
"Susah banget, sampai-sampai menyamakan sesuatu yang baru dengan kenangan itu sendiri," ujar Azzura menatap mata Raka.
Gadis berusia 26 tahun itu melangkah mendekat, penampilannya penuh peluh. Pakaian olahraga yang dia pakai membuat lekuk tubuh gadis itu begitu kentara.
"Kok udah balik?" tanya Jingga sang Ibu.
"Sejam aja, Kak Nami ada praktek pagi ini, katanya," ujar Jingga.
"Naminya mana?" tanya Langit yang mencari sosok menantunya.
"Langsung pulang, Didi ...."
"Gimana, Ka? udah selesai?" tanya Langit pada Raka yang akhirnya bisa menyalakan kembali skuter lawas itu.
"Udah, Pak ... sepertinya memang harus sering dinyalakan dan di bawa pergi sebentar," ujar Raka melirik Azzura yang mengayun-ayunkan raket tennis.
"Ya udah kalo gitu, tapi yakin ya ini nggak mogok di tengah jalan," kata Langit sudah bersiap di atas skuternya.
"Mudah-mudahan nggak," jawab Raka tersenyum.
"Ayo, Sayang ... kita jalan sebentar, udah lama nggak keliling komplek bedua," ujar Langit mengajak Jingga yang akhirnya menurut duduk di belakang.
"Pegangan yang erat, Mima," ujar Azzura yang terkekeh melihat Jingga sudah memeluk pinggang Langit.
"Pergi dulu ya," kata Jingga melambaikan tangan pada Raka dan Azzura.
Raka menepuk-nepuk tangannya yang kotor, lalu meneguk segelas air yang disediakan oleh Jingga tadi. Sementara Azzura masih memainkan raket tennisnya, mereka sama-sama masih terdiam, berdiri di sana.
"Ra ...," ujar Raka yang akhirnya mengalah memulai pembicaraan lebih dulu.
"Mau ngapain kesini?" tanya Azzura ketus.
"Ya mau nemuin kamu ... mau ngobrol," ujar Raka lalu mengulas senyumnya seperti biasa.
"Mau ngobrol apa?" Masih dengan nada yang ketus.
"Jangan jutek gitu dong, Ra ... aku mau ngajak kamu ngobrol pelan-pelan, jangan marah-marah," kata Raka lalu melangkah mendekati Azzura.
"Aku belom mandi," ujar gadis itu mengelak saat Raka ingin meraih lengannya.
"Aku tungguin," ujar Raka lagi-lagi dengan senyuman manisnya.
__ADS_1
"Lama ...."
"Makanya mandi sekarang, biar nggak tambah lama," jawab Raka. "Aku juga mau cuci tangan," ujarnya lagi sambil menunjukkan tangannya yang kotor.
"Itu ... pake selang air di situ," ujar Azzura menunjuk gulungan selang air lalu pergi meninggalkan Raka di sana.
*****
Raka terduduk di teras rumah besar itu, sudah ada beberapa toples cemilan dan juga secangkir teh hangat yang terhidang di atas meja kecil tepat di sebelah Raka.
Azzura muncul dengan mengenakan setelan rumah biasa, dia dudukkan tubuhnya pada kursi di sisi sebelah kiri Raka. Rambutnya yang tergulung ke atas memperlihatkan leher Azzura yang jenjang.
"Mau ngobrol apa?" tanya Azzura memainkan jari jemarinya.
"Aku kira kita bakal ngobrol di luar," ujar Raka.
"Ngobrol tinggal ngobrol apa bedanya di sini sama di luar," ketus Azzura.
"Ok kalo gitu," ucap Raka dengan ekspresi wajah mulai terlihat serius. "Mengenai kita, maksud aku hub—"
"Loh, Ra ... kok cuma di kasih cemilan itu, Mima tadi bikin brownies sama salad buah kenapa nggak di keluarin," ujar Jingga yang baru saja datang membawa tas kresek isi gorengan.
"Itu aja, Ma ... itu juga nggak di makan," jawab Azzura sekenanya.
"Eh, nggak usah Tante," ujar Raka menolak.
"Udah tunggu aja ya," sahut Jingga berlalu masuk ke dalam.
"Ternyata bener Ka, udah aman ya. Itu skuter tadi saya pake agak jauh, nggak ada ngadat-ngadatnya," seloroh Langit menghampiri Raka dan Azzura.
