
Pesta yang meriah di adakan di kediaman Gunawan untuk memperingati hari lahir Mirza. Alishia terus mendampingi Mirza untuk menyapa para tamu. Sejujurnya Mirza malas melakukan pesta seperti ini, umurnya sudah tua. Rasanya tidak pantas mengadakan pesta konyol ini.
Semua pesta ini di rencanakan ibunya Mirza. Dengan keras Mirza menolak namun dengan rayuan Alishia akhirnya Mirza menyetujui.
Alishia sudah berhasil membujuk Mirza, namun mertuanya masih menunjukkan rasa tidak sukanya. Padahal ibunya Mirza berjanji akan bersikap baik. Alishia tidak ingin mempermasalahkan sikap ibunya Mirza. Selama ini ia bahagia bersama Mirza.
Setelah melakukan potong kue Mirza meminta istirahat di kamar. Alishia mengikuti keinginan suaminya dan mendorong kursi roda Mirza ke kamar.
Alishia menghentikan kursi roda Mirza di depan tempat tidur, sementara ia duduk di pinggir tempat tidur dan berhadapan langsung dengan Mirza.
“Kado ulang tahunku mana?”
“Semua kadonya ada di depan,” jawab Alishia. Kakinya terasa pegal. Ia membuka heels yang di kenakannya.
“Bukan dari tamu, tapi dari kamu, sayang.”
Setelah membuka heelsnya Alishia menegakan kembali tubuhnya. “Aku tidak sempat membeli kado, lupa.”
Wajah Mirza tampak di buat sedih agar Alishia merasa tidak enak. Padahal Mirza hanya ingin mengerjai istrinya.
“Sepertinya aku sudah tidak penting lagi bagimu,” Mirza memutar kursi rodanya meninggalkan Alishia.
Alishia mengambil tasnya dan berlari hendak menahan kursi roda Mirza namun belum juga sampai kakinya terkantuk sudut tempat tidur. “Aaaw,” keluh Alishia.
Mendengar Alishia yang kesakitan akhirnya Mirza berbalik menghampiri Alishia yang duduk di lantai sambil mengusap kakinya. “Memar, coba aku lihat.”
Alishia menggeleng. “Hanya ngilu saja. Gara-gara Mas kakiku jadi sakit. Aku mau minta uang bulanannya di tambah.”
Mirza menggeleng. “Seenaknya, kamu yang ceroboh.”
“Mas pakai merajuk segala, aku kan baru mau ambil kado buat Mas.”
“Mana kadonya?”
__ADS_1
Alishia mengambil amplop putih dari dalam tasnya. Lalu menyerahkannya pada Mirza.
“Aku tidak butuh uang, uangku banyak,” ucap Mirza.
“Itu bukan cek, buka saja. Tidak perlu banyak bicara,” jawab Alishia dengan nada kesal.
Mirza membuka amplop tersebut dan membaca isinya. “Kamu hamil?”
Bukannya menjawab Alishia malah berjalan meninggalkan Mirza, dan duduk di pinggiran tempat tidur. Kakinya masih terasa sakit.
“Alishia jangan bercanda,” pinta Mirza.
“Mas masih tidak percaya? Itu ada hasil USG nya jelas. Usianya baru 6 Minggu.”
Mirza menarik tangan Alishia lalu mengecupnya. “Terima kasih, aku suka kadonya. Nanti uang bulanannya aku tambah tiga kali lipat.”
“Maas,” panggil Alishia.
“Jangan bilang Ibu dulu ya, aku takut.” Mirza mengangguk.
Alishia turun dan duduk di lantai, ia menyandarkan kepalanya pada paha Mirza. Mirza membelai rambut Alishia dengan penuh kasih sayang.
“Jangan terlalu memikirkan Ibu ya, itu biar jadi urusanku. Kamu harus fokus pada kehamilan anak kita.”
Alishia diam tidak menjawab ucapan Mirza. Ia tidak bisa mengiyakan, tapi ia berjanji pada dirinya sendiri akan menjaga anaknya dengan baik dan hati-hati.
***
Setelah sebulan lamanya akhirnya kasus Anggun di tetapkan sebagai pembunuhan berencana dengan tersangka Adam. Polisi menemukan bukti sebuah buku catatan berisi rencana. Bahkan keguguran yang di alami Alishia adalah rencana Adam.
Bukan hanya itu saja, bahkan Adam merencanakan untuk membuat Anggun keguguran namun janin Anggun lebih dulu pergi karena gawat janin. Selain itu pria yang membuat Mirza lumpuh juga ulah Adam. Semua yang Adam lakukan karena dendam terhadap Mirza.
Semua masalah Adam sudah selesai. Tinggal menunggu sidang putusan untuk hukum Adam.
__ADS_1
Hari ini sidang putusan Adam akan di bacakan, entah mengapa Adam meminta bertemu. Alishia menyanggupinya. Mirza mengantarkan Alishia sampai di depan pintu bahkan ia melihat tatapan tidak suka yang di tunjukan Adam.
“Jangan terlalu lama,” perintah Mirza. Ia membelai perut Alishia sebelum Alishia masuk ke dalam.
Alishia duduk di kursi yang berhadapan dengan Adam. “Cepat katakan, aku tidak punya banyak waktu,” perintah Alishia.
“Harusnya kamu berterima kasih padaku. Berkat aku kamu bisa hidup bahagia bersama Mirza tanpa gangguan dari Anggun.”
Alishia menatap kesal pada Adam. “Aku tidak memerlukan bantuanmu sama sekali!”
“Benarkah?”
Alishia sangat kesal melihat wajah tenang Adam seolah apa yang ia lakukan adalah kebenaran. “Kalau kamu tidak ikut campur, hidupku akan bahagia dengan anakku yang sekarang sudah pergi karena ulahmu dan aku akan bahagia melihat orang yang aku cintai bisa berjalan sempurna. Tapi kamu menghancurkan semuanya.”
Adam tersenyum meremehkan. Ia menatap Alishia tajam. “Sepuluh tahun lagi aku akan keluar dari penjara. Kalau kau tidak mau menikah denganku, Mirza yang akan aku habisi. Jadi persiapkan dirimu, karena aku tidak menerima penolakan!”
“Omong kosong. Aku sendiri yang akan memastikan kamu di hukum mati atas semua perbuatan mu!”
Alishia beranjak dari duduknya dan berjalan keluar untuk bertemu Mirza. “Bayi kita kelaparan,” ucap Alishia dengan nada manja sambil mengelus perutnya.
Mirza tersenyum. “Ayok kita makan banyak, agar bayi yang ada di perutmu gemuk seperti ibunya.”
“Maaas,” ucap Alishia dengan tangannya yang mencubit perut Mirza. Ia tersinggung dengan ucapan Mirza. Ia tahu jika timbangan naik lima kilogram dalam satu bulan. Bahkan sekarang Alishia tidak berani menatap dirinya di cermin.
..._-Tamat-_...
^^^*Terima kasih sudah baca sampai akhir. ^^^
Terima kasih juga untuk dukungan kalian yang sangat berarti bagiku. semoga aku bisa lebih baik lagi dalam berkarya.
Maafkan aku dengan segala kekurangan karyaku, semoga kalian tidak kapok membaca karyaku 😊
Sampai jumpa di karyaku yang lainnya, love u 💕💕💕*
__ADS_1