
Pasangan yang baru saja meresmikan statusnya sebagai sepasang suami-istri itu berjalan beriringan memasuki lobby hotel tempat mereka menginap di Nusa Penida, Bali. Kedatangan Raka bukan hanya ingin mengajak Azzura merasakan bulan madu berdua namun juga sekaligus menyelesaikan permasalah yang sempat membuatnya meradang beberapa hari sebelum pernikahan mereka.
"Nanti aku tinggal sebentar nggak apa-apa?" tanya Raka.
"Kemana?" Azzura menatapnya dalam.
"Masalah kemarin belom selesai, apa mau ikut?"
"Aku ikut," ujar Azzura manja.
"Manja banget ... takut ya di tinggal lama-lama." Raka tersenyum nakal.
Memasuki kamar hotel yang menyajikan langsung hamparan laut lepas, Raka memeluk istrinya dari belakang. Tak pernah sedetikpun lelaki itu melepaskan genggaman tangan, pelukan bahkan terkadang kecupan-kecupan kecil selalu dia berikan pada Azzura.
"Suka nggak?" tanyanya dengan nada berat dan hembusan nafas hangat di sisi wajah Azzura.
"Heem ...." Azzura mengeratkan pelukan Raka.
"Gimana?" goda Raka.
"Apa?" Azzura membalikkan tubuhnya.
"Sayang ...." Azzura meletakkan kepalanya di dada Raka.
"Iya?"
Rona wajah Azzura memerah, kerlingan mata suaminya mengisyaratkan yang beda. Perjalanan dari Jakarta hingga Bali lalu di sambung kurang lebih satu jam menyebrang pulau menuju Nusa Penida mampu menahan deburan rasa di hati. Baru juga semalam mereka melakukan hal yang indah, dan kali ini Raka kembali memintanya.
Ciuman lembut itu kembali Raka tautkan, bibir basah istrinya memang selalu menggoda. Entahlah rasa ingin memiliki itu semakin besar saja. Raka melepaskan ciumannya, lalu menutup jendela kaca besar serta tirai jendela.
Raka singkirkan rambut panjang Azzura ke sisi kiri, menyusuri ceruk leher Azzura lalu menahan tengkuknya hingga tertahan. Azzura tersenyum, melepaskan ciuman lembut itu lalu menarik diri dari Raka.
"Katanya mau pergi." Azzura malah melepaskan kancing kemejanya hingga terlepas dari tubuhnya.
"Ini mau pergi tapi kamu nya gitu," ucap Raka memandangi tubuh istrinya yang sudah polos di hadapannya.
"Gimana?" Azzura mengerlingkan matanya.
"Siapa yang bisa nolak," kata Raka langsung membawa Azzura terbang ke angkasa.
*****
Kasus yang sedang di hadapi oleh Raka yang dikarenakan penipuan oleh salah satu suppliernya memang cukup menguras waktu, untung saja semua bukti-bukti sudah lengkap dan cukup memberatkan tersangka.
__ADS_1
"Pak Raka," sapa Windu pengacara yang mereka sewa untuk menyelesaikan kasus itu.
"Pak Windu, bagaimana?" tanya Raka pada Windu di sebuah cafe di pinggir pantai.
"Sudah ... sudah beres, tinggal menunggu jalannya sidang, sudah di pastikan dia di penjara dalam waktu yang lama," kata Windu.
"Mengenai uang?" tanya Raka yang sudah duduk berhadapan dengan ekspresi wajah yang serius.
"Dia di kenakan denda, tapi ... untuk mengembalikan uang sebesar itu, kita tidak bisa pastikan, Pak. Karena dia sudah menjalani masa hukumannya."
Raka mengangguk, lalu membaca beberapa berkas yang diberikan oleh Windu. Lalu melirik Azzura yang terlihat sudah mulai bosan dengan perbincangan siang itu.
"Sebentar, ya," kata Raka mengusap punggung istrinya, dan hanya di balas anggukan oleh Azzura.
Pandangan Azzura terhenti pada sepasang kekasih yang baru saja datang menduduki meja yang tidak jauh dari mereka. Wanita itu mengerutkan keningnya, merasa mengenali pasangan itu.
"Rio," panggilnya dan membuat lelaki yang bernama Rio pun menoleh, membalas tatapan Azzura.
"Zurra?" Rio berdiri dari tempat duduknya menghampiri Azzura. " Kamu? apa kabar?" Rio mengulurkan tangannya.
"Baik, Yo ... kamu apa kabar?"
