
Mirza terbangun dari tidurnya saat mendengar suara tangis. Ia mengucek matanya sebelum melirik ke arah samping tempat tidurnya. Namun di sana Mirza tidak melihat keberadaan istrinya.
Mirza bangkit dari tidurnya, lalu berjalan mencari asal suara tangis Alishia. Ia keluar dari kamar, mendapati Alishia yang tengah berdiri di balkon.
Mirza sengaja berjalan dengan perlahan, lalu memeluk tubuh Alishia dari belakang. Ia juga menyandarkan kepalanya di pundak Alishia, “Sayang aku tidak suka melihat kamu menangis seperti ini terus menerus.”
Sudah tiga hari Mirza selalu mendapati Alishia menangis, bahkan sejak pulang dari rumah sakit Alishia menjadi pendiam. Tidak banyak bicara, bahkan jika di ajak bicara pun hanya di jawab seperlunya.
Mirza sudah kehabisan akal untuk menghibur Alishia, bahkan ia memberikan tawaran untuk liburan pun di tolak oleh Alishia. Mungkin terdengar tidak tepat liburan di kala berduka, tapi Mirza tidak ingin Alishia bersedih karena kepergian janinnya.
“Sayang,” panggil Mirza dengan suara lembut tepat di telinga Alishia. Tidak ada respons sama sekali dari Alishia.
Mirza semakin mengeratkan pelukannya, ia memberikan kecupan di pipi putih Alishia.
“Masuk yuk, angin malam tidak bagus untuk kesehatan,” ujar Mirza.
“Lepas!”
Mendengar suara dingin Alishia, Mirza melepaskan pelukannya. Ia menatap punggung Alishia yang berjalan meninggalkannya. Melihat Alishia Masuk ke dalam kamarnya, Mirza berjalan mengikuti. Saat membuka pintu Alishia sudah merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan mata terpejam.
Mirza berjalan dan duduk di samping tubuh Alishia. Ia menghapus sisa air mata Alishia menggunakan ibu jarinya.
“Aku tahu kamu bersedih atas kepergian calon anak kita, tapi aku mohon jangan berlarut-larut seperti ini. Aku tidak suka melihatmu bersedih, apalagi menangis. Jadi katakanlah padaku apa yang kamu inginkan agar bisa kembali ceria seperti sebelumnya?”
Mirza menunggu respons Alishia, ia tahu istrinya hanya pura-pura tidur. “Jawab sayang, aku tahu kamu belum tidur.”
Setelah menunggu beberapa menit namun tetap tidak mendapat jawaban dari Alishia, Mirza memilih menyerah. Ia mengecup kening Alishia, lalu bangkit dari duduknya dan berjalan keluar dari kamar.
Saat terdengar suara pintu yang tertutup Alishia membuka matanya. Air matanya mengalir, bibirnya mengatup rapat dengan sempurna. Ia tidak ingin ada suara tangis yang keluar dari bibirnya. Hatinya hancur kehilangan janinnya, ia juga takut akan kehilangan Mirza. Sekarang sudah tidak ada alasan lagi untuk Alishia tetap tinggal, karena kapan saja Mirza mengucapkan talak semuanya akan hancur dengan cepat.
Belum lagi Alishia takut ibu Mirza serta Anggun akan mendesaknya untuk segera meninggalkan Mirza.
***
Pagi itu Alishia sudah siap untuk berangkat kerja. Ya hari ini ia memutuskan untuk bekerja, rasanya bosan terus-menerus berdiam diri di rumah memikirkan hal yang tidak-tidak.
Setelah sarapan Mirza dan Alishia berangkat bersama. Selama di perjalanan mereka hanya diam membisu, tidak ada yang berbicara sedikit pun. Sesampainya di kantor pun Alishia menjaga jaraknya dengan Mirza. Ia sudah tidak peduli dengan orang yang menatapnya dengan tatapan jijik.
__ADS_1
Saat masuk ke ruangannya Alishia menatap heran pada Adam yang menyambutnya dengan sebuah senyum hangat. Alishia memilih tidak peduli dan hendak berjalan menuju meja kerjanya. Langkahnya baru saja hendak melewati Adam, namun pria itu malah berjongkok seraya mengeluarkan kotak berisi cincin yang di hadapkan pada Alishia.
