
"Enak, baru sekali bikin pempek, rasanya pas di lidah Om," ujar Pak Pandu.
"Ibu cuma kasih tau takaran, semua yang olah Zurra," kata Ibu Citra meraih satu empek-empek berisi telur.
"Berarti di terima, ya?" Wita melirik Raka yang tak berkedip menatap Azzura.
"Jadi, sekalian Om mau menanyakan bagaimana hubungan kalian ini? Apa serius atau cuma sekedar jalani saja," ujar Pak Pandu dengan ekspresi wajah serius.
Azzura tercekat, dia seperti berada di persidangan dan penetapan hukuman. Dia diam seribu bahasa, dengan harapan lelaki berwajah manis yang berstatus kekasihnya itu akan menjabarkan tentang hubungan mereka.
"Raka sudah melamar Azzura, Yah."
"Wuih, gaspol Bro," seru Wita kegirangan. "Gitu dong."
"Akhirnya," ujar Ibu Citra dengan senyum bahagia.
"Jadi, Raka minta Ibu sama Ayah ikut Raka ke Jakarta untuk ketemu dengan orang tua Azzura," ujar Raka tersenyum pada Azzura.
"Kamu serius?" tanya Azzura tidak percaya dengan kata-kata dari Raka.
"Iya, aku serius. Jadi, nanti malam aku telpon Didi agar mereka bersiap, minggu depan aku lamar kamu secara formal." Raka menatap mata kekasihnya.
"Ya ampun, sweet banget ." Wita merangkul Ibu Citra dan menyaksikan sendiri anaknya meminta Azzura menjadi pendamping hidupnya.
"Ka—"
Rasanya ingin sekali Azzura berlari dan memeluk Raka. Kalau saja di sana tidak ada orang tua Raka mungkin Azzura akan melakukan hal itu tanpa harus malu pada Wita.
"Jadi, Ayah bakal besanan sama salah satu pengusaha konstruksi terbesar di Indonesia. Ya ampun, mimpi apa Ayah," ujar Pak Pandu yang sama senangnya dengan Azzura.
"Kalo gitu, Ibu sama Wita sudah harus mempersiapkan semuanya dari sekarang," ujar Ibu Citra yabg sudah membayangkan bagaimana jadinya mereka akan bersanding dengan keluarga Langit Kelana.
"Em ... sebelumnya Zurra ingin mengucapkan terimakasih banyak sama Om dan Tante juga Wita, kalian menerima Zurra sangat baik di sini. Zurra mohon doa restu dari Om dan Tante," ujar Azzura dengan mata berkaca-kaca.
"Azzura di terima baik di sini," kata Ibu Citra menghampiri gadis cantik itu dan memeluknya.
"Aduh, mimpi apa aku ya, Kakak aku lamaran akhirnya," kekeh Wita.
"Trauma, Ta. Entar di tikung di sepertiga malam lagi."
Suara gelak tawa di ruangan itu terdengar begitu ramai. Aura kebahagiaan sedang menghampiri keluarga Raka.
"Lo bisa nyariin gue wedding organizer?" tanya Raka pada Teddy yang di hubunginya sore itu.
"Beh, Mas nya gerakannya sekarang cepet, ya" Teddy terkekeh. "Siap, Gan. Mau buat kapan?"
"Mau nya gue sih minggu depan, tapi kayaknya terlalu terburu-buru ya, dua minggu lagi lah, biar nyokap juga persiapannya matang. Ini aja gue belum ngabarin bapaknya."
"Bapak siapa?" Pertanyaan Teddy yang polos.
__ADS_1
"Azzura lah, masa Siti, mau sekalian dia gue lamar?"
"Perang kita." Teddy pun terpancing guyon receh penuh emosi itu
"Lagi lo nanya bapak siapa, kan gue ngelamar Azzura. Nggak ada abisnya kalo ngomong sama lo, jadi tugas lo cari wedding organizer buat gue, jadwal in pertemuan sama pihak WO nya, lusa gue balik ke Jakarta."
"Lama amat?"
"Belum puas." Raka tertawa.
"Sialan, halalin dulu woi ...."
Percakapan yang terkadang memancing keributan itu pun berakhir. Azzura yang sedari tadi berdiri di ambang pintu hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Hei, sini." Tangan Raka terjulur pada Azzura agar menghampirinya di pagar pembatas balkon. "Ngapain dari tadi bengong di situ."
"Ngeliatin kamu, kalo ngomong sama Teddy suka sembarangan."
Raka tertawa, merengkuh pinggang gadis itu mendekat padanya.
"Kamu kapan mau ngomong sama Didi?" tanya Azzura mengibaskan tangannya di pundak Raka.
"Menurut kamu enaknya telpon atau datang langsung?"
"Datang langsung sih menurut aku, gimana?"
"Lebih gantle, ya?" Raka tersenyum lalu mendekatkan wajahnya pada Azzura.
"Lupa." Raka tertawa. "Jadi, sampai Jakarta aku temui keluarga kamu, berarti—"
"Makan malam aja di rumah, nanti aku bilang ke Mima, gimana?"
"Oke."
"Siapkan?"
"Banget," ujar Raka lalu menuntun Azzura masuk ke dalam rumah.
