FRIENDS WITH BENEFITS

FRIENDS WITH BENEFITS
Mayat Wanita


__ADS_3

Alishia terkejut saat mendapat telepon dari rumah sakit bahwa Mirza kecelakaan. Ia pun tidak sempat berganti pakaian. Piyama bergambar stroberi yang hanya di tutupi oleh sweater tipis agak tubuhnya tidak mengigil kedinginan.


Sesampainya di rumah sakit Alishia langsung menuju ruangan Mirza. Ia memperhatikan wajah Mirza yang lebam-lebam terbaring lemah di atas tempat tidur.


Alishia menghampiri Mirza ia tidak kuasa untuk menahan tangisannya melihat kondisi suaminya yang tidak baik-baik saja. Selang infus yang menancap di tangannya, serta hidungnya terpasang selang oksigen.


Tubuh Alishia lemas. Ia memeluk tubuh Mirza dengan sangat erat, “Apa yang terjadi sama kamu Mas, siapa yang melakukan ini semua?” ucap Alishia di tengah tangisnya.


Gunawan yang baru saja masuk karena pintu tidak tertutup rapat, bisa masuk tanpa mengeluarkan suara. Hatinya ikut teriris mendengar tangis pilu Alishia. Ternyata sedalam ini cinta Alishia pada Mirza, Gunawan merasa tidak salah mendukung pernikahan mereka.


“Alishia,” panggil Gunawan.


Alishia terkejut mendengar suara seorang pria yang memanggilnya. Ia melepaskan pelukannya pada Mirza dan menengok ke asal suara. Ternyata itu om Gunawan, Ayah mertuanya. “Iya Pa,” sahut Alishia. Ia menghapus sisa air matanya.


“Ada seseorang yang berusaha mencelakai Mirza, Papa harus pergi sekarang untuk mencari tahu siapa pelakunya. Tolong jaga Mirza untuk malam ini, karena Papa belum memberi tahu Ibu dan Anggun.” Meskipun tanpa di suruh Gunawan yakin Alishia akan menjaga Mirza. Namun ia merasa harus berbicara seperti itu.


“Baik Pa, Papa hati-hati.” Gunawan tersenyum sebelum pergi meninggalkan ruangan Mirza.


Alishia duduk di kursi yang tersedia di samping tempat tidur Mirza. Ia menggenggam tangan Mirza yang terasa dingin, lalu memberikan sebuah kecupan singkat.


Jam di ruang rawat sudah menunjukkan pukul tiga dini hari. Alishia tidak bisa membohongi dirinya sendiri, bahwa tubuhnya butuh istirahat. Tanpa sadar ia tertidur dengan posisi kepalanya yang berada di pinggir tempat tidur menindih tangannya yang masih menggenggam tangan Mirza.


Mirza membuka matanya, hanya saja terasa silau. Ia kembali menutup kelopak matanya sejenak lalu membukanya kembali dengan perlahan. Seingatnya tadi ia kehilangan kesadaran di jalanan yang cukup temaram. Tapi kini semuanya terasa menyilaukan mata.


Tubuhnya terasa sakit semua, bahkan wajahnya terasa berdenyut akibat pukulan pria itu. Namun yang menarik perhatiannya yaitu kakinya yang terasa sakit luar biasa, ia teringat kejadian terakhir saat pria itu menggilas tulang keringnya menggunakan ban motor yang di kendarainya. “Sialan!” maki Mirza dengan suara pelan.


Ia menyibak selimut yang menutupi kakinya. Kini ia melihat dengan jelas kakinya tampak di bungkus dengan kain tebal, bukan hanya kain. Sepertinya dokter menggunakan penyangga untuk kakinya.


Mirza mengepalkan tangannya, ia benar-benar marah pada pria itu. Lihat saja setelah aku tahu siapa kamu, akanku balas lebih dari ini!

__ADS_1


Mirza menengok ke arah samping karena tangannya terasa kesemutan. Sebuah senyuman tampak jelas di wajah lebam-lebam Mirza. Ia merasa senang saat mendapati Alishia di sampingnya. “Kau pasti sangat kelelahan, maafkan aku,” ucap Mirza pelan dengan suara seraknya. Tangannya yang terasa kesemutan di biarkan begitu saja, ia rela menahan sakit demi Alishia. Mirza merasa takut jika menarik tangannya, tidur Alishia akan terganggu.


***


Tepat pukul delapan dokter masuk ke ruangan untuk memeriksa kondisi Mirza. “Selamat pagi Tuan Mirza,” ucap dokter.


“Pagi,” jawab Mirza singkat.


Suster dan dokter melakukan kegiatannya untuk memeriksa tubuh kondisi Mirza.


Suara pintu terbuka di ikuti dua langkah kaki yang tergesa menghampiri Mirza. “Mas kamu kok bisa kayak gini?” tanya Anggun dengan nafas yang naik turun. Ia tadi berlari karena ingin cepat sampai untuk melihat keadaan Mirza.


Suster menatap Anggun tidak suka, mereka sedang melakukan pemeriksaan tetapi Anggun membuat keributan. Di tambah seorang wanita paru baya yang tiba-tiba menyenggolnya karena ingin melihat pasien yang sedang di tanganinya. Dasar tidak sopan!


