FRIENDS WITH BENEFITS

FRIENDS WITH BENEFITS
Posesif


__ADS_3

"Jadi?" Wajah Teddy menunggu jawaban dari atasan sekaligus sepupunya itu.


"Udah lah," jawab Raka masih menatap laptopnya.


"Ciee yang jadian," goda Teddy. "Jadi kemarin seharian nggak ke kantor ternyata pacaran ... cieeeh," kekeh Teddy. "Ngapain aja, Ka."


"Anjrit, lo kepo banget Ted." Raka tertawa lalu menutup setengah laptopnya. "Tapi gue lupa," ujarnya.


"Apa?"


"Gue sampe lupa nanya siapa cowok yang sama dia pagi kemarin."


"Lah ... emang dia sama cowok?"


"Iya, ganteng Ted ...."


"Bisa gue pepet berarti." Teddy tergelak.


"Amit-amit sejak kapan lo berubah." Raka ikut tertawa.


"Temen dia kali, menurut terawangan gue temen cowok Zurra itu banyak," kata Teddy.


"Syaiton berubah udah, lo jadi dukun."


"Cewek ceria kayak Zurra itu pinter bergaul, ceplas-ceplos jadi banyak yang suka sama dia, kek nya di sini lo yang harus tahan hati, Ka."


"Kayaknya sih ...." Raka menyandarkan punggungnya, memainkan pena di tangannya.


"Eh, nanti malam kita di undang gala dinner oleh Adhiyaksa group ... gue sampe lupa kasih tau ... inget kan lo, proposal kita untuk proyek cluster di Cibubur gol," jelas Teddy.


Adhiyaksa Group salah satu perusahaan retail terbesar di Indonesia yang sekarang merambah pada bisnis properti, selain pengembangan hotel, perusahaan itu juga berfokus pada pembangunan cluster perumahan elite.


"Keren lo, Ted ... nggak sia-sia gue melihara lo." Raka tertawa terbahak-bahak mengelak lemparan pena ke arahnya.


"Kurang ajar, lo ... bonus gue lo siapin aja, gue mo ganti mobil," ujarnya beranjak dari tempat duduknya.


"Halo," sapa Raka. "Udah selesai meeting nya?"


"Baru aja selesai, aku ada jadwal minggu depan ke Yogya," ujar Azzura pada Raka.


"Proyek interior?"


"Iya," jawabnya.


"Lama dong?"


"Biasa seminggu lebih, kenapa?" Azzura tersenyum di seberang sana.

__ADS_1


"Bakal kangen dong aku," kata Raka ikut tersenyum.


Tawa Azzura terdengar begitu renyah, "Ka, nanti malam aku rencananya mau nemenin Didi, ada acara—"


"Gala dinner perusahaan Adhiyaksa Group, kan?"


"Kok tau?"


"Kebetulan di undang juga dan kebetulan juga proposal aku gol di sana," tutur Raka. "Jadi mau sekalian aku jemput? atau gimana?"


"Ketemu di sana aja," kata Azzura saat menghubunginya siang itu.


"Ok ... s**ee you ya, Sayang," ujar Raka tersenyum, dia tahu betul kekasihnya itu masih canggung dengan panggilan Sayang.


Pukul tujuh malam, Raka dan Teddy sudah berada di salah satu hotel di kawasan Matraman. Desain hotel yang terlihat mewah itu menurut cerita yang Raka dengar adalah hasil desain dari Langit Kelana saat baru saja meniti karier di perusahaannya.


Memasuki restoran dimana gala dinner diadakan, pandangan mata Raka jatuh pada kekasihnya yang sedang berdiri dengan memegang segelas minuman di tangan kanannya. Gadis itu sedang berbincang-bincang dengan beberapa tamu.


"Cantik," ujar Teddy.


"Mata lo biasa aja, Ted ...."


"Dih, pacarnya marah," ujar Teddy sewot. "Temui dulu tuan rumahnya, Ka," kata Teddy mencegah langkah Raka yang hendak menghampiri Azzura.


Raka berbaur dengan para koleganya termasuk ada Langit Kelana di sana. Saling bertegur sapa dan membicarakan tentang bisnis, namun mata Raka tak lepas dari pandangannya menatap Azzura. Gadis yang memakai gaun malam berwarna hitam, sepanjang lutut itu terlihat elegan, bermodel tanpa lengan dengan rambut yang Azzura ikat tinggi membuat leher jenjangnya terlihat semakin indah.


