
Azzura menuruni anak tangga pagi itu menuju ruang makan. Waktu menunjukkan pukul delapan lebih sedikit, biasanya hari libur seperti ini orang tuanya meluangkan waktu berjalan mengitari komplek lalu mampir ke rumah Kalla yang tidak jauh dari kediaman mereka.
Namun, pagi ini rumahnya lah yang ramai dengan celoteh anak Kalla di ruang makan. Bayi berumur baru genap satu tahun itu menarik perhatian penghuni rumah, tak terkecuali Rey yang menginap di rumah mereka malam tadi.
"Pagi, sapa Azzura berjalan gontai menuju meja makan. "Hai, Agni ... kamu bawa in aunty apa hari ini?" tanya Azzura pada bayi kecil yang sedang sibuk memasukkan potongan buah naga ke mulutnya.
"Aku bikinin kamu salad buah tadi, ada di kulkas," ujar Nami istri Kalla.
"Hai, Ra," sapa Rey yang pagi itu sudah kelihatan segar.
"Hai, Bang Rey," balas Azzura lalu dia melirik Langit yang sedang menyantap sarapan paginya.
"Didi, nanti kita bisa bicara berdua?" tanya Azzura.
"Boleh. Eh, tapi nanti Om Riza datang, kamu sama Rey jemput ke bandara ya soalnya Didi jam 10 sama Mima mau ke kondangan," ujar Langit.
"Hah? terus kita ngobrolnya kapan?" Azzura merengek.
"Yang jemput Papa biar Rey aja, Om," kata Rey yang melihat ada raut wajah keberatan pada Azzura.
"Nggak, nanti biar di temani sama Zurra. Ngobrolnya nanti kalo Didi udah pulang," kata Langit.
"Ok," jawab Azzura lesu.
Kalla memperhatikan sikap kembarannya tidak seperti biasanya. Dulu mereka sering sekali kemana-mana berdua, meski Kalla bukan orang yang banyak bicara tapi bagi Azzura, Kalla adalah sosok yang menyenangkan jika sewaktu-waktu Azzura menceritakan segala sesuatu pada Kalla.
"Kenapa lo?" tanya Kalla berbisik.
"Nggak apa-apa," jawab Azzura.
"Boong banget, cerita nggak!" Ancam Kalla masih dengan berbisik.
"Habiskan makan kalian, Azzura, Kalla. Dari kecil masih saja seperti itu," seloroh Jingga.
Azzura menikmati sarapan pagi itu dengan wajah malas, teringat kembali perkataan Jingga semalam. Baru saja ingin membicarakannya pada Langit, Langit malah memberi Rey peluang untuk bersamanya hari ini.
"Mima." Azzura melongokkan kepalanya dari balik pintu kamar Jingga.
"Hhmm, masuk Sayang," ujar Jingga.
"Didi mana?"
"Lagi mandi," jawab Jingga sembari menyapukan blush on pada wajahnya.
"Mima sama Didi jadi pergi?"
"Jadi dong, yang nikah anak relasi Didi nggak mungkin kan nggak pergi."
"Oh ...."
"Kenapa?" Jingga menghentikan riasan di wajahnya. "Mima perhatiin daritadi wajahnya nggak enak banget."
"Mima serius ya, masalah perjodohan itu?"
"Oh itu, nggak tau tanya Didi deh," ujar Jingga melanjutkan kegiatannya.
"Emang Mima seneng ya anaknya di jodoh-jodohin gitu?"
__ADS_1
"Mima mah terserah, kalo kamu mau—"
"Ya nggak lah, gimana dengan Raka kalo Zurra di— ah Mima, Zurra nggak mau," rengek Azzura.
Jingga hanya tersenyum tipis, kelakuan Azzura sama persis dengan dirinya saat masih muda. Dulu juga Jingga merasakan apa yang dirasakan oleh Azzura, untung saja almarhum ibu dan ayahnya mau berjuang dan membantunya menolak perjodohan dari sang nenek.
"Tanya Didi deh, Mima nggak berani ngomong apa-apa," kata Jingga namun sambil tersenyum.
"Loh, Ra ... kamu nggak jadi pergi sama Rey?" tanya Langit yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Harus ya?"
"Iya lah, nggak enak sama dia, udah sana ... ini udah jam berapa, kasian Om Riza kalo sampe harus nunggu lama," titah Langit.
"Ck, ya sudah," ujar Azzura dengan wajah cemberut lalu melangkah gontai dari kamar orangtuanya.
"Udah siap?" tanya Rey saat Azzura mengenakan sepatu kets nya di ruang tamu.
"Sudah, Abang bawa mobil Zurra aja," ujar Azzura memberikan kunci mobilnya pada Rey. "Eh, sebentar ... ponsel Zurra dimana ya?" Azzura sibuk mencari ponselnya di dalam tas. "Sebentar ya." Setengah berlari kecil menaiki anak tangga menuju kamarnya.
"Ada?" tanya Rey pada Azzura saat gadis itu masuk ke dalam mobil.
"Ada tapi mati," ujar Azzura tersenyum menunjukkan ponselnya. "Ya udah, ayo nanti keburu telat," katanya lagi.
Rey menyalakan mesin mobilnya lalu perlahan meninggalkan kediaman Langit Kelana.
*****
"Cari siapa?" tanya penjaga rumah milik Langit ketika kaca mobil Raka terbuka.
"Azzura nya ada, Pak?"
"Rey?"
"Iya, biasa lah jemput calon mertua Mbak Zurra," kata penjaga itu lagi.
