FRIENDS WITH BENEFITS

FRIENDS WITH BENEFITS
Nasib Udin


__ADS_3

"Geser dikit ke kanan," titah Azzura pada Raka dan Udin yang sudah dua jam memindahkan sofa, meja, dan beberapa perabotan besar ke dalam rumah baru milik Azzura. "Nah, sip." Azzura mengacungkan jempolnya pada kedua lelaki yang sudah berpeluh keringat.


"Udah ya, Sayang. Capek aku." Raka menarik napas panjang dan terduduk di lantai sambil mengibaskan tangannya.


"Tinggal satu lagi, meja kerja kamu belum. Aku nggak mau letaknya kayak gitu, cuma tinggal di geser dikit."


"Iya, tapi nanti ya. Din, ambil minum Din ...." Napas ngos-ngosan Raka membuat Azzura tertawa.


"Kamu mindahin aku aja nggak ngos-ngosan," kekeh Azzura lalu mengusap keringat di kening Raka.


"Beda itu, Sayang."


"Hish ... ada anak di bawah umur loh di sini, Mbak." Udin mencebik melihat kehangatan anak majikannya dengan sang suami yang saling mengusap keringat itu.


"Di bawah umur gimana?" Raka tertawa lalu menerima segelas minuman dingin tepat untuk melepaskan dahaganya. "Makasih, Din."


"Dulu aja manggilnya Mas ... sekarang Din, Din, Din ... perih ya owooh," ujar Udin dengan wajah murung.


"Dulu kan pendekatan, Din." Raka tertawa lagi mendengarkan gerutuan Udin.


"Din, kalo mau pulang nggak apa-apa, udah selesai juga kan." Azzura merapikan bingkai foto pernikahannya.


"Ya ampun, bener banget ini habis manis sepah di buang," omel Udin. "Kasih makan dulu kek apa kek."


"Haha iya iya ... bawel banget, lagian di masukin ke hati." Azzura menggulir layar ponselnya memesan makanan pada aplikasi.


"Aku udah nggak mau Mbak masukin ke hati, sakit ... perih rasanya," ujar Udin sambil memukul-mukul dadanya.


"Tuh, aku pesenin makanan nanti kalo udah dateng makan aja, jangan tunggu kita ya," kata Azzura meraih tangan Raka yang masih tergelak karena Udin.


"Makan aja, Din. Kita mau— biasalah ya," ujar Raka mengedipkan matanya.


"Sana ... sana, jangan berisik ya, pamali kalo suaranya sampe keluar ruangan," sungut Udin.


Gelak tawa memenuhi ruangan, ekspresi wajah Udin memang penuh kelucuan. Sejak SMA, Udin sudah bekerja dengan keluarga Langit. Seorang yatim piatu yang ditemukan Jingga di panti asuhan yang sering Jingga dan Azzura kunjungi dulu. Karena melihat kesungguhan Udin bekerja, Jingga menawarkan Udin bekerja menjaga rumah mereka sekaligus supir untuk Jingga dulu.


Raka masih tertawa ketika dia dan Azzura memasuki ruang kerja miliknya. Ruangan itu belum terlalu rapi, sudut kanan terdapat meja gambar milik Raka, sedangkan rak buku masih terlihat kacau. Satu meja kerja terdapat laptop dan pigura foto pernikahan mereka.


"Aku beli lukisan buat kamu, besok baru mau aku ambil, semoga kamu suka. Nanti bakal aku taruh di sini," ujar Azzura menyentuh dinding di belakang kursi kerja Raka.


Raka menyandarkan bokongnya di tepi meja kerja, dia rengkuh pinggang Azzura. Rambut panjang milik Azzura diikat tinggi oleh pemiliknya. Tubuh istrinya itu terlihat lebih berisi dengan setelan celana pendek dan kaos ketat.


"Kamu gemukan," kata Raka sambil mengecupi lengan putih Azzura.


"Iya, aku ngerasa banyak sekali makan akhir-akhir ini. Ingat martabak yang kamu bawa kemarin, kamu kira pasti habis oleh Didi kan?"


"Iya, memangnya habis oleh siapa?" tanya Raka merapatkan tubuh Azzura pad tubuhnya.


"Sama aku," kekeh Azzura.


"Satu kotak?" Azzura mengangguk-angguk.


"Ya ampun, pantesan makin chubby," ujar Raka mencubit pipi istrinya. "Apalagi yang mau kamu beli buat isi rumah kita?" tanya Raka.

__ADS_1


"Nggak ada, udah semua ... perlengkapan masak dan urusan dapur sudah beres. Aku sama mima, udah lengkapi semua. Perabotan dan kebutuhan rumah juga aku rasa udah cukup. Dua kamar di atas pelan-pelan aja kita isi." Azzura melingkarkan tangannya.


"Kenapa nggak dari sekarang?"


"Karena belum tau jenis kelaminnya, cewek atau cowok," kata Azzura tersenyum.


"Oh ... nunggu penghuninya hadir dulu, baru kita isi?" Raka tersenyum seolah memahami apa yang di maksud oleh Azzura. "Gimana kalo sekarang, kita bikin lagi ... biar calon pemilik kamarnya cepet hadir," ujar Raka menyematkan helaian rambut yang jatuh di sisi telinga Azzura.


"Mau nya," ujar Azzura manja namun bibirnya berpaut manis pada bibir Raka.


