FRIENDS WITH BENEFITS

FRIENDS WITH BENEFITS
Jangan Khawatir


__ADS_3

"Raka, ikut masuk ke dalam?" tanya Nami yang sudah siap dengan pakaian operasinya.


Jantung Raka masih berdetak kencang, masih terbayang olehnya dia harus memapah tubuh Azzura masuk ke dalam mobil bersama ayah mertuanya. Saat itu Azzura meringis kesakitan, Raka dengan setia mendampinginya, Jingga tak henti-hentinya memberikan pengarahan agar Azzura mengatur napasnya. Sementara Langit duduk di depan memberikan komando pada supir pribadinya agar mempercepat laju mobil.


"Ka ...." Lagi Nami memanggilnya.


"Ah iya Mbak, aku ikut ke dalam ...."


Raka sudah siap dengan pakaian lengkap khusus mendampingi operasi secar Azzura. Wajah Azzura terlihat pucat, namun dia masih berusaha tersenyum pada Raka.


"Aku di sini," bisik Raka lalu memberikan kecupan di kening sang istri.


"Ra, santai aja ya ... biar denyut kamu normal," ujar Nami.


"Jangan takut ada aku, kita akan bertemu anak-anak kita, Sayang." Raka mengusap air mata Azzura, menangkup pipi istrinya dan kembali memberikan kecupan di kening Azzura.


"Ini udah aku mulai loh," kata Nami santai.


Sungguh sesuatu yang luar biasa bagi pasangan suami istri ini. Berada di sebuah ruangan dengan proses yang cukup menegangkan, mengingat ada dua bayi yang akan hadir.


Mata Azzura tak lepas menatap mata Raka, sesekali tubuhnya seperti di goyangkan oleh Nami. Raka berusaha tenang agar bisa memberikan kenyamanan bagi istrinya. Bibir Azzura terlihat pucat, kadang giginya beradu menimbulkan suara seperti orang menggigil. Jangan tanya bagaimana debar jantung wanita itu tapi dia harus tetap menekan rasa takutnya.


"Nah ... ini dia," ujar Nami. "Sus, tolong agak di dorong sedikit," pinta Nami pada salah satu perawat agar mendorong sedikit perut Azzura.


"Maaf ya, Bu," ujar perawat itu menggerakkan perut Azzura.

__ADS_1


"Ah, lucunya ...."


Suara tangis bayi melengking memenuhi seantero ruangan itu. Begitu kencang, nampak sekali Azzura dan Raka menghela napas secara bersamaan. Air mata bahagia menetes pada pipi keduanya, tak henti-hentinya Raka menciumi wajah Azzura.


"Cowok loh." Terdengar lagi suara Nami. "Satu lagi ya, Ra ... sabar."


Sementara dokter anak memeriksa bayi laki-laki mereka, Azzura dan Raka kembali menunggu satu bayi yang lainnya.


"Ya ampun, pipinya gembil ... cantiknya."


Lagi-lagi suara Nami membuat penasaran pasangan suami istri itu. "Yang ini cewek, ya ampun lucunya."


Kali ini suara bayi perempuan mereka lebih nyaring dari bayi pertama. Tangisannya membuat Azzura semakin terisak, dia sudah tidak lagi mampu berkata-kata. Tangannya menggenggam erat tangan Raka. Sementara Raka, berkali-kali menghapus air matanya pada lengan bajunya.


Satu perawat datang membawa bayi laki-laki mereka memberikannya pada Raka. Raka sedikit kaku menggendong bayi pertama mereka, namun berusaha sebisa mungkin lalu mendekatkannya pada Azzura.


"Mereka lucu-lucu sekali, Sayang," ucap Azzura.


Azzura berusaha tidak perduli dengan apa yang dilakukan Nami dengan perutnya. Perasaan takut itu jelas masih ada meski dua malaikat kecil mereka sudah hadir.


"Ka," panggil Nami setelah melakukan kewajibannya menyelesaikan jahitan pada perut Azzura dan memastikan semuanya baik-baik saja.


"Ya."


"Sementara Azzura belajar menyusui dini, kamu posisinya gendong kangguru ya, biar baby nya nyaman."

__ADS_1


"Hah? kangguru?"


"Iya, skin to skin kamu dengan dedek bayinya, nanti perawat kasih tau kamu caranya."


"Mari," ujar perawat yang sedikit-sedikit tersenyum melihat kekakuan orang tua baru itu.


"Eh, terus Zurra gimana?" tanya Raka melihat Azzura sedang berusaha menempelkan pucuk dadanya pada bayi perempuan mereka.


"Sayang, aku urus yang ini dulu, kamu yang itu ya," jawab Azzura tersenyum.


"Duduk di sofa itu saja, Pak ... biar mamanya juga lihat. Jadi bisa saling melihat," canda perawat tadi sambil tersenyum.


"Ra, selamat ya ... sehat semuanya," ucap Nami. "Tapi nanti setelah ini, baby nya di bawa sama susternya ya biar di cek lagi, kemungkinan sebentar masuk di inkubator tapi bukan karena apa-apa, mereka sehat hanya kelahiran bayi kembar biasanya akan lebih cepat seperti kasus kamu ini, umur 38 minggu sudah dilahirkan, baby hanya butuh perawatan khusus untuk melihat kondisinya, jangan khawatir," jelas Nami menenangkan karena sudah melihat raut wajah Azzura berubah menjadi sedih.


"Berapa lama, Mbak?" tanya Raka yang duduk tidak jauh dari mereka.


"Kita lihat kondisinya, kalo semua bagus mudah-mudahan nggak lama, ya. Jangan khawatir," jelas Nami.


"Sayang," panggil Raka.


"Ya," jawab Azzura berusaha tersenyum namun hatinya takut jika bayi mereka bermasalah.


"Hei ... jangan khawatir," ujar Raka menenangkan.


Enjoy reading 😘

__ADS_1


__ADS_2