FRIENDS WITH BENEFITS

FRIENDS WITH BENEFITS
Mengejar Waktu


__ADS_3

Raka setengah berlari, waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang. Mulutnya tidak berhenti menggerutu, sementara Teddy hanya terdiam dan ikut berlari di sampingnya.


Teringat semalam mereka baru menyelesaikan segala hal menyangkut hukum yang berlaku untuk tersangka korupsi uang pembelian material yang dilakukan oleh Gatot, selebihnya Raka menyerahkan semuanya kepada Windu.


"Dua hari lagi saya kembali kesini, Pak Windu," ujar Raka malam itu.


"Silahkan, maaf kalau saya terkesan menahan Anda di sini, karena untuk melengkapi berkas yang memberatkan tersangka." Windu mengulurkan tangannya pada Raka.


"Nggak masalah, saya yang harusnya berterimakasih pada Anda."


"Selamat menempuh hidup baru, Pak," ucap Windu diiringi ucapan terimakasih dari Raka dan gelak tawa malam itu.


"Kalo nggak delay harusnya jam 10 kita sudah sampai di bandara," gerutu Raka lalu melambaikan tangannya pada Wita yang sudah menunggu mereka.


"Rey, lo mau ikut gue sekalian atau gimana?" tanya Raka sebelum masuk ke dalam mobil.


"Ikut aja, Rey ... perkara baju, kayak gitu juga lo udah keren," sahut Teddy yang langsung masuk ke dalam mobil dan melepas bajunya mengganti dengan batik yang sudah di siapkan oleh Wita.


"Masih ada satu batik lagi," sahut Wita yang malu-malu menatap Reyhan. "Tadi ibu sengaja taruh dua batik di sini."


"Udah ayo buruan, acara jam tiga belum macetnya di jalan." Raka masuk ke dalam mobil dan mengganti pakaiannya dengan beskap berwarna putih. "Sepatu mana, Ya?"


"Hah? sepatu?"


"Iya, sepatu ...."


Nada suara Raka mulai meninggi, siapa yang tidak tegang menghadapi situasi semacam ini. Dalam waktu singkat mereka harus mengejar waktu untuk sampai ke tempat acara. Debaran jantung yang tidak beraturan karena takut kesalahan saat mengucapkan janji suci, belum lagi harus berhadapan dengan lalu lintas yang Raka harapkan lancar sampai ke tempat tujuan.


"Ada, Kak ... di bagasi belakang," kata Wita.


"Oh ok, Kakak kira kamu lupa," ujar Raka. "Ini sudah benar belum cara pakainya." Raka membenarkan beskapnya.


"Ini begini," kata Wita dengan suara pelan.


"Kamu kenapa sih?" Raka mengernyitkan alisnya. "Ted, ngebut."


"Santai, Bro ... satu jam perjalanan, nggak begitu macet kok," ujar Teddy yang sudah mengambil alih kemudi dari Wita saat masuk ke mobil tadi. "Ntar ngebut bukannya ke tempat acara malah ke rumah sakit, mau?" cerca Teddy.


"Sembarangan kalo ngomong." Raka merapikan kembali pakaiannya. "Ta, ketemu Zurra?"


"Kemarin, waktu sama ibu kesana sekalian ambil baju Kakak ini."


"Terus dia gimana?"


"Ya nggak gimana-gimana," jawab Wita.


"Emang lo mau gimana, Ka?" timpal Teddy.

__ADS_1


"Ya kalo murung, sedih gitu."


"Dih, pengen banget," kekeh Teddy yang diikuti senyum samar dari Rey yang duduk di sampingnya. "Ketemu Siti nggak, Ta?"


"Ya ampun, kenapa ke Siti?"


Raka tertawa, hanya dengan cara ini dia tidak ingin terlihat begitu tegang. Rasanya kaki dan tangannya sudah begitu dingin. Kakinya tidak bisa diam selalu bergerak.


"Tegang banget ya, Ka?" tanya Reyhan.


"Banget, jantung gue nggak karuan Rey." Raka mengalihkan pandangannya keluar jendela mengamati mobil-mobil yang lalu lalang. "Ntar juga lo ngerasain," kata Raka lagi.


"Masih lama, Ka. Belum ada target," ujar Reyhan.


"Targetnya keburu di embat." Teddy tertawa. "Ya kan, Rey?"


Reyhan hanya mengulum senyum, jelas sekali dia kalah cepat memenangkan hati Azzura. Sudah berapa kali dia mengurungkan niatnya menyatakan perasaan pada gadis itu, hingga akhirnya harus benar-benar ikhlas menerima kekalahannya.


"Tenang, Rey ... masih banyak daun muda dan janda-janda kaya—" Teddy mengaduh saat pundaknya mendapatkan pukulan dari Wita.


"Mulutnya, Bang ... minta di sambelin," gerutu Wita.


