
Happy reading πππ
Mirza menarik kembali tangan Alishia yang hendak melangkah. "Aku tidak bisa kehilanganmu sayang, ku mohon mengertilah dan beri aku waktu sebentar lagi aku berjanji akan menceraikan Anggun."
Alishia menarik tangannya. "Maaf Mas, hatiku tidak bisa menerima rasa sakit lebih banyak lagi. Hatiku tidak sekuat Yang Mas pikiran, jadi aku mohon biarkan aku pergi."
Dengan cepat Alishia berlari menjauh. Sementara tubuh Mirza Membeku di tempatnya. Ia tidak menyangka Alishia meminta perpisahan secepat ini padahal dirinya tahu betul bahwa Alishia sudah jatuh cinta padanya.
***
Sore itu Alishia tengah menikmati secangkir kopi yang masih terisi penuh namun uap panasnya sudah hilang. Sorot matanya kosong melihat ke arah jalanan yang padat merayap.
Jihan yang baru saja datang memandang prihatin pada sahabatnya. Sejak tadi pagi saat ia tinggalkan keadaan Alishia tampak memprihatinkan. Matanya sembab, tubuhnya lemas, pandangannya selalu kosong. Saat ia datang pun keadaannya masih sama, tidak ada yang berubah.
Perlahan tangan Jihan menepuk pundak Alishia. "Ta," panggil Jihan lembut.
Alishia menengok ke arah Jihan dengan air mata yang tidak bisa ia bendung lagi. Buliran bening dari kelopak mata Alishia seakan berlomba-lomba saling berkejaran satu sama lain.
"Sakit Han."
Melihat tangis Alishia serta rintihannya membuat Jihan ikut merasakan sakit di hatinya. Ia membawa Alishia ke dalam pelukannya.
Cukup lama Alishia menangis, bahkan Jihan ikut menangis. Ia mencoba memberikan kenyamanan pada Alishia. "Kamu kuat Ta, kamu bisa."
Alishia menghapus air matanya, ia memutar tubuhnya menghadap ke arah Jihan. "Han, tolong urus surat cuti aku ya, aku ingin menenangkan diri dulu di kampung."
"Berapa hari Ta?"
"Sisa cuti aku tinggal 3 hari," jawab Alishia.
Jihan menganggukkan kepalanya, dengan seulas senyum di bibirnya. "Jaga diri baik-baik ya, nanti pulang jangan sedih-sedih lagi. Senyum dong!"
Alishia menggelengkan kepalanya dengan lidah memelet.
"Enggak usah melet-melet aku gak bakal kepincut pelet kamu Ta."
Alishia berdiri memukul pundak Jihan. "Seenaknya aja, gue cantik dari lahir bukan hasil dukun!"
Jihan tersenyum memandang punggung Alishia yang berjalan masuk ke kamarnya.
"Han aku otw malem ini ya," teriak Alishia dari dalam kamar.
Jihan mengetuk pintu kamar Alishia.
Bukan mendapat jawaban Jihan kembali mendengar suara nyaring Alishia. "Aku lagi pake baju jangan pengen liat deh!"
"Astaga Tata, otakku masih waras. Aku mau pamit pulang. Maaf aku gak bisa anter kamu," ujar Jihan sedikit berteriak mengikuti cara bicara Alishia.
"Iya hati-hati, titip salam buat suami kamu. Sama bilang terima kasih udah kasih pinjam istri tercintanya," sindir Alishia. Wajahnya sedikit muram. Ada rasa iri di hatinya, sahabatnya sudah menemukan pasangan yang benar-benar mencintainya. Sementara dirinya hanya wanita yang di cintai saat di tempat tidur.
"Iya, kamu juga hati-hati ya."
"Oke!" jawab Alishia berusaha menormalkan suaranya, meskipun air matanya mengalir.
***
Malam itu Alishia memilih angkutan umum untuk kembali ke kampung. Ia tidak ingin memakai mobil pemberian Mirza, rasanya ia tidak sanggup jika harus menyetir sendiri sementara hati dan pikirannya sedang kacau.
__ADS_1
Keadaan bus malam ini tidak terlalu padat, Alishia terkejut saat seorang pria duduk di sampingnya.
