
"Bu," tegur Raka yang baru sampai di apartemen dan melihat sang Ibu sedang membereskan beberapa barang di susun di dalam kotak.
"Malem banget pulangnya," ujar Citra.
"Biasalah macet, belum lagi antar Zurra dulu pulang," ujar Raka meletakkan tas punggungnya dan mendudukkan tubuhnya di sofa. "Wita sama ayah dimana?"
"Tadi ke bawah, katanya nyari nasi goreng gila," jawab Ibu Citra melipat sebuah baju berwarna hitam berbahan tipis dan berenda.
"Bu, itu baju nggak salah?" Alis Raka mengernyit.
"Nggak lah, tadi Ibu beli di Mall iseng-iseng sama Wita. Mahal ya, Ka untuk baju begini doang," kata Ibu Citra yang akhirnya membuka kembali lipatan baju itu lalu menunjukkan pada Raka.
"Ya ampun, itu baju, Bu?"
"Ini biasa kalo buat pengantin baru, kami kayak nggak tau aja."
"Lah, emang Raka nggak tau, kan baru mau nikah," ujarnya tertawa. "Ibu ada-ada aja."
"Biar cepet kasih Ibu cucu, yang banyak," kekeh Ibu Citra. "Oh iya Ka, membina satu rumah tangganya itu bukan cuma sekedar jalani aja, kamu sebagai kepala keluarga harus bisa menjadi panutan, punya tanggung jawab mendidik istri dan anak-anak kamu," tutur wanita paruh baya itu.
"Iya, Bu. Panutan Raka ya Ayah sama Ibu, di tambah lagi melihat orang tua Azzura sama seperti Ayah dan Ibu."
Ibu Citra mengangguk, "ya sudah ini mau ibu bereskan dulu, kamu mandi gih. Nanti kalo ayah sama Wita pulang tinggal makan."
"Iya, Bu. Raka masuk ke kamar dulu," jawab Raka berlalu menuju kamarnya.
Lelaki berumur 28 tahun merebahkan tubuhnya di atas kasur busa berukuran sedang. Dalam hitungan hari kasur ini nanti berisi dia dan Azzura. Meski belum tahu ke depannya akan tinggal dimana tapi Raka pikir setidaknya mereka butuh waktu dulu untuk berdua.
Senyum Raka merekah, persiapan gila pikirnya. Satu minggu dan semua harus berjalan seperti yang dia harapkan. Raka tidak ingin melewatkan kesempatan ini, menikahi gadis yang dia cintai. Dia tidak ingin lagi melakukan kesalahan.
Ketukan di pintu membuyarkan lamunannya, Wita membuka pinta dan bersandar pada daun pintu sambil melipat tangannya.
"Kak."
"Hhmm."
"Wita mau nanya."
"Apa?"
"Besok setelah Kakak nikah, gimana dengan ibu dan ayah?" Wita melangkah masuk dan duduk di sisi tempat tidur.
"Gimana apa nih maksudnya?"
__ADS_1
"Kan Wita juga nggak selamanya di Bangka, Wita dapet tawaran kerja, Kak."
"Kuliah kamu kan masih sekitar 4 bulan lagi," ujar Raka.
"Nah itu maksud Wita, kasian ibu sama ayah. Kalo Wita sebelum lulus udah kerja kan lebih baik, Kak. Tapi Wita nggak bisa nerusin usaha ayah di Bangka sedangkan Kakak sendiri ada di sini." Wajah Wita berubah murung.
"Kakak tau kamu pasti butuh pengalaman untuk masa depan kamu, dengan bekerja Kakak rasa bukan hal yang buruk. Lakukan saja, mengenai usaha ayah Kakak bisa handle dari sini, lagian kan masih ada Rido yang memantau jalannya usaha ayah di sana. Kamu nggak usah khawatir, bagaimana ibu dan ayah nanti ... mereka bisa kapanpun ke Jakarta atau kita seperti biasa pulang ke sana," ujar Raka mengusak kepala adiknya.
"Kakak setelah nikah tinggal sama Mbak Zurra?"
"Belum tau, tapi Kakak maunya tinggal di apartemen ini dulu. Rasanya Kakak belum siap tinggal sama mertua." Raka menghela napas.
Wita mengangguk angguk lalu menghadap pada Raka. "Selamat ya Kak," ujar Wita, gadis manja yang sebenarnya masih berat untuk melepaskan sang Kakak yang sebentar lagi akan menjadi suami orang.
*****
"Aku sudah di jalan, sebentar lagi sampai," ujar Raka pada Azzura yang sudah menunggu keluarga Raka di kediamannya.
"Oke, aku tunggu ya," jawab gadis yang malam itu mengenakan dress sebatas betis berwarna hijau Wardah dengan tangan model balon dan serutan di dada.
"Sudah menuju kemari," ujar Azzura pada ibunya yang masih duduk di depan meja hias.
"Syukurlah. Ra," panggil Jingga.
"Ya, Ma."
"Karena anak perempuan Mima cuma kamu, jadi Mima kasih buat Zurra. Cincin pertama yang diberikan Didi pada Mima dulu, di jaga baik-baik ya," ujar Jingga dengan mata berkaca-kaca.
Masih teringat jelas perjuangannya melahirkan kedua anak kembarnya dan sekarang satu per satu kedua buah hatinya menemukan tambatan hati, menyongsong masa depan, membentuk keluarga dan pada akhirnya hanya akan tersisa dia dan Langit.
"Makasih, Mima." Azzura memeluk lekat wanita yang masih terlihat cantik hingga usianya memasuki kepala lima itu. "Zurra janji bakal jaga baik-baik." Azzura mengusap air matanya.
