FRIENDS WITH BENEFITS

FRIENDS WITH BENEFITS
Cemburu Membawa Nikmat


__ADS_3

"Lalu Rio tadi?" tanya Raka.


"Rio? teman ... hanya teman. Kenapa sih? kamu cemburu? kenapa di masalahin?"


"Karena tatapannya bukan tatapan seorang teman!" Raka menatap Azzura tajam.


"Ya ampun, kalo pun pacaran itu kan udah dulu, sekarang beda ... kenapa sih selalu di bahas yang seperti ini?" sungut Azzura.


Raka masih saja diam, dia memarkirkan mobilnya begitu saja. Cepat-cepat Azzura keluar dari mobil dengan menghempaskan pintu mobil yang membuat Raka membunyikan klaksonnya kesal. Azzura menoleh ke belakang lalu membuang wajahnya kesal.


Azzura baru saja keluar dari kamar mandi ketika didapatinya Raka sedang menghabiskan satu batang rokoknya di balkon kamar. Setelah memakai bajunya, Azzura bergegas membaringkan tubuhnya di atas pembaringan, menarik selimut menutupi tubuhnya hingga sebatas leher.


Malam itu hampa, Raka harus menerima kenyataan jika apa yang dia lakukan sudah melukai hati istrinya. Kepercayaan memang kunci dari sebuah hubungan, masa lalu pasangan kita itu hanya sebuah cerita lama yang seharusnya tidak usah dan jangan pernah diungkit kembali.


Azzura tidur dengan membelakangi Raka, dipandanginya punggung istrinya. Dia rengkuh Azzura dan memeluknya dari belakang, diciuminya Azzura namun sedikit pun Azzura bergeming, entah dia sudah lelap tertidur atau memang amarah Azzura yang masih belum padam.


*****


Hari baru saja berganti, Raka bangun tanpa Azzura di sisinya, entah kemana istrinya itu. Dengan cepat lelaki itu meraih sweater coklat di atas sofa, alih-alih menemukan Azzura di pinggir kolam tapi Raka tidak menemukannya sama sekali.


"Maaf, Bli lihat istri saya?" tanya Raka pada resepsionis hotel.


"Oh, Mbak yang cantik dengan sweater berwarna pink? tadi saya lihat menuju Pura besar nggak jauh dari sini, mungkin saja kesana atau ke tempat kerajinan patung Dewa yang nggak jauh dari Pura," ujar lelaki berkulit sawo matang dengan aksen Bali nya.


"Gitu ya," kata Raka mengeluarkan kunci mobilnya.


"Bapak naik motor saya saja, karena di Pura besar sedang ada acara sembahyang. Daripada terjebak macet," ujar lelaki itu lagi lalu menyerahkan kunci motor padanya.


"Nggak apa-apa ini?" tanya Raka tak enak hati.


"Pakai saja." Logat Bali itu begitu kental.


Motor itu melaju mengarah Pura besar, menyusuri jalan yang menanjak. Memang tidak terlalu jauh dari hotel tempat mereka menginap tapi untuk orang yang berjalan kaki dengan medan menaiki bukit seperti ini sudah pasti akan terasa lelah.


Benar saja, Pura yang di maksud tadi memang sudah penuh dengan umat Hindu yang sedang melakukan kewajibannya. Motor Astrea keluaran tahun lama itu pelan melewati Pura itu, tak sengaja Raka menangkap sosok istrinya yang sudah berbaur di sana. Dengan kamera yang berada di tangannya, Azzura mencari posisi yang tepat untuk mengambil obyek foto agar mendapatkan hasil yang bagus.


Raka memperhatikan istrinya itu dari kejauhan, dengan cepatnya Azzura bisa tertawa dan akrab dengan lawan bicaranya. Wanita itu memang pribadi yang supel, mudah dekat dengan siapapun, jadi memang tidak bisa Raka menyalahkan istrinya jika banyak yang menyukainya.

__ADS_1


Beberapa bidikan kamera Azzura arahkan pada objek. Terukir senyum di wajahnya ketika melihat hasilnya, sebuah kepuasan tersendiri bagi seorang pencinta fotografi. Azzura kembali berjalan, ketika dia rasa cukup mendapatkan foto-foto yang bagus. Sasarannya kali ini adalah tempat kerajinan patung, dengan berjalan kaki Azzura sudah sampai di depan gerbang berukir gapura.


Raka mengikutinya dengan jarak yang tidak terlalu jauh. Apa yang Azzura sukai dan minati sedikit banyak Raka sudah mengetahuinya, namun ada sisi Azzura yang belum dia kenal. Wanita itu menyukai sesuatu berbau seni, melihatnya dari kejauhan berinteraksi dengan pengrajin patung, mencoba sesuatu yang baru saja Azzura temui membuat Raka sadar kalau dia belum mengenal Azzura seutuhnya.


Hampir satu jam Raka menunggu, duduk diatas motor dengan tangan terlipat di dada. Azzura melangkah keluar gapura tempat kerajinan patung berada. Dia menoleh ke kanan-kiri lalu melangkah menyusuri kembali jalan menuju hotel.