"Gimana? setelah meja wastafel apa kita di meja kerja juga?"


Tawa renyah itu terdengar sampai ke ruang tengah dimana Udin sedang menikmati makan siangnya. Lelaki 32 tahun itu hanya bisa menggerutu dalam hati sambil tetap mengunyah makanan yang terhidang. Lambat laun tawa itu pun menghilang, dan semakin menjadi pula rutukan di hati Udin.


*****


Sore menjelang, Wita baru saja keluar dari gedung tempat dia bekerja. Rencananya weekend ini dia akan mengunjungi rumah baru Raka, menginap di sana sekaligus membantu Azzura mendekorasi rumah mereka, karena Wita sudah berjanji.


Berdiri di pelataran gedung, sebuah mobil sedan berwarna silver berhenti tepat di depannya. Senyum gadis itu mengembang.


"Jadi ke rumah Raka?" tanya Reyhan pada Wita yang sibuk memasang sabuk pengaman.


"Jadi, Abang nggak sibuk kan?" Gadis itu tersenyum begitu lembut.


"Nggak, semua kerjaan beres sebelum aku kesini," ujar Reyhan melajukan mobilnya menuju kediaman Raka.


"Nanti mampir ke kios martabak dan Thai tea sebelum masuk ke komplek perumahan mereka ya, Bang."


"Siap, Tuan Putri," ucap Reyhan.


"Azzura titip makanan? jangan-jangan ...." Reyhan menoleh pada gadis itu.


"Aku juga kira begitu, tapi nggak tau deh ... Kak Zurra masih santai-santai aja, nggak ada keluhan apa-apa."


"Mudah-mudahan ya," ujar Rey kembali melirik Wita.


"Kenapa sih?"


"Apa?"


"Dari tadi liatin mulu," ujar Wita salah tingkah.


"Perasaan Dek Wita aja," goda Reyhan.


"Ish ... nggak asik," cebik Wita.


"Mau yang asik?" Reyhan meraih tangan Wita di letakkan di atas pahanya sambil di genggamnya.


"Apaan coba," ujar Wita dengan wajah merona merah.


"Raka sudah tau?" tanya Reyhan lagi.


"Tentang apa?"

__ADS_1


"Tentang kita."


"Belum."


"Kalo dia tau, kira-kira gimana?"


"Gimana? gimana?" Gadis itu mengerutkan keningnya.


"Ya gimana? setuju atau nggak?"


"Menurut kamu?"


"Kalo nggak setuju, aku tetap maju terus pantang mundur," kata Reyhan mengusak-usak rambut Wita.


"Memang kenapa bisa berpikiran Kak Raka nggak setuju?"


"Em ... nggak ada sih, cuma— ya nggak setuju aja." Reyhan kelihatan bingung, karena selama dua bulan hubungan mereka terjalin Reyhan tidak pernah sedikitpun mengatakan yang pernah terjadi antara dia dan Azzura. Menurut Reyhan, cukup hanya dia saja dan beberapa orang yang mengetahuinya, tidak dengan Wita.


Mobil Reyhan berhenti di depan pagar kayu bergaya modern setinggi lebih dari satu meter. Seorang lelaki dengan mengenakan kaos berwarna kuning serta celana 7/8 membuka pagar dengan buru-buru.


"Kata Mbak Zurra tadi, mobilnya di masukkan aja Mas Rey ke dalam," ujar Udin.


"Oh iya, makasih Din," jawab Reyhan yang akhirnya masuk kembali ke dalam mobil untuk memarkirkan ke pekarangan yang lumayan cukup untuk dua mobil sekaligus.


Mata Udin bersitatap dengan Wita, gadis itu tersenyum ketika Udin menundukkan kepalanya tanda hormat pada gadis yang baru kali ini ditemuinya itu.


"Masuk aja, Mbak ... Mbak Zurra dan Mas Raka ada di ruang kerja. Em, tapi sebaiknya tunggu di ruang tamu aja, karena— maksud saya, tunggu di ruang tamu aja nanti juga keluar sendiri mereka," ujar Udin malu-malu.


"Iya ... makasih Mas, saya masuk dulu." Wita melangkah lebih dulu meninggalkan Reyhan.


"Mas Rey ... sstt," panggil Udin.


"Apa, Din?"


"Itu adiknya Mas Raka?"


"Iya, kenapa?"


Udin menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal sambil tersenyum. "Manis, ya Mas. Kok bisa kenal, Mas?" tanyanya.


"Bisalah," jawab Reyhan.


"Pas banget sama kriteria aku loh, Mas," kata Udin lagi.


"Masa?"


"Iya, Mas ... aku suka model-model kayak gitu, kayak Mbak Zurra, manis pinter ... pasti sama dengan adiknya Mas Raka, ya kan? Mas Rey, kok bisa kenal?" tanya Udin untuk kesekian kalinya.


"Pacar aku, Din." Reyhan melangkah meninggalkan Udin yang terpaku dengan wajah yang entah dapat diartikan seperti apa.


"Ya Allah, Din ... Din, nasibmu jelek banget, Din ... Din," gerutunya sambil menendang angin yang bahkan lewat di depannya pun terasa enggan.


**enjoy reading 😘

__ADS_1


salam sayang dari Udin Sedunia 🤭**


__ADS_2