“Alishia maukah kamu menjadi istriku?”
“Aku sedang berduka kamu masih saja membahas masalah itu, harus berapa kali aku bilang aku masih istri sah Mirza. Dan sampai kapan pun aku tidak akan pernah mau menjadi istri kamu, karena aku hanya akan menikah dengan pria yang aku cintai. Dan aku tidak mencintai kamu, sudahilah kebodohan ini aku lelah. Pergi!” ucap Alishia dengan nada kesal. Kesabarannya sudah benar-benar habis, tingkah gila Adam harus segera di akhiri.
Ada kilatan kecewa di dalam manik Adam, harga dirinya terasa di injak-injak. Ia berdiri dari posisi berlututnya, dan pergi tanpa sepatah kata pun. Rahangnya mengeras serta tangannya mengepal menahan amarah.
***
Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat, jam kerjanya sudah usai. Alishia membereskan meja kerjanya. Setelah semuanya selesai, ia berjalan menuju ruang Mirza.
Alishia menatap heran pintu ruangan Mirza yang sedikit terbuka, serta suara tangis seorang wanita. Dengan lancang Alishia mengintip, ia tidak bisa menutupi rasa penasaran.
Alishia terkejut saat melihat ibu mertuanya, bersama Anggun berada di ruangan Mirza.
“Cepat jawab Mirza kapan kamu akan menceraikan wanita pelacur itu?” tanya ibu Mirza.
“Aku tidak akan pernah menceraikan Alishia,” tegas Mirza.
“Apa kau ingin kehilangan calon anakmu lagi? Seharusnya kau bisa menjaga perasaan Anggun, jangan biarkan ia stres karena memikirkan perselingkuhanmu itu! ... Mama sudah memberikan bukti padamu kalau bukan Anggun yang menjadi penyebab Alishia keguguran, sekarang kau tunggu apa lagi. Jangan sampai kau menyesal karena kehilangan calon anakmu lagi!”
Setelah memasuki lift, Alishia menyandarkan punggungnya ke besi dingin yang akan mengantarkannya ke lantai dasar. Aku sudah menduga semua ini akan terjadi, sekarang apa yang harusku lakukan tuhan?
Setelah memastikan orang tuanya pergi dari ruang kerjanya, Mirza menelepon Alishia untuk mengajaknya pulang bersama. Namun panggilannya tidak di jawab. Mirza mengecek CCTV. Ternyata Alishia sudah tidak ada di ruangannya, ia mengecek CCTV depan ruangannya. Kepala Mirza rasanya mau pecah, rekaman itu menunjukkan Alishia yang mengintip pada pintu ruangannya.
Mirza hanya memandang layar komputer di depannya. Ia tidak tahu harus memilih siapa, yang jelas ia tidak ingin kehilangan Alishia. Dan ia juga tidak ingin kehilangan janin yang di kandung Anggun.
Mirza memilih berdiam di ruangannya, hingga berjam-jam. Tidak ada yang ia lakukan selain mengacak rambutnya sejak tadi, sebagai pelampiasan rasa frustrasinya.
Tidak terasa jam di ruangannya menunjukkan pukul sebelas malam. Akhirnya Mirza memilih pulang, ia harus membicarakannya dengan Alishia. Rasanya Mirza tidak ingin gegabah dalam mengambil tindakan, bagaimana pun juga Alishia istrinya. Dan Mirza sangat mencintai Alishia, ia tidak ingin kehilangan Alishia. Belum lagi si brengsek Adam tidak henti-hentinya mengejar Alishia. Kalau saja tadi ia ada di sana, rasanya Mirza ingin memukul Adam dengan membabi buta karena berani-beraninya melamar istrinya.
Mirza melajukan mobilnya sedikit lebih cepat dari biasanya, karena jalanan malam itu cukup lenggang.
Mirza menginjak pedal rem mendadak saat sebuah motor menghadang jalannya. Sedetik saja ia terlambat mengerem habis sudah nyawa pengendara motor tersebut. Ia keluar dengan amarah, “Seenaknya saja kau berhenti, memang ini jalanan nenek moyang mu!”