“Mirza kamu enggak kenapa-kenapa kan, Ibu khawatir banget setelah dapat kabar dari Papa, kamu ada di rumah sakit.” Dokter  hanya menghela nafas pelan.


“Maaf Ibu dan Mba tolong di harap tenang, kami sedang memeriksa pasien!” tegas suster yang sudah hilang kesabaran.


Mendengar suara keributan Alishia terbangun dari tidurnya. Ia mengangkat kepalanya yang terasa pegal. Ia sedikit terkejut saat melihat ibu mertuanya dan Anggun ada di sini. Alishia mengalihkan pandangannya untuk melihat ke arah Mirza. Ia tersenyum saat melihat Mirza yang tampak menampilkan sebuah senyuman. “Mas aku ke toilet sebentar,” pamit Alishia. Setelah mendapat persetujuan berupa anggukan kepala Mirza, ia pergi meninggalkan ruangan.


Sesampainya di toilet, ia membasuh wajahnya menggunakan air. Wajahnya terasa lebih segar dari sebelumnya. Setelah mengeringkan wajahnya Alishia kembali berjalan menuju ruang rawat Mirza. Ia melihat Gunawan berdiri di depan pintu.


Langkah Alishia di percepat. Ia kini berdiri di samping Gunawan. Pandangannya tertuju ke dalam ruangan. Di sana Anggun dan Ibu mertuanya tengah menangis, sementara pandangan Mirza tampak kosong menatap langit-langit kamarnya.


Alishia kini menatap Gunawan. Pria yang selalu terlihat berwibawa dan tampak tegas kini terlihat seperti tengah frustrasi. “Pa apa yang terjadi pada Mirza?” Alishia menunggu jawaban dengan tidak sabar.


“Keadaan kaki Mirza cukup parah, kemungkinan berjalan seperti sediakala membutuhkan waktu yang cukup lama,” jawab Gunawan.


Satu tetes air mata Alishia jatuh begitu saja. “Jadi Mirza harus duduk di kursi roda?” Gunawan mengangguk ia berjalan meninggalkan Alishia.

__ADS_1


Alishia masuk ke dalam ruangan. Ibu Mirza yang awalnya duduk kini berdiri dan menghampiri Alishia. “Dasar wanita pembawa sial!”


Alishia hanya diam terpaku, ia melihat Anggun yang keluar ruangan dengan suara tangis yang tertahan.


“Anggun tunggu Ibu,” ujar ibu Mirza. Ia memberikan tatapan tajamnya pada Alishia sebelum berlari meninggalkan Anggun.


Pintu ruangan rawat Mirza tertutup. Alishia berjalan menuju Mirza, ia mengusap lembut tangan Mirza. “Mas,” panggil Alishia. Namun Mirza membuang mukanya ke arah lain dan tidak ingin menatap Alishia.


“Pergi! Aku sedang ingin sendiri.” Mendengar suara Mirza yang terkesan dingin Alishia berjalan keluar dari ruangan dan duduk di kursi yang tersedia di depan ruang rawat Mirza.


Alishia terlalu syok dengan berita buruk ini. Ia tahu tidak mudah bagi Mirza untuk menerima semua kenyataan pahit ini.


Sudah dua hari Mirza bersikap dingin pada Alishia. Namun Alishia tetap di sana menjaga Mirza, karena semenjak hari itu Anggun tidak pernah datang kembali. Ibu mertuanya pun hanya mampir sebentar untuk melihat keadaan Mirza lalu pulang kembali. Gunawan selalu datang di pagi dan malam hari, untuk bergantian saat Alishia pulang untuk membersihkan tubuhnya.


Pagi ini Alishia sedang berusaha membujuk Mirza untuk makan. Karena sudah dua hari Mirza menolak jatah makannya, ia hanya meminum susu dan air putih. Itu pun hanya satu atau dua tegukan saja.


“Mas makan ya,” mohon Alishia seraya mendekatkan sendok makan berisi bubur.


Mirza hanya diam membisu tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Maniknya pun menatap lurus ke depan, tanpa memperhatikan Alishia yang sedang berbicara.


Alishia mengembuskan napasnya, ia menatap mangkuk berisi bubur yang masih utuh. Sebuah notifikasi muncul di ponselnya. Alishia mengernyitkan dahinya saat melihat sebuah pesan dari nomor baru mengirimkan sebuah foto.


Rasa penasaran itu muncul, Alishia membuka pesan tersebut. Jantungnya berdetak begitu cepat.  Air matanya turun begitu saja, refleks mangkuk dan ponsel yang ada di tangannya jatuh ke lantai.


Saat suara mangkuk jatuh ke lantai, Mirza menengok ke arah Alishia yang tampak syok. Ia melihat ke arah ponsel Alishia yang masih menyala menampakkan sebuah foto wanita dengan leher yang hampir putus serta tubuh bersimbah darah.


Mirza tidak mungkin salah mengenali, itu adalah Anggun. Ya Anggun istri pertamanya yang tengah mengandung anak-anak Mirza.


***

__ADS_1


Hallo,


Semoga kalian masih menantikan bab selanjutnya. Jangan lupa kasih dukungan lewat vote dan komentarnya. Terima kasih 🙏


__ADS_2