
"Azzura belum bangun, Ka?" tanya Jingga pagi itu saat melihat Raka menuruni anak tangga.
"Belum, Ma. Capek kayaknya ... selama di Bali ada aja tempat yang dia kunjungi," kata Raka lalu menarik kursi meja makan.
"Azzura itu memang suka jalan-jalan ... sama kayak Didi," ujar Jingga. "Tapi ya nggak kayak gini juga, masa suami mau kerja dia belum bangun," sungut Jingga.
"Biarin aja, namanya juga pengantin baru. Mima dulu juga kayak gitu, inget nggak." Langit meletakkan ponselnya di meja, kemudian menerima satu piring berisi sarapan paginya dari Jingga.
Jingga mencebik, seingatnya dulu dia juga susah bangun pagi namun semenjak menikah ada saja petuah dari sang Bunda bagaimana seharusnya peran istri di dalam rumah tangga.
"Oh ya Ka, rencana kalian gimana sekarang?"
"Gimana maksudnya apa Didi?" Raka mengernyitkan dahinya.
"Mau tinggal sama kita atau kalian belajar hidup mandiri?" Langit meletakkan garpu dan sendok. "Maksud Didi, apa kalian mau merasakan hidup berdua? kalo Didi sih nggak masalah kalo kamu dan Azzura tinggal di sini, Didi malah senang ada yang nemenin Didi sama Mima, tapi kalo kalian mau mencoba hidup sendiri Didi juga nggak masalah, malah bagus." Langit menyeruput kopinya.
"Raka sama Zurra sudah membahas ini Didi, sepertinya Raka akan membeli rumah yang ada di dekat sini saja, selain tidak jauh dari orang tua, kami juga masih bisa mengunjungi sewaktu-waktu."
"Oh, berarti sudah ada bayangan ya. Sudah lihat-lihat? Setahu Didi, di blok F ada rumah yang siap di huni, bangunan baru ... mungkin cocok untuk kalian," ujar Langit.
"Oh yang di hook ya, Di? yang Didi bilang rumahnya lumayan besar itu kan?" Jingga terlihat senang karena dia merasa tidak akan berpisah jauh dari putrinya.
"Coba nanti Raka sama Zurra lihat dulu, Di."
Memutuskan untuk hidup mandiri, membina sebuah keluarga adalah awal proses sebuah pernikahan.
*****
"Beh, pengantin baru ... gimana lancar?" Teddy baru saja memasuki ruang kerja Raka.
"Lancar lah ... cess pleng, lega gue," jawab Raka asal, lalu beranjak dari duduknya menuju meja gambar.
"Wuih, nggak ada yang ganggu ya." Teddy terkekeh lalu menyerahkan kertas gambar desain pada Raka.
"Resort di Nusa Penida proses 90 persen lagi kemungkinan sebulan lagi selesai, lo bisa kan per dua minggu standby di sana?" tanya Raka.
"Lama ya, Bosque," ujar Teddy dengan wajah mencebik.
"Ajak aja Siti," ujar Raka seperti memberikan angin segar untuk Teddy.
"Ide lo cakep, tapi sayang nggak bakal bisa," kata Teddy sambil menggulir layar ponselnya.
"Kenapa?" Raka mulai menorehkan pensilnya di atas kertas gambar.
"Beh, lo nggak liat bentukan bapaknya, Ka."
__ADS_1
"Kenapa?" Raka menyeringai.
"Uji nyali, Bro."
Tawa Raka meledak, baru kali ini dia lihat Teddy merasakan ciut menghadapi orang tua wanita yang menjadi incarannya.
"Seren muka nya, lo kalo ketemu juga mundur berapa langkah."
"Masa, sih?"
"Anaknya sih cantik, bapaknya kayak Simba," ujar Teddy menirukan lagu Lion King.
"Haha ... udah nasib lo terima aja. Itu namanya perjuangan, Ted ... take it or leave it," ujar Raka.
"Ya take it lah ... sudah sejauh ini gue melangkah," kata Teddy. "Terus rencana lo sendiri gimana?"
"Apa?"
"Setelah menikah ini, lo balik ke apartemen apa stay sama mertua?" tanya Teddy.
Raka menghentikan aktivitasnya, menoleh pada Teddy.
"Menurut lo? kalo gue pribadi sih maunya balik ke apartemen sementara sampe rumah yang rencananya kita beli semua sudah lengkap." Raka melirik Teddy yang asyik dengan ponselnya. "Lo nanya, giliran gue jawab lo asik sama ponsel," kesal Raka melemparkan pensilnya pada Teddy.
