FRIENDS WITH BENEFITS

FRIENDS WITH BENEFITS
Tunggu Aku Kembali


__ADS_3

"Duduk," ujar Kalla pada Reyhan dan Raka. "Denger ya, nilai ini fantastis bagi perusahaan gue, 28 M kalian bayangkan! mau gimana kita dengan proyek yang baru setengah jalan ini!"


Raka dan Rey hanya terdiam, mereka tahu betul kalau ini akan di tanggung secara bersama. Namun, jelas kepercayaan yang diberikan Langit akan sirna begitu saja karena kejadian ini.


"Resort besar ini, setengah jalan aja orang bisa korupsi 28 M, gue yakin ini kalo nggak ketahuan bisa-bisa ratusan milyar dia bisa raup!" Kalla menghela napas panjang. "Gue nggak mau tau, gimana caranya gue mau dia ganti rugi. Jalani hukuman dia atau ganti rugi sebesar uang yang sudah dia ambil, TITIK!"


Ponsel Kalla berbunyi, wajahnya semakin berubah tidak karuan namun berusaha tenang.


"Iya, Didi ...."


"Gimana?" tanya Langit.


"Sedang di urus oleh pihak berwajib," jawab Kalla.


"Sudah siapkan pengacara dan bukti-bukti?"


"Sudah, Raka yang mempersiapkan semua, dan Rey yang menemukan orang itu akan melarikan diri ke Batam."


"Bagus, kalian urus ... Didi yakin dia nggak kerja sendiri, meski dia biangnya."


"Iya, kami selesaikan semuanya sampai tuntas," jawab Kalla lalu menutup sambungan telepon.


Raka menyugar rambutnya kasar, kacamatanya dia lepaskan, seraya memijat pelipisnya. Helaan nafasnya terdengar berat, ada saja cobaan yang haris dia lewati sebelum hari pernikahannya.


"Ka, lo bisa urus di sini kan? pengacara yang lo bawa tadi sepertinya gue tau," kata Kalla.

__ADS_1


"Iya, mujurnya kita bisa mendapatkan pengacara sebagus dia. Yang gue tau banyak kasus penipuan bahkan perkosaan di tangani sama tim pengacaranya."


"Baguslah, gue mau lo yang urus, gue nggak mau bapak tua itu lepas gitu aja," geram Kalla yang baru kali ini merasakan penipuan selama dia memegang proyek yang di pasrahkan Langit padanya.


"Lo juga Rey, bagaimanapun lo bertanggungjawab dengan kelalaian ini. Lo yang mengenalkan kita sama dia, gue mau lo ke perusahaannya, cari informasi sedetil mungkin." Kalla meneguk air yang ada di depannya.


"Gue permisi sebentar," ujar Raka mengangkat ponselnya sebagai isyarat jika dia butuh ruang untuk menerima telepon.


Menjauh dari tempat duduknya, Raka berusaha tenang sebisa mungkin menjawab panggilan telepon itu.


"Halo, Ra," sapa Raka.


"Kamu di Bali? kok nggak ngasih tau aku? malah Didi yang kasih tau aku kalo kamu ada di Bali. Separah apa keadaan di sana?" tanya gadis itu khawatir.


"Syukurlah, berarti orangnya udah dapet kan? masalah udah selesai?"


"Nggak gitu juga, Ra. Ada beberapa prosedur yang harus kita lakukan dulu. Apalagi, Kalla maunya pelaku di jerat hukuman. Jadi mungkin aku bakal sedikit lama di sini ...." Raka pelan-pelan menjelaskan pada Azzura.


"Hah? ya nggak bisa gitu, Ka ... tiga hari lagi kita nikah, baju kamu aja belum fitting. Gimana sih?!" Nada suara Azzura mulai kesal.


"Aku urus yang di sini dulu, Ra. Tapi janji aku bakal pulang sebelum hari H kita nikah," ucap Raka lembut.


"Ya ampun ...."


Terdengar isak tangis Azzura di seberang sana, meski pelan tapi Raka tahu gadis itu kecewa.

__ADS_1


"Aku juga nggak mau kayak gini, Ra. Tapi aku punya tanggung jawab pekerjaan yang harus aku selesaikan. Ini menyangkut perusahaan orang tua kamu dan aku, bukan masalah sepele. Maaf ya, Sayang ... aku janji sebelum semuanya di mulai aku sudah ada di hadapan kamu," janji Raka.


Azzura menghapus air matanya, persiapan yang tinggal menghitung hari ini harus dijalaninya seorang diri dengan perasaan yang tidak karuan. Bagaimana tidak, di saat mempelai pria yang seharusnya sudah bersiap untuk fitting baju atau gladi resik untuk acara mereka nyatanya masih harus bergelut dengan pekerjaan apalagi mengurus sesuatu yang tidak cukup sehari dua hari selesai.


"Ra ... jangan nangis dong, aku janji lusa aku udah pulang ... ya?"


"Tiga hari lagi, Ka," ujar Azzura menghapus air matanya. "Aku minta Didi untuk bilang sama Kalla biar kamu pulang dulu, ya."


"Jangan, Sayang. Pokoknya kamu tunggu aku kembali, ya. Jangan nangis lagi, baju aku ukurnya kira-kira aja," kekeh Raka mencairkan suasana.


Ingin rasanya saat ini pulang ke Jakarta menyelesaikan segala sesuatunya. Ada rasa sedih di hatinya kenapa kejadian ini harus terjadi di saat menuju hari pernikahannya.


"Ka, cepet pulang ya," ujar Azzura sedih.


"Pasti, kamu hanya perlu mempersiapkan diri kamu saat aku kembali nanti," ujar Raka tersenyum tipis.


"Ka ... aku serius," rengek Azzura manja.


"Aku juga serius, kamu harus siap-siap pokoknya, stamina harus di jaga, kamu harus terlihat cantik, Ra. Anggap aja sekarang kita dalam masa pingitan, jadi saatnya ketemu nanti rindunya berkali-kali lipat."


Senyum dua anak manusia yang sedang dipisahkan sementara waktu itupun akhirnya menghiasi wajah mereka, walaupun ada rasa yang tidak nyaman namun apalah daya segala sesuatu kadang memang tidak sesuai dengan harapan.


**enjoy reading 😘


sabar yaaa ... pelan-pelan nanti juga halal 🤭**

__ADS_1


__ADS_2