FRIENDS WITH BENEFITS

FRIENDS WITH BENEFITS
Nyusulin Pacar


__ADS_3

"Kenapa sih lo, kayak orang linglung," ujar Teddy yang baru masuk ke ruang Raka.


"Gue kek nya harus ke Jogja deh, Ted," kata Raka melepaskan kacamatanya.


"Astaga, baru dua hari Ka ... nggak sabar banget sih lo, itu kerjaan kita baru mulai ya di Cibubur, lo jangan ngadi-ngadi buat pergi keluar kota deh," kesal Teddy menghenyakkan bokongnya di kursi.


"Proyek rest area dengan Pak Langit sudah 90 persen, tol juga sudah serah terima ke kontraktor selanjutnya, proyek Adhiyaksa bisa lah lo handle, cuma seminggu ini," seloroh Raka.


"Hah? seminggu? lo seminggu di Jogja ... ngapain?" tanya Teddy dengan suara sedikit nyaring.


"Biasa aja, Ted ... suara lo bikin nggak enak dengernya."


"Ya iya ... maksud gue ngapain lo di Jogja lama-lama. Gue kasih tau Ka, cewek kalo di buntutin terus pasti risih—"


"Gue nggak," pungkas Raka.


"Cewek gue bilang ... lo cewek apa cowok?"


"Cowok lah."


"Nah ... sama aja sebenernya, lo kalo di buntutin kemana-mana pasti kerja lo nggak fokus," jelas Teddy.


"Nggak juga sih ... gue nggak pernah ngerasain," ujar Raka.


"Ya iyalah, Jenna mantan lo itu penurut ... cuma sama lo dulu dia kemana-mana nya. Nggak habis pikir gue, hidupnya gimana itu ya dulu," ujar Teddy yang kembali mengingat tentang Jenna.


"Jenna ...."


"Dih, mulai dia ... nah jangan lo sama in Jenna dengan Azzura, beda. Azzura tipe cewek yang nggak mau di kekang, nggak mau di ikutin, semakin lo genggam dia, semakin dia menjauh, percaya kata gue," ujar Teddy menggebu-gebu.


Raka terdiam, benar yang dikatakan Teddy bahwa Jenna lebih tergantung padanya sedangkan Azzura bukan gadis yang mau di kekang atau selalu di ikuti kemanapun dia pergi kecuali dia yang meminta.


"Jadi gue harus gimana?" tanya Raka lugu.


"Lo kek yang baru pacaran gitu, Ka ... geli gue," ujar Teddy bergidik.


"Apaan sih lo, maksud gue ... gue harus apa?"


"Ya nggak harus apa-apa, biasa aja ... urusin kerjaan, dia juga ngurusin kerjaan dia. Ntar kalo berasa emang perlu kesana ya baru kesana," ujar Teddy lagi. "Kenapa lo jadi— apa sih, istilah anak muda sekarang ... ah lupa gue, apa itu yang cintanya klepek-klepek," ujar Teddy terkekeh.

__ADS_1


"Bucin," jawab Raka.


"Nah iya, lo bucin ... parah banget," kata Tedy beranjak dari tempat duduknya. "Gue balik ke ruangan gue dulu, jangan lupa itu." Tunjuk Teddy pada beberapa map di atas meja Raka, "laporan progres lo tanda tangan," ujar Teddy berlalu.


Raka meraih ponselnya, dia gulir layar ponselnya. Ingin rasanya dia menghubungi Azzura saat jam kerja berlangsung namun lalu dia urungkan. Teringat kembali perkataan Teddy, jika wanita juga butuh ruang untuk dirinya sendiri.


*****


"Aku baru selesai mandi," ujar Raka dengan ponsel yang berada di telinganya, dia meneguk segelas air putih. "Gimana kerjaan?"


"So far so good," jawab Azzura merebahkan tubuhnya. "Aku capek banget."


"Ke lapangan ya?"


"Iya, lalu meeting dengan bagian furniture," jawab Azzura sambil menguap.


"Ngantuk? jangan tidur dulu dong," ujar Raka manja.


"Kenapa?"


"Kangen, Ra."


"Eh ... serius? boleh?"


"Boleh lah ... masa nggak." Azzura terkekeh.


Raka ikut tertawa, seketika dia teringat beberapa pekerjaan yang harus dia kerjakan tiga hari ke depan.


