
Siang itu Alishia dan Mirza pergi ke kantor polisi. Alishia memberikan informasi yang ia dapat saat di interogasi. Satu jam semuanya telah selesai.
Alishia berjalan menghampiri Mirza yang menunggu. Tangan Alishia mengusap perutnya yang terus berbunyi. “Harusnya sebelum ke sini kita makan dulu, perutku sekarang benar-benar kelaparan.”
“Ayo kita cari makan,” jawab Mirza.
Alishia segera mendorong kursi roda Mirza. Suasana di halaman kantor polisi tersebut tidak terlalu ramai. Pandangan Alishia tertuju pada seberang jalan ada rumah makan.
“Kita makan di sana ya, aku sudah tidak sanggup menahan diri lagi,” mohon Alishia.
Awalnya Mirza ingin menolak, tapi ia tidak kuasa. Meskipun kini Mirza harus berusaha sekuat tenaga untuk menutup telinganya.
Saat memasuki rumah makan tersebut, dugaan Mirza betul. Banyak pasang mata yang memandang ke arah dirinya.
Alishia menyadari reaksi Mirza, ia menepuk pelan pundak Mirza. Lalu mendorong kursi roda Mirza ke sudut, agar mereka tidak menjadi pusat perhatian.
Alishia makan dengan porsi yang cukup banyak, kini perutnya terasa begah.
“Mau tambah lagi?”
Alishia menggeleng. “Tidak, aku sedang diet.”
“Dua porsi itu diet?”
Alishia menghabiskan air putihnya. “Yang satu piringnya lagi pasokan untuk nanti malam.”
“Mas mau buah, aku suapi?”
__ADS_1
Melihat anggukan Mirza Alishia bangkit dari duduknya, dan duduk tepat di samping suaminya. Alishia mulai menyuapi Mirza.
Dari tempatnya duduk Alishia bisa mendengar bisikan-bisikan tidak mengenakan dari mulut-mulut manusia yang merasa dirinya paling sempurna.
“Ko mau ya menikah sama pria cacat,” ucap seorang wanita paru baya sambil melirik Alishia.
Temanya ikut menatap ke arah Alishia. “Paling juga mau karena banyak duitnya.”
“Pulang yuk,” ajak Mirza. Ia tidak ingin Alishia risi mendengar ucapan ibu-ibu tersebut.
“Aku masih lapar,” tandas Alishia. Buah yang awalnya untuk Mirza kini masuk semua ke dalam lambungnya Alishia.
“Kamu gagal diet lagi?”
Alishia mengerucutkan bibirnya. “Maaaas,” rengek Alishia.
Asisten Mirza ikut masuk ke kamar, dan merebahkan tubuh Mirza di atas tempat tidur.
Alishia tidur di samping Mirza, ia memeluk Mirza erat. “Alishia apa kamu tidak akan menyesal berada di sisiku?”
“Menyesal kenapa?” Alishia memilih duduk dan memandang wajah Mirza yang tampak ingin berbicara serius.
“Kamu tidak akan pernah mendapatkan apa yang kamu inginkan.”
Alishia berpikir sejenak mencerna ucapan Mirza. “Memangnya apa yang aku inginkan, Mas tahu?”
“Dokter sudah bilang kemungkinan Mas bisa berjalan kembali sangatlah kecil. Mas tidak bisa berada di atasmu untuk memberikan kepuasan.”
__ADS_1
Alishia mulai mengerti arah pembicaraan Mirza. Alishia naik ke atas tubuh Mirza. “Aku tidak keberatan jika harus di atas.”
“Alishia Mas serius.”
“Aku juga serius Mas.” Alishia membuka kancing kemeja Mirza satu persatu.
“Sayang,” panggil Mirza memberi penolakan dengan menahan tangan Alishia.
“Kita harus mencobanya terlebih dahulu, habis itu aku akan putuskan. Memilih pergi atau tetap tinggal.”
Mirza memilih mengalah dan membiarkan Alishia membuka seluruh pakaian dirinya.
Mereka mencoba melakukannya. Semuanya terasa aneh, banyak pikiran yang menghantui kepala Mirza. Namun permainan Alishia membuat Mirza terbang ke atas langit ke tujuh hingga mereka merasa pelepasan nikm*atnya surganya dunia.
Alishia merebahkan tubuhnya di samping Mirza, menjadikan tangan suaminya sebagai bantalan. Kegiatannya barusan ternyata cukup menguras tenaga.
Saat tangan Mirza membelai rambut Alishia, ia berjanji di dalam hatinya bahwa sampai kapan pun ia tidak akan pernah pergi dari sisi Mirza.
“Kamu sudah membuat keputusan?”
Alishia memejamkan matanya, kepalanya mengangguk.
“Apa keputusanmu?”
“Aku tidak akan pernah menyesal memilih tinggal bersamamu Mas.”
Mirza memeluk tubuh Alishia. Rasa syukur ia panjatkan pada tuhan karena telah mempertemukannya dengan wanita yang luar biasa.
__ADS_1