
Aku selalu menganggap kehidupan ku sempurna , sampai akhirnya aku mengenal Tian.
Tian datang dalam hidupku merubah pandanganku atas semua kesempurnaan itu.
Kesempurnaan palsu yang selama ini aku ciptakan. Aku tak pernah menyadari ini semua hanya kepalsuan yang aku buat sendiri. Aku terlalu sering berpura pura sampai akhirnya aku tak pagi bisa membedakan mana kenyataan dan yang bukan kenyataan.
Bertahun tahun seumur hidupku aku melakukan peranku menjadi yang terbaik sampai aku lupa itu hanya peran demi menutup keburukan diriku.
———
Masa kecilku yang penuh tekanan dari orang tua, ibu yang selalu memaksaku menjadi anak pintar, dan ayah yang sama sekali tak pernah mengajak aku bicara selain memarahiku dan memukulku saat ibu ku mengadukan kesalahan ku padanya sepulang kantor.
Aku terlalu sering menangis dirumahku, orang tuaku bukan tipe orang tua yang hangat kepada anak anaknya . Walaupun mereka selalu berusaha memenuhi setiap kebutuhanku tapi tak pernah menghargai pendapatku dirumah. Dan setiap kesalahan atau kenakalan masa kecil yang aku lakukan harus dibalas dengan bentakan dari ibu dan pukuluan dari ayah.
Bukan hanya dirumah masa kecilku buruk, tapi disekolahpun tak lebih baik. Aku selalu menjadi sasaran bully teman temanku. Mulai dari hinaan verbal sampai kekerasa fisik pun pernah aku rasakan. Dan mereka selalu menikmati itu.
Sampai akhirnya aku pun menganggap semua itu memang pantas untuk aku dapatkan.
__ADS_1
Semua hal itu membuatku menjadi orang yang selalu berpura pura baik. Entah disakiti atau tidak, aku akan selalu menunjukan sikap baikku kepada orang lain. Yang dipikiranku hanya jika aku berbuat baik maka aku bisa diterima orang lain.
Masa remaja ku juga tak berubah.
Aku selalu berusaha jadi anak yang asik kepada semua orang. Aku akan belajar dengan kerasa saat ingin bergaul dengan teman yang pintar, aku akan belajar olahraga tertentu saat ingin bergaul dengan kelompok ekskul olahraga, bahkan aku akan berlagak menjadi anak nakal saat sedang memiliki teman yang selalu nakal disekolah. Aku mengikuti segala hal yang ada disekitarku. Aku tak punya bakat tertentu atau keahlian tertentu yang aku fokuskan. Yang penting untukku aku bisa menjadi orang yang asik untuk siapapun. Termasuk dalam hubungan asmara, aku akan jadi gadis yang manja saat punya pacar yang romantis, aku menjadi gadis yang tegas saat punya pacar yang dewasa.
Salah satu kesulitanku dalam berpura pura adalah ketika aku merasa nyaman dengan seseorang, maka aku semakin sulit mengendalikan diri.
Yaaa hubunganku dengan pria tak pernah ada yang lama selain suamiku sekarang.
Setiap pria yang mengenalku di awal akan cepat merasa nyaman, tapi kekuranganku adalah saat diriku yang merasa nyaman, aku tidak lagi bisa mengendalikan diri.
Tak hanya sampai disitu, mereka justru mengangkat seorang anak laki laki dan menyayangi anak laki laki itu selayaknya anak kandung.
Woahhh , tak habis pikirku dengan mereka. Orang tua yang membuang anak kandungnya lalu mengangkat anak orang laon yang dibesarkan dengan penuh cinta. Apa salahku ? Bahkan sejak lahirpun aku di tolak dunia.
Aku yang terbiasa mendapat penolakan di masa kecil ku, saat memiliki orang yang membuat ku nyaman aku justru berubah menjadi obsesi untuk orang itu bisa menerimaku setiap saat. Aku mulai lupa untuk bersikap menyenangkan orang lain dan berubah menjadi posesif. Aku selalu tak ingin ditinggal sendiri, aku selalu merasa butuh orang itu sampai aku sering lupa kalau setiap orang punya hal pribadi yang tidak bisa aku paksakan dengan obsesi ku. Hal itulah yang selalu membuat hubungan asmaraku tidak ada yang bertahan lama.
__ADS_1
Hubunganku dengan suamiku sekarang bukan hal mudah hingga akhirnya kami sampai menikah. Masa pacaran kami termasuk yang tersuram yang pernah aku alami. Bentakan ibuku yang seumur hidup selalu aku dengarkan , itu juga yang selalu aku dapat dari suamiku saat kita pacaran. Sikap kasar ayahku ketika aku melakukan kesalahan juga aku dapat dari dia kala itu. Seperti semua hal buruk yang membuat rusak kepalaku menyatu.
Tapi kenapa kami bisa bertahan ? Itu karena aku mulai menganggap rasa sakit itu yang pantas untuk diriku dan mulai menikmatinya . Aku mulai menikmati setiap rasa sakit yang ada. Dan terus berpura pura baik baik saja. Hingga akhirnya dia menganggapku menjadi satu satunya gadis yang bisa tahan dengan segala keburukannya dan menikahiku. Aku yang buta kala itu menerimanya dengan masih berharap setelah menikah semuanya akan indah.
Aku terus berusaha berpura pura, meskipun aku bisa nyaman dengan beberapa orang yang menganggapku teman, tali aku akan terus menjaga jarak untuk tidak merasa nyaman dengan orang lain. Dengan begitu aku tak akan nyaman untuk beriskap apa adanya kepada mereka.
Karena sikap apa adanya diriku adalah kelakuan orang gila dimata orang waras.
Yang akhirnya membuatku tak pernah memiliki teman yang bisa aku jadikan orang berbagi, jangankan teman, keluarga saja tak bisa membuatku nyaman untuk berbagi.
Aku terpaksa menelan setiap masalah yang terjadi dalam hidupku, lalu kembali melanjutkan berpura pura bahagia membohongi diriku dan orang lain.
Sering aku menangis entah dalam tidurku, dalam sunudku, atau yang paling sering setiap perjalanku spulanh kantor. Dimanapun aku sendiri, disitulah aku menangis meluapkan segala kelelahan berpura pura bahagia.
Sering mencoba menyerah, tapi aku sadar aku tak pantas untuk menyerah. Aku selalu berharap seandainya ada orang yang mengerti isi kepalaku.
———
__ADS_1
Kembali pada Tian, seumur hidupku yang penuh kepura pura an ini, hanya Tian yang membuatku lebih apa adanya.
Kehadirannya yang tiba tiba membuatku merasa bahagia dan juga takut secara bersamaan, aku takut dia akan pergi karena kegilaanku yang selalu muncul didepan orang yang membuatku nyaman.