Raka mengikutinya dari belakang, bunyi motor Astrea itu begitu dekat dengan Azzura. Azzura menoleh ke belakang, Raka hanya tersenyum manis lalu menyamai berjalan di sisi Azzura.


"Naik," ujarnya pada sang istri.


Azzura mengamati suaminya itu, alisnya berkerut mengamati motor yang di kendarai oleh Raka.


"Ayo, naik ... kita jalan-jalan," ujar Raka meraih tangan Azzura mengajaknya naik dan melingkarkan tangan Azzura di pinggangnya.


"Motor siapa?"


"Pinjem," kata Raka melajukan motor itu mengarah ke pantai.


"Pinjem? kuat naik turun gunung?" tanya Azzura melihat kondisi jalanan yang menantang.


Tangan Azzura yang melingkar di pinggang Raka tetap berada di dalam genggaman lelaki itu.


"Kok nggak bangunin aku kalo mau jalan-jalan?" tanya Raka.


"Kamu tidur," kata Azzura.


"Kan bisa di bangunin, apa masih marah?" selidik Raka.


"Harus aku jawab?"


Raka menghentikan motornya, meraih tangan Azzura untuk mengikutinya menuju bibir pantai.


"Maaf tentang semalam," kata Raka melirik Azzura.


"Sudah aku lupain," jawab Azzura masih menatap ke arah laut lepas.


"Aku cemburu ... ternyata aku belum mengenal kamu seutuhnya." Raka merengkuh pinggang Azzura. "Memang nggak seharusnya aku membahas masa lalu kamu, hubunganmu dengan orang-orang yang pernah mengisi hati kamu, seharusnya aku cukup tau aja, dan nggak menelisik lebih dalam," ujar Raka. "Maaf ya." Raka menyematkan untaian rambut di balik telinga Azzura.

__ADS_1


"Kadang kamu nyebelin." Mata Azzura berkaca, sifat manjanya berhasil membuat Raka gemas.


"Maaf ya," bisik Raka lembut lalu membawa Azzura kepelukannya dengan menggoyang-goyangkan tubuh mereka.


"Balik, yuk," ajak Azzura. "Sudah siang, aku lapar." Azzura melirik jam tangannya sudah menunjukkan pukul setengah 11 siang.


"Siapa suruh keluar pagi buta, tanpa sarapan. Laper, kan?" Raka merangkul Azzura. "Makan aku mau?" Kerlingan mata nakal itu pun mampu mengukir senyum di wajah Azzura.


*****


Azzura baru saja melepaskan pakaiannya saat Raka masuk ke kamar mereka. Hanya menggunakan pakaian dalam, Azzura melenggang melewati Raka yang duduk di pinggir tempat tidur. Raka yang memang sudah menahan diri dari semalam hanya bisa memperhatikan istrinya yang hilir mudik di hadapannya.


"Tadi ngapain?" tanya Azzura berdiri di depan cermin sambil menatap Raka dari cermin.


"Pesan makan siang," kata Raka.


"Kenapa kita yang nggak ke restoran nya?" Azzura mengangkat rambutnya tinggi-tinggi lalu mengikatnya.


Raka membuka pakaiannya, melangkah perlahan ke arah Azzura, memeluk Azzura erat-erat, menciumi bahu polos Azzura. Tangan Raka menyisir lekuk tubuh istrinya, bermain-main diatas dada sang istri, merematnya hingga Azzura ikut membusungkan dadanya.


Satu tangan Raka kembali turun ke bawah, berhenti pada perut rata Azzura, menelusup pada helaian yang menutupi tubuh inti istrinya. Azzura menghela nafasnya, ditegakkan lehernya, dibiarkannya Raka menyesap di lehernya. Azzura menuntun satu tangan Raka ke atas dadanya.


Nafas mereka sudah saling menggebu, Raka memutar tubuh Azzura menghadapnya. Kembali tangannya membuka pengait bungkus dada Azzura, sedikit menunduk Raka kembali menyesap pucuk dada Azzura, memainkan lidahnya di sana.


"Mau?" Bisikan Raka membuat Azzura berdesir. "Kita masih dalam rangka bulan madu, Ra," goda Raka lalu tersenyum membaringkan tubuh istrinya.


"Ka ...,"lirih Azzura.


Raka mulai menyatukan tubuh mereka, menggerakkan pinggulnya membuat Azzura bergerak mengikuti tempo dari Raka. Suara Azzura yang terdengar lirih bagai alunan yang semakin membuat Raka mempercepat ritme gerakannya.


Rahang Raka tertahan, menahan buncahan hangat itu memenuhi bagian dalam istrinya. Dada Azzura semakin bergerak cepat, hentakan itu berkali-kali Raka berikan, hunjaman lelaki itu membuat rintihan kecil terlontar dari bibir basah Azzura. Raka menatap mata Azzura, tatapan sendu dan senyuman nakal itu mampu membuat Azzura meminta kembali.


"Aku mau di atas," pinta Azzura.


"Siapa takut," kekeh Raka lalu mengubah posisinya.


enjoy reading 😘

__ADS_1


__ADS_2