Raka menyudutkan gadis itu ke dinding, menoleh ke belakang, memastikan posisi mereka dalam keadaan aman, lalu tersenyum pada Azzura. Di kecup nya sekilas bibir Azzura membuat mata indah kekasihnya itu terbelalak.
"Nggak enak banget sembunyi-sembunyi gini, ya." Raka menggenggam erat tangan Azzura.
"Kamu kenapa semakin kesini, semakin genit sih," kekeh Azzura.
"Nggak tau, mungkin udah di mabuk cinta," goda Raka lalu menciumi leher jenjang Azzura hingga membuat Azzura menahan tangannya di dada Raka.
"Ka—"
"Sebentar doang," ujar Raka yang semakin menempelkan tubuhnya pada tubuh Azzura.
__ADS_1
Ciuman itu semakin liar, mereka terbuai satu sama lain. Satu tangan Raka menahan ke atas tangan Azzura di dinding, satu tangan berada pada pinggang Azzura menyatukan tubuh mereka.
Entah apa yang merasuki, Azzura perlahan menarik lolos kaos yang dikenakan Raka hingga terjatuh di lantai. Raka melepaskan tautan bibir mereka lalu tersenyum, menuntun Azzura pelan-pelan masuk ke kamarnya, lalu menutup pintu itu rapat hingga terdengar pintu terkunci dari dalam.
Gerakan mereka semakin panas, dress babydoll berwarna pink itu pun sudah terangkat di atas paha. Tangan Raka perlahan masuk menyentuh bokong Azzura, membuat tubuh Azzura menegang. Model lengan baju berbentuk balon itu pun sudah turun sampai ke lengan Azzura, tali pembungkus dada berwarna hitam itu seperti memberikan sengatan adrenalin nakal pada Raka.
"Aduh, Ra," lirih Raka saat merasakan sesuatu yang menyesak di antara sela pahanya.
Napas Azzura yang sudah naik turun, dan beberapa kali menelan ludahnya kasar seakan meminta lebih atas perlakuan Raka. Raka menoleh ke arah tempat tidur berukuran sedang itu, lalu menoleh pada Azzura.
"Mau di situ," ujarnya dengan napas memburu.
Tatapan Azzura begitu sendu, tubuhnya sedikit membusung saat tangan Azzura mengusap punggungnya membawanya ke sisi tempat tidur.
"Ka, nanti Om dan Tante—"
Kata-kata itu terbungkam kembali oleh tautan bibir Raka, dia berkali-kali menyesap lembut bibir kekasihnya. Raka mendorong pelan tubuh Azzura, menyibak rambut Azzura yang menutupi dada gadis itu.
"Ck." Raka mendengus saat ponsel di kantung celananya bergetar.
"Kenapa?" tanya Azzura dengan lutut tertekuk hingga membuat Raka menelan ludahnya kasar.
"Nggak tau siapa," ujar Raka masa bodo dengan getar ponselnya, lalu kembali menciumi Azzura. "Siapa sih?!" umpat Raka kesal, merogoh kantung celananya.
Azzura merapikan dress babydoll nya lalu duduk di sisi tempat tidur, sedangkan Raka terbaring di tempat tidur dan menggulir layar ponselnya.
"Apaan sih, Ted."
"Buset, marah Bos," kekeh Teddy di seberang sana. "Ganggu ya gue."
"Banget! Kenapa?" Ekspresi wajah Raka yang seakan menahan gejolak rasa itu terlihat menyebalkan.
"Siti udah dapet WO nya, udah gue bikin jadwal juga, gue atur di Sabtu depan. Cuma mau sampein itu doang." Tawa Teddy semakin keras.
"Syaiton, kan lo bisa kabarin gue ntar malem, nggak tepat banget waktu lo, gue nyari waktunya susah, Ted," ujar Raka dengan tangan menutup wajahnya.
Azzura menahan tawanya, dia tahu betul yang Raka rasakan. Waktu yang di maksud Raka adalah di saat semua orang sedang pergi keluar rumah adalah waktu yang tepat untuk Raka dan Azzura.
Gelak tawa Teddy yang seperti mengejek itu pun harus berbarengan dengan bunyi klakson mobil yang baru saja masuk ke dalam pelataran rumah Raka dan semakin membuat Raka ingin sekali marah namun tidak ada tempat untuk melampiaskannya.
"Sabar, Sayang." Azzura mengusap dada Raka lalu beranjak pergi meninggalkan kamar itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
**Hai ... hai ... makasih masih nungguin up dari aku ya. Maaf banget sudah lebih tiga hari aku sama sekali nggak ada up di sini. Aku juga nggak bisa menolak sesuatu yang terjadi di dunia nyataku.
Sehat-sehat buat teman-teman semua ya, jaga imun tubuh, apapun itu virusnya aku harap kalian semua dalam keadaan yang sehat dan doakan kami yang sudah terpapar sebanyak 2x selama pandemi ini berlangsung bisa melewati semuanya dengan baik-baik saja.
Sayang kalian semua, makasih banget untuk dukungan dan kesetiaan kalian untuk aku. (kok sedih 🥺)
__ADS_1
Stay safe ya
Chida ❤️**