
Memasuki lobby kantornya, senyum sumringah menghiasi wajah Raka pagi itu, baru semalam dia sampai dari Jogja. Tiga hari di Jogja bersama dengan Azzura seperti membuat hidupnya semakin lebih hidup.
"Beh, senyumnya Mas Bro, beda sekarang," ujar Teddy yang berjalan mensejajari langkah kaki Raka yang menaiki anak tangga menuju ruangannya.
"Gimana Jogja? eh salah pertanyaan gue, gimana di Jogja?" Goda Teddy.
"Sama aja, Syaiton apa bedanya itu pertanyaan elo," kekeh Raka.
"Tiga hari, Ka ... beh, bayangan gue yang iya-iya ini." Teddy tidak bisa menahan tawanya.
"Haha ... emang elo." Raka tertawa, meletakkan laptopnya di atas meja kerja. "Mana laporan lo?"
"Nggak mau cerita dulu?"
"Nggak ... mana laporan?" Raka mengalihkan pembicaraan mereka.
"Ini laporan gue," ujarnya memberikan beberapa berkas pada Raka. "Oh ya Ka, kemarin kan gue ke kantornya Pak Langit, baru kemarin gue liat assistennya Azzura, ya ampun Ka ... kok lo nggak pernah bilang," kata Teddy.
"Ngapain?"
"Namanya Siti ... Siti Khairunisa, cantik Ka ... untung lo sukanya Azzura."
"Nggak ada Ted, lo jangan sembarangan ya ... itu si Melly anak keuangan mau lo apain?"
"Selama gue nggak terikat, gue bebas, Bebs ...."
"Babs ... Bebs, geli gue. Nggak ada lo macem-macem sama assisten Azzura, awas aja lo!" Raka memberikan laporan yang sudah dia tanda tangani pada Teddy.
"Yang gue denger juga dulu, si Kalla sekretarisnya juga cantik Ka ... sempat ada affair juga," kata Teddy dengan satu alis yang terangkat.
"Astaga ... lo udah kayak ibu-ibu komplek yang doyan gosip," kata Raka. "Kalla pula yang di bahasnya sekarang."
"Kayaknya kantor Pak Langit itu pusatnya cewek cantik, Ka."
"Pergi lo, Syaiton ... pikiran lo Ted, kapan insyaf nya," gerutu Raka.
"Jangan panggil gue Teddy, kalo belum bisa dapetin Siti."
"Awas aja lo macem-macem," ancam Raka.
"Jangan lupa besok kita ada meeting dengan Langit Kelana membahas resort."
"Oh ya, masalah resort—"
"Udah tau gue, Rey kan? Jadi Rey hanya di serahkan proyek pembangunan beberapa villa saja, selebihnya kita ... mulai dari villa dan resort, kolam renang sampai dengan restoran, intinya sesuai dengan proposal pengajuan kita kemarin."
"Kenapa Rey hanya beberapa villa?"
"Alasan Langit adalah karena perusahaan Rey itu baru, pengalaman Rey selama ini hanya sebatas gedung kantor dan perumahan, sedangkan dari perusahaan kita sendiri walaupun perusahaan kita nggak sebesar perusahaan yang Rey atau bapaknya punya, tapi pengalaman kita jangan di tanya, itu salah satu alasan kenapa Langit Kelana mau memakai kita lagi," jelas Teddy.
"Ok."
__ADS_1
"Bukan karena anaknya pacaran sama elo," sindir Teddy.
"Kan belum tau," ujar Raka.
"Kalo tau?"
Raka hanya mengangkat kedua bahunya.
"Gue cabut dulu, mau kerja ...." Teddy meninggalkan Raka yang tiba-tiba diam.
Teddy benar, bagaimana kalau Langit tahu jika dia dan Azzura berpacaran. Bagaimana jika Langit berpikir kalau dia memanfaatkan Azzura untuk perusahaannya, atau Langit berpikir ini cara Raka mencari muka di hadapan Langit agar mendapatkan proyek besar dari perusahaan sebesar Langit Kelana. Raka memijat keningnya, bagaimanapun Langit harus tahu tentang semua ini.
*****
"Kamu dimana?" tanya Azzura.
"Masih di kantor, kamu dimana?" Raka balik bertanya.
"Di apartemen kamu, aku kira kamu udah pulang ... kalo gitu aku pulang aja, ya."
"Kok nggak bilang mau kesana," ujar Raka melirik jam tangannya.
"Tadi setelah makan siang sama Didi dan Rey, aku bilang ke Didi ada urusan—"
"Makan siang? sama Rey?"
"Iya, diajakin Didi ... aku bilang aku ada urusan, aku mampir ke swalayan, beli bahan masakan buat kamu ... makanya aku kesini."
"Sama Didi ... nggak sama Rey aja, kok di bahas sih."
"Jangan pulang dulu, aku udah pulang sekarang," ujar Raka mengakhiri percakapan mereka.
