
Teddy menyandarkan kepalanya di sandaran sofa. Sudah setengah jam lebih dia menunggu Siti menyelesaikan pekerjaannya namun gadis itu belum juga menampakkan dirinya.
"Halo," ucap Teddy saat Raka menghubunginya.
"Dimana lo?"
"Masih di Langit Kelana, kenapa?"
"Lama amat?"
"Banyak kerjaan, Ka. Gue harus kelarin sebelum bos gue pulang liburan," sindirnya.
"Haha ... biasa aja dong," ujar Raka tertawa. "Eh, Ted ... kemarin itu supplier yang meeting sama kita di Nusa Penida, dia ada bahas masalah pajak nggak sih?"
"Yang mana?" tanya Teddy beranjak dari sofa dan menatap keluar jendela.
"Supplier beton, masa lo lupa."
"Oh iya, dia janji pengajuan harga setelah pajak tapi belum ada laporan ke gue."
"Tapi tadi si Bambang telepon katanya materialnya udah dateng, emang lo minta? progress kan belom sampe kita minta barang," ujar Raka.
"Coba nanti gue hubungi Bambang, sebaiknya jangan di terima kalo belum jelas," ujar Teddy dengan alis mengerut.
"Iya, coba lo hubungi si Bambang lagi."
"Ok, langsung gue hubungi," kata Teddy lalu memutuskan hubungan telepon.
Beberapa saat kemudian Teddy menghubungi Bambang, pengawas proyek yang ada di Nusa Penida. Bambang mengatakan jika material yang datang berdasarkan purchase order yang telah di sepakati, hanya saja ada beberapa tambahan material yang tidak tercantum di surat PO itu dan masih di selidiki oleh Bambang.
"Kamu hold dulu, jangan sembarangan terima, sama kan dengan PO dan kwitansi, ingat Bang. Ini proyek besar, kita nggak lagi maen-maen," tegas Teddy kemudian menutup sambungan telepon.
"Ehem." Suara itu membuat Teddy berbalik.
"Hei ... udah selesai?" tanya Teddy saat mendapati Siti sudah berada di belakangnya.
"Sudah," jawab Siti.
"Kemana?"
"Apanya?" Siti tersenyum.
"Kita mau kemana?" Teddy ikut tersenyum.
"Ti," panggil lelaki berkacamata bernama Yudi.
"Eh, Mas ... gimana?"
"Ketemu di sana aja ya, aku bareng anak-anak yang lain," ujar Yudi.
"Oh iya ... ketemu di sana aja," jawab Siti lalu melambaikan tangan pada Yudi.
"Ketemu di sana?" tanya Teddy.
"Iya, anak HRD ada yang ulang tahun semua tim HRD dan aku di minta ke tempat karaoke," kata Siti. "Ikut, ya." Tatapan mata Siti mengharapkan kehadiran Teddy.
"Tapi—"
"Nggak apa-apa, yuk," ajak Siti menarik tangan Teddy.
__ADS_1
*****
Berada di antara orang-orang yang tidak dia kenal, di tambah lagi duduk bersebelahan dengan lelaki yang menjadi saingannya untuk mendapatkan hati Siti itu rasanya seperti ingin meminjam pintu Doraemon dan pergi dari perkumpulan itu.
Namun demi Siti, Teddy rela melakukannya. Dia menahan rasa ingin melangkah pergi, menahan egonya demi misi yang sedang dia rencanakan.
"Bosan, ya?" tanya Siti kala melihat wajah Teddy yang mulai bosan dan menyandarkan tubuhnya di sofa sambil memperhatikan teman-teman Siti bernyanyi di ruangan itu.
"Oh, nggak ... nggak kok, santai aja."
Siti berbisik pada salah satu temannya, lalu dia tersenyum dan mengangguk. Teddy memperhatikan interaksi gadis cantik itu dengan teman-temannya termasuk Yudi yang sudah sejak lama memperhatikan Siti saat memasuki ruangan itu.
"Ayo," kata Siti meraih tasnya yang tergeletak tidak jauh dari tempat Teddy duduk.
"Loh, kemana?"
"Aku takut kamu bosen, lagian udah sore nanti aku nggak dapet bis buat pulang ke rumah," kata Siti menarik tangan Teddy.
Sekilas Teddy melihat perubahan wajah Yudi saat gadis itu menarik tangannya. Ada senyum kemenangan di wajah Teddy saat itu, satu sama pikirnya, setelah dia kalah telak karena makan siang Yudi dan Siti tadi.
"Terus kemana?" tanya Teddy saat mereka sudah ada di mobil.
"Pulang."
"Segitu doang? besok weekend loh," kata Teddy.
"Mau kemana?"
"Ke hatimu, boleh?"
Kedua sudut bibir itu pun tertarik, tatapan malu-malu itu seakan memberikan gelenyar rasa yang ada di hati itu semakin terasa.
"Jadi, belum pacaran?" tanya Teddy pada Siti namun tatapannya fokus ke jalan raya yang ramai malam itu.
