FRIENDS WITH BENEFITS

FRIENDS WITH BENEFITS
Happy Valentine, Ra


__ADS_3

"Kata Wita, Zurra mau belajar buat empek-empek?" tanya Ibu Citra.


"Iya, Tante ... Zurra mau tau cara bikinnya seperti apa," jawab Azzura saat mereka menyantap sarapan pagi itu.


"Kebetulan Tante ada stok ikan tenggiri, bisalah nanti Zurra belajar."


Azzura tersenyum, tidak sengaja matanya menatap sekilas ke arah Raka yang berada di depannya.


"Wita kemana, Tante? dari tadi aku nggak ngeliat," ujar Azzura.


"Biasa dia kalo Sabtu pagi atau Minggu pagi suka lari, beda sama Raka kalo Sabtu Minggu libur yang ada ya tidur, bangun ya kerja," gerutu Ibu Citra.


"Emang," celetuk Azzura.


"Tuh, kamu aja udah hapal dengan kebiasaannya." Citra meneguk air putih. "Nanti kalo udah selesai, boleh bantu Tante."


"Iya," kata Azzura.


"Ayah mau ngobrol sama kamu, Ka." Pandu beranjak dari tempat duduknya melangkah menuju teras depan.


Raka masih menatap Azzura yang sedang menghabiskan makanannya. Gadis itu terlihat dingin, sementara Ibu Citra memperhatikan gerak gerik mereka berdua.


"Ayo, Zurra. Udah selesai kan?" Ibu Citra menyela kesunyian.


"Iya, Tante. Kita nggak ada yang di butuhkan lagi?" Azzura beranjak dari duduknya membawa piringnya yang kosong menuju dapur dan menghilang dari pandangan Raka.


*****


"Jadi, ayah mau tanya hubungan kamu dengan Azzura sejauh apa? seserius apa? itu anak gadis orang Ka, nggak bisa kamu main-main. Cukup hubungan kamu dengan Jenna yang kandas dulu," ujar Pandu.


"Ya, serius Yah, kalo nggak serius nggak mungkin Raka bawa ke rumah."


"Ayah tau, maksud Ayah hubungan kalian ini kan bukan lagi hubungan anak SMA atau anak kuliahan. Umur kamu juga Ayah rasa sudah cukup lah buat menapaki lebih jauh lagi, seperti tunangan atau langsung menikah."


"Yah," ujar Raka spontan menoleh kepada Pandu. "Serius?"


"Ya serius, daripada kelamaan. Sekarang Ayah tanya, kalo cinta nggak harus lah Ayah tau, sudah pasti kamu cinta. Ayah mau tanya, kamu siap nggak?"


Raka terdiam.


"Hei, kamu di tanya malah diam. Berarti nggak siap, kan? kalo gitu Ayah batalkan melamar Azzura untuk kamu."


"Siap, Yah. Siap banget ... Raka juga maunya begitu. Raka pulang ke rumah membawa Azzura juga karena kita mau minta restu sama Ayah dan ibu." Raka kembali terdiam.

__ADS_1


"Lalu?"


"Ada masalah sedikit semalam, mudah-mudahan Raka bisa mengatasinya."


Lalu Raka berdiri, mencium tangan Pandu.


"Makasih, Yah. Raka tinggal dulu," ujarnya masuk ke dalam rumah.


"Gimana sih? diajak ngomong serius malah di tinggal pergi," gerutu Pandu.


Beberapa saat kemudian, Raka kembali ke teras, dan mendapati WITA yang baru saja pulang dari olahraga lari pagi itu.


"Kebetulan kamu udah pulang, ikut Kakak." Raka menarik tangan Wita.


"Hah? Ayah ... ini dia kenapa?" Wita ikut berlari kecil masuk ke dalam mobil.


"Kita mau kemana?" tanya Wita.


"Ikut aja," ujar Raka.


*****


"Tante setelah ini, gimana?" tanya Azzura dengan tangan yang sudah penuh dengan tepung terigu dan sagu.


"Udah di uleni, sekarang tinggal di bentuk. Azzura mau bikin pempek lenjer atau yang isi telur?" Ibu Citra menekan adonan yang sudah Azzura buat.


"Kalo itu harus di tambahi dengan santan, nanti kita buat adonan lagi khusus pempek yg bulat dan kulit," jelas Ibu Citra.


"Berarti ini Zurra bikin panjang-panjang, kan?"


"Iya, yang panjang itu pempek lenjer. Zurra Tante tinggal ke atas dulu ya, mau lihat Om di kamar takut lupa sama obatnya," ujar Citra meninggalkan Azzura dan Bik Ijah di dapur.


