FRIENDS WITH BENEFITS

FRIENDS WITH BENEFITS
Keluarga Bahagia


__ADS_3

Halaman besar yang berada di kediaman Langit sudah di penuhi anak-anak kecil yang berlarian. Sebagian orang tua yang berumur seperti Langit berada di satu tempat dengan kursi-kursi yang berjajar rapi. Sementara Azzura masih sibuk membantu membawakan piring-piring lebar berisi kue-kue untuk di susun di meja panjang yang berada di antara dua sisi.


Wanita yang mengenakan dress babydoll berwarna putih dengan rambut yang dia ikat tinggi hingga memperlihatkan leher jenjangnya yang putih membuat suaminya menarik tangan wanita itu untuk mendekat.


"Ish, kaget," ujar Azzura.


"Biarkan mereka yang siapin semuanya, kamu di sini aja sama aku," kata Raka merengkuh pinggang Azzura.


"Sebentar lagi acaranya mulai kasian Anwa sendirian kasih perintah ke karyawannya, ini aku bantuin biar cepat." Azzura melepaskan lingkaran tangan Raka.


"Mamaa ...," teriak gadis kecil dengan dress yang hampir mirip dengan yang Azzura kenakan.


"Rea, jangan lari-lari ... kalo jatuh gimana? kenapa? kok nangis?" tanya Azzura setengah berjongkok lalu menghapus air mata di pipi putrinya.


"Rea sebel ...," isak gadis berumur lima tahun itu.


"Sama siapa?" tanya Raka ikut berjongkok lalu merengkuh putrinya yang wajahnya mirip sekali dengan Azzura.


"Rega ...." Kali ini Rea semakin menangis.


"Jangan nangis dong, kan hari ini ulang tahun ... tuh dandanannya jadi luntur kan," ujar Azzura merapikan poni yang sudah terlihat kacau.


"Rega kenapa?"


"Rega ambil balon Rea, terus lepas dari tangan Rega terus kena rumput terus meledak." Rea kembali menangis kali ini lebih kencang.


"Oh, sini Papa gendong. Nanti Papa bilang sama Rega biar minta maaf sama Rea, ya," kata Raka sambil menggendong putrinya.


"Papa," panggil Rega dengan wajah bersalah. "Papa, Rega minta maaf."


"Kok minta maafnya sama Papa, kan harusnya sama Rea," ujar Raka lalu melirik Azzura yang sedang membelai lembut rambut putranya.


"Iya, Rega minta maaf, Rega nggak sengaja. Balonnya lepas dari tangan Rega, terus meledak," ujar Rega menunduk. "Maaf ya, Rea." Rega mengulurkan tangan pada kembarannya yang lahir hanya berbeda lima menit.


"Awas loh kalo jahil lagi, nanti Rea aduin lagi sama Papa," ujar Rea kesal tapi tetap saja tangannya menerima uluran tangan Rega.


"Karena hari ini hari ulang tahun anak-anak Mama, jadi Mama punya kado spesial buat kalian berdua," ujar Azzura. "Dan juga spesial buat Papa." Azzura menatap Raka sambil tersenyum.


"Apa?" tanya mereka bersamaan.


"Mama—"


"Ka ...," seru Teddy yang datang dengan bayi di dalam dekapannya.


"Papi, aku mau main sama Rega ya," ujar Fio, putra Teddy yabg berumur empat tahun.


"Rea, mau ikut," kata Rea lalu turun dari gendongan Raka dan berlari menyusul Rega dan Fio.


"Belum mulai kan acaranya?" tanya Siti.


"Belum, Bumil ... tenang aja," ujar Azzura mengusap perut Siti yabg sedang hamil lima bulan.


"Arum, mau di tidurin di kamar atau gimana nih?" tanya Azzura melihat anak kedua Teddy yang masih pulas tidur di bahu ayahnya.


"Biar aku gendong aja, Ra. Sebentar lagi juga bangun kalo denger suara berisik anak-anak yang lain.

__ADS_1


"Siti duduk di sana, yuk. Kasian Bumil dibsurih berdiri, biar gabung sama yang lain," tunjuk Azzura ke arah kakak ipar dan adik iparnya yang sedang asyik berbincang tidak jauh dari mereka.


"Aku tinggal dulu ya, Pi. Kalo kamu capek gendongnya gantian," ujar Siti pada Teddy.


"Nggak nyangka gue, udah mau tiga aja anak lo, Ted," ujar Raka


"Kan dulu udah gue bilang, gue itu jago dan tangguh, lo jangan pernah lupain itu," kata Teddy sombong.


"Iya ... iya, lima tahun cepat banget ya. Tiba-tiba anak-anak nggak terasa udah gede, dan kita semakin tua."


"Bukan tua, Ka ... tapi semakin dewasa."


"Ish, bener juga. Tapi gue salut sama lo, lo membuktikan kalo lo berubah," ujar Raka tersenyum.


"Sama halnya dengan lo, sekarang semakin dewasa, pembawaan lo keliatan banget mirip-mirip Langit Kelana," kekeh Teddy.


"Asem ... tapi harus itu, apalagi setelah perusahaan kita akhirnya bergabung dengan mertua gue, gue banyak banget belajar dari dia."


"Baguslah ... setidaknya hidup kita emang harus berubah, maju ke depan jangan perut aja yang semakin maju," kekeh Teddy menepuk perutnya yang sekarang terlihat sedikit buncit.


