FRIENDS WITH BENEFITS

FRIENDS WITH BENEFITS
Jujur atau Dijodohin


__ADS_3

Ruangan itu semakin panas, bahkan tirai jendela saja belum tertutup rapat. Napas tersengal dan debaran jantung yang masih tidak beraturan itu masih memacu pergulatan cumbuan Raka yang membuat Azzura menikmatinya.


Tubuh Azzura yang berada di bawah kungkungan Raka, tangan Azzura yang masih bergelayut pada leher Raka, dan bibir mereka yang masih saling bertaut. Suara lirih Azzura terdengar kala pijatan lembut tangan Raka di dadanya membuat tubuhnya menegang. Dadanya semakin condong ke depan, dan Raka masih menyusuri leher gadis itu.


"Ka," lirih Azzura.


Raka masih diam namun tangannya sibuk membuka kancing kemeja yang Azzura kenakan. Kulit dada gadis itu begitu putih, bukan pertama kalinya bagi Raka setelah kejadian di Jogja waktu itu.


Raka mengecupi setiap inci leher hingga dada Azzura, Azzura bersuara lembut sementara satu tangan Raka memijat pelan dada gadis itu. Raka kembali menautkan bibirnya pada Azzura, cumbuan itu semakin liar.


Getar ponsel beberapa kali tak mereka hiraukan, cumbuan di atas sofa itu memang memabukkan bagi keduanya bahkan lebih dari saat mereka menghabiskan waktu di Jogja.


"Nggak," kata Azzura saat Raka mulai mengusap paha Azzura yang saat itu mengenakan rok sepan.


Raka memberikan kecupan di kening kekasihnya lalu tersenyum. Kemudian dia menutup kembali kemeja yang Azzura kenakan.


"Aku antar pulang ya," ujar Raka menyandarkan kepalanya di sandaran sofa.


"Memang kenapa?"


"Kalo kamu lama-lama di sini semuanya bisa buyar," ujar Raka mengacak rambut kekasihnya lalu menuntun kepala Azzura bersandar di dadanya.


"Ya jangan sampe buyar," jawab Azzura dengan wajah merajuk.


"Nggak bisa, Ra ... aku nggak bisa kontrol diri aku kalo berdua terus sama kamu," ucap Raka.


"Waktu di Jogja bisa," ujar Azzura.


"Berusaha menahan," kekeh Raka. "Ayo pulang, nanti kemaleman bisa di sidang aku sama Langit Kelana," kata Raka. "Aku mandi sebentar, ya."


*****


Mobil Raka berhenti tepat di depan rumah megah milik Langit. Raka ikut turun dan mengantarkan Azzura sampai di depan pintu rumahnya.


"Sudah sepi?" tanya Raka.


"Sudah jam sembilan, biasanya Mima sama Didi sudah menghabiskan waktu mereka di kamar," jawan Azzura.


"Oh, aku kira nunggu sampai anak gadisnya pulang," ujar Raka tersenyum lalu mendekatkan wajahnya pada Azzura.


"Hati-hati di jalan," bisik Azzura lalu memberikan kecupan di pipi Raka.


"Besok hari Sabtu, mau aku jemput kita bisa hangout ke Mall gitu?" Raka menarik pinggang Azzura mendekat padanya.

__ADS_1


"Jemput aku jam 11, jangan telat ...."


"Nice dream," ujar Raka memberikan kecupan sekilas di bibir Azzura.


Seketika tubuh mereka menjauh saat lampu di ruangan dalam rumah itu menyala. Tubuh mereka semakin menjauh saat bunyi kunci pintu terbuka.


"Zurra."


"Mima ... Mima belum tidur?"


"Nungguin kamu, Ra ... tumben baru pulang, padahal Didi udah pulang sama Rey tadi jam enam."


"Rey?" tanya Raka dan Azzura secara bersamaan.


"Iya, kenapa sih?" Jingga memperhatikan ekspresi wajah keduanya.


"Maksud Mima, Rey tidur di rumah kita?"


"Iya, kan udah biasa ... apalagi besok Om Riza datang, kenapa sih?" Jingga mengerutkan keningnya. "Tunggu ... tunggu, ini kenapa bisa Raka yang anterin kamu pulang? ada yang belum kamu ceritain sama Mima?"


"Em ... Raka sebaiknya pulang dulu, udah malem. Besok jangan lupa jemput aku, ya." Azzura mendorong pelan tubuh lelaki itu.


