FRIENDS WITH BENEFITS

FRIENDS WITH BENEFITS
Room 507


__ADS_3

Hampir sebulan kita sering bersama.


Saling sapa setiap pagi, bercanda di kantor, sesekali chatting nakal untuk saling menggoda di sela kesibukan pekerjaan.


Hari hari ku terasa lebih berwarna.


Bahkan saat pertengkaran ku dengan suami yang biasanya membuat aku tertekan, tapi dengan hadirnya Tian, masalahku sering teralihkan.


Bahkan dengan sesekali dia menemaniku belanja ke supermarket, itu bisa membuatku selalu tersenyum.


Disisi lain, aku punya permasalahan sama kepribadian dan mentalku.


Aku terbiasa tumbuh dalam keluarga yang selalu mengharuskan aku bertindak sempurna.


Terbiasa meraih semua keinginan orang tua. Walapun aku selalu berusaha mengikut setiap keinginan orang tua, aku tetap menerima penolakan dari mereka. Terlalu banyak trauma yang hadir dalam hidupku sering membuat aku tidak sadar dengan apa yang aku lakukan. Aku sering berpura2 bahagia pada siang hari lalu bisa mendadak menangis sepanjang malam. Aku juga sering membuat orang sekitarku membenciku ketika aku mengungkapkan yang aku rasakan, itulah yang selalu membuatku berpura-pura hanya agar semua orang menyukaiku dan tidak meninggalkanku.


Hanya dengan Tian, aku merasa bebas menjadi diriku apa adanya. Dia menerimaku, saat aku mulai mengacau dia masih ada untuk aku dan tidak meninggalkanku.

__ADS_1


————


Minggu siang terik hari itu, saat aku tak bisa mengontrol emosi , pertengkaran besar terjadi antara aku dan suamiku.


Aku tak lagi bisa menahan emosi, keluar dari rumah tanpa berpikir apapun. Hanya ingin keluar menangis berteriak , tapi tiba tiba bayangan wajah Tian muncul di pikiranku.


Sofia : kamu dimana ? Sibuk gak ? Bisa temani aku ? Ketemu di kantor sekarang.


Tian: oke, gak sibuk juga, sekarang ya ? Aku jalan.


Begitulah Tian, kapan pun aku membutuhkan dia selalu ada dan langsung menghampiriku.


Sofia : “Tian, kita ke hotel yuk”, setan apa yang merasuki ku saat itu, permasalahan yang bertumpuk mengacaukan akal sehatku dan membuatku jadi perempuan tak punya harga diri mengajak pria lajang ke hotel siang terik. Tentu saja Tian menerima ajakanku.


Siang itu juga kita berdua checkin di salah satu hotel yang lokasi nya lumayan jauh dari rumah dan kantor.


Kamar 507,

__ADS_1


Kamar dengan twin bed sprei putih standar hotel, saat ac mulai mendinginkan tubuh kita yang kepanasan dari luar , emosi di kepalaku yang meledak seakan mencair dengan suasana itu.


Tian, tanpa ragu lagi mulai memelukku, pelukan yang bukan menenangkan seperti dikantor tadi, pelukannya membuatku terduduk di sudut kasur, awalnya aku mengelak, tapi Tian terus mendorong tubuhku hingga akhirnya dia telah berada diatas tubuhku menindihku.


Tian mulai meraba tubuhku, tangannya memegang mulai dari bahuku, perlahan turun ke pinggangku, bibirnya mulai mencium bibirku.


Tanpa sadar tangannya bukan lagi dipinggangku, tapi mulai memasuki baju kaosku, merayap sampai ke bra ku, sambil bibirnya terus mencium bibirku, aku hanya bisa membalasnya dengan sisa air mata yang masih menetes di ujung mataku. Pikiranku terus bilang ini salah, tapi tubuhku tetap menikmati. Bahkan bibirku membalas ciuman bibir Tian , semakin aku membalas ciumannya, tangannya semakin liar meremas dadaku, seperti biasa, bra ku selalu mudah dilepas olehnya.


Nafas kami berdua mulai cepat, gugup dan ***** bersamaan menghampiriku. Tian yang selama ini aku anggap pria manis, dia mulai buas menguasai tubuhku. Perlahan pakain kami mulai terlepas. Tanpa menatap wajahku, Tian mulai memasukan “senjatanya” , aku yang mulai mendesah, baru pertama kali merasakan sesuatu yang berbeda, ukuran yang biasa saja tak terlalu besar tapi sedikit bengkok hanya sekali dorongan membuatku bergetar.


Pria manis ini begitu hebat memainkan ku, aku yang menikah bertahun tahun dan selama ini hanya suamiku yang aku rasa, sungguh rasa ini begitu berbeda. Entah karena kita melakukannya dengan emosi ku yang sedang memanas, atau ada campur tangan setan yang sedang menggoda kami membuat ini terasa begitu nikmat.


Sepertinya ada kesamaan untuk setiap pria, ronde pertama selalu berlalu cepat .


Sedikit kecewa dalam pikiranku, “hanya segini kemampuanmu ?” Ucapku sambil berbaring memeluk tubuhnya, “tentu tidak sofia, kamu mau loat yang sesungguhnya ?”


“Sabar yaa , kita ngobrol dlu”, aku yang tadinya ingin melanjutkan cerita ku padanya, belum aku mulai, bibirnya mendarat lagi ke bibirku, tangannya mulai lagi memeras dada kecilku, dia memulai permainan dengan membalikan tubuhku untuk menunduk, dan menyerangku dari belakang. Bibir ku sering tak kuat menahan *******, tapi Tian selalu menutup mulut “kasar juga pikirku, tapi aku suka” , pria manis ini terus mendorong maju mundur tubuhnya, sesekali sengaja menabrakkan senjatanya dengan keras. Tian membalikan tubuhku menarik ke pinggir kasur dan dia mulai berdiri didepanku yang sedang terlentang, baru kali ini aku merasa kewalahan , begitu nikmat, begitu menyenangkan bisa merasakan yang belum pernah aku rasakan. Tian tak memberiku kesempatan , aku berkali kali mencapai ******* tapi dia tak pernah berhenti, dia menembak langsung di dalam tubuhku, aku masih merasakan hangat aliran itu didalam.

__ADS_1


Saat mulai lelah, kita hanya tersenyum dan saling menatap , aku bisikan padanya “kamu itu milikku, sampai nanti kau bertemu dengan jodohmu dan menikah, aku milikku” , dia tersenyum memandangku seakan mengiyakan perkataanku, mencium ku lalu kamu berpelukan dalam kelelahan.


————


__ADS_2