
"Gila lo ...," kesal Teddy malam itu di unit apartemen Raka. "Anak gadis orang, Ka ... kadang gue heran sama cara kerja otak lo, Ka. Pinter sih emang, salut gue kalo dalam segi pekerjaan, tapi kalo udah urusan perempuan ya ampun, gue kek nya harus banyak sabar sama lo," ujar Teddy menepuk-nepuk keningnya berkali-kali. "Tobat gue ... tobat."
Raka terdiam.
"Terus dia jawab apa?" tanya Teddy lagi.
"Diem doang, terus minta anterin pulang ... dan sampai hari ini nggak ada komunikasi," ujar Raka menyandarkan tubuhnya di sofa.
"Gue harus ketawa apa sedih ini, Ka ...," kekeh Teddy. "Jelaslah dia nggak jawab, jelaslah dia nggak bales chat atau telpon lo ... mana ada cewek yang mau hubungannya di gantung, nggak jelas, nggak ada status, jalani— jalani lo kira jalan tol, lurus lempeng ada belokan lo ciipok." Teddy tergelak tertawa terbahak-bahak. "Langit, bisakah kau sadarkan sepupuku ini ... aku lelah mengapa dia begitu bodoh," ujar Teddy menengadahkan kepalanya menatap langit-langit apartemen Raka.
"Langit nama bapaknya, Ted," ujar Raka yang akhirnya ikut tertawa.
"Gue saranin ... udah berapa hari dia nggak balas chat atau telpon?"
"Dua hari ... eh tiga hari sama hari ini," jawab Raka.
"Gue saranin lo temui dia lagi, tegesin ... bilang kalo lo suka sama dia, cinta sama dia, minta maaf ... kalo kelakuan lo tempo hari buat dia sakit hati, sebelum terlambat, Bro ... biasanya cewek kalo udah begitu pelan-pelan menjauh eh nggak lama kemudian udah jalan sama cowok lain," seloroh Teddy sambil menggigit donat yang dia beli tadi sebelum singgah di apartemen Raka.
Raka memijat-mijat keningnya, baru kali ini dia merasa serba salah jatuh cinta pada seorang gadis. Awal dari sebuah pertemanan lalu di ikuti dengan sebuah perjanjian konyol antara keduanya, perjanjian yang malah membawa mereka terlibat dalam permainan hati.
"Kelamaan mikir, Ka ... di embat orang loh," ujar Teddy berlalu ke arah dapur meninggalkan Raka yang menatap televisi dengan tatapan kosong.
*****
Matahari pagi itu sudah meninggi, arah jalanan menuju kantor Raka pun sudah begitu padat. Semalaman Raka memikirkan apa yang dikatakan oleh Teddy. Melewatkan kesempatan hanya akan menjadi penyesalan dalam hidup, terlebih lagi ini adalah masalah hati.
Raka memutar balik arah tujuannya, yang seharusnya menuju kantornya malah beralih menuju kantor Azzura. Raka melirik jam tangannya, waktu menunjukkan pukul sembilan pagi, biasanya Azzura sudah berada di kantornya setengah jam yang lalu.
Raka memarkirkan mobilnya di pelataran parkir gedung bertingkat itu. Mengenakan kemeja hijau tosca di padu padankan dengan sweater berwarna hijau dan celana chinos hitam dilengkapi sling bag kulit warna coklat , Raka melangkah memasuki lobby gedung itu.
Langkahnya terhenti ketika pandangannya jatuh pada gadis yang akan dia temui pagi ini, sedang tertawa begitu renyah dengan seorang lelaki tampan berkulit putih. Raka berdiri terpaku mendapati pemandangan itu, Azzura dengan tawanya yang lepas lalu tersenyum pada lelaki yang Raka sendiri baru saja melihatnya saat itu.
Azzura tanpa sengaja melihat Raka yang berdiri terpaku tidak jauh dari tempatnya berdiri. Gadis itu menghentikan tawanya, lawan bicaranya yang sedari tadi ikut tertawa pun akhirnya menghentikan candaan mereka. Mata lelaki asing itu mengikuti arah pandang Azzura.
"Kenal?" tanyanya pada Azzura.
"Iya, klien Didi," ucapnya.
Menyadari Azzura sudah melihat kedatangannya, Raka melangkah mendekat.
__ADS_1
"Hai, Ra," sapa Raka.
"Hai," jawab Azzura.
Saling terdiam, lelaki yang menjadi teman Azzura pun memperkenalkan diri tanpa diminta.
"Hai, ada perlu dengan Zurra?" tanya lelaki itu.