"Tapi, Ra—"


"Pamit sama Mima," ujar Azzura dengan isyarat matanya.


Jingga melipat kedua tangannya di dada, dia menunggu jawaban dari Azzura.


"Mau cerita atau Mima cari tau sendiri," kata Jingga menatap putrinya.


"Apa, Mima? nggak ada yang perlu Zurra ceritain ke Mima." Azzura tersenyum lalu masuk ke dalam rumah.


"Kamu pacaran sama Raka?" tanya Jingga mengikuti langkah anaknya menuju kamar Azzura.


"Mima ... sssttt." Azzura menempelkan satu jari telunjuk ke bibirnya.


"Hah? serius?"


"Mima nggak suka ya," kata Azzura dengan wajah kecewa.


"Bukan ... bukan nggak suka, tapi Mima emang udah mengira pasti kalian berdua ada apa-apanya." Jingga senyum-senyum sendiri.


"Mima kok senyum-senyum?"

__ADS_1


Jingga duduk di sisi tempat tidur putrinya, memperhatikan Azzura membersihkan wajahnya.


"Mima kira kamu bakal trauma pacaran gara-gara si Bima itu," ujar Jingga kesal.


"Ya nggak lah. Ya ampun Mima ... Raka itu manis banget, nggak ganteng kayak Didi tapi Raka manis, cool tadinya," ujar Azzura mengulum senyum. "Kaku tadinya juga tapi sekarang sudah nggak. Mima ... Raka itu sweet dia memang pekerja keras, tapi dia sebisa mungkin luangin waktu buat Zurra," ujar Azzura dengan mata berbinar-binar, lalu melanjutkan kembali sapuan kapan di wajahnya.


"Terus Rey?" tanya Jingga.


"Abang Rey?" tanya Azzura lalu Jingga mengangguk. "Nggak ada apa-apa, kan emang dari dulu nggak ada apa-apa, ya bukan salah Zurra juga kalo dia jadi suka sama Zurra, lagian selama ini Azzura nggak pernah deh kasih harapan. Mima kasih pengertian lah buat dia, atau Mima sama Tante Indira cariin jodoh, Azzura no ah ... dari dulu juga nganggap dia cuma kakak nggak lebih."


"Udah di bilang ke Rey nya?"


"Ya ampun Mima, harusnya dia paham dong ... kemarin di Jogja juga ketemu sama Raka—" Azzura mengatup mulutnya.


"Raka ke Jogja? nyusulin kamu? Azzura ... Mima nanya, jawab yang jujur."


"Hah?"


"Raka ke Jogja? nyusulin kami dan kalian pacaran di Jogja? tanpa ada yang ngawasin?"


"Pacaran kalo ada yang nemenin namanya bukan pacaran, Mima," ujar Azzura samar.


"Jawab Mima. Mima nggak bakal marah ... Mima juga pernah muda, sama kayak kamu ... tapi dulu semua-semua almarhum kakek dan nenek kalian tetap tau kemana Mima dan Didi pergi bahkan Papa Fajar juga ikut."


"Iya, kemarin Raka nyusulin ke Jogja itu juga karena Raka tau Rey ada kerjaan di Jogja."


"Raka cemburuan?"


"Iya, Raka takut di tikung lagi."


"Di tikung?"


"Cerita masa lalu Raka, intinya gitu," jelas Azzura. "Jadi Mima setuju nih Zurra sama Raka?"


"Selagi nggak macem-macem, Mima setuju aja," jawab Jingga.


"Nggak macem-macem gimana?"


"Ngambil keuntungan dari kamu, nyakitin kamu, selingkuhin kamu, apapun yang merugikan kamu nantinya," kata Jingga tegas lalu beranjak dari duduknya mengarah ke pintu kamar. "Sama satu lagi ...."


"Ya Mima?"


"Didi kamu harus tau, jangan sampai di tunda, Mima takutnya Didi sama Om Riza beneran mau jodohin kamu sama Rey." Jingga menutup pintu itu meninggalkan Azzura dengan ekspresi wajah yang panik.

__ADS_1


"Dijodohin?" Azzura menarik rambutnya. "Tapi nggak mungkin Didi begitu," gumam Azzura. "Aduh ... masa di jodohin." Perasaan Azzura kian tak menentu saat malam itu.


Enjoy reading 😘


__ADS_2