Mirza mengernyitkan dahinya saat melihat pengendara tersebut menggunakan penutup wajah.
__ADS_1
Serangan yang tiba-tiba dari pria tersebut berhasil membuat Mirza tersungkur. Tidak terima di serang secara mendadak Mirza memberikan pukulan pada pria tersebut.
Pria Tersebut terlihat tenang dan tidak merasakan sakit setelah mendapat pukulan dari Mirza.
“Pukulanmu terlalu lembek, seperti pukulan anak SD!”
Mirza berhasil terpancing dengan ucapan yang keluar dari mulut pria yang ia tidak tahu siapa namanya. “Brengsek kau!”
Mirza hendak memberikan pukulan pada wajah pria tersebut, namun dengan sigap pria itu menahan tangan Mirza dan tangan kanannya memukul perut Mirza hingga berkali-kali.
Tubuh Mirza jatuh ke tanah ia memegangi perutnya yang terasa sakit. Sial mengapa dulu aku tidak belajar bela diri!
Mirza menatap ke sekeliling berharap ada orang yang akan membantunya, tetapi jalanan malam itu benar-benar kosong. Tidak ada warung atau pun pejalan kaki, bahkan mobil atau motor pun tidak ada yang lewat.
Sepertinya Mirza harus melawan pria itu, ia tidak ingin kalah. Sepertinya pria itu bukan perampok, jika dia perampok mungkin sekarang mobilnya sudah di ambil pria itu. Namun pria itu malah memberikan tatapan mengejek.
Mirza bangkit dan hendak menghajar kembali pria itu, dia harus tahu siapa pria itu karena berani mencari keributan.
Melihat Mirza yang mulai mendekat pria itu malah berjalan dan lebih dulu memukul wajah Mirza.
Seolah tidak terima mendapat pukulan Mirza ingin membalas pukulan pria itu, namun lagi-lagi semua pukulan yang hendak Mirza layangkan selalu gagal. Kini Mirza jatuh ke aspal seraya memegang perutnya, pukulan pria itu cukup keras. Rasanya Mirza ingin memuntahkan isi perutnya.
Kepala Mirza terasa pusing karena berkali-kali ia mendapatkan pukulan yang cukup keras. Bahkan wajahnya pun babak belur, sudut bibirnya sedikit robek.
Pria itu berjongkok dan mencengangkan kerah kemeja Mirza. “Ini belum seberapa!”
Meskipun pandangannya mulai mengabur Mirza masih dapat memastikan bahwa pria itu mengeluarkan pistol dan menodongkannya tepat di kening Mirza. Mirza hanya bisa pasrah, tenaganya sudah benar-benar habis. Dan badannya pun terasa ngilu di semua bagian.
Pria yang menggunakan penutup wajah itu tersenyum, ternyata mengalahkan seorang Mirza sangatlah mudah. “Sepertinya aku harus mengakhiri hidupmu! ... Tetapi rasanya tidak puas melihat makammu saja, mungkin setelah keluar dari penjara nanti aku akan kembali ... Ya, seperti itu ide yang sangat brilian.”
Pria itu kembali memasukkan senjata apinya ke dalam jaket. Ia berdiri dan menaiki motornya. Tanpa rasa manusiawi pria itu melajukan motornya tepat di kaki Mirza yang terlentang.
“Aaaaa,” teriakan rasa sakit dari mulut Mirza di balas tawa oleh pria tersebut.
“Sampai jumpa kembali Mirza!”
Mirza meringis, sepertinya tulang kering yang terlintas ban motor pria tersebut retak. Sakitnya luar biasa. “Tolong,” teriak Mirza dengan sisa tenaganya.
__ADS_1
Mirza merogoh sakunya berharap menemukan ponsel miliknya untuk meminta bantuan. Namun Tuhan seperti sedang menghukumnya, Mirza tidak menemukan ponsel miliknya. Sepertinya tertinggal di mobil.
Sebelum pandangannya berubah menjadi gelap Mirza berusaha teriak meminta tolong. Meskipun yang keluar dari mulutnya seperti sebuah bisikan.