"Hai."
Alishia memandang heran pada Adam yang tiba-tiba duduk dan menyapanya.
"Ko sendirian sih, biasanya berdua sama-" Adam sengaja menggantung ucapannya.
"Gue rasa kursi kosong masih banyak deh!" sindir Alishia. Ia tidak ingin terpancing dengan ucapan Adam yang mengarah pada Mirza.
"Justru itu, karena kosong kan jadi gak enak gitu kalau jauh-jauhhan. Apalagi ini malem, dingin gak ada temen ngobrol. Berasa kayak jomblo gak laku gitu," ujar Adam dengan senyum mengembang serta alis yang di naik turunkan.
"Gue maunya sendiri, mending Lo jauh-jauh deh!" ketus Alishia. Dia benar-benar tidak ingin di ganggu oleh siapa pun malam ini, tapi mengapa ada Adam yang membuat harinya semakin runyam.
"Kenapa gak mau Sama gue, gue gak bau ko. Ni cium wangi gini," dengan gerakan cepat Adam sedikit mendorong tubuhnya agar lebih dekat pada Alishia.
Karena Adam mendekat ke arahnya Alishia mampu mencium aroma tubuh Adam. Apa yang di katakan Adam betul, dia wangi dan tidak bau. Tapi bukan itu masalahnya. Dengan cepat Alishia mendorong tubuh Adam agar sedikit menjauh, jujur ia sedikit risi.
"Beneran wangi kan," ujar Adam penuh percaya diri.
Alishia mengendus sebal, dan membuang mukanya ke arah jendela. Malas mencari ribut, toh di perjalanan ia bisa tidur dan menganggap Adam tidak ada di sampingnya.
Baru saja Alishia hendak mencari posisi nyaman untuk tidur dengan menyandarkan punggungnya pada kursi, suara Adam sudah menginterupsi.
"Sha."
Dengan malas Alishia menengokkan kepalanya. "Apa?"
Suara ketus Alishia tidak meruntuhkan senyum di bibir Adam yang mengembang. "Gue punya burger, dua biji Lo mau?"
"Ini burger spesial loh, double cheese dan double beef," ujar Adam sambil membuka burger dan menunjukkannya pada Alishia.
"Aku ga-" ucapan Alishia terhenti karena burger yang di pegang Adam sudah masuk ke dalam mulutnya secara paksa.
Adam tidak memedulikan mata tajam Alishia. "Ayok dong gigit terus kunyah."
Terlanjur masuk ke dalam mulutnya dengan terpaksa Alishia mengunyahnya.
"Nah enakkan," Adam menunjukkan senyum simpulnya.
Alishia tidak menjawab, setelah burger di dalam mulutnya ia telan. Alishia memalingkan wajahnya karena malas berurusan dengan Adam.
"Kamu harus makan semuanya, aku enggak mau ya Kalau sampai kamu muntah kena bajuku."
Ocehan Adam tidak di pedulikan oleh Alishia. Hingga perutnya yang menyebalkan tiba-tiba berbunyi mempermalukan wajah Alishia di depan Adam.
"Betulkan tebakkan ku kalau kamu lapar Sha."
Alishia tidak bisa mengelak lagi. Ia memilih diam tidak sedikit pun menjawab ucapan Adam.
Adam merasa bahwa Alishia sengaja memancing dirinya agar menyuapi wanita yang malu-malu kucing di sampingnya. Ia mendekatkan burger ke depan mulut Alishia.
Namun tangan Alishia merebut Burger tersebut dengan cepat. "Aku bisa makan sendiri, terima kasih," ucap Alishia tanpa melihat ke arah Adam.
Adam hanya tersenyum melihat tingkah Alishia yang sangat menggemaskan menurutnya.
"Nah gini dong pake aku kamu, biar lebih akrab," ujar Adam. Ternyata Alishia mudah terbawa arus dalam panggilan.
__ADS_1
***
Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat. Bus kelas bisnis yang mereka tumpangi sudah setengah perjalanan.
