
Azzura menatap mata Raka yang sudah sendu melihatnya. Gadis itu baru kali ini mengizinkan seorang lelaki mengungkung tubuhnya. Tangannya masih menahan tubuh Raka, sedangkan dia merasa malu saat helaian piyama itu mulai terbuka.
Raka kembali menautkan bibir mereka, sesapan yang saling berbalas di pagi hari itu membuat keduanya menikmati kedekatan intim mereka tanpa ada satu orang pun yang mengganggu.
Tangan Raka perlahan naik menangkup satu dada Azzura, memijatnya pelan membuat tubuh Azzura menegang. Azzura menarik ciumannya, mata kekasihnya yang masih meminta itu kembali menautkan bibirnya pada bibir Azzura.
"Ka," lirih Azzura melepaskan ciumannya.
Raka menyusuri leher jenjang Azzura, hingga turun ke dada gadis itu dan berhenti tepat di puncak dada Azzura.
"Jangan di buka," ujar Azzura pelan.
Raka menghentikan gerakannya, membelai lembut rambut Azzura dan memberikan ciuman di pipi gadis itu.
"Nggak ... tanpa seizin kamu," ujar Raka lembut.
Ponsel Azzura bergetar di atas nakas, mendadak mereka menghentikan aktivitas bercumbu itu untuk sesaat.
"Didi ...," ujar Azzura merubah posisinya duduk dan bersandar lalu menempelkan jari telunjuk di bibirnya agar Raka diam.
"Didi ...."
"Gimana? anak gadis Didi belum ada laporan pagi ini," ujar Langit.
"Aku baru bangun," kekeh Azzura.
"Jadi, kabar apa yang kamu punya buat Didi."
"Pengerjaan interior sudah hampir selesai, foto yang kemarin Zurra kirim ke Didi itu tinggal kekurangannya aja," jelas Azzura dengan wajah serius.
Raka yang memperhatikan percakapan bapak dan anak itu sambil mengancingkan kembali kancing piyama Azzura lalu beralih kembali ke leher gadis itu.
Raka mengembangkan sudut bibirnya saat tangan Azzura memukul-mukul pundaknya karena merasakan geli lelaki itu mendaratkan beberapa kecupan di lehernya.
"Kamu sama siapa, Ra?"
"Hah? nggak— nggak sama siapa-siapa," ujar Azzura menjauhkan tubuhnya dari Raka. "Aku sendirian, Di."
"Rencana kapan pulang?"
"Pulang?" Mata Azzura menatap Raka, Raka menunjukkan tiga jari kepada Azzura. "Ti— tiga hari lagi, Di."
"Ya sudah, hati-hati di sana ya, oh ya ... kemarin Rey telpon Didi, dia bilang lagi di Jogja juga."
"Iya, dua hari lalu ada di sini, katanya ada kerjaan. Aku kira Didi yang kasih tau aku di sini."
"Nggak ... ya udah ya, Didi mau ke kantor, ingat hati-hati di sana," ujar Langit kembali berpesan.
"Siap, Didi Sayang," jawab Azzura lalu menutup teleponnya.
"Kenapa?" tanya Raka yang masih duduk di samping Azzura.
"Biasa nanya laporan," jawab Azzura merapikan pakaiannya.
"Hari ini kerja?"
"Iya, kamu aku tinggal nggak apa-apa, kan?"
"Sampai jam berapa?"
"Siang nanti balik, makan siang di luar ya," ujar Azzura beranjak dari tempat tidur.
"Ok ...." Raka memperhatikan Azzura memilih-milih pakaian yang akan dia kenakan.
"Yang itu aja," sahut Raka menunjuk kemeja baby pink dan celana pensil berwarna hitam.
__ADS_1
"Cantik, ya?" tanya Azzura kembali melangkah kembali ke arah Raka.
"Banget," jawab Raka tersenyum merengkuh pinggang Azzura yang berdiri di hadapannya.
"Mau sarapan di bawah atau di sini."
"Mau sarapan kamu sebenernya," ujar Raka masih menengadahkan kepalanya menatap Azzura.
"Tadi udah," kekeh Azzura. "Aku siap-siap dulu."
****
Waktu berlalu begitu cepat, sudah satu hari Raka menghabiskan waktunya bersama Azzura di Jogja. Sembari menunggu gadis itu bekerja, Raka menggunakan waktunya mencari tempat-tempat yang cukup indah untuk dia kunjungi. Seperti hari ini, Raka mempunyai ide menarik untuk menghabiskan malam tahun baru, berkemah di pinggir pantai.
"Dimana?" tanya Azzura saat dia baru saja sampai di hotel.
"Ada pantai yang menyediakan fasilitas berkemah, kayaknya seru."
"Iya dimana?"
"Nanti kita searching, Google Map ... mau nggak?"
"Di kemah? sempit-sempitan?"
"Nanti di kasih guling di tengah-tengah nya," goda Raka. "Ayo."
Mobil melaju membelah kota Yogyakarta siang itu, menuju perbukitan di timur kota Jogja, terkenal dengan nama Gunungkidul.
"Nanti kita melewati kota Wonosari, dari situ kita terus masuk ke pedesaan," ujar Raka. Ternyata di balik bukit ini ... orang Jogja nyebutnya gunung, banyak pantai-pantai eksotis yang nggak kalah keren dari pantai di Bali," jelas Raka dengan tatapan pokus dengan jalan berliku naik ke atas gunung itu.
Dua jam lebih perjalanan, akhirnya mereka sampai di pantai dengan lautnya yang biru, pasir yang halus berwarna putih kecoklatan, dan bertepatan dengan matahari yang mulai menjorok ke barat.
