
"Halo, Ka ... lo udah baca chat gue? tiket udah gue pesan," kata Teddy pagi itu terburu-buru masuk ke dalam mobil milik Raka.
Semalam Teddy menerima telepon dari salah satu kepercayaan mereka yang menangani proyek di Bali. Terdapat kecurangan pada pihak supplier, kemungkinan besar ada permainan dengan subkontraktor lain, sedangkan subkontraktor di proyek itu banyak perusahaan Raka dan Rey. Dan pagi ini, Raka ingin permasalahannya cepat selesai apalagi ini adalah kerjasama dengan calon mertuanya.
"Gue udah siap, lo tinggal jemput," jawab Raka lalu menutup teleponnya.
"Jadi berangkat ke Bali hari ini? ada-ada aja, pernikahan kamu tinggal tiga hari lagi, Ka," ujar Citra sambil meletakkan piring di atas meja makan.
"Takutnya malah nanti berlarut-larut, Bu. Raka pamit," ujarnya mencium punggung tangan sang Ibu lalu beralih pada Pak Pandu. "Raka selesaikan masalah dulu, Yah."
"Ka," panggil Pandu sebelum Raka menutup pintu apartemennya.
"Iya, Yah."
"Bawa ke jalur hukum jika banyak merugikan kamu," ujar Pandu dan di jawab dengan anggukan oleh Raka lalu menutup pintu itu perlahan.
"Ada-ada sih, Yah. Kamu nggak bisa bantu apa? Apa kata keluarga Azzura kalo ternyata penggelapan itu ada tanda tangannya Raka," kata Citra khawatir, dia terduduk lemas.
"Raka tau apa yang harus dia lakukan, begitu juga dengan calon besan kita. Doakan saja ada jalan keluar," ucap Pandu setenang mungkin.
"Lo udah hubungi pengacaranya?" tanya Raka pada Teddy.
"Sudah, hari ini juga dia ikut kita. Nah, itu dia," tunjuk Teddy pada lelaki bertubuh tinggi dan bermata sedikit sipit berdiri di dekat pintu masuk.
"Pak Windu," sapa Teddy.
__ADS_1
"Pak Teddy," ujar lelaki bernama Windu itu, seorang pengacara yang cukup terkenal dalam beberapa kasus hukum.
"Kenalkan, ini atasan saya ...." Teddy memperkenalkan raka pada Windu.
"Raka," ujar Raka mengulurkan tangannya.
"Windu," jawab pengacara itu.
"Kita sebaiknya check in terlebih dahulu," ujar Teddy. "Untuk berkas-berkas sudah saya bawa semua."
Pukul 12 siang mereka sudah sampai di Nusa Penida, tempat dimana proyek yang sedang dibangun oleh Raka berada. Dari kejauhan sudah menunggu Kalla di sana, calon kakak ipar Raka itu selalu tanggap dengan pekerjaannya.
"Kalla," sapa Raka, raut wajah tak bersahabat terlihat jelas.
Teddy membuka beberapa berkas dan memberikan pada Kalla serta salinan berkas pada Raka dan Windu.
"Itu surat perjanjian kita dengan supplier dan subkontraktor, karena subkontraktor disini hanya ada dari pihak PT. Pilar Menara dan milik Bapak Rey," ujar Teddy. "Tidak ada mark up harga, semua sesuai dengan price list yang kami ajukan saat penandatanganan kerjasama," terang Teddy lagi.
"Jadi, bisa saya pastikan kesalahan atau tuduhan yang diberikan kepada kami itu tidak benar," ujar Raka.
"Kerugian kita 28 milyar," ujar Kalla. "Bagaimana saya bisa percaya begitu saja jika uang itu tidak mengalir di rekening perusahaan kalian?!" Kalla meletakkan berkas itu diatas meja dan menghempaskan punggungnya pada kursi.
"Kalo boleh saya tau, dimana subkontraktor yang lain?" tanya Windu.
"Sebentar lagi mungkin datang," jawab Kalla.
__ADS_1
"Saya sudah mendapatkan tersangkanya."
Suara Rey membuat semua menoleh ke arahnya. Lelaki itu berdiri dengan membawa seorang lelaki lagi dengan wajah tertunduk.
"Silahkan jelaskan," kata Rey menarik kursi yabg berada di depannya. "Sebentar, kamu bawa pengacara?" tanya Rey pada Raka.
"Iya, agar semuanya lebih jelas dan sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku," jawab Raka membenarkan kacamatanya.
"Jadi, Pak Gatot ini saya temukan di sebuah hotel sedang bersiap menuju bandara, info yang saya dapatkan dia akan pergi ke Batam. Entah untuk melarikan diri atau ada urusan yang lain, Bapak bisa jelaskan langsung pada rekan-rekan saya," ujar Rey.
"Tolong dijelaskan, Teddy bisa ambil ini untuk dokumentasi jika sewaktu-waktu dibutuhkan," kata Raka menyerahkan ponselnya pada Teddy.
Wajah lelaki berumur 45 tahun yang terduduk menunduk di hadapan mereka itu akhirnya angkat bicara.
"Perjanjian yang sudah kita sepakati, tadinya berjalan sesuai rencana. Hingga saya melihat ada kesempatan dalam kenaikan harga beberapa bulan belakangan untuk material yang besar. Saya bersama salah satu purchasing perusahaan saya memang melakukan mark up harga hingga perusahaan kami pun tidak menyadarinya," ujarnya lalu terhenti.
"Bagaiman tidak menyadari?" tanya Windu yang sudah mulai menemukan titik terang dari masalah ini. "Anda tahu, jika Anda bisa dikenakan hukuman penjara jika terbukti melakukan penipuan senilai yang tertulis?" Windu mengernyitkan alisnya. "Saya curiga korban Anda sudah banyak, karena Anda sendiri yang mengatakan perusahaan tidak menyadari, ini nilainya besar loh."
Lelaki itu tertunduk lemas, kali ini dia harus menelan pahitnya racun yang dia buat sendiri. Dipercaya sebagai supplier terbesar di proyek ini malah membuat kekhilafan yang merugikan diri sendiri.
"Bawa ke jalur hukum!" tegas Kalla. "Atau Anda kembalikan 28 milyar perusahaan kami!" Kalla berdiri, dia tidak ingin lagi mendengarkan alasan apapun. "Dan kamu, Raka ... Rey, setelah ini temui saya."
**enjoy reading 😘
ada aja halangan mau halal ya 🤧**
__ADS_1