
Pukul tujuh malam, Raka melajukan mobilnya menuju kediaman Langit Kelana. Saat itu yang ada di pikirannya adalah mendengarkan penjelasan Azzura. Memang seharusnya saat Azzura datang siang tadi, Raka mendengarkan dulu penjelasannya. Namun, nasi sudah menjadi bubur dan Azzura pergi meninggalkannya dengan perasaan kesal.
Kediaman Langit Kelana malam itu nampak sepi, Raka turun dari mobilnya. Seorang penjaga rumah membukakan pagar tinggi itu untuknya.
"Maaf, cari siapa?" tanya satpam bertubuh tinggi dengan jambang menghiasi rahangnya.
"Azzura-nya ada?"
"Wah, Mbak Azzura pergi dengan semua anggota keluarga, setengah jam yang lalu."
"Oh, kemana Pak?"
"Kurang tahu ya kemana ya, tapi mereka pergi makan malam dengan Pak Riza dan Mas Rey yang dari Palembang," jelas satpam yang bernama Udin sesuai dengan name tag yang melekat di baju seragamnya.
"Oh, dalam rangka apa? mungkin Bapak tau?" tanya Raka.
"Em ... denger-denger sih, persiapan lamaran Mbak Zurra dengan Mas Reyhan," terangnya lagi.
"Lamaran?"
"Mas ini, siapanya Mbak Azzura?" tanya Udin.
Udin tetap berdiri di hadapan Raka, menunggu sampai lelaki itu menjawab pertanyaannya.
"Mas, Mas ini siapanya Mbak Zurra?" tanyanya lagi.
"Jadi nggak tau ya, Pak dimana acaranya?" tanya Raka tanpa menjawab pertanyaan Udin.
"Ya nggak tau, kalo tau pasti udah saya bilang dari tadi. Udah belum ini Mas, saya mau masuk lagi nih," seloroh Udin.
Raka memainkan kunci mobilnya, berpikir sejenak. "Kalo gitu, makasih Pak," ucap Raka lalu melangkah kembali ke mobilnya.
"Mas-nya kalo mau nunggu, tunggu aja tapi saya nggak janji mereka pulang cepat, biasanya kalo acara keluarga bisa sampe jam 10 baru pulang," seru Udin lagi.
"Oh ... nggak usah Pak, biar nanti saya hubungi saja," jawab Raka dengan wajah yang tidak bersemangat.
Raka menyalakan mobilnya, pikiran lelaki itu entah kemana, beberapa kali menghubungi Azzura pun tidak tersambung.
"Pasti lowbatt lagi," gumamnya.
"Lamaran?"
"Reyhan dan keluarganya?"
Raka memukul keras kemudinya, merutuki kebodohan yang sekali lagi dia perbuat.
"Setelah Jenna, sekarang Azzura, bego banget sih gue!"
*****
__ADS_1
"Terus kamu percaya?" tanya Azzura setelah mendengarkan Raka menceritakan pertemuannya dengan Udin.
"Itu alasan kamu nggak terima telpon aku selama satu minggu ini? iya?"
"Terus kalo ternyata bener aku di jodohin, kamu diem aja, gitu? nggak ada usaha? apa kek?" Pertanyaan beruntun terlontar dari bibir Azzura.
"Berarti nggak di jodohin?" tanya Raka polos.
"Ah tau ah ...." Azzura melangkah pergi menuju kamarnya meninggalkan Raka.
"Ra ... Zurra," panggil Raka berlari kecil mengejar gadis itu lalu menahan tangannya.
"Iya? berarti nggak di jodohin?" ulangnya lagi. "Kasih tau aku kebenarannya, biar aku nggak gila kayak gini," ujar Raka.
"Jawab dulu pertanyaan aku, kalo aku di jodohin, apa yang bakal kamu lakuin?"
"Ya perjuangin kamu, ngomong ke orang tua kamu kalo kita punya hubungan, kalo kita bukan hanya sekedar teman. Nggak mungkin aku biarin kamu jadi milik orang lain, mau dia sempurna kayak apa juga, aku nggak rela kamu jadi milik orang lain," ungkap Raka.
"Seberapa serius kamu?"
"Apa?"
"Ya seberapa serius kamu dengan hubungan kita?" tanya Azzura ingin tahu.
"Serius lah, emang nggak keliatan aku serius?"
"Kok nggak sih, Ra?"
"Ya nggak, kamu tuh plin plan, hari ini begini besok begitu, kamu nggak tegas, kamu nggak keliatan seperti lelaki yang sayang sama pasangannya, kamu— selama kita nggak ada komunikasi, selama itu juga aku masih kasih kamu perhatian. Sorry to say, aku nggak minta di bales, tapi kamu nggak punya cara, datang kek ... apa kek," ujar Azzura kesal.
