
Hujan belum juga reda, kali ini mereka berempat sudah berada di sebuah mall. Seperti rencana awal Raka tadi akan mencarikan cincin nikahnya bersama Azzura.
"Cincin yang kemarin aja masih baru di jari aku, sekarang udah mau beli cincin lagi." Azzura memperlihatkan jarinya pada Siti.
"Itu hadiah, kalo yang sekarang menandakan kalo kita terikat dalam satu hubungan pernikahan," terang Raka.
"Itu cakep Mbak," kata Siti menunjuk sebuah cincin bermata berlian.
"Eh, iya ... cantik ya, coba dong," pinta Azzura pada pelayan toko untuk mengambilkan cincin yang di maksud oleh Siti. "Cantik, ya Ti," kata Azzura memperlihatkan cincin itu pada Siti lalu pada Raka.
"Iya, bagus banget. Aku juga suka lihatnya," sahut Siti.
"Kode tuh, Ted," sindir Raka.
"Gimana, Sayang?" tanya Azzura.
"Cocok buat hadiah sih kalo kata aku, lagian hampir mirip dengan yang aku kasih ke kamu kan, coba kamu perhatiin." Raka meraih satu tangan Azzura satu lagi.
"Iya juga ya, terus yang mana dong?"
"Kalo untuk acara pernikahan lebih baik cari yang sama dengan pengantin pria nya, Mbak," ujar pelayan toko. "Seperti ini," katanya meraih dua cincin berdesain unik dengan berlian di tengahnya.
"Nah ini bagus," ucap Azzura senang. "Yang ini aja, Ka." Azzura mengenakannya di jari manis.
"Cantik," ujar Raka namun tatapannya menatap wajah Azzura yang berseri melihat cincin yang melingkar itu.
"Haduuuhh ... bucin ya owooh," seru Teddy menarik tangan Siti pergi dari tempat Azzura dan Raka berdiri.
"Sirik, Syaiton!"
__ADS_1
Azzura tertawa, "kalian itu, ada-ada aja. Ya udah Mbak, yang ini aja ... kotaknya aku minta warna putih ya, seperti itu." Azzura menunjuk satu kotak berwarna putih dengan renda berwarna silver.
"Ti, mobil kamu bawa aja ya kamu pasti nanti kemalaman sampai di Bekasi," ujar Azzura.
"Biar Teddy yang antar, Teddy bawa mobil aku aja. Kamu aku antar ke rumah nanti baliknya gampang," ujar Raka merangkul pinggang Azzura.
"Oh ... oke," kata Teddy. "Tapi sebentar ya, tunggu gue di parkiran, gue ke belet." Teddy berlari kecil pergi meninggalkan yang lainnya, Raka, Azzura serta Siti meneruskan langkah mereka hingga ke parkiran.
"Ti, ini kuncinya," ujar Raka. "Masuk aja dulu, lama dia kalo ke toilet, nggak tau ngapain," kekeh Raka lalu mengaduh lantaran Azzura menepuk bahunya.
"Kita duluan ya, Ti," ucap Azzura lalu masuk ke mobilnya.
Lebih dari 15 menit Siti menunggu Teddy, lelaki itu akhirnya menampakkan dirinya.
"Sorry, lama ya?" Teddy mengacak rambut kekasihnya. "Mules, Sayang." Teddy menyadari perubahan wajah Siti.
"Ayo, keburu malem. Aku takut bapak—"
Butuh waktu hampir dua jam untuk mencapai Bekasi di jam hectic seperti ini. Entah mengapa Siti selalu menolak jika Teddy menawarkan padanya untuk mencari kost atau apartemen untuknya tinggal agar lebih dekat dengan kantor.
"Pindah aja, cari apartemen ya," pinta Teddy.
"Kalo aku kost atau tinggal di apartemen, bapak ibu sama siapa? ibu udah sakit-sakitan, kasian bapak kalo harus sendirian," jelas Siti.
"Ya udah, jual rumah di Bekasi beli di Jakarta."
"Kamu enak bilang gitu, mana mungkin lah. Rumah di Jakarta itu nggak murah. Ah udah lah ... kalo emang kami keberatan nganterin harusnya tadi bilang," sungut Siti.
"Adek merajuk, Bang," kekeh Teddy menyentil ujung hidung Siti.
__ADS_1
Mobil berhenti di depan rumah sederhana milik orang tua Siti. Ya, Siti bukan dari kalangan orang berada seperti Teddy. Nasib mujur dia bisa di terima kerja di perusahaan Langit Kelana lantaran kepandaiannya dan pintarnya Siti bergaul.
"Makasih, ya," ucap Siti memberikan ciuman di pipi Teddy.
"Satu doang?" Teddy menunjuk satu pipinya lagi.
"Kebiasaan," ujar Siti yang mau tidak mau akhirnya mencium pipi lelaki itu lalu menghapus bekas lipstiknya. "Hati-hati."
"Sayang," panggil Teddy lalu merogoh saku celananya. "Buat kamu." Teddy memberikan cincin yang tadi sempat Siti sarankan pada Azzura.
"Hah?" Mata Siti berbinar-binar. "Ini kan yang tadi—"
"Aku tau kamu suka, jadi aku beliin buat kamu. Ini hadiah buat kamu," tutur Teddy menuntun kepala Siti dan memberikan kecupan di kening kekasihnya.
"Kamu serius?" tanya Siti tak percaya.
"Seserius hubungan kita," ujar Teddy. "Setelah urusan Raka selesai dan proyek luar kota selesai, sesegera itu juga aku akan melamar kamu," kata Teddy sungguh-sungguh.
Hanya ada ekspresi wajah yang serius yang terpancar dari wajah Teddy. Siti terperangah, baru beberapa bulan mereka dekat, baru berjalan dua bulan juga hubungan mereka tapi Teddy sudah memantapkan pilihannya.
"Kamu mau kan, jadi istri aku?" Teddy mengangkat sedikit dagu Siti. "Mau?"
Rona merah menahan haru, malu, bahagia itupun menjadi satu. Kebaikan Tuhan apalagi yang sudah di berikan pada Siti hingga dia mendapatkan Teddy yang dengan tulus menerima dia dan keluarganya.
"Iya ... iya aku mau," jawab Siti lalu memeluk erat Teddy dengan air mata bahagia yang lolos begitu saja dari matanya.
"Makasih, Siti sayang," ucap Teddy lalu menautkan bibirnya pada bibir Siti.
Ciuman mereka berbalas, selayaknya ungkapan rasa bahagia mereka berdua. Siti mengusapkan jarinya di bibir Teddy, tangannya masih bergelayut manja pada leher lelaki itu. Hingga suara ketukan di kaca mobil mengagetkan mereka.
__ADS_1
"Bapak!" seru mereka bersamaan.
enjoy reading 😘