"Handle ya Ted, gue kesana dulu," bisik Raka, lalu dia berpamitan pada semua rekan bisnisnya.


Raka tersenyum berjalan mendekat menghampiri Azzura, kemudian sedikit melirik ke arah Rey. Rey menatap Raka dengan pandangan yang tajam, lelaki itu seakan melihat persaingan di antara mereka berdua.


"Cantik," bisik Raka di telinga Azzura dan melingkarkan tangannya di pinggang Azzura.


"Makasih ... kenapa baru kesini," kata Azzura seakan butuh penyelamat.


Raka hanya tersenyum, "apa kabar?" Raka mengulurkan tangannya pada Rey.


"Baik ... diundang juga," ujar Rey.


"Iya, kebetulan ada kerjasama dengan Adhiyaksa Group," jawab Raka.


"Wah, selamat ... perusahaan kamu mulai di lihat pengusaha-pengusaha hebat," ujar Rey.


"Proses ... semua butuh proses," ujar Raka tersenyum tipis. "Sorry, aku bawa Azzura sebentar," katanya lagi.


Rey hanya tersenyum, menatap Azzura dengan ekspresi wajah kecewa.


Raka melepas jasnya, memakaikannya menutupi pundak Azzura. Tangannya menggenggam erat tangan gadis itu menuntunnya hingga ke taman hotel, menepi dari acara itu.

__ADS_1


"Acaranya belum juga di mulai, Ka," kata Azzura menoleh ke arah Raka.


"Sebentar aja," ujar Raka melingkarkan tangannya di pinggang Azzura.


"Kan kita bisa pergi nanti setelah acara selesai," ucap Azzura.


"Aku nggak yakin, bisa culik kamu dari Pak Langit," bisik Raka di telinga Azzura yang kali ini membuat darah Azzura berdesir. "Si Rey itu rajin banget ngedeketin kamu," kata Raka.


"Rey itu udah kayak kakak buat aku," kata Azzura. "Rey anaknya Om Riza, teman Didi ... Om Riza dulu yang selalu berada di sisi Didi dalam menjalankan usaha ini, kayak kamu sama Teddy ... tiga tahun lalu Om Riza diserahkan satu perusahaan Didi di Palembang untuk di kembangkan lagi, Rey lah yang membantu ayahnya di sana, setiap beberapa bulan sekali Rey atau Om Riza datang ke Jakarta untuk em ... laporan kurang lebih begitu," kelas Azzura panjang lebar.


"Tapi, Rey liat kamu bukan sebagai adik, Ra ... aku bisa liat itu," kata Raka.


"Kamu cemburu ya," goda Azzura.


"Iya, dan aku nggak mau kamu deket-deket lagi sama dia," ujar Raka dengan ekspresi wajah serius.


"Posesif." Azzura menatap tajam.


"Aku nggak mau kehilangan lagi dan menyia-nyiakan kesempatan yang udah di kasih ke aku ... termasuk adanya kamu sekarang di sisi aku," tutur Raka menangkup wajah Azzura.


"Ka ...."


"Nggak ada pengecualian," ujar Raka lagi mendekatkan wajahnya pada Azzura.


"Nggak di sini," lirih Azzura ketika Raka akan menautkan bibirnya pada bibir Azzura.


"Nggak ada orang." Raka tersenyum, lalu menahan tengkuk leher Azzura.


"Ka ...," teriak Teddy dari arah pintu hotel.


"Syaiton ... ganggu aja," gerutu Raka.


"Elaah ... lo di cariin kemana, malah mojok di sini," seloroh Teddy. "Udah mulai acaranya."


"Iya ... iya, duluan masuk sana," kata Raka kesal, dan Azzura hanya tertawa kecil.


"Masuk ya, nggak pake melarikan diri kalian berdua," ujar Teddy lagi.


"Bawel," sungut Raka.


"Jas kamu," ujar Azzura ingin melepaskan jas itu dari pundaknya.


"Pake aja, jangan di buka," kata Raka merapikan lagi jas hitam itu di pundak Azzura, lalu menggandeng tangan Azzura berjalan bersisian memasuki hotel kembali.


Sepasang mata memandang dari kejauhan, rasa kecewa lelaki itu seakan tidak rela gadis yang di tunggunya dari saat mereka tumbuh bersama itu kini sudah di miliki lagi oleh seseorang, dan kali ini orang itu akan menjadi lawan bisnisnya.


enjoy reading 😘

__ADS_1


__ADS_2