"Siapa yang ngundang?" Pertanyaan itu meluncur dari bibirnya saat melihat satu keluarga lagi datang ke acara ulang tahun anak mereka.


Teddy menoleh mengikuti arah pandang Raka. "Jenna? itu Jenna, Ka," ujar Teddy menepuk pundak Raka sampai tidak sadar membangunkan anak yang berada di gendongannya.


"Papi," rengek anak Teddy yang berumur satu setengah tahun itu.


"Iya, Sayang. Kita ke tempat mami, ya .... Ayo, Ka samperin," ujar Teddy meninggalkan Raka yabg masih berdiri di tempatnya.


"Sayang," seru Azzura memanggil Raka, melambaikan tangan dari kejauhan. "Sini."


"Raka," sapa Jenna dan Radit bersama. "Apa kabar?"


"Kami baik ... Chilla, kasih salam sama Om Raka," titah Radit pada putri sulung mereka yang sudah menginjak umur 13 tahun.


"Ini Chilla kecil? ya ampun, Om sampe nggak percaya, sekarang sudah gadis, kelas berapa?"


"Kelas tujuh, Om," jawab Chilla malu-malu.


"Udah gede, Sayang ... kamu aja anaknya udah umur lima tahun," ujar Azzura.


"Chilla, ajak Devano main biar kenalan sama yang lain," pinta Jenna pada Chilla.


"Devano umur berapa, Na?" tanya Raka.


"Delapan tahun," jawab Jenna.


"Nggak mau nambah lagi, Na?" tanya Azzura tersenyum sambil merangkul pinggang wanita bersuara lembut itu.


"Mas Radit bilang dua aja, udah sepasang," kata Jenna menatap mata suaminya.


"Radit?" Arkana, sepupu Azzura menghampiri mereka.


"Abang kenal?" tanya Raka.


"Kenal dong, ini raja kuliner se Indonesia," ujar Arkana. "Kita ngobrol-ngobrol dulu kalo gitu," ajak Arkana pada Radit menjauh dari Raka, Azzura dan Jenna.

__ADS_1


"Kalo gitu aku kesitu ya," ucap Jenna menunjuk Wita yang sudah melambaikan tangan padanya.


"Kok bisa undang mereka?" tanya Raka dengan tatapan mata yang mengecil.


"Biasa aja dong, Sayang," ujar Azzura menangkup pipi suaminya. "Kemarin waktu pergi sama Wita beli perlengkapan bayi, aku ketemu Jenna sama Mas Radit di Mall, ternyata mereka baru buka coffe shop baru di sana, ya udah aku undang sekalian."


"Nggak cerita sama aku," kata Raka.


"Biar surprise, ketemu mantan," kekeh Azzura.


"Mulai deh," ujar Raka menarik hidung Azzura.


Acara ulangtahun Rea dan Rega begitu meriah, wajah bahagia terpancar di setiap orang yang berada di sana. Langit dan Jingga serta kedua orang tua Raka menyaksikan kebahagiaan anak-anak mereka. Apalagi yang dicari di hidup ini kalo bukan kebahagiaan orang-orang yang kita cintai.


Ting ... Ting ... Ting


Suara gelas yang di bunyikan dengan sendok membuat semua orang menoleh pada Azzura.


"Aku ada pengumuman penting untuk semuanya," ujar Azzura tersenyum. "Hadiah ulangtahun untuk anak-anak aku yang lucu-lucu ini, dan untuk suami aku yang manis, yang selalu bahagia in aku."


"Apa, Sayang?" tanya Raka merengkuh pinggang Azzura.


Azzura meminta kotak kecil yang di pegang oleh Anwa.


"Makasih, Wa," kata Azzura menerima kotak itu. "Buka, Sayang." Azzura memberikannya pada Raka. "Rea, Rega ikut buka sama Papa."


"Apa, sih?" tanya Raka bingung.


"Buka aja," pinta Azzura.


Seperti lima tahun lalu, Raka tercengang lalu menatap istrinya lalu kembali menatap benda kecil yang Azzura berikan padanya.


"Apaan sih, Pa?" tanya si kembar bingung.


"Serius?" tanya Raka memeluk Azzura.


Semua orang bertepuk tangan, tatapan haru dari semua yang ada di sana, Nami yang sudah mengetahui hal itu merangkul pinggang Kalla dan tersenyum bahagia.


"Serius ... anak kamu mau tiga," ujar Azzura.


"Ya ampun, Sayang ... makasih," ujar Raka menciumi wajah Azzura.


"Apaan, sih Pa?" Lagi-lagi anak kembar mereka bertanya dengan wajah bingung.


"Rea sama Rega mau punya adik," ujar Teddy mendekat. "Selamat, Ka ... semoga kembar lagi," ujar Teddy usil karena masih teringat dalam benaknya bagaimana Raka kewalahan menghadapi bayi kembar mereka saat itu.


"Kembar lagi?" Kali ini Jingga angkat bicara.


"Nggak, Mima ... kantungnya kali ini hanya satu," jelas Nami.


"Selamat untuk kalian," ucap Radit dan Jenna.


"Terimakasih semuanya," ujar Raka kembali memeluk erat istrinya.


"Bahagia selalu, suami aku," ucap Azzura.

__ADS_1


"Makasih, Sayang ... aku akan selalu membahagiakan kalian semua," ujar Raka membawa kedua anak mereka ke dalam pelukannya.


Spesial extra part untuk kalian semua 😘


__ADS_2