
"Udah pulang?" tanya Rey pada Azzura yang berjalan begitu saja tanpa berkata satu kata pun siang itu.
Semua mata menatap gadis itu yang berjalan lunglai menaiki anak tangga menuju kamarnya.
"Kenapa?" tanya Langit pada Jingga.
"Nggak tau, coba Mima temui dulu," kata Jingga.
"Biar Kalla aja, Ma ... biasanya kalo kayak gini, Zurra susah cerita," ujar Kalla beranjak dari tempat duduknya lalu meyerahkan Agni pada Nami.
"Agni ikut Oma sini, kita ke kamar aja, Mi," ajak Jingga pada Nami, menantunya itu.
"Rey, tau kenapa Zurra seperti itu?" tanya Langit.
"Kurang tau, Om. Tadi cuma minta di antar ke tempat temannya di Pancoran," jawab Rey.
"Jangan-jangan lagi marahan sama pacarnya, Lang," celetuk Riza.
"Masa sih? setau gue dia udah nggak ada pacar," kata Langit. "Ya kan, Rey? ada cerita nggak sama kamu?" tanya Langit pada Rey.
"Setau aku, kayaknya—" Ucapan Rey terhenti, dia hanya tidak ingin salah menerka-nerka.
"Kamu belum bilang sama Azzura, Rey?" tanya Riza.
"Belum, Pa ... belum ada waktu yabg tepat."
"Apa?" tanya Langit mengerutkan kening.
"Sebenernya gue nggak mau ikut campur, Lang karena ini urusan anak muda, tapi balik lagi ke niat baik," kata Riza.
"Maksud lo?"
"Gini, Om ... sebenarnya aku sudah lama suka sama Azzura, tapi karena melihat Azzura selama ini kan selalu punya teman cowok, aku ragu untuk mengatakan perasaan aku sama Azzura," jelas Rey.
"Sebentar, ini maksudnya ... oh, jadi Rey suka Azzura, tapi belum ada cara yang tepat untuk mengutarakan maksudnya, gitu?"
"Iya, gitu Om. Jadi aku butuh bantuan Om untuk meyakinkan Azzura."
"Lo tau lah maksud Rey, Lang. Tapi di sini, gue nggak mau maksa ya, karena balik lagi ke Azzura. Dan Rey, apapun keputusan Azzura harus terima," kata Riza.
"Ya ampun, gue jadi teringat masa lalu," kekeh Langit seketika ingat dulu saat Jingga akan di jodohkan dengan Abi, yabg sekarang sudah menjadi adik iparnya.
"Gini Za, lo temen gue dari jaman dahulu sampai kita tua seperti ini. Lo juga tau sejarah gue sama Jingga seperti apa. Sebenarnya gue nggak suka jodoh-jodohan, lo juga pasti gak suka kan karena perjuangan lo mendapatkan Indira juga dulu nggak jauh beda sama gue, cuma itu masa lalu ya. Intinya gue serahin semua ke Azzura, kalo ternyata Azzura juga menyimpan perasaan yang sama dengan kamu, Rey, maka Om nggak akan menghalanginya. Tapi, jika sebaliknya ... ada dua pilihan buat kamu, pertama berjuang mendapatkan Azzura atau kedua kamu harus mundur jika ternyata Azzura sudah punya tambatan hati yang lain. Gimana?"
"Baik, Om ... jadi perbolehkan aku untuk mengatakan perasaan aku sama Azzura, Om."
"Silahkan, silahkan saja ...," ujar Langit.
*****
Ketukan di pintu kamar itu tidak Azzura hiraukan. Perlahan Kalla masuk dan mendekati sisi ranjang dimana kembarannya itu sedang meringkuk dan menggulir layar ponselnya.
__ADS_1
"Gue boleh duduk?" tanya Kalla.
"Duduk aja," jawab Azzura tanpa menoleh pada Kalla.
"Lo kenapa?"
"Nggak kenapa-kenapa."
"Nggak mau cerita?" tanya Kalla dan Azzura hanya diam. "Seingat gue dulu lo pernah kayak gini waktu SMA," ujar Kalla tersenyum. "Pulang-pulang masuk kamar, muka cemberut ... sama banget kayak gini, waktu gue tanya eh ternyata lo di putusin sama si Alvin, cowok basket yang kata lo cool itu, iya kan?"
Azzura tersenyum, ada saja Kalla bisa menghibur dirinya jika sedang seperti ini.
"Kemana si Alvin itu ya, pacarnya ternyata banyak selama pacaran sama dia ternyata gue di bohongin, asem banget ... huh." Azzura pun tertawa.
"Dia malah inget sama si Alvin." Kalla menepuk jidatnya dan ikut berbaring di samping Azzura. "Lo nggak mau cerita?"
Azzura menghela napasnya. "Gue itu sebel sama Mima sama Didi, juga sama Raka."
"Hah? Raka? kenapa dengan dia— maksud gue apa hubungannya dengan Mima dan Didi?"