Adam tersadar dari tidurnya, ia melirik bahu yang terasa berat. Ternyata Alishia bersandar di sana. Mata yang semula mengantuk kini segar luar biasa, pemandangan yang tidak pernah Adam jumpai bisa melihat wajah tenang Alishia.
Bibir Adam tersenyum simpul kala mengingat wajah Alishia yang selalu ketus, dan dingin terhadapnya. Tapi kini wajah itu terlihat sangat tenang, bahkan Adam semakin terpesona. Ia mengambil ponselnya dan mengambil beberapa foto wajah Alishia.
"Harusnya aku berani untuk lebih dulu mendekatimu, sebelum Mirza mengambil semuanya," gumam Adam di tengah keheningan malam.
Alishia membuka sedikit matanya saat lehernya terasa pegal. Aroma parfum yang menguar di hidungnya mengingatkannya pada seseorang.
"Wangi parfum siapa sih ini," ujar Alishia dengan suara pelan sambil mengingat-ingat.
"Wah putri tidur sudah bangun," sapa Adam dengan wajah yang sedikit mendekat ke arah Alishia yang masih bersandar di bahunya.
Sontak Alishia menjauhkan tubuhnya dari Adam, namun berakibat pada lehernya yang terasa sakit karena pergerakan spontannya. "Aaaw," teriak Alishia sambil memegangi lehernya.
Mendengar suara Alishia yang kesakitan refleks Adam mendekat dan memegang tangan Alishia yang berada di lehernya.
"Kenapa?" tanya Adam dengan nada khawatir.
"Leherku sakit," jawab Alishia sambil menahan sakit.
Adam mengeluarkan minyak kayu putih dari dalam tas kecilnya. Lalu memberikan pijatan pelan pada leher Alishia.
"Makanya kalau bangun hati-hati."
Mendengar ucapan Adam yang perhatian, Alishia teringat pada perhatian Mirza. Andai dirinya tidak pergi dan memutuskan hubungan ini, mungkin ia masih bisa merasakan perhatian Mirza. Ia tidak akan sehancur ini, dan merasa sendirian di tengah keramaian.
Seorang pria paruh baya mendekat ke arah Adam dan Alishia. "Mas istrinya kenapa?"
Adam tersenyum simpul pada pria tersebut. "Tidak kenapa-kenapa Pak, hanya lehernya saja pegal," ujar Adam ramah.
Alishia menautkan kedua alisnya mendengar pertanyaan dari pria paruh baya tersebut serta jawaban Adam yang tidak mengklarifikasi bahwa mereka bukan suami istri.
Baru saja Alishia membuka mulutnya hendak angkat bicara untuk memperjelas hubungannya dengan Adam kalau mereka hanya rekan kerja, namun pria paruh baya tersebut lebih dulu berpamitan.
Setelah kepergian pria paruh baya tersebut, Adam kembali mengarahkan pandangannya pada Alishia. Namun wajah marah Alishia menyambutnya, bahkan tangan Adam yang hendak memijat leher Alishia pun di tepis dengan cepat.
"Kita bukan suami istri," ujar Alishia dengan wajah khas yang biasanya ia tunjukkan di kantor saat Adam merayunya.
"Memang bukan," jawab Adam dengan entengnya.
"Lalu tadi?"
Adam menaikkan satu alisnya pura-pura tidak mengerti. "Yang mana?"
"Barusan mengaku pada pria paruh baya," jawab Alishia dengan tegas namun suaranya sedikit lebih pelan dari biasanya agar tidak memancing perhatian para penumpang lainnya.
"Masih sakit enggak lehernya?"
Alishia membulatkan matanya, menatap Adam dengan tajam.
"Oh, sudah tidak sakit," ujar Adam. Ia membetulkan posisi duduknya, menarik resleting jaketnya hingga ke atas lalu menutup rapat kedua matanya.
Melihat Adam yang melarikan diri dengan pura-pura tidur membuat hati Alishia bertambah dongkol. Rencana menenangkan hatinya hancur, baru saja di perjalanan Adam sudah memporak-porandakan moodnya. "Awas kau Adam, akanku buat perhitungan khusus untukmu nanti," ucap Alishia di dalam benaknya.
__ADS_1