"Syukurlah, Pak ... asal sering di gunakan aja, pasti jalan terus Pak," kata Raka.
"Ini kalian mau keluar?" tanya Langit.
"Iya," ujar Raka.
"Nggak," ucap Azzura.
Jawaban yang secara bersamaan itu membuat Langit sedikit bingung.
"Oh ya terserah lah, kamu kalo mau cobain pake skuter boleh juga, Ka," ujar Langit lagi.
__ADS_1
"Eh, nggak ... nggak, mending jangan kalo mau jalan jauh," cegah Azzura yang takut jika sewaktu-waktu skuter itu mogok lagi.
Langit tertawa melihat anak gadisnya yang gelagapan karena takut Vespa jadul itu akan mati lagi seperti yang sudah-sudah.
"Didi tinggal ya ... Raka, take your time," ucap Langit berlalu melangkah masuk ke dalam.
"Masih mau ngobrol di rumah?" tanya Raka.
"Ih, rese ... ya udah tunggu sebentar," jawab Azzura masuk ke dalam untuk mengganti pakaiannya.
Mobil Raka berhenti di pinggiran taman kota tidak jauh dari kediaman Azzura. Karena menurut Raka lebih baik berbicara berdua tanpa ada gangguan darimana pun.
"Aku minta maaf," ucap Raka memecah kesunyian di dalam mobil siang itu. "Maaf kalo kamu ngerasa aku selalu bandingin kamu dengan seseorang di masa lalu aku, maaf juga kalo kamu ngerasa jika selama ini aku menyamakan kamu dengan orang dari masa lalu aku ... jujur itu salah banget Ra," jelas Raka membetulkan posisi duduknya menghadap Azzura.
"Jujur aku takut untuk memulai kembali suatu hubungan, kamu pasti tau alasannya apa," ujar Raka lagi.
"Aku nggak tau," jawab Azzura balas menatap mata Raka.
"Kamu tau, dan kamu berusaha menyingkirkan itu semua," kata Raka.
"Apa? takut kalo aku sakit hati, takut kalo aku nggak siap, takut apa? toh tinggal di jalani, udah ... sesimpel itu," sergah Azzura.
"Aku nggak mau kamu sakit hati," ujar Raka.
"Terus kalo kamu nggak mau aku sakit hati, terus perlakuan kamu ke aku beberapa minggu belakangan ini apa? maksudnya apa? tanpa status? mau nya kamu begitu? atau acara memanfaatkan aku sebagai teman kamu, baru akan kamu lancarkan sekarang, sehingga proyek yang akan Didi kasih ke kamu bisa lebih lancar lagi ke depannya, alih-alih takut aku sakit hati terus kamu anggap aku kayak cewek gampangan yang kamu bisa sosor setiap saat, setiap kali ketemu, iya ... gitu?"
"Bukan ... bukan itu." Raka memukul kemudinya. "Bukan itu, Ra ... jujur iya ... awalnya iya, awalnya ini semata-mata demi proyek besar yang kamu tawarkan waktu itu ... tapi makin kesini kamu ngerubah cara pandang aku, aku nggak mau terlanjur jauh Ra ... aku nggak mau kamu sakit hati lagi."
"Kamu udah buat aku sakit hati sekarang," lirih Azzura.
"Damn." Raka merasa bersalah.
"Aku jarang banget suka sama orang, dan sekalinya suka selalu kayak gini," ucap Azzura pelan.
"Aku suka sama kamu, Ra ... jujur aku suka, aku suka kedekatan kita, aku suka cara kamu yang bicara apa adanya ke aku tanpa canggung, aku suka seluruhnya tentang kamu," ujar Raka menangkup kedua pipi gadis itu.
"Tapi tolong kasih aku waktu, pekerjaan aku ... pekerjaan aku akan menyita waktu kita berdua nantinya, apa kamu bisa terima itu, di saat kamu butuh aku nggak ada, aku nggak mau pikiran kamu melanglang buana saat aku nggak ada di dekat kamu," kata Raka membelai pipi Azzura. "Please, aku nggak mau nanti malah jadi berantakan," ucap lelaki itu lagi.
"Lalu kita?" tanya Azzura lirih dengan mata berkaca-kaca.
"Kita jalani aja dulu sekarang," ucap Raka memberikan kecupan di kening gadis itu.
__ADS_1
**enjoy reading 😘
jangan kesel sama Raka ya 🤭**