"Ah ... em ...."
"Biasanya dia kesini mau ketemu Didi, Rey," ujar Azzura pada lelaki bernama Rey itu.
"Oh ... ah iya, kenalkan Rey," ujarnya mengulurkan tangannya pada Raka.
"Raka," ucap Raka menyambut uluran tangan Rey.
"Kalo gitu, gue tinggal ya, ketemu nanti makan siang," ujar Rey mengacak-acak rambut Azzura. "Sampai ketemu, Raka," kata Rey lagi menepuk bahu Raka.
Raka hanya mengangguk, ikut memandangi punggung bidang lelaki tampan itu.
"Kalo mau ketemu Didi, dia lagi nggak ada, meeting dengan Menteri," ujar Azzura berlalu meninggalkan Raka.
"Aku nggak nyari ayah kamu, aku nyari kamu," ujar Raka menahan pintu lift.
Gadis dengan blazer motif kotak-kotak itu pun mengangkat wajahnya.
"Kenapa nggak bales chat aku," ujar Raka ikut masuk ke dalam lift dan berdiri berhadapan dengan Azzura.
"Aku sibuk, nggak sempat ... jarang juga buka ponsel," jawab Azzura sekenanya lalu menyandar pada dinding lift.
"Sesibuk apa?"
"Ya sibuk ... emang cuma kamu doang yang bisa sibuk," ucap Azzura lalu terdiam saat pintu lift terbuka dan beberapa orang ikut masuk ke dalamnya.
Pintu lift terbuka di lantai tepat dimana ruangan Azzura berada. Gadis itu melangkah anggun, menutupi wajah marah dan kecewanya saat berpapasan dengan beberapa karyawannya.
"Kalo ada yang cari aku, aku meeting ya Ti," ujar Azzura pada asistennya.
Raka mengikuti langkah Azzura hingga masuk ke dalam ruangan gadis itu. Tidak lupa Raka menyempatkan diri mengunci pintu ruangan itu. Azzura menoleh sesaat dia mendengar pintu itu terkunci.
__ADS_1
Azzura berdiri tidak jauh dari jendela kaca, menatap arus lalu lintas di bawah sana. Raka melangkah ke arah Azzura, meletakkan tasnya pada meja kerja Azzura.
"Yang tadi siapa?" tanya Raka.
"Kan tadi udah kenalan," ucap Azzura masih sengit.
"Aku tau, namanya Rey ... tapi dia siapa?"
"Teman," jawab Azzura.
"Teman? seintim itu ... ngacak-ngacak rambut kamu, pegang lengan kamu, terus sorot matanya juga bukan seorang teman," ujar Raka berdiri di hadapan Azzura.
"Emang kenapa?"
"Aku cemburu, puas? aku cemburu liat kamu dengan si Rey itu." Sorot mata Raka begitu tajam menatap gadis itu.
"Kita juga teman," ujar Azzura. "Bahkan pertemanan kita lebih dari sekedar acak rambut, pegang tangan dan memandang dengan sisi yang berbeda," kata Azzura dengan membalas tatapan mata yang menantang untuk suatu perdebatan.
"Kita beda, Ra."
"Apa yang beda? toh tetap teman," ujar Azzura. "Teman yang saling menguntungkan, bukan begitu? ya udah jalani aja ... mau kamu kan begitu, buat apa cemburu? nggak ada yang dirugikan," sergah Azzura.
"Zurra, please ... aku tau aku salah, aku salah— aku minta maaf, tapi jangan siksa aku dengan sindiran-sindiran kamu," ujar Raka mendekat. "Aku minta maaf, maaf karena aku nggak peka ... maaf, ya."
"Aku nggak suka kamu dekat-dekat sama si Rey," ujar Raka.
Azzura mengernyitkan alisnya, mendengus kecil.
"Rey itu—"
"Aku nggak perduli dia siapa, yang aku mau kamu jangan dekat-dekat dengan Rey," ujar Raka merengkuh pinggang Azzura.
"Mulai hari ini dan seterusnya, aku nggak mau kamu dekat-dekat dia, makan siang bareng aku hari ini jangan sama dia, kamu nggak boleh keluar dari ruangan ini kecuali sama aku," ujar Raka lagi dengan sudut bibir yang mengembang.
"Eh ... mana bisa begitu," ujar Azzura berusaha melepaskan diri dari Raka.
"Karena mulai detik ini, aku nggak mau melepas apa yang udah jadi milik aku," ujar Raka menautkan bibirnya pada bibir Azzura.
enjoy reading 😘
__ADS_1