
"Aku suka kamu," ucap Azzura dengan pandangan mata penuh selidik. "Aku suka kamu dari awal kita bertemu," ujarnya lagi.
Raka menjauhkan tubuhnya, posisi mereka yang duduk di lantai dan bersandar di sofa membuat Raka menjaga jarak. Sesekali Raka menoleh ke arah Azzura yang menunggu jawaban dari Raka.
"Aku—" Raka terdiam, "aku mau kamu yakinin hati kamu dulu, Ra."
"Maksudnya?"
"Aku nggak mau kamu terluka karena aku seperti—"
"Jenna?"
Raka terdiam, hubungan dengan status memang membuatnya sedikit trauma, meninggalkan atau ditinggalkan itu sama saja sakitnya.
"Kenapa harus di bandingkan dengan Jenna, aku sama dia beda, Ka ... nggak sama, beda banget. Dia mungkin nggak bisa nerima kekurangan kamu, waktu kamu yang nggak ada buat dia, tapi aku beda ... secara pekerjaan dan kesibukan aja aku bisa ngerti kamu, kamu nggak nelpon satu minggu aja nggak masalah buat aku," terang Azzura.
"Karena itu ... karena itu aku nggak mau kamu ngerasa jadi terabaikan karena aku," ujar Raka.
"Lalu kita ini apa?" tanya Azzura sedikit emosi.
Raka lagi-lagi terdiam.
"Keuntungan pertemanan? kamu memanfaatkan hati aku untuk— untuk bisa masuk ke perusahaan Didi? aku bantu kamu tulus karena aku suka sama kamu, bukan karena aku memanfaatkan kamu, Ka."
Azzura meraih tasnya, hendak membuka pintu apartemen itu namun di cegah oleh Raka.
"Bukan itu maksud aku—" ujar Raka. "Aku nggak mau kamu—"
"Jenna? Jenna lagi Jenna lagi ... aku bilang aku bukan dia, stop membandingkan atau menyamakan aku dengan dia, atau jangan-jangan perlakuan kamu ke aku seperti ini memang karena dia ... ingat dia, iya?" Azzura membuka pintu itu lalu membantingnya.
Ya, Raka terperanjat pada perkataan Azzura. Tanpa sadar, betul Raka menyamakan Jenna dan Azzura meski kedua wanita itu jauh berbeda. Jenna yang lembut, Jenna yang manja, Jenna yang selalu meminta perlindungan padanya. Sedangkan Azzura, gadis mandiri, gadis periang, gadis yang selalu sesuka hatinya bisa bebas berbicara atau melakukan sesuatu apapun tanpa takut di larang.
Raka menyugar rambutnya frustasi, di bukanya kembali pintu apartemen itu berusaha mengejar Azzura kembali. Berlari menuju lift lalu menghentikan langkahnya tepat tidak jauh dari lobby. Raka melihat Azzura berdiri mematung memandangi dua orang yang dulu pernah membuatnya sakit hati.
"Bima ...," gumam Raka. "Ngapain anak itu."
"Hai, Ra ...," sapa Bima dengan Riska yang bergelayut manja di lengannya.
"Hai," jawab Azzura memandang dua orang itu dengan pandangan jengah.
"Sayang, ayo ...," ujar Riska manja menarik lengan Bima
"Iya, sebentar," ujar Bima menahan tangan Riska agar tak pergi dulu. "Sama siapa, Ra?" tanya Bima.
"Sayang, ngapain sih?" Riska mulai terlihat kesal.
"Urus pacar kamu, kayaknya udah nggak tahan," ucap Azzura sinis lalu melangkah pergi dari hadapan kedua orang itu.
Raka melangkah lebar menyusul Azzura, menahan tangan gadis itu.
"Ra."
"Apa? puas kamu! udah kayak jatuh tertimpa tangga pula ya kan ... puas kan? mendapat penolakan dari kamu, di banding-bandingkan dengan mantan kamu, setelahnya ketemu dua manusia busuk yang ternyata satu gedung apartemen sama kamu," ujar Azzura kesal menghempaskan tangan Raka dari lengannya.
__ADS_1
Azzura mempercepat langkahnya, membuka pintu mobilnya lalu bergegas meninggalkan pelataran apartemen Raka malam itu.
"Arrgh." Raga mengeram kesal, dia acak rambutnya frustasi.
"Bukan itu maksud aku, Ra ...," gumam Raka menendangkan kakinya seolah kerikil itu terbang jauh walau nyatanya hanya angin, sama seperti hatinya yang saat ini hampa kembali.
*****
Satu minggu sudah setelah kejadian malam itu, beberapa kali Raka mencoba menghubungi Azzura. Bahkan saat dia ada kepentingan di kantor Langit Kelana pun, Raka tidak mendapati gadis itu. Terdengar kabar Azzura sedang berada di Lombok bersama Kalla sedang melakukan survey proyek sebuah resort besar.
"Dimana katanya?" tanya Raka pada Teddy saat mereka baru saja keluar dari lobby kantor Langit Kelana siang itu.
"Info resepsionis sudah satu minggu di Lombok, kayaknya dia survey resort yang lo mau ikutin untuk projects kita selanjutnya, Ka," jelas Teddy.
"Oh."
"Resort besar, Ka ... kabarnya milyaran, masih semangat kan lo?"
"Iya lah, nggak mungkin gue lepas," ujar Raka.