"Apa lagi? bilang aja ... aku masih kurang apa di mata kamu?"
"Iya, aku nggak liat keseriusan kamu," ujar Azzura memelankan suaranya.
"Jadi aku harus apa?"
"Aku nggak tau, cuma kamu yang bisa jawab itu," ujar Azzura memegang gagang pintu kamarnya.
"Berarti kamu terima cintanya Rey?"
Azzura hanya terdiam.
"Jawab aku, Ra!"
"Aku—"
"****!" Raka menyugar rambutnya kasar.
"Aku nggak jawab apa-apa, tapi aku juga nggak bisa nerima kamu, kalo kamu belum berubah dan tidak menutup kemungkinan peluang Rey akan lebih besar," kata Azzura menatap dalam mata lelaki yang memandangnya dengan tatapan tajam.
__ADS_1
"Loh, Ra ...."
"Aku nggak bisa selalu ngadepin kamu yang seperti ini, Ka. Maaf banget, trauma masa lalu kamu itu nggak berlaku di aku. Aku beda," tutur Azzura, lalu menutup pintu kamarnya.
Pedih rasanya. Ya, Raka merasakan hatinya sakit. Gadis itu malah membuatnya seperti ini, salah siapa? Raka menghela napas panjang, perlahan dia tinggalkan teras depan cottage Azzura melangkah kembali ke sisi kolam renang.
Beberapa kali dia menyalakan pemantik api untuk menghidupkan rokoknya namun selalu gagal oleh angin yang berhembus malam itu.
"Azzura itu orangnya, detil, ceria, temennya banyak, kalo dalam hal pekerjaan dia pengen yang perfeksionis, tapi kalo berhubungan dengan perasaan dia paling nggak bisa, nggak bisa nerima yang nggak pasti," ujar Kalla yang berdiri tidak jauh di belakang Raka.
Raka menoleh ke asal suara kembaran kekasihnya itu. Kekasih? bahkan sekarang hubungan ini semakin tidak jelas.
"Tinggal lo usaha lebih keras lagi buat yakinin dia," kata Kalla lalu memutar tubuhnya kembali menuju kamarnya.
Raka masih berulang ulang menyalakan korek api hingga akhirnya dia kesal dan membuang semuanya jauh ke bawah.
*****
"Ka, bangun." Teddy membangunkan Raka yang masih tertidur pulas. "Ka, kita ada meeting dengan supplier pagi ini. Woi, Ka."
"Apaan sih, Ted," sergah Raka marah. "Lo nggak liat gue masih tidur," kesalnya.
"Iya, tapi kita ada kerjaan Ka. Nggak enak kalo kita di tunggu terus sama Kalla."
"Argh ... ganggu aja sih," umpat Raka. "Iya, gue bangun." Raka menyibak selimutnya lalu jalan terhuyung menuju kamar mandi.
Tidak butuh waktu lama lelaki itu sudah siap dengan kemeja berwarna biru laut dengan celana chinos berwarna biru tua. Menyangga tas punggung kulit yang ada di salah satu pundaknya, Raka melangkah menuju restoran yang berada di cottage tersebut tidak jauh dari kolam renang.
Sudah ada Teddy dan Kalla yang sudah duduk di sama dengan secangkir kopi dan beberapa menu makanan yang ada di atas meja mereka.
"Ka," sapa Kalla.
"Hei, Kal."
"Gimana tidur malam tadi? bisa kan?"Ungkapan sarkasme dari Kalla.
Raka hanya tersenyum, sementara Teddy yang belum tahu menahu apa yang sedang terjadi hanya menganggap pembicaraan itu angin lalu.
"Azzura kemana? eh maksud saya Ibu Azzura," ujar Teddy.
"Itu." Tunjuk Kalla saat Azzura melangkah mendekati mereka bersama Rey di sampingnya.
Raka yang sedang menyesap kopi saat itu mengangkat wajahnya. Memandangi gadis dengan tampilan summer dress panjang di balut cardigan berwarna tosca membuatnya terlihat segar.
"Duduk, Ra," ujar Rey menarik kursi untuk Azzura, Azzura melemparkan senyuman pada Rey yang membuat rasa di dada Raka semakin bergemuruh.
**enjoy reading 😘
untuk yang sudah terbiasa dengan karya Chida, seperti biasa Chida tidak memakai tulisan flashback on/off ya 😉**
__ADS_1