"Mima nggak bisa kasih kamu banyak wejangan, Ra. Tapi, satu yang harus Zurra ingat membentuk sebuah keluarga bukan hal yang mudah, ada kepercayaan yang harus Zurra pegang teguh, mau mengalah, meminta maaf entah siapa yang salah, menurunkan ego hingga perjuangan mendidik anak-anak kamu nanti," tutur Jingga.
"Mima ...."
Sungguh susah bagi Azzura untuk menelan ludahnya, pesan Jingga begitu menohok. Membentuk keluarga bukan cuma sekedar bercinta, memberi kenyamanan satu sama lain, melindungi tapi juga butuh tanggung jawab yang besar bisa mempertahankannya.
"Sudah, sekarang kamu siap-siap. Sudah cantik begini dandanannya harus hilang karena nangis-nangisan," kata Jingga mengusap air mata putrinya.
"Zurra nggak bakalan ninggalin Mima sama Didi," ujarnya dengan ekspresi wajah yang sedih.
"Mima tau ... ayo, siap-siap." Jingga mengusap usap punggung gadis itu.
__ADS_1
Ketukan di pintu membuat mereka menoleh secara bersamaan. Kalla yang menggendong Agni mengerutkan alisnya melihat ibu dan anak itu menghapus air mata mereka.
"Keluarga calon besan sudah sampai," ujar Kalla.
Keduanya saling tersenyum lalu bergandengan tangan keluar dari kamar Jingga, Kalla menggelengkan kepalanya, urusan wanita memang tidak pernah jauh haru dan tangis apapun suasana hatinya.
Raka terduduk di antara Citra dan Pandu, lelaki itu memakai batik berwarna senada dengan dress yang di kenakan oleh Azzura. Matanya sesekali melirik Azzura yang duduk tepat di seberang, gadis itu terlihat cantik dengan rambut yang di kepang sisi kanan kiri dan di satukan di bagian tengah dengan sisa rambut yang dibiarkan terurai.
"Kedatangan kami sekeluarga kemari dengan niat baik, untuk meminang Azzura Putri Kelana menjadi bagian dari keluarga besar kami. Sebagai istri dari anak kami Raka Wijaya, kiranya Bapak dan keluarga menerima lamaran dari kami keluarga besar Wijaya," ujar Pak Pandu santun.
"Saya sebagai ayah dari Azzura, menyerahkan sepenuhnya keputusan pada anak saya. Namun sebagaimana kita tahu sudah hampir satu tahun belakangan ini memang kedua anak kita menjalin hubungan pertemanan lalu dimulai dengan keseriusan mereka yang berniat baik membawa hubungan ini menjadi sebuah tahap yang sakral. Karena niatnya baik maka saya memberikan restu kepada anak saya Azzura, melepaskannya untuk menjemput kebahagiaannya bersama pria yang dia cintai," ucap Langit dengan suara bergetar.
Tak henti-hentinya, malam itu Azzura menghapus air matanya. Hatinya di buat luluh lantah akan ucapan dari hari kedua orangtuanya.
Raka seakan tercekat, ludahnya seperti susah untuk di telan. Ini adalah kali pertama dia seserius ini berhadapan dengan Langit dan seluruh keluarganya, selain serius dalam urusan pekerjaan.
"Kedatangan saya kemari, untuk meminta ijin pada Bap—"
"Didi dan Mima," potong Langit diikuti suara tawa dari semua yang datang. "Masa masih panggil Bapak dan Ibu," seloroh calon mertua Raka.
Raka tertawa canggung, wajahnya terlihat sangat tegang. Bukan hanya wajah namun posisi duduknya pun layaknya murid yang sedang dimarahi oleh guru di sekolah.
"Sstt ... santai," ujar Teddy pelan.
"Baiklah, jadi kedatangan saya kemari, ingin meminta ijin pada Didi dan Mima, untuk melamar putri kesayangan Didi dan Mima menjadi ...." Mata Raka menatap pada Azzura. "Menjadi istri saya, apakah diperbolehkan?"
"Ya iyalah," celetuk Teddy yang lalu mengaduh karena mendapatkan pukulan di lengannya dari Wita.
"Berisik!"
"Lagi lama bener," kekeh Teddy dan yang lainnya yang ikut tertawa.
"Kalo nggak saya perbolehkan, nanti kawin lari," goda Langit sambil tertawa. "Saya hanya berpesan pada kamu, Raka. Sayangi anak saya, bimbing dia menjadi istri yang baik, patuh pada suami dan sayang pada keluarga. Namun ingat satu hal, jika suatu saat kamu menyakitinya, bosan padanya, maka pulangkan dia secara baik-baik sama seperti kamu memintanya seperti saat ini." Kali ini wajah Langit terlihat serius dan tegas.
"Saya berjanji ... saya berjanji akan membahagiakan Azzura," ucap Raka sungguh-sungguh.
"Ra, terkadang ada nama yang selalu tertulis di dalam hati. Tapi, belum tentu dia tertulis di atas buku nikah ... dan aku menginginkan kamu tertulis di keduanya, kamu mau jadi istri aku?"
Untuk kedua kalinya Raka menanyakan hal yang sama pada Azzura. Terbesit senyum kecil mengukir sudut bibir lelaki itu bahkan wajah Azzura yang tadinya sedih karena wejangan dari kedua orangtuanya kita tersenyum merekah bahkan rona merah tersipu malu itu pun nampak menghias di wajahnya.
"Mau?" tanya Raka lagi.
Azzura mengangguk berulang kali seraya berkata, "mau ... iya, aku mau."
__ADS_1
**enjoy reading 😘
dress code bebas 🤭 yang penting cantik😍**