"Bik Ijah ... ini masukin telurnya gimana?" tanya Azzura.


"Oh, tangan Mbak Zurra kasih tepung dulu biar nggak lengket, sudah itu bentuk bulat nanti lubangi tengahnya terus di pipih seperti mangkuk ...." Bik Ijah memberikan contoh. "Nah, iya seperti itu masukin telurnya, nanti di cubit-cubit pinggirnya biar telur nggak keluar, seperti ini."


"Oh, oke ... aku coba."


Dengan tekun Azzura membuat empek-empek, di susun di sebuah nampan. Sudah ada 15 empek-empek berisi telur dan 10 empek-empek dengan bentuk panjang.


Azzura menoleh ke kanan dan ke kiri, Bik Ijah entah sudah kemana, meninggalkannya sendirian.


"Kemana itu si bibik," gumam Azzura, sambil meneruskan pekerjaannya.

__ADS_1


"Udah banyak yang jadi," ujar Raka yang sudah berada di belakang tubuh Azzura.


"Hah? Ya ampun ngagetin." Azzura memutar tubuhnya dengan tangan yang masih tertempel serpihan adonan dan bubuk terigu.


"Saking asiknya, nggak sadar ya aku di belakang kamu dari tadi," ujar Raka.


"Iya," ujar Azzura lalu membelakangi Raka kembali.


"Ra ... aku tau kamu masih marah sama aku, atau kalaupun udah nggak marah, aku tetap minta maaf ya. Aku tau kamu kecewa, aku tau kamu sakit hati, mungkin ini adalah awal kita berproses, makasih karena sudah nerima aku yang seperti ini, kadang buat kamu marah kadang buat kamu nangis, tapi yang pasti ... yang ku harus tau, kalo aku bener-bener sayang dan cinta sama kamu, terlepas dari masa lalu aku. Bantu aku ya Ra, lepas dari itu semua," ujar Raka mendekatkan dirinya pada Azzura.


Azzura hanya terdiam, dia hanya fokus pada adonan yang dia bentuk. Raka membalikkan tubuh Azzura, meletakkan bulatan adonan itu ke tempatnya.


"Kamu mau maafin aku? aku janji akan berubah, aku janji akan menutup masa lalu aku rapat-rapat."


Raka menatap mata Azzura dalam dan bersungguh-sungguh, sejatinya dia juga takut kehilangan gadis itu. Raka merogoh kantung celananya, meraih satu tangan Azzura.


"Happy Valentine, Ra."


Raka menyematkan sebuah cincin dengan berwarna putih dengan bentuk hati yang sederhana namun cantik.


"Dengan tersematnya cincin ini di jari kamu, dengan ini aku menyatakan, melamar kamu untuk jadi tunangan aku, kamu mau?" Raka menatap Azzura.


Mata Azzura mulai berembun, siapa sangka lelaki yang hampir satu tahun ini bersamanya mengucapkan kata-kata yang tidak dia duga sebelumnya. Atau lebih tepatnya masih lama dalam bayang Azzura.


"Mau?" tanya Raka lagi mengangkat dagu Azzura agar tetap menatapnya.


"Kamu mau jadi tunangan aku? Tapi sebelumnya, maafin aku, Ra."


"Aku maafin kamu, tapi tolong aku juga punya hati yang harus kamu jaga," ujar Azzura pelan.


"Iya, aku janji." Raka membawa tubuh Azzura ke dalam pelukannya, sudah tidak di pedulikannya tangan kotor Azzura yang penuh dengan tepung tadi.


"Mau kan jadi tunangan aku?" Raka menjauhkan tubuhnya dari tubuh Azzura. "Iya? mau?"


"Mau," ujar Azzura mengangguk.


Raka menahan tengkuk Azzura, dia tautkan bibirnya pada bibir Azzura. Azzura tersentak, hanya satu yang dia takutkan, ada orang yang masuk ke dapur jika melihat mereka seperti ini.


Lama terhanyut, Azzura pun menikmati ciuman menjelang siang itu. Azzura melingkarkan tangannya pada leher Raka, membalas ciuman itu. Beberapa kali melepaskan ciumannya, lalu menautkannya kembali.


"Happy Valentine, Sayang." Raka memberikan kecupan pada kening Azzura, sementara Azzura memandangi cincin yang melingkar di jarinya dengan senyum dan haru.


"Udah jadi empek-empeknya?" Ibu Citra datang dari pintu. Raka dan Azzura melepaskan tangan mereka yang tadinya saling bertaut.

__ADS_1


**Happy Valentine Day ❤️


enjoy reading 😘**


__ADS_2