"Baik ... aku baik, long time no see," ucap Rio dengan tatapan penuh arti.
"Sama siapa?" tanya Azzura pada Rio.
"Oh ... itu—" Rio tergugu.
"Oh i see, belum berubah ya," kata Azzura tersenyum.
"Kamu?" tanya Rio melirik kearah Raka.
"Oh iya, kenalin ... suami aku," kata Azzura memperkenalkan Raka pada Rio.
Raka mengulurkan tangannya dan menyebutkan nama, ada rasa penasaran di hati kecilnya, dia merasa sama sekali belum mengenal lelaki yang ada di hadapannya sekarang.
"Teman Azzura?" tanya Raka dengan senyum tipis di wajahnya.
"Iya, teman kuliahnya," jawab Rio.
"Sayang, sebentar aku urus ini dulu dengan Pak Windu," kata Raka.
"Ra, aku kenalin yuk," ajak Rio memperkenalkan teman kencannya pada Azzura.
__ADS_1
"Sayang, aku gabung dengan mereka ya?" Azzura meminta ijin pada Raka, meski berat namun raka membiarkan istrinya ya g hanya dipikirnya sekedar berbasa basi.
Dari jarak tidak lebih dua meter, Raka memperhatikan Azzura yang sedang tertawa bersama Rio, yang katanya hanya sekedar teman kuliah Azzura. Tapi entah mengapa pandang Raka terhadap lelaki itu seperti memberi jawaban jika dulu Azzura dan Rio pernah menjalin hubungan yang bukan sekedar teman.
Setelah urusannya dengan windu selesai, Raka menghampiri dimana istrinya sedang tergelak dengan lelaki lain yang baru saja Raka kenal.
"Sayang, sudah?" tanya Azzura.
"Sudah," jawab Raka lalu duduk di samping Azzura.
Lama Raka memperhatikan kedua orang itu saling berbalas candaan. Sementara satu wanita lagi hanya mengaduk-aduk air minumannya dan sesekali tersenyum seakan mengerti apa yang sedang Azzura dan Rio perbincangkan.
"Sayang, sudah selesai?" bisik Raka.
"Oh ...." Azzura menyadari bahwa Raka sudah tidak merasakan nyaman berada di sana. "Rio, senang bisa ketemu lagi, kapan-kapan kalo ke Jakarta mampir ke kantor," kata Azzura.
Setelah berpamitan, Raka dan Azzura menaiki mobil yang mereka sewa selama di Nusa Penida. Raka masih diam seribu bahasa, menyadari perubahan dari diri Raka, Azzura mencoba mencairkan suasana.
"Diam aja sih ... kenapa?" tanya Azzura menyadarkan kepalanya di lengan Raka yang fokus dengan jalan yang ada di depannya.
"Ka ... kenapa? kok tiba-tiba diam?" tanya Azzura lagi.
"Kadang aku suka ngerasa, mantan kamu emang beneran banyak ya? kayak kemarin di nikahan kita ... ada beberapa pria yang di undang oleh keluarga kamu, dan ternyata mereka semua sempat dekat sama kamu, sekarang di sini juga gitu. Rio, mantan kamu juga?"
"Nggak." Azzura menggeleng. "Mereka semua teman, kamu cemburu?" Azzura tersenyum nakal.
Jelas ada rasa cemburu di hati lelaki itu. "Aku ngerasa beda, kalo teman tatapan mereka ke kamu nggak bakal gitu."
"Gitu gimana?" tanya Azzura mengerutkan dahinya.
"Tatapan yang bukan dari seorang teman, seperti mengisyaratkan kalian pernah menjalin sesuatu." Raka menoleh sebentar ke arah Azzura.
Azzura menarik dirinya, benar jika Raka akan berpikir seperti itu. Mulai dari kedatangan Dirja yang membuat hatinya sedikit bergetar, apalagi mengingat masa lalu mereka yang sempat mereka habiskan bersama. Lalu Rozak, lelaki yang pernah singgah sebentar di kehidupannya.
"Hanya teman nggak lebih, Ka. Dirja teman kecil aku, lalu Rozak salah satu teman bisnis Abang Ar, memang sempat menjalin hubungan namun hanya sebentar."
"Lalu Rio tadi?"
Azzura tercekat, dia harus bilang apa pada Raka jika hubungan dia dan Rio hanya sebatas teman ... tapi mesra.
**Nusa Penida, Bali 2022
enjoy reading 😘**
__ADS_1