"Iya, dengan Mas Yudi itu," sindir Teddy.
"Tinggal aku jawab aja sih," kata Siti.
"Oh, jawabannya?"
"Ada deh."
Siti tersenyum, dia tahu betul jika Teddy juga mengharapkan jawaban darinya.
"Kok berhenti di sini?" tanya Siti.
"Aku malah pengennya berhenti di hati kamu," ujar Teddy pura-pura mengalihkan pandangan ke tempat lain namun dengan senyuman yang terukir di wajahnya.
"Bisa aja." Siti ikut tersenyum.
Mobil itu terparkir di sebuah pelataran luas, di tengah kota Jakarta. Monumen tinggi dengan kubah emasnya serta lampu-lampu yang menghiasi sekitarnya menambah suasana warna-warni malam itu.
"Pernah makan kerak telor?" tanya Teddy.
"Pernah dong, kenapa?"
"Gurih ya," kata Teddy.
"Iya."
__ADS_1
"Segurih senyum kamu," ucap Teddy menahan senyum.
"Astaga." Siti pun tergelak.
"Mau turun nggak?" tanya Siti.
"Mau lah ...."
Mereka berdua duduk bersisian di kursi taman menghadap monumen Nasional dengan lampu warna-warni dan banyak orang yang berlalu-lalang, suasana dingin malam itu membuat mereka semakin bertambah akrab.
"Tau nggak gimana cara Monas itu di bangun?" tanya Teddy.
"Mulai deh receh nih pasti," kekeh Siti. "Aku tuh dari tadi nahan ketawa," ujar Siti lalu tertawa terbahak-bahak. "Ada aja banyolan kamu, tapi tetep modus."
"Haha ... ini kursus nya jauh, Ti. Biar apa tau nggak?"
"Nggak ah, nggak mau tau ... pasti receh lagi ntar."
"Receh apaan? udah kayak koin receh." Teddy tertawa. "Eh tapi serius, kamu mau tau nggak bedanya Monas sama kamu," ujar Teddy dengan ekspresi wajah serius.
"Apa?" Siti mengubah posisi duduknya menghadap Teddy.
"Dengerin ya," ujar Teddy lagi. "Bedanya Monas sama kamu ... kalo Monas milik pemerintah, kalo kamu ... milik hati aku," ucap Teddy mengulum senyuman.
Untung saja ini malam dan lampu-lampu taman itu tidak bersinar terlalu terang, bisa dibayangkan jika saat ini siang hari sudah pasti rona merah di wajah Siti akan terlihat begitu nyata.
"Astaga." Siti menepuk keningnya. "Kamu belajar dimana sih, gombalnya ...." Siti tertawa sambil memegang perutnya.
"Aku serius loh ... nggak nge gombal juga, mau nggak?" tanya Teddy menatap dalam netra Siti.
"Apa?"
"Aku nggak mau Mas Yudi kamu itu memenangkan hati kamu. Jadi, aku mau pastiin ke kamu ... kamu mau nggak mengisi hati aku," kata Teddy.
Siti hanya mampu menundukkan kepalanya, rasanya belum puas di menguji Teddy tapi entah mengapa pesona Teddy benar-benar membuat pertahanannya runtuh.
"Aku serius, Ti. Ini pertama kalinya aku serius dengan wanita, dan aku pengennya itu kamu ... yang terakhir," ujar Teddy meraih tangan Siti dan meletakkannya di atas pahanya. "Mungkin terlalu cepat untuk kamu, tapi nggak untuk aku."
Siti menghela napasnya, mengangkat wajahnya lalu menatap lelaki yang berada di hadapannya itu.
"Sifat kamu, itu yang belum bisa aku terima. Masa lalu kamu dengan banyak wanita itu yang belum bisa aku tolerir. Ada rasa ketakutan di sini jika kamu akan melakukan hal yang sama nantinya."
"Aku mau berubah, aku janji berubah ... aku udah nggak mau main-main, Ti. Kamu harus percaya aku," ucap Teddy sungguh-sungguh. "Pembuktian macam apa yang kamu mau? apa kita langsung nikah?"
"Casanova insaf," kekeh Siti.
"Hah?"
"Iya, kamu si Casanova insaf," ujar Siti lalu tersenyum.
"Ti." Wajah Teddy memohon.
"Mungkin kita bisa jalani dulu, tapi aku minta satu hal sama kamu."
"Apa?"
"Kalo terjadi lagi atau kamu menyakiti hati aku, maka aku nggak akan segan-segan buat ninggalin kamu, dan jangan pernah sekalipun untuk mendekati aku lagi."
Teddy menatap gadis di depannya itu, tidak dia sangka gadis itu akan bersikap tegas seperti ini.
__ADS_1
"Aku janji," ucap Teddy dengan mengangkat dua jari membentuk huruf V, Siti pun tersenyum. "Jadi, kita udah jadian nih?" tanya Teddy memastikan dan Siti menjawab dengan anggukan.
enjoy reading 😘