FRIENDS WITH BENEFITS

FRIENDS WITH BENEFITS
Langsung Dua


__ADS_3

"Kamu telpon siapa?" tanya Azzura.


"Teddy ... seminggu di Nusa Penida nggak ada kabar," gerutu Raka.


"Kan yang penting kerjaan beres. Siti kemarin minta cuti tiga hari sama aku, katanya mau ke Bali ... mungkin nyusulin Teddy," ujar Azzura sambil mengusap lembut sofa coklat berbulu halus.


"Oh pantes, berarti benar dia baru dari Bali jemput Siti dan bawa Siti ke Nusa Penida," terka Raka.


"Ya udah biarin aja, udah gede ini ... di larang makin menjadi."


"Teddy bukan aku, Sayang. Pengalaman Teddy lebih dari aku, sedangkan Siti gadis baik-baik. Aku juga ragu, apa Siti mau ya dengan Teddy yang udah nggak—"


"Perjaka?" tanya Azzura.


"Iya, kalian sebagai cewek suka permasalahin nggak sih tentang itu?"


"Tergantung ceweknya," jawab Azzura melangkah lagi memilih sofa yang lain.


"Kalo kamu?"tanya Raka.


"Kamu sendiri gimana?" Azzura balik bertanya.


"Manusia nggak ada yang sempurna, bener nggak?" Raka merengkuh pinggang istrinya berjalan bersisian.


"Jadi kamu terima kalo semisalnya dulu aku udah nggak itu?"


"Kata orang cinta itu buta jelas aku salah satu yang termasuk di dalamnya, namun kembali lagi pada orangnya masing-masing. Tapi bagi aku kalo kita mencari manusia yang sempurna sesuai dengan yang kita mau, kepuasan itu nggak akan cukup sampai di situ pasti akan selalu kita cari terus dan terus sampai sempurna yang kita inginkan itu tercapai, tanpa melihat diri kita sendiri, apakah kita sudah sempurna dan pantas mendapatkannya."


"Benar, dan itu aku lihat pada Siti. Manusia pantas mendapatkan kesempatan kedua untuk memperbaiki dirinya dan Teddy mendapatkan kesempatan itu, bener nggak?" Azzura menghentikan langkahnya.


"Benar ... sama halnya seperti kamu yang memberikan kesempatan sama aku," ujar Raka menyentil ujung hidung Azzura lalu merangkul pundak sang istri.


Azzura tersenyum dan memberikan kecupan singkat di pipi Raka.


"Sofanya warna abu tua aja, Sayang." Raka menghentikan langkahnya pada sebuah sofa untuk ruang keluarga rumah baru mereka.


"Sofanya jangan yang warna itu, aku mau warna milo," rengek Azzura menunjuk sofa berwarna seperti susu milo.


"Ya udah warna milo juga bagus," kata Raka mengalah untuk urusan rumah tangga.


"Kenapa sih kamu banyak ngalahnya?" tanya Azzura menangkup kedua pipi Raka.

__ADS_1


"Karena lebih baik mengalah kalo untuk urusan seperti ini."


"Untuk urusan seperti apa kamu yang nggak mau ngalah?" Azzura tersenyum nakal.


"Urusan di atas ranjang," kekeh Raka.


Bersama tertawa dan saling merangkul mereka berjalan bersisian memilah beberapa perabotan untuk melengkapi rumah baru mereka.


"Ka ...."


"Hhmm." Raka menghidupkan mesin mobilnya, keluar dari pelataran parkir pusat perbelanjaan perabotan rumah tangga.


"Kita ke apartemen aja malam ini," ujar Azzura.


"Loh kan hari ini jadwal tidur di rumah Mima, nanti kalo Mima nanya gimana?"


"Bilang Mima, kita lagi berusaha keras memberikan dia cucu," kekeh Azzura.


"Oh ... jadi nyari tempat aman nih ceritanya," goda Raka menuntun kepala sang istri bersandar di bahunya.


"Aku serem-serem gitu kalo di rumah, takut di dengar Didi," ujar Azzura dengan wajah malu-malu.


"Semangat sih." Raka tergelak lalu meringis karena cubitan Azzura di lengannya.


"Masak apa?" tanya Raka memeluk Azzura dari belakang. Istrinya itu sedang sibuk membuatkan makan malam untuknya.


"Cuma omelette sama capcay brokoli di campur daging dan agaricus bisporus," jawab Azzura menuangkan capcay ke dalam mangkuk berukuran kecil. "Udah selesai, makan yuk."


"Sebentar ... tadi bilang apa? bukan makanan aneh kan?" tanya Raka menarik kursi untuknya dan Azzura.


"Agaricus bisporus atau di sebut dengan jamur kancing," kekeh Azzura.