"Nggak jauh dari mertua sama kakak ipar gue," jawab Raka.
"Serius?"
"Kenapa emang?" Raka mengernyitkan dahinya.
"Ya nggak sih, tapi nggak ngaruh juga lah ya ... mau deket sama keluarga istri, toh juga kalian enjoy aja," kata Teddy yang khawatir.
"Kebanyakan nonton drama keluarga lo," kekeh Raka.
"Eh kenyataan itu, kebanyakan ikut campur tangan orang luar saat menikah itu nggak baik," tandas Teddy.
"Semoga gue nggak lah, lagian bukan tipe mertua gue ikut campur urusan rumah tangga gue, Ted."
"Iya sih, gue rasa juga gitu. Gue balik ke ruangan gue dulu ya ... gambar kalo udah lo cek nanti langsung gue ajuin ke klien," kata Teddy sebelum menutup pintu.
****
Sore menjelang, Raka tidak mendapati Azzura berada di kamar mereka. Entah kemana istrinya itu, rumah mertuanya juga terlihat sepi saat dia memasuki rumah itu tadi. Alih-alih akan menuju kamar mandi di kamarnya, Raka mendengar suara mobil memasuki pekarangan rumah itu. Dari balkon Raka memperhatikan istrinya bersama sang Mertua keluar dari mobil yang membawa mereka sore itu.
"Sayang," sapa Azzura ketika Raka keluar dari kamar mandi lalu memberikan baju ganti untuk suaminya.
__ADS_1
"Baru pulang? kemana seharian?" tanyanya lembut meraih kaos berwarna putih.
"Sama Mima lihat-lihat rumah," ujar Azzura tersenyum.
"Terus, ada yang menurut kamu cocok?"
"Ada ... ada kolam renang di bagian belakang, dua lantai, kita lihat besok lagi, mau?" Azzura mendekat pada Raka meletakkan tangannya pada dada suaminya.
"Besok? boleh." Raka meraih tangan Azzura membawanya ke dalam dekapannya.
"Kamu pasti suka, aku mau desain ruangannya semua aku yang atur. Boleh ya," ujar Azzura menahan geli karena Raka mulai menyusuri leher jenjangnya.
"Boleh ...."
"Aku desain ruang kerja kamu, kecil aja tapi nyaman." Tangan Azzura menelusup ke dalam kaos Raka.
"Senyaman ini?" Raka menautkan bibirnya pada Azzura, menyesapnya bergantian.
Perlahan dress babydoll itu lolos begitu saja dan tergeletak tepat di bawah kaki mereka berdua.
"Aku belum mandi," kata Azzura.
"Aku sudah mandi, apa bedanya," ujar Raka terduduk di sisi tempat tidur dengan Azzura yang berdiri di depannya hanya dengan pakaian dalam.
Raka melepaskan kaitan pembungkus dada Azzura. Wajah Azzura merona entah mengapa setiap tatapan Raka menuju dadanya, rona merah di wajahnya selalu saja terukir.
Raka perlahan menyusuri perut rata Azzura, tangannya pelan-pelan naik meremat dada istrinya.
"Sayang," lirih Azzura saat Raka menautkan bibirnya pada pucuk dada Azzura.
Menikmati cumbuan suaminya yang bahkan membawanya melambung tinggi ke angkasa. Riuh rendah erangan dan desaahan pasangan suami-istri itu pun memenuhi ruangan.
Raka memposisikan Azzura membelakanginya, penyatuan tubuh mereka membuat Azzura tersentak. Kemudian hunjaman dan hentakan mewarnai sore hari mereka.
"Gimana?" tanya Raka masih dengan napas tersengal-sengal, detak jantungnya masih berdegup tidak beraturan.
Azzura menutup wajahnya dengan selimut, dia menikmati permainan suaminya. Raka menelusup masuk ke dalam selimut menciumi pundak polos Azzura.
"Ditanya malah senyum-senyum," kata Raka di telinga Azzura.
Azzura mengeratkan pelukan hangat Raka.
"Jangan pancing aku lagi, Ra." Tangan Raka kembali menangkup dada Azzura.
"Tadi gaya apa?" Pertanyaan itu polos terlontar dari bibir Azzura diikuti senyum seringai menggoda dari Raka.
__ADS_1