"Calon mertua?"
"Iya, itu bapaknya Mas Rey," jawabnya santai. "Mas ini yang tadi malem anter Mbak Zurra, toh?"
"I—iya, saya yang tadi malam," jawab Raka tercekat saat mendengar calon mertua.
"Coba di telpon aja, Mas."
"Nggak aktif, Pak ... kalo gitu saya pulang aja, Pak," kata Raka setelah berpamitan, lalu menutup kaca jendela mobilnya.
Ada rasa sakit di hati Raka saat tahu Azzura pergi bersama Rey tanpa memberitahukan kepadanya terlebih dahulu, belum lagi hari ini mereka berjanji akan pergi bersama menikmati weekend seperti layaknya orang yang berpacaran.
Beberapa kali Raka menghubungi Azzura namun tetap saja belum dapat dihubungi. Rencana yang dia susun untuk hari ini seketika berantakan.
"Kita makan siang dulu ya, Ra," ujar Rey.
Azzura nampak gelisah, dia sungguh merasa bersalah pada Raka. Ponselnya baru saja menyala ketika perjalanan menuju bandara tadi. Dan saat ini dia sudah bersama Riza, orang tua Rey.
"Zurra ikut aja, Bang. Tapi setelah makan siang Zurra bisa minta antar ke Pancoran?" tanya Azzura tak enak hati.
"Zurra mau pergi?" kata Riza.
__ADS_1
"Mau ketemu teman, Om ... Zurra lupa kalo ada janji hari ini."
"Oh ya sudah Rey, antar kan saja dulu Zurra, makan siang bisa kita ganti dengan makan malam nanti bersama keluarga yang lain."
"Eh, nggak apa-apa, Om. Kita bisa makan siang sekarang," ujar Azzura semakin tidak enak hati.
"Nggak apa-apa, Ra. Nanti malam aja biar dengan keluarga lengkap," kata Rey. "Pancoran dimana?"
Mobil melaju menuju apartemen Raka, sungguh Azzura memang teledor, lebih teledor lagi dia melupakan janjinya bersama Raka.
"Abang Rey, Om Riza maaf ya," ucap Azzura saat turun dari mobil.
"It's ok, Ra. Santai aja." Rey pun tersenyum dan kembali menyalakan mobilnya, melaju hingga hilang dari pandangan mata.
Azzura melangkah cepat ketika pintu lift terbuka, sedikit berlari menuju unit apartemen Raka. Azzura melangkah perlahan ke dalam ketika access card nya membuka pintu apartemen itu.
"Ka," panggil Azzura yang tidak mendapati Raka di ruang tengah maupun dapur.
"Ka," panggilnya sekali lagi lalu membuka pintu kamar Raka.
Pintu kaca mengarah ke balkon itu terbuka lebar, Raka sedang menghabiskan beberapa puntung rokok dan secangkir kopi dengan laptop terbuka di atas meja.
"Ka," ucap Azzura.
Raka hanya menoleh lalu kembali lagi menatap laptopnya. Menghisap rokoknya tanpa perduli kehadiran Azzura di sana. Azzura menarik kursi yang berada di hadapan Raka, dia pandangi kekasihnya yang mungkin memang kesal karena acara mereka hari ini harus gagal.
"Maaf ya," ucap Azzura.
Raka masih saja diam, dia malah sibuk dengan pekerjaannya.
"Ka, kamu boleh marah sama aku, tapi jangan diemin aku kayak gini. Aku minta maaf," ujar Azzura.
"Aku mau ngomong apa? bukannya udah jelas ponsel dimatikan, pergi dengan Rey lalu apa yang mau di omongin." Raka menutup setengah laptopnya.
"Setidaknya kamu dengar dulu penjelasan aku," kata Azzura.
"Ya udah jelasin ... jelasin aja, aku dengerin kok. Tapi, tanpa kamu jelasin juga ... udah jelas kok, jemput calon mertua. Cepat juga geraknya si Rey itu ya, kalah cepat aku." Mata Raka menatap tajam pada Azzura.
"Calon mertua?"
"Iya, bener kan aku bilang ... strategi Rey pinter, deketin bapaknya dapet anaknya bukan kayak aku, deketin anaknya dapet proyek dari bapaknya." Nada suara Raka mulai terdengar kesal.
"Oh gitu, jadi selama ini, itu yang kamu mau ... deketin aku, kamu dapet proyek dari Didi. Aku nggak kira—"
"Aku yang nggak kira! Maksudnya apa? ponsel itu aku hubungi selama satu jam, tidak ada tanggapan, sengaja kamu matikan karena kamu nggak mau acara kalian terganggu karena aku, kan?"
"Ponsel ini lowbatt, mati! nggak ada nyawa nya, itu sebabnya aku nggak bisa kamu hubungi, bukan karena aku sedang bersama Rey, enak-enakan seperti yang kamu pikirin."
"Ah, sudahlah Ra. Udah jelas sudah, beda jauh aku sama Rey ...."
"Rey lagi Rey lagi ... cemburu kamu jadi bikin kamu nggak bisa berpikir," ujar Azzura melangkah pergi.
"Mau kemana?" Raka mencegah kepergian gadis itu.
"Pergi, percuma di sini, ngomong sama kamu yang pikirannya tertutup sama cemburu buta nggak jelas kayak gini," kata Azzura menepis tangan Raka dari lengannya.
**enjoy reading 😘
__ADS_1
terimakasih masih menunggu up dari aku ya, maaf banget belum bisa setiap hari up, aku harap kalian masih setia 🙏**