Semburat jingga itu nampak begitu indah, dua sejoli yang berdiri di bibir pantai itu saling mengeratkan genggaman tangannya.
"Udah di tanya sewa tendanya?"
"Nggak jadi camping di Gunung Bromo, malah kita camping di pinggir pantai, nggak nyangka ya," ujar Azzura.
"Iya, kayak aku sama kamu, nggak nyangka, kan?" Raka merangkul gadis itu, saling mendekatkan wajah mereka. "Aku benahi tendanya dulu," ujar Raka mengusap pipi Azzura.
Hari semakin gelap, ramai pengunjung di pantai itu membuat suasana semakin bernyawa. Lampu-lampu warung di pinggir pantai mulai banyak yang menyala.
"Sebagian mata pencaharian mereka selain menjadi nelayan ya itu, buka warung ... padahal pendapatannya bisa banyak bisa nggak, tergantung banyaknya pengunjung, atau hari Sabtu Minggu dan bisa jadi long weekend baru ramai seperti sekarang."
"Kamu tau banyak," ujar Azzura.
"Kurang lebih pasti seperti itu," kata Raka.
"Ka."
"Ya."
"Ini nggak pake lampu?"
Raka terkekeh, jelas saja di sini hanya menyewakan tenda tidak dengan lampunya. Raka menjawab hanya dengan menggelengkan kepalanya.
"Ka ... masa gelap-gelapan?" Ekspresi wajah Azzura semakin tidak enak.
"Nanti aku coba tanya, mungkin mereka ada lampu emergency."
Malam semakin larut, Azzura dan Raka menghabiskan waktu duduk di pinggiran pantai menikmati angin pantai di malam hari. Suara deburan ombak yang kian berkejaran seperti irama yang mengalun di telinga mereka.
"Sudah pukul setengah sembilan, ngantuk nggak?" tanya Raka.
Azzura mengangguk, Raka mengulurkan tangannya pada gadis itu untuk beranjak dari duduknya di atas pasir lembut itu.
__ADS_1
"Nggak ada lampu," rengek Azzura.
"Pake lampu di ponsel," jawab Raka.
"Aku nggak bisa tidur nggak ada lampu, Ka."
"Pake ponsel, Sayang ... kan ada aku," kata Raka membukakan tenda untuk Azzura.
Perubahan suasana di dalam tenda itu begitu terasa. Ini untuk kedua kalinya mereka tidur di dalam satu ruangan, apalagi ini adalah sebuah tenda yang hanya cukup diisi dua orang saja.
Sambil menepuk-nepuk bantal yang diambil oleh Raka di dalam mobil, Azzura merebahkan dirinya di atas kasur tipis berukuran hanya cukup untuk satu orang saja.
"Udah tau kan, rasanya camping kayak apa." Raka ikut merebahkan tubuhnya di sisi gadis itu.
"Tapi kan ini dadakan," ujar Azzura. "Kalo persiapannya lebih matang pasti lebih asik."
"Bener," kata Raka menoleh pada gadis itu lalu tersenyum, merubah posisi tidurnya hingga miring menghadap Azzura.
"Ka." Azzura ikut memiringkan tubuhnya menghadap Raka.
"Hhmm."
"Proyek resort-nya Didi ... di mulai dua bulan lagi, proposal yang kamu ajukan sepertinya lolos tapi—"
"Apa?"
"Kamu mengerjakannya dengan tiga orang atau kontraktor secara bersamaan."
"Nggak masalah kalo perjanjiannya jelas, seperti proyek tol kemarin."
"Kalo masalah itu sudah pasti jelas, tapi— janji sama aku kamu bakal bersikap secara profesional ya." Azzura menangkup wajah kekasihnya.
"Kenapa sih?"
"Kamu bakal kerja bareng dengan Rey dan satu perusahaan lagi dengan yang lain," jelas Azzura.
"Kok bisa? Rey? kan dia—"
"Didi bilang, Rey ingin mencoba kemampuannya diluar dari perusahaan yang Om Riza jalankan."
"Maksud kamu, Rey mendirikan perusahaan sendiri?" Azzura mengangguk.
Raka menghela napas panjang, dengan begini jelas Rey benar-benar menyiapkan rencanannya dengan sangat matang.
"Ya sudah nggak apa-apa, berarti Pak Langit punya alasan yang kita nggak tau, apalagi ini proyek besar dan di handle oleh beberapa diantaranya adalah perusahaan yang baru akan berkembang," tutur Raka.
"Iya, aku yakin Didi punya alasan kuat, dan aku rasa Kalla juga berpikir keras memberikan proyek itu pada kalian."
"Iya, selagi pengawasan semua yang pegang kendali Kalla, aku rasa pasti berjalan dengan baik." Raka mengecup kening Azzura."
"Ra ...."
"Ya."
"Lowbatt." Raka menunjukkan baterai ponselnya yang memerah.
"Duh, ponsel aku kan emang udah mati dari tadi, gimana dong, Ka ... masa gelap-gelapan."
Baru saja Azzura mengatakannya, ponsel Raka sudah tidak bernyawa. Raka semakin mendekatkan tubuhnya pada Azzura, menahan tengkuk leher gadis itu.
"Ada aku, aku nggak kemana-mana," ujarnya lalu menyesap bibir Azzura yang semakin hari menjadi tempat kesayangannya melabuhkan sebuah ciuman.
**enjoy reading 😘
Selamat Tahun Baru 2022, semoga di tahun 2022 ini kita menjadi pribadi yang lebih baik lagi ya, semua keinginan kita terealisasi ... Aamiiin
__ADS_1
Selamat berlibur yaaa 😘
"Pantai Watu Kodok, Gunungkidul, Yogyakarta 00.15 wib**"