"Tapi kayaknya nggak bisa, tiga hari ke depan ada beberapa kerjaan yang harus aku selesaikan," ujar Raka.


"Oh ...." Terdengar nada kecewa di seberang sana.


"Tapi nanti aku usaha in," kata Raka lagi.


"Gak usah kalo nggak bisa, selesai in aja dulu, nanti juga bakal ketemu di Jakarta," ujar Azzura dengan menghela napas.


"Iya, kita liat nanti, ya ...."


Obrolan malam itu diakhiri dengan rasa kecewa Azzura. Sebenarnya dari awala dia ingin sekali Raka datang menemuinya di Jogja. Namun, Azzura sadar akan konsekuensinya, berhubungan dengan lelaki workaholic seperti Raka.

__ADS_1


Azzura mencoba memejamkan matanya, namun satu pesan masuk membuatnya mengurungkan niatnya.


"Sudah tidur?"


*****


"Mau kemana lo?" tanya Teddy pada Raka di hari terakhir mereka meeting dengan perusahaan Adhiyaksa Group.


"Nyusulin pacar ... ke Jogja," jawab Raka membereskan pekerjaannya siang itu.


"Buset ... nggak sabar aja, Bro."


"Nggak bisa, Ted ... ini hari ke lima, dan barusan gue telpon dia ... lo tau apa dia bilang," ujar Raka menggebu.


"Apa? emosi banget muka lo ...." Teddy mencari-cari apa yang sedang terjadi.


"Tadi gue telpon dia," kata Raka memasukkan laptopnya ke dalam tas. "Gue tanya dia dimana, dia jawab lagi makan siang ... biasa dong, nggak masalah gue," ujar Raka. "Tapi, setelahnya dia bilang gini ... iya nih, lagi sama Abang Rey, dia juga ada di Jogja ... kaget nggak tuh, njiirrr tuh cowok geraknya cepet, Ted," ujar Raka emosi.


"Beh, baru kali ini gue liat lo begini, Ka ... santai Ka ... santai, mungkin kebetulan si Rey di sana, ada kerjaan kali," ujar Teddy berusaha berpikiran positif.


"Karena dia ada kerjaan, gue harus kesana, Ted ... nggak mau gue, cewek gue dengan cowok yang udah lama nyimpen rasa sama dia," kata Raka.


"Kata siapa lo?"


"Kata gue lah ... gue bisa liat, meski Zurra bilang dia anggap Rey kayak kakak sendiri, tapi nggak sama Rey, gue yakin dia punya rasa sama Zurra."


"Dih, si kaku beneran udah meleleh ini .... Jadi lo mau ke Jogja? terus kerjaan di sini gimana? besok ada audit pajak, Ka."


"Lo handle lah dulu, yang kek gitu masa kudu gue juga, ada si Melly bagian keuangan, kompakan lah kalian, jangan cuma bisa kompak yang lain aja," sahut Raka melangkah menuju pintu keluar ruangannya meninggalkan Teddy dengan setumpuk pekerjaan selama satu minggu ke depan.


Pesawat yang membawanya dari Jakarta menuju Jogja mendarat di Bandara Internasional Yogyakarta pukul tujuh malam, butuh waktu hampir satu jam lagi menuju hotel tempat Azzura menginap. Tepat pukul delapan malam Raka sudah tiba di hotel, beberapa kali Raka menghubungi ponsel gadis itu namun tidak ada jawaban.


Menunggu adalah hal yang paling membosankan, itu yang Raka lakukan. Dia sengaja belum memesan kamar dan lebih memilih menunggu Azzura di sofa lobby tepat di depan pintu masuk hotel.


Hampir satu jam menunggu, sorot mata Raka jatuh pada gadis yang dia tunggu, berjalan memasuki lobby hotel dengan lelaki yang seharian ini membuat pikirannya menjadi kacau. Mereka masuk dengan senyum yang membuat darah Raka seakan mendidih, Raka berdiri dari duduknya.


"Zurra ...," panggilnya membuat Azzura menoleh ke asal suara.


"Raka? kamu— kok nggak bilang?" Azzura melangkah mendekat, "Ka, kok nggak bilang kalo mau nyusulin?" tanya Azzura pelan dengan pandangan mata yang di balas dengan tatapan tajam dari Raka.

__ADS_1


enjoy reading 😘


__ADS_2