau ngerusak momen kita ini," ujarnya membelai pipi Azzura.
"Siapa suruh tidur di sebelah aku?"
"Nggak boleh? aku nggak nyaman, Ra tidur di situ," tunjuknya pada sofa yang masih dalam posisi sejajar. "Nanti aku booking satu kamar lagi," ujar Raka.
"Eh ... jangan," kaya Azzura buru-buru.
"Kenapa? aku ogah kalo di suruh tidur di situ lagi." Raka kembali menarik selimut ke atas tubuh mereka.
__ADS_1
"Aku nggak mau tidur sendirian," ujar Azzura manja.
"Udah seminggu tidur sendirian, kenapa tiba-tiba sekarang nggak mau?" goda Raka. "Udah nggak marah?" tanya Raka mengangkat sedikit dagu Azzura. Azzura hanya menggeleng dengan tatapan yang sendu. "Aku nggak mau kamu jalan lagi berduaan sama dia," kata Raka lagi. "Karena aku yakin dia juga suka sama kamu, Ra ... apalagi keluarga kalian sudah sangat dekat, aku takutnya nanti tiba-tiba—"
"Dijodohin? pernah sih waktu aku masih kecil, Om Riza bilang kalo aku udah gede—"
"Tuh, kan ... aduh, Ra. Kalo tiba-tiba Didi kamu bilang iya, gimana nasib aku?"
"Ya berjuanglah ... kayak suaminya Jenna," ujar Azzura tersenyum.
"Kenapa selalu bawa-bawa nama Jenna, sih." Raka menekan hidung Azzura.
"Jenna itu cantik, lembut, nggak neko-neko kayaknya, ya."
"Stop bahas dia," kata Raka.
"Loh, kenapa? aku yang cewek aja suka liatnya, dapet lagi suaminya kayak siapa namanya ...."
"Nggak tau ... stop bahas Jenna, atau nanti aku ...."
"Apa?"
"Ini," ucap Raka lembut, kembali memberikan kecupan kali ini di bibir Azzura.
"Kita belum mandi," ucap Azzura pelan.
"Apa bedanya?"
Tautan bibir itu saling membalas, tangan Raka menangkup kedua pipi Azzura, sementara tangan Azzura berada di dada Raka. Ciuman hangat pagi itu memulai hari kedua insan yang di mabuk cinta. Suara kecapan dan sesapan saling bergantian memenuhi ruangan. Bahkan selimut yang tadinya membungkus tubuh mereka berdua pun sudah jatuh ke lantai.
Raka seperti baru menemukan sesuatu yang berbeda kali ini, lebih berani dan lebih menantang serta memacu adrenalinnya. Lelaki itu memberanikan diri menyusuri leher jenjang Azzura hingga berhenti di depan dada Azzura. Piyama satin yang sudah sedikit tersingkap memperlihatkan kulit halus perut Azzura membuat Raka seakan meminta lebih.
Matanya menatap Azzura, sementara tangannya melepaskan satu demi satu kancing piyama gadis itu.
"Boleh nggak?" tanyanya saat semua kancing telah terlepas.
Perlahan helaian piyama itu terjatuh di sisi kanan Azzura, dada yang terbungkus bahan berenda berwarna hitam itu pun membuat pagi Raka kian berwarna.
__ADS_1
enjoy reading 😘