
Lelaki itu menggendong bayi kecil berumur empat bulan, sementara di belakangnya berjalan wanita yang dulu pernah mengisi hati Raka selama hampir dua tahun menggandeng gadis kecil yang tidak henti-hentinya bertanya pada sang Ibu.
Keluarga kecil bahagia, rahang Raka mengeras. Sesak itu pasti masih ada, butuh waktu memaafkan kesalahan yang pernah dia lakukan dulu. Helaan nafas panjang itu, membuat Azzura mengalihkan pandangannya ke arah mata Raka menatap.
"Ka." Azzura menggenggam tangan kekasihnya.
"Eh ... mau apa lagi? masih laper?"
"Nggak ... udah cukup. Itu Jenna, Sayang ... kamu nggak mau sapa dia. Ya ampun anaknya menggemaskan, eh itu Chila kan ... ayo, Ka kita—"
"Ra ... kita tadi kesini buat apa? kenapa jadi ngurusin keluarga orang," ujar Raka datar.
"Loh, kenapa? nggak ada salahnya kan. Jangan bilang kalo kamu—"
"Raka ... Azzura," sapa mantan kekasih Raka itu melambaikan tangan pada mereka.
"Jenna." Azzura membalas lambaian tangan Jenna lalu berdiri.
Jenna menghampiri meja mereka, Azzura menepuk pundak Raka agar tersenyum.
"Hai, apa kabar?" Jenna mengulurkan tangannya pada Azzura lalu pada Raka.
"Baik, kamu?" tanya Azzura.
"Baik."
"Ini Tante yang di Jakarta itu, kan Nenna?" tanya Chila gadis itu terlihat lebih tinggi dari terakhir mereka bertemu.
"Halo, Chila ... masih inget aja sama aku." Azzura menyentil hidung Chila.
"Masih dong, soalnya Tante cantik ... Chila nanti kalo udah gede mau banget cantik kayak Tante," ujar Chila.
"Kapan sampai dari Jakarta?" Kali ini tatapan mata Jenna mengarah pada Raka.
"Hah? oh ... tadi siang. Tadi siang kita baru sampai," ujar Raka.
"Oh ya? tapi tadi Tante Citra nggak bilang kalo kalian di sini," kata Jenna.
"Mungkin ibu lupa," jawab Raka lalu melihat Radit mendekati mereka dengan bayi yang hanya dia gendong mengenakan satu tangan.
"Mas, kamu kebiasaan deh ... kalo gendong Devan pasti begini, serem aku liatnya," ujar Jenna mengambil alih Devano dari gendongan ayahnya.
"Ya ampun, lucu banget. Hai, Mas Radit," sapa Azzura.
__ADS_1
"Hai, kita ketemu lagi. Apa kabar, Raka?" Radit mengulurkan tangannya dan di sambut oleh Raka.
"Baik," ujar Raka lalu tersenyum.
Entahlah Azzura rasanya seperti melihat dua orang yang masih saling bersaing.
"Aku boleh gendong, nggak?" pinta Azzura pada Jenna agar memberikan bayi lucu itu pada mereka.
"Boleh dong." Jenna memberikan Devano yang sedang asyik menghisap jempol tangannya.
"Ini dia haus?" tanya Azzura.
"Dia biasa kayak gitu, haus nggak haus dia selalu menghisap jempol," ujar Radit menarik satu kursi dan duduk bersama mereka.
"Udah cocok," kata Jenna lalu sekilas menatap Raka.
"Masa? Sayang, kata Jenna aku udah cocok," kekeh Azzura.
"Jadi, kapan?" tanya Radit pada Raka.
Raka tertawa. "Segera, doa in ya."
"Pasti, kalo udah cocok jangan di lepas, bahaya sekarang siapa cepat dia dapat," ujar Radit.
Jenna hanya tersenyum, sedang Raka hanya dapat menelan ludahnya kasar. Siapa sangka dia bisa duduk bersama dengan mantan kekasihnya sekaligus keluarga kecil sang mantan.
*****
"Banyak diem tadi, kenapa?" tanya Azzura saat perjalanan pulang mereka dari coffee shop milik Radit.
"Nggak apa-apa, lagi males aja."
"Malesnya bisa tiba-tiba gitu," kekeh Azzura lalu membelai ujung rambut Raka.
"Kamu seneng banget tadi," kata Raka.
"Seneng gimana? aku suka mereka pasangan yang serasi, anak-anak yang lucu. Jenna bisa ya nerima Mas Radit, ya. Duda loh, Sayang ... dan keluarganya akhirnya bisa nerima gitu ya."
Raka masih saja diam, dia tidak mau banyak bicara. Mengingat yang lalu itu sama saja membuat tidak nyaman untuk hubungan mereka.
"Mana itu bayi lucu banget, Ka ...."
"Bisa nggak berhenti bahas mereka." Ada amarah di balik suara Raka.
__ADS_1
"Kok marah," ujar Azzura kesal. "Emang salah kalo aku bahas keluarga kecil mereka, kenapa? kamu cemburu?"
"Stop, Ra." Raka memukul kemudinya, mobil itu menepi. "Ngapain juga ngurusin keluarga orang."
"Kamu kenapa sih, nggak jelas banget!" Gadis itu menahan amarahnya. "Santai aja kalo emang udah nggak lagi nyimpen perasaan sama dia."
"Bukan masalah perasaan—"
"Terus kalo bukan masalah perasaan apa? kamu ngerasa kalah sama Radit? kamu ngerasa bersalah, iya?!"
Raka sendiri pun, tidak pernah tahu rasa apa yang ada di hatinya. Tapi, ketika melihat kebersamaan Radit dan Jenna seperti ada secuil rasa yang mungkin bisa di bilang tidak rela.
"Maaf," ucap Raka.
Azzura mengalihkan pandangannya keluar jendela. Jalanan malam itu begitu sepi, entah dimana Raka menepikan mobilnya saat ini.
"Aku minta maaf, Ra."
"Kamu nggak akan terlepas dari masa lalu kamu, kalo dari diri kamu sendiri nggak pernah mau berdamai dengan apa yang kamu lakukan dulu." Azzura masih terlalu malas menatap lelaki itu.
"Aku tau ... aku minta maaf. Nggak seharusnya aku seperti tadi. Maafin aku," ujar Raka meraih tangan Azzura.
"Sudah lah. " Azzura menarik kembali tangannya.
Raka masih berharap gadis itu menoleh ke arahnya, namun sepertinya Raka harus bersabar sedikit lagi. Kembali dia menyalakan mobilnya, waktu menunjukkan pukul sembilan malam saat mereka sampai di pelataran rumah Raka.
Azzura masih saja terdiam, cepat-cepat dia raih tas tangannya yang berada di kursi penumpang.
"Ra, please maafin aku." Raka mencegah tangan Azzura untuk tidak dulu turun.
"Iya, sudah lupain aja." Azzura berusaha melepaskan cengkraman tangan Raka di pergelangan tangannya.
"Ra."
"Apa sih?!"
"Kamu masih marah?"
"Nggak ... aku nggak marah, aku ngantuk mau tidur, besok mau belajar bikin empek-empek."
"Nggak ada ciuman selamat malam?" Senyum sumringah terpancar dari wajah Raka.
"Nggak ada!" Azzura melepaskan tangannya lalu membuka pintu mobil itu meninggalkan Raka seorang diri dalam diamnya.
__ADS_1
enjoy reading 😘