"Astaga, bilang aja jamur kancing, belibet nyebutnya." Raka mengusak kepala Azzura.


"Enak?" tanya Azzura tentang rasa masakannya.


"Enak, enak banget. Nanti kalo kita punya anak, aku mau kamu yang masakin untuk mereka. Kayak ibu dan mima, aku harus pastikan anak-anak aku makan makanan bergizi." Raka menyuapkan makanan itu berkali-kali ke mulutnya.


"Jadi, aku nggak boleh kerja?" Ekspresi wajah Azzura pun berubah.


"Boleh lah masa enggak, tapi nggak boleh ambil proyek diluar kota, cukup aku aja."

__ADS_1


Senyum itu kembali terukir di wajah Azzura, bukan berarti dia tidak ingin menjadi ibu rumah tangga seutuhnya, tapi bagi Azzura desain interior adalah mimpinya.


"Tadi mima telpon, kamu lagi mandi," ujar Azzura.


"Terus kamu bilang apa?"


"Aku bilang kita di apartemen malam ini nggak ke rumah mima."


"Apa mima bilang?"


"Mima bilang, kasih mima cucu yang banyak. Mima mau cucu kembar katanya."


"Kalo gitu makan yang banyak, malam ini kita bikin yang banyak," ujar Raka sambil mengerlingkan matanya.


"Mau nya kamu tuh," kata Azzura meneguk segelas air lalu beranjak dari tempat duduknya.


"Mau kemana?" tanya Raka heran.


"Mandi, biar wangi, biar bisa kasih ibu sama mima cucu yang banyak."


Lalu Azzura meninggalkan Raka yang tertawa melihat kelakuan Azzura yang berjalan sambil melepaskan satu per satu pakaian yang melekat di tubuhnya.


Pintu kamar mandi terbuka perlahan, samar terlihat lekuk tubuh indah milik Azzura di balik tirai berwarna putih itu. Raka melangkah pelan, lelaki yang masuk bak penyusup itu sudah tidak lagi mengenakan sehelai benang pun.


Gemericik air berjatuhan membasahi tubuh Azzura. Tubuhnya terlihat lebih padat dan berisi, semakin indah di mata Raka. Semburat senyum nakal menghiasi wajah Raka, keusilannya saat ini merajai pikirannya.


Kedua tangan itu tiba-tiba saja menangkup buah dada milik Azzura, seketika Azzura terpekik karena terkejut. Namun sayangnya, tubuh wanita itu malah di sudutkan ke dinding. Di bawah kucuran shower ciuman liar itu seakan tak lagi memberi ruang pada keduanya. Tubuh polos saling bersentuhan, menempel tanpa pembatas. Raka menahan tengkuk leher istrinya, meluumat tanpa ampun, menyesap bergantian bibir Azzura.


Tangan Azzura menjelajahi tubuh suaminya, tangannya berusaha mencari pegangan saat lidah Raka menari-nari di pucuk dadanya. Suara lirih lembut nan nakal itu menggema di kamar mandi berukuran tiga kali tiga meter. Dalam satu gerakan, Raka berhasil membawa tubuh Azzura berada di dalam dekapannya. Menuntun tubuh istrinya duduk di atas meja wastafel kamar mandi yang berwarna hitam metalik.


"Kamu sungguh setiap harinya selalu menari-nari di pikiran aku, Sayang," bisik Raka di telinga Azzura.


Dada Azzura membusung, tangannya mencengkram pundak Raka, Raka tak henti-hentinya menyesap dada Azzura meninggalkan bercak merah keunguan dan mampu membuat Azzura kembali mendesaah.


Inti tubuh mereka akhirnya menyatu, Azzura bergerak menikmati. Erangan Raka terlontar begitu saja dari bibirnya ketika pelepasannya tercapai pada titik yang di tunggu. Azzura semakin cepat menggerakkan tubuhnya, kedua kakinya melingkar erat pada pinggang Raka hingga buncahan rasa itu terlepas memberikan sensasi yang begitu berbeda kali ini.


Peluh keringat membasahi keduanya, Azzura melingkarkan tangannya pada leher Raka. Mereka masih saja berpelukan, tak ingin saling melepas. Detak jantung pun masih terdengar tak beraturan, begitu juga napas mereka yang saling memburu.


"Kira-kira, tadi bisa langsung jadi dua nggak ya?" tanya Azzura dengan sudut bibir yang mengembang.


"Aku rasa bisa langsung dua, soalnya kamu semangat banget," kekeh Raka lalu pelan-pelan menarik dirinya serta memberikan kecupan manis di bibir Azzura.

__ADS_1


**enjoy reading 😘


tiga part menuju end 🤗**


__ADS_2