"Gue pacaran sama Raka," ujar Azzura masih menatap langit-langit kamarnya.
"Hah? serius? kapan?" Kalla merubah posisinya miring menghadap Azzura.
"Ada kali tiga bulan ini, gitu lah intinya ... terus tadi malam Mima tau."
"Nah loh!"
"Iya, jadi Mima suruh aku bilang ke Didi, Mima nggak suka sembunyi-sembunyi gitu," kata Azzura menoleh pada Kalla.
"Kata Mima jujur daripada ntar Didi jodohin aku sama Rey."
"Hah?"
"Ih Kalla dari tadi hah hoh aja," ujar Azzura dengan wajah kesal.
"Kok bisa Didi kepikiran mau jodohin lo ke Rey. Setau gue Didi itu anti jodoh-jodohin."
"Ya itu dia, tadi gue mau ngobrol sama Didi ternyata Didi mau pergi, ya udah nggak jadi. Gue takut Kal ... takut kalo beneran di jodohin sama Rey, gue udah anggap dia kayak sodara sendiri," ujar Azzura.
"Coba nanti gue bilang ke Didi ya ... nah sekarang pertanyaan gue, lo tadi balik dari tempat Raka?"
"Iya."
"Terus?"
"Jadi Raka itu ... gimana ya." Azzura bingung harus memulai dari mana. "Raka itu posesif, gue nggak tau kenapa, terus cemburuan, dia ngerasa dia udah kalah langkah sama Rey. Dia yakin Rey itu punya perasaan sama gue, tadi dia marah karena ponsel gue lowbatt terus dia tadi kesini, sama si Udin di bilang gue jemput calon mertua, kadang pengen gue uleg itu si Udin kalo ngomong nggak pake mikir," kesal Azzura.
"Haha ... Udin emang top."
"Kal!"
__ADS_1
"Iya ... iya, jadi sekarang si Raka ngambek? terus?"
"Ya terus gimana?"
"Ya diemin aja, ntar juga sembuh sendiri," kata Kalla kembali menatap langit-langit kamar. "Cowok itu begitu, Ra ... tapi, elo juga salah. Harusnya lo sempetin kabarin si Raka tadi biar nggak salah paham, terus masalah Didi mau jodohin elo, gue rasa nggak lah tapi kalo perasaan si Rey, kayaknya Raka bener jadi sekarang tinggal lo yang bersikap harus kayak apa."
"Tapi, gue nggak ada perasaan sama Rey," ujar Azzura.
"Ya tinggal bilang, gampang toh. Udah ah gue mau telpon Danar dulu, gue mau ke Bali, mau ikut nggak?"
"Kapan?"
"Minggu depan, ngurus proyek di sana. Kayaknya Raka kesana deh, belom bilang ya?"
"Gimana mau bilang kan lagi marahan," ujar Azzura dengan wajah cemberut.
"Baru pacaran udah marahan terus, gimana kalo nikah ntar." Kalla melangkah menuju pintu.
"Tau ah," jawab Azzura kesal. "Eh, Kal ...."
"Apa?"
"Sephia apa kabar?"
"Tau ah," jawab Kalla menutup pintu itu diiringi tawa oleh Azzura.
*****
Makan malam keluarga Langit Kelana di restoran milik Arkana begitu meriah, pasalnya bertepatan dengan pengumuman kehamilan Nami yang mengandung anak kedua buah cintanya bersama Kalla.
Azzura asyik bermain dengan anak-anak Arkana di taman sementara keluarga yang lain berada tidak jauh dari dirinya.
"Ra," sapa Rey.
"Hai, Bang ... duduk." Rey duduk di samping Azzura pada kursi taman dengan lampu-lampu yang menerangi anak-anak bermain di taman itu.
"Em ... Ra," ucap Rey. "Ada sesuatu yang mau aku bicarakan sama kamu."
"Apa?" Azzura menoleh, menatap wajah lelaki berkulit putih bersih itu.
"Tentang perasaan aku."
"Ya?"
"Perasaan aku ke kamu, dari dulu semenjak—"
"Bang—"
"Please, dengerin dulu. Perasaan aku ini sudah lama ingin aku utarakan ke kamu cuma entah kenapa selalu saja kalah cepat dengan cowok-cowok yang berhasil mengambil hati kamu. Mungkin aku yang terlalu pengecut, mungkin juga kamu nggak menyadari kalo sebenernya aku sayang sama kamu sejak kita, maksud aku sejak aku duduk di bangku SMA, aku baru menyadari itu."
"Bang, masalahnya buk—"
__ADS_1
"Aku sadar hingga detik ini pun mungkin kamu menganggap aku sama seperti layaknya Arkana ataupun Kalla, tapi tolong kasih aku kesempatan dan buka hati kamu buat aku, Ra." Rey menggenggam erat tangan Azzura. "Kamu mau Ra, mencobanya? memberi kesempatan hati kita sama-sama menyelaminya," ucap Rey dengan wajah yang sungguh-sungguh.
enjoy reading 😘