
“Tebel muka juga ini orang, sudah jadi perebut laki orang tapi enggak punya malu juga!”
Mendengar Rumi berbicara yang sengaja di tunjukkan untuk dirinya dengan nada mengejek. Alishia memilih diam membisu. Ia malas mencari perkara dengan siapa pun. Apalagi jika ia membuat keributan yang ada dirinya akan hancur karena SP terakhirnya sudah ia dapatkan.
“Oh iya guys harusnya kita buat pesta besar-besaran. Ibu Anggun di nyatakan sedang mengandung anaknya CEO kita. Sah di mata hukum dan negara, enggak kayak yang itu tu, hamil tanpa status ... Eh lupa, dia kan statusnya P E L A K O R!” ucap Rumi lebih kencang memberi pengumuman agar semua orang di kantin mendengar ucapannya.
Dada Alishia berdesir saat Rumi bilang bahwa Anggun sedang mengandung. Bahkan sampai saat ini Mirza tidak memberi kabar apa pun tentang kehamilan Anggun.
Alishia bangkit dari duduknya, ia ingin menelepon Mirza mencari kebenaran dari ucapan Rumi. Namun tangannya di cekal oleh Rumi.
“Lepas!” pinta Alishia dengan nada tegasnya.
Rumi tersenyum sinis, “Kasihan sekali nasib pelakor ini ... Masih butuh pria kayak enggak? aku masih ada stok nih.”
“Rumi lepas!”
Kali ini bukan Alishia yang berbicara tetapi Adam, dengan tatapan tajamnya.
Rumi mencebik kesal karena tidak berhasil memancing kemarahan Alishia. Kalau saja kartunya tidak ada pada Adam, ia tidak akan melepaskan Alishia begitu saja.
Alishia menengok ke arah Adam. Pria yang selalu ikut campur dalam kehidupannya. Ia memilih berjalan menjauh meninggalkan kantin.
Adam tidak tinggal diam saat melihat kepergian Alishia. Ia mengejar Alishia. “Sha tunggu!”
Alishia yang mendengar namanya di panggil menghentikan langkahnya. “Ada apa?”
“Kita harus bicara,” pinta Adam.
“Bicara masalah apa lagi? ... Aku rasa enggak ada yang perlu kita bicarakan,” jawab Alishia dengan nada kesal.
“Soal hubungan kamu dan Mirza. Aku rasa kamu enggak perlu mengganggu hubungan Mirza lagi, aku mau menikah dengan kamu. Kita akan hidup bersama dan merawat janin yang ada di rahim kamu.”
Wajah Alishia memerah seketika menahan amarah. “Jadi maksud kamu aku pengganggu hubungan Mirza dan Anggun? ... lalu yang kamu lakukan padaku itu apa! ... Kamu juga mengganggu hubunganku dan Mirza. Jadi kamu saja yang pergi, dan jangan ganggu aku lagi!”
Alishia melangkah kakinya setengah berlari meninggalkan Adam. Sungguh saat ini ia sedang tidak ingin di ganggu, ia butuh penjelasan dari Mirza.
Alishia memilih masuk ke ruangannya. Ia mencoba menelepon Mirza, namun sayang panggilan pertamanya tidak di angkat. Tak kenal lelah Alishia terus mencoba hingga panggilan ke limanya juga bernasib sama seperti sebelumnya, terabaikan.
Sementara di rumah sakit Anggun memperhatikan Mirza yang tampak cemas memandangi ponsel di tangannya yang berdering, namun tidak di angkat oleh Mirza.
__ADS_1
“Dari siapa Mas?” tanya Anggun.
Mirza menggelengkan kepalanya, lalu memilih menekan mode silent pada ponselnya.
Alishia akhirnya mencoba menenangkan pikirannya. Mungkin ponsel Mirza tertinggal di hotel saat ia keluar.
Rasa pening menghampiri kepalanya, Alishia memijat pelan bagian pelipisnya. Rasa khawatir pada Mirza menyelimuti hatinya, ia takut terjadi sesuatu pada Mirza.
Alishia menggelengkan kepalanya. “Tidak mungkin, Mirza pasti baik-baik saja,” batin Alishia mencoba menenangkan pikirannya.
***
Sudah dua hari Alishia tidak mendapat kabar apa pun tentang Mirza. Setiap panggilannya tidak di angkat oleh Mirza, bukan hanya itu saja beberapa pesan yang Alishia kirimkan pun tidak kunjung mendapat balasan.
Rasa cemas itu tergantikan oleh rasa kesalnya. Saat melihat story Anggun yang memamerkan foto lengannya yang di infus sedang di genggam Mirza dengan caption [Tetaplah di sini Mas, bersamaku dan anak-anak kita]
Rasa cemburu menghantui Alishia, apalagi Anggun tampak bahagia dengan kehamilan anak kembarnya. Di tambah setiap story’ Anggun selalu ada Mirza di sana, sementara Mirza mengabaikan dirinya.