Butuh waktu 45 menit untuk Raka sampai di apartemennya. Raka baru saja keluar dari lift ketika bertemu Bima dan Riska, ternyata kedua pasangan itu masih tinggal di apartemen yang sama dengan miliknya.
"Hai, Ka."
Raka hanya tersenyum, tanpa membalas sapaan dari Bima, mantan kekasih Azzura.
"Nggak nyangka bisa satu apartemen sama Riska ya," ujar Bima saat Raka akan melangkah kembali.
"Ya," jawabnya singkat.
"Tapi, kita jadi pindahkan, Sayang? aku nggak mau satu gedung apartemen dengan pacarnya mantan kamu itu," rengek Riska.
"Saya permisi," ujar Raka, rasanya menjijikkan harus mendengar rengekan wanita yang bermuka dua seperti Riska.
"Iya, nanti kita pindah, tapi nanti malam kita—"
Tidak lagi Raka dengar percakapan pasangan kekasih itu, cepat-cepat dia melangkah menuju unit apartemennya. Azzura harus menjelaskan padanya kenapa bisa dia makan siang dengan Rey hari ini.
"Hei," sapa Azzura yang baru saja menyelesaikan steamboat nya. "Sini, pasti laper ... aku masakin kamu steamboat, cicip deh enak banget kaldunya," celoteh Azzura.
__ADS_1
Raka mengikuti titah kekasihnya itu, duduk di kursi makan lalu memperhatikan Azzura mengaduk kuah steamboat. Azzura begitu telaten memasukkan beberapa sayuran sebagai pelengkap.
"Makan, yuk," ujar Azzura. "Kenapa sih, dari tadi ngeliatin terus."
"Tadi kenapa bisa makan siang dengan Rey?"
"Oh, tadi dia ke kantor, ketemu Didi nge bahas biasalah proyek yang kalian kerjakan besok," ujar Azzura.
"Terus?"
"Ya kebetulan aku juga di sana, lagi diskusi sama Didi, ada Kalla juga kok ... terus Didi ngajakin makan siang bareng."
"Didi kamu deket banget sama dia, ya?"
"Iya, dulu jaman kita kecil-kecil sering banget kumpul, karena Abang Rey lebih tua satu tahun dari kita jadi dia yang suka ngelindungin aku kalo aku di jahilin Abang Ar sama Kalla."
"Oh ... seneng dong di lindungin terus," ujar Raka menghirup kuah steamboat nya.
"Yee, nggak gitu juga, namanya anak kecil ... mau tambah lagi nggak?" tanya Azzura.
"Nggak, cukup udah kenyang banget di tambah cerita masa kecil jadi makin kenyang," sindir Raka.
"Cemburu ya?" tanya Azzura tersenyum lalu mendekati Raka.
"Nggak."
"Nggak salah lagi," goda Azzura. "Aku sama Abang Rey itu sama kayak aku sama Abang Ar atau Kalla, hidup aku di kelilingi oleh lelaki seperti mereka, jadi kalo aku akrab sama Rey jangan cemburu," kata Azzura yang sudah duduk di pangkuan Raka.
"Nggak cemburu, cuma aku ngerasa ada sesuatu yang beda dengan dia, bisa jadi dia sudah lama jatuh cinta sama kamu, Ra."
Azzura melingkarkan tangannya pada leher kekasihnya itu, "kayaknya sih iya."
"Tuh kan, ck." Raka terlihat kesal, semakin erat Raka melingkarkan tangannya di pinggang Azzura.
Azzura kali ini tidak bisa menahan tawanya. Tawa gadis itu meledak, tangannya beralih menangkup rahang Raka, menjapit hidung lelaki itu karena gemas.
"Teman cowok aku banyak, Ka ... kalo Rey aja kamu cemburui gimana yang lain, kalopun Rey suka sama aku ya biarin aja, kan nggak ada yang larang," kata Rara.
Gadis itu merapikan alis mata Raka, meskipun Rey sudah pernah menyatakan cintanya pada Azzura, namun Azzura selalu menolaknya secara lembut.
"Nggak boleh cemburu nanti cepet tua,"gurau Azzura lalu menautkan bibirnya pada bibir Raka.
Ciuman ringan itu membuat desiran darah itu mengalir lebih cepat, Raka menahan tengkuk leher Azzura, membalasnya lebih lama. Raka menyesap bibir Azzura secara berganti-ganti hingga terbuka dan membuat lidah Raka masuk ke dalam rongga mulut gadis itu.
Tubuh Azzura yang berada di pangkuan Raka bergerak tak beraturan, ciuman yang saling berbalas itu memacu hasrat keduanya. Tangan Raka perlahan naik memberikan pijatan lembut pada dada gadis itu. Azzura melepaskan ciumannya, menatap mata Raka yang sayu.
"Kenapa?" tanya Raka.
Wajah Azzura kembali mendekat, kali ini dia menyesap bibir Raka lebih lama. Dengan satu kali gerakan Raka berhasil mengangkat tubuh itu untuk berpindah ke sofa ruang tengah tanpa melepaskan tautan bibir mereka.
enjoy reading 😘
__ADS_1