FRIENDS WITH BENEFITS

FRIENDS WITH BENEFITS
Persiapan


__ADS_3

"Apa? satu minggu lagi? kamu nggak salah, Ka?" tanya Teddy pagi itu di ruangan Raka.


"Nggak, gue nggak mau nunda lagi. Benar kata ayah nya Azzura, dua minggu itu terlalu lama, bisa aja terjadi sesuatu selama dua minggu," kata Raka menutup laptopnya.


"Terjadi apa ini maksudnya? Di tikung di sepertiga malam? Astaga, jodoh itu rahasia Tuhan, Ka." Teddy menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.


"Wise sekali Anda rupanya sekarang," kekeh Raka. "Kalo itu gue tau, Ted. Jodoh di tangan Tuhan tapi nggak ada salahnya kita usaha lebih keras lagi, biar Tuhan berpihak sama kita."


"Jadi, apa tugas gue selain ngurusin proyek?"


"Bikin undangan, lo koordinasi sama Siti dimana dan berapa banyak Zurra mau undang kliennya, temannya dan keluarganya."


Teddy membuka tabletnya, dia menulis semua yang di perintahkan oleh Raka.


"Undangan, ketemu dengan pihak WO gimana?" tanya Teddy.


"Sebentar," ujar Raka meraih ponselnya. "Halo, Ra ... hari ini kita bisa ketemu sama WO nya? Oke, setelah jam tiga siang ini ya ... bye." Percakapan singkat untuk sepasang calon pengantin yang terkesan terburu-buru itu.


"Sudah di hubungi Siti, kita meeting setelah jam tiga. Terus, undangan, WO ... apalagi ya?" Raka mengerutkan keningnya, mengetuk pena di atas meja.


"Cincin nikah," kata Teddy.


"Nah ... iya. Tulis Ted, takut gue lupa."


"Kebangetan lo bisa lupa cincin nikah," sindir Teddy.

__ADS_1


"Setelah pertemuan nanti, kita langsung aja ke toko perhiasan," ujar Raka meraih kembali ponselnya, kali ini dia menghubungi Citra. "Itu ajalah, Ted. Nanti kita pikir sambil jalan." Teddy pun pamit diri kembali ke ruangannya.


"Halo, Ibu. Gimana?"


"Ibu sama ayah sudah di bandara, nanti langsung ke apartemen kamu aja, nggak usah jemput nanti naik taksi," ujar Citra.


"Ya udah kalo gitu, nggak apa-apa, kan?"


" Nggak apa-apa, kan ada Wita yang bisa Ibu andalkan."


"Iya, hati-hati Bu, nanti hubungi Raka lagi kalau sudah sampai biar Raka pastiin kartu apartemen sampai ke Ibu."


Raka menyugar rambutnya, sedikit memusingkan memang mempersiapkan pernikahan dalam waktu satu minggu. Dan bukan hal yang mudah membuat pernikahan sederhana namun harus mengumpulkan tamu undangan yang lumayan banyak.


Pukul tiga, Raka sudah menunggu di kafe milik salah satu keluarga Azzura. Pihak WO pun sudah datang, hanya tinggal menunggu kedatangan Azzura dan Siti.


"Ted, udah lo telpon lagi?" tanya Raka saat dia kembali dari toilet.


"Itu loh, baru juga masuk." Tunjuk Teddy pada dua wanita cantik yang baru saja melewati pintu masuk kafe.


"Maaf ... maaf, lama ya? Hujan, macet dimana-mana," kata Azzura, merapikan pakaiannya yang terkena sedikit air hujan.


Dan memang benar, hujan deras diluar sana beserta angin kencang. Raka menarik kursi untuk Azzura agar duduk tepat di sebelahnya. Pembicaraan mengenai konsep pernikahan mereka pun di mulai. Raka dan Azzura terlihat antusias, sementara Siti dan Teddy memperhitungkan segala sesuatunya.


"Jadi nanti konsepnya sederhana dan elegan, dengan wedding outdoor di penuhi bunga-bunga. Karena waktunya mepet, saya pribadi menyarankan pernikahan ini kita adakan di sebuah taman atau em ... sebentar," ujar Angga pemilik WO tersebut lalu menunjukkan gambar taman hutan pinus.

__ADS_1


"Mirip sekali dengan pernikahan Didi dan Mima," kata Azzura.


"Oh ya?" Raka memperhatikan dengan seksama gambar tersebut. "Gimana? aku sih suka," ujarnya.


"Iya, gimana kalo kita buat juga seperti ini," ujar Azzura.


"Terserah sama kamu, aku ikut aja," kata Raka lagi yang banyak menyerahkan semuanya pada Azzura."


"Oke ... kita serahkan sepenuhnya pada pihak WO, untuk susunan acaranya dan lain-lain," ujar Azzura.


"Satu lagi, Mas." Angga memberikan sebuah poto bingkisan seserahan. "Kalo untuk seserahannya dari pihak kita juga atau bagaimana?"


"Seserahan semua dari pihak saya, Mas Angga."


"Oke baik kalau begitu, saya cukupkan di sini dulu selebihnya kita bisa saling chat untuk menginformasikan segala sesuatunya." Angga membereskan laptopnya.


Raka dan Azzura pun mengangguk saat Angga meninggalkan mereka.


"Untuk undangan yang sudah terkonfirmasi ada sekitar 300 ya itu sudah termasuk keluarga dari kedua belah pihak, ada penambahan lagi?" tanya Teddy.


"Undangan lo bikin yang secara online dan cetak ya, Ted karena kalau yang cetak itu khusus untuk klien-klien kita, Azzura dan mertua gue." Raka memainkan alisnya.


"Iya, gue tau ... mertua elo." Teddy menyeruput laci tea nya. "Sayang, kita kapan?" rengek Teddy pada Siti.


enjoy reading 😘

__ADS_1


__ADS_2