Sore ini setelah pulang kantor Alishia memilih berdiam diri di apartemennya. Ia menyalakan televisi di kamar, namun perhatiannya tertuju pada ponselnya yang di genggamnya.
Setelah mengecek pesannya yang masih tidak di balas oleh Mirza, Alishia mencoba melihat story Anggun. Meskipun menyakitkan hatinya, tapi Alishia ingin tahu perkembangan lebih jauh tentang kedekatan Mirza dan Anggun.
“Mas,” sapa Alishia. Ia menyimpan ponsel yang di genggamnya ke atas tempat tidur dan menghampiri Mirza yang tampak kacau.
“Tolong buatkan aku kopi,” pinta Mirza.
Alishia mengangguk dan bergegas ke dapur untuk membuat kopi keinginan Mirza.
Setelah menyiapkan kopi, Alishia juga mengambil beberapa camilan untuk Mirza.
Alishia kembali ke kamar untuk memberi tahu kalau kopi Mirza sudah siap. Namun Mirza tidak ada di sana.
Suara gemercik air dari kamar mandi menjadi jawaban bagi Alishia. Sepertinya Mirza tengah membersihkan tubuhnya.
Alishia menyiapkan baju santai untuk Mirza. Setelah siap ia memilih kembali ke dapur, lalu membuat susu hangat untuk dirinya.
Mirza tidak membutuhkan waktu lama untuk membersihkan tubuhnya. Ia memakai pakaian yang sudah di siapkan istrinya.
Mirza berjalan ke dapur mencari keberadaan Alishia, di lihatnya Alishia tengah meminum segelas susu. Ia berjalan mendekat lalu duduk di samping Alishia.
__ADS_1
“Bagaimana liburannya Mas?” ucap Alishia basa basi.
Mirza tersenyum seraya membelai rambut Alishia. “Melelahkan.”
“Aku terus menghubungi Mas, tapi Mas mengabaikan aku,” ujar Alishia seraya menatap lekat manik Mirza.
“Maaf, aku terlalu syok tentang kehamilan Anggun,” ungkap Mirza.
“Jadi itu artinya Mas tidak akan menceraikan Anggun?”
Mirza mengecup bibir Alishia, merasakan sensasi lembab serta wangi stroberi dari lipbalm yang sering di gunakan Alishia.
Alishia hanya diam memperhatikan kelopak mata Mirza yang menutup. Kantung mata hitam yang kini Mirza miliki sudah jadi jawaban pasti kalau Mirza tidak tidur dengan nyenyak.
Mirza menghentikan aksinya, ia menarik diri dan kembali memandangi wajah Alishia.
Alishia melihat beban berat yang di pikul Mirza. Hati Alishia mengatakan bahwa Mirza tidak bisa menjawab pertanyaan yang di lontarkannya. Dan betul dugaannya Mirza memilih meraih gelas kopi.
Alishia menahan tangan Mirza agar tidak meminumnya. “Mas jangan minum kopi, nanti tidak bisa tidur.”
Mirza mengikuti ucapan Alishia, lalu menaruhnya kembali. Sudah hampir dua malam ia tidur hanya beberapa jam, takut jika Alishia berbuat yang tidak-tidak. Tapi ia juga belum bisa berkata jujur kepada Alishia tentang kehamilan Anggun. Serta desakan dari ibunya untuk meninggalkan Alishia, demi anak Anggun.
Kehamilan Anggun dengan janin kembar keadaannya cukup lemah. Anggun tidak boleh stres dan kelelahan. Mirza tidak bisa mengabaikan kehamilan Anggun, bagaimana pun juga janin yang ada di rahim Anggun adalah darah dagingnya. Mirza memang tidak mencintai Anggun, tapi dia memiliki kewajiban untuk menjaga istri serta janinnya.
Keheningan menyelimuti mereka. Alishia diam membisu. Sementara Mirza tampak sibuk dengan isi kepalanya.
Dering telepon Mirza memecahkan keheningan di antara mereka. Dengan sigap Mirza mengangkat panggilan tersebut saat melihat nama Anggun tertera di layar ponselnya.
“Ada apa?”
Alishia memperhatikan wajah Mirza yang sedang menerima telepon.
“Iya, aku pulang sekarang,” ucap Mirza mengakhiri panggilannya.
Mirza menyimpan ponselnya ke dalam saku lalu memandang wajah Alishia yang tampak bersedih.
“Maaf aku harus pulang,” ucap Mirza. Ia memberikan sebuah kecupan singkat pada kening Alishia.
“Apa Mas tidak bisa meluangkan waktu untuk bersamaku malam ini?”
__ADS_1
Dengan lesu Mirza menggelengkan kepalanya.