"Ciee ... yang daun muda, ciee," goda Teddy.


"Apaan sih." Wita hanya tersenyum simpul, matanya bersitatap dengan Reyhan yang sedikit menoleh ke belakang kearahnya.


"Ted, fokus ... berapa lama lagi?"


*****


Tepat pukul dua siang, satu jam sebelum acara di mulai Raka dan yang lain sudah sampai di hutan Pinus tempat dimana perhelatan sakralnya akan dilaksanakan.


Berjajar kursi-kursi sudah tersusun rapih, sebuah meja di kelilingi enam kursi berada di tengah-tengah. Hamparan rumput hijau serta hiasan bunga-bunga sudah meramaikan tempat itu terlebih dahulu.


Cantik, sederhana tapi elegan. Tidak jauh dari tempat para tamu duduk sebagai saksi janji suci mereka, terhidang banyak makanan diatas beberapa meja panjang dengan alas berwarna putih penuh renda dan dihiasi bunga.


Berada di sisi sebelah kanannya, sekumpulan pemain musik sedang bersiap memeriksa alat musik mereka. Beberapa tempat duduk pun disiapkan bagi para tamu undangan.


Semua seperti yang Azzura inginkan, sebuah persiapan singkat. Raka merutuki dirinya, pasti semua Azzura yang mengarahkan pada WO tentang keinginan acara pernikahan mereka.


"Kak." Suara Wita membuyarkan pandangannya meneliti satu demi satu persiapan sore itu.


"Ya."


"Di suruh duduk di sana," tunjuk Wita.


"Kakak udah ganteng belum?"

__ADS_1


"Udah, apa mau pake bedak?"


"Ya ampun," kekeh Raka sambil menepuk kening Wita.


"Eh, aku serius. Setahu aku pengantin cowok juga di dandanin, tanya deh sama ibu. Tuh kan ibu kesini."


Ibu Citra berjalan cepat ke arah dua anaknya membawa satu paper bag yang entah berisi apa.


"Kenapa nggak bilang kalo sudah sampe," ujar Ibu Citra meletakkan paper bag di kursi dekat mereka. "Kamu udah cuci muka belum?" Dijawab anggukan oleh Raka, Ibu Citra mengeluarkan kapas dan satu botol toner lalu mengusapkan pada wajah Raka.


"Ini diapain, Bu?"


"Di dandanin biar cerah, nggak kusut kayak gini, mau nikah masih keluyuran," gerutu Ibu Citra.


Wita hanya bisa menahan tawanya melihat wajah Raka yang di poles foundation.


"Bu, pake apa sih?" Raka menahan tangan Ibu Citra yang hendak memakaikan bedak di wajahnya.


"Ini cuma tipis, biar kamu nggak kusut," ujar wanita 50 tahun itu, Raka hanya bisa diam.


"Bu, kok pake itu?" Raka kembali menahan tangan ibu Citra yang sudah mengeluarkan lipstik dan akan di torehkan pada bibir Raka.


Wita yang sudah tidak bisa menahan tawanya akhirnya tergelak sambil memegangi perutnya yang sakit melihat wajah bingung Raka.


"Tipis aja, Ka ... kamu jadi pengantin nggak ada cerah-cerahnya. Diem!"


"Ka, lo diapain?" tanya Teddy yang berjalan mendekat. Tawa Teddy semakin pecah melihat sepupunya itu hanya diam saat lipstik itu tertoreh di bibirnya.


"Selesai ... jangan di hapus!" kata Ibu Citra penuh ancaman lalu meninggalkan anak-anaknya.


"Cermin, Ta," pintanya pada Wita. "Astaga, emang harus kayak gini ya. Tisue, Ta."


"Nanti kena marah ibu, Kak." Wita takut-takut memberikan tisue pada Raka.


"Kakak hapus sedikit aja. Buruan ...."


"Ka, di minta duduk di sana," ujar Rey yang datang menghampiri mereka.


"Iya sebentar," ujar Raka menghapus lipstik di bibirnya.


"Pake ini aja, Kak." Wita memberikan lip balm agar bibir Raka terlihat sedikit basah setelah menghapus lipstik tadi.


"Ayo, Ted," ajak Raka meninggalkan Wita dan Reyhan di sana.


"Hai," sapa Reyhan pada gadis yang mengenakan gaun sebatas lutut berwarna silver itu. "Reyhan," ucapnya sambil mengulurkan tangan.


"Wita ...." Sudut bibir itu merekah, rona merah di wajah Wita terlihat samar.

__ADS_1


"Makasih batiknya," ujar Reyhan membuka awal percakapannya.


Senyum itu menghiasi wajah keduanya, berjalan bersisian dan memulai obrolan untuk dua orang yang baru satu jam lalu bertemu dan saling mencuri pandang.


__ADS_2