"Gitu juga dengan Azzura, jangan sampe lo lepas," kata Teddy membuka pintu mobil.
Raka menghela napas panjang, lalu ikut masuk ke dalam mobil.
"Menurut lo gimana, Ted?"
"Menurut gue? yakin minta pendapat syaiton?" kekeh Teddy.
"Baru berasa ya, pernah nggak kepikiran oleh lo Jenna dulu kayak lo nungguin tiap hari tapi kabar yang di dapat juga kadang nggak muncul," ujar Teddy mengingatkan kembali.
"Kok ke Jenna, Ted ... kan kita udah setuju nggak nyinggung-nyinggung dia lagi," kata Raka melempar tisue basah ke atas dashboard.
"Iya juga ya, orangnya juga udah bahagia sekarang ... lagi hamil kali ya, Ka."
"Entah ... terus ini gue gimana?" tanya Raka geram.
"Datengin lah ... datengin ke rumahnya, besok Sabtu, lo gambling aja, ada sukur nggak ada ya udah," ujar Teddy.
"Nggak ada bagusnya emang kalo gue dengerin pendapat lo, Ted." Raka menggelengkan kepalanya.
"Ye ... di bilang gambling berarti antara dua itu jawabannya, ada dan nggak ada, coba aja dulu," ujar Teddy yang tidak henti-hentinya menekan klakson mobil di tengah kemacetan kota Jakarta siang itu.
Sabtu pagi Raka memberanikan dirinya mendatangi kediaman Langit Kelana. Waktu masih menunjukkan pukul delapan pagi, waktu yang pas menurut Raka jika harus berkunjung ke rumah rekan bisnisnya itu.
Gerbang rumah itu terbuka lebar, tiga mobil berjajar di dalamnya. Terdapat lapangan basket serta beberapa motor dari antik sampai ke modern pun ada, bisa di pastikan penghuni rumah ini suka sesuatu yang berbau klasik namun tidak ketinggalan jaman juga.
"Pagi," sapa seorang sekuriti ketika melihat Raka berdiri tidak jauh dari pos keamanan.
"Pagi, Mas ... Azzura nya ada?"
"Mbak Azzura setengah jam yang lalu pergi dengan Mbak Nami, tennis sepertinya ... mau tunggu atau gimana?" tanya sekuriti itu sopan.
"Pulangnya jam berapa biasanya?"
__ADS_1
"Mas, teman atau—"
"Siapa, Jo?" Suara Langit Kelana dari arah pintu depan rumah itu.
"Teman," jawab Raka.
"Teman Mbak Zurra, Pak," ujar Paijo pada Langit. Lelaki berumur 53 tahun itu melangkah ke arah Paijo dan Raka.
"Raka?"
"Pagi, Pak." Raka seraya menunduk memberi hormat.
"Cari Azzura?"
"Iya, Pak ... tapi sepertinya sedang keluar."
"Sabtu pagi biasa dia dan Nami, menantu saya main tenis di lapangan olahraga, di komplek ini juga ... tunggu aja, paling satu jam lagi pulang," terang Langit. "Masuk dulu lah ...."
"Iya, Pak." Raka mengikut Langit berjalan di belakangnya.
"Kamu ngerti mesin?"
"Gimana, Pak?"
"Kamu ngerti mesin nggak? dua hari lalu saya telpon bengkel buat benerin ini," ujar Langit menepuk-nepuk jok skuter lawas miliknya, "belum nongol juga sampai hari ini."
"Kenapa, Pak?" tanya Raka ikut menepuk stang motor itu.
"Biasalah ... kalo sebulan nggak dipake, dia suka ngadat," ujar Langit.
"Saya coba ya, Pak," kata Raka mulai mengotak atik skuter lawas milik Langit.
Lelaki yang tadinya berpenampilan rapih itu sudah berubah menjadi sedikit lusuh, dengan ditemani oleh Langit bak seorang mandor yang sedang mengawasi pekerjanya, lelaki tua namun masih terlihat tampan itu duduk tidak jauh dari alat-alat perbengkelan.
"Sudah berapa tahun skuter ini?" tanya Raka sambil mengusap peluhnya.
"Seumuran sama Azzura," ujar langit terkekeh.
"Kalau di jual lagi ini mahal, Pak."
"Jangan di jual, ini hadiah ulangtahun pernikahan untuk istri saya, dia suka yang antik-antik," ujar Langit.
"Siapa yang suka antik-antik," suara Jingga istri Langit pun terdengar, wanita paruh baya dengan paras kebulean itu terlihat masih sangat cantik. "Di minum dulu, Raka ... itu motor nggak akan di jual, kenangannya banyak," ujar Jingga.
"Pernah sekali waktu di pakai oleh Arkana, kenal kan? itu sepupunya Azzura ... dia suka banget motor ini ... ternyata waktu dia pakai, mogok ya, Di." Jingga melanjutkan ceritanya. "Kasian dia harus dorong motor itu sampai ke tempat pacarnya dulu ... jadi kalo mau di jual, Tante sayang banget, motor ini sering di pake buat ngajakin anak-anak waktu kecil keliling komplek, sebelum Didi mereka berangkat kerja," tutur Jingga memeluk pinggang suaminya.
"Kalo kenangan susah menghapusnya ya, Tante," seloroh Raka lalu tertawa.
"Susah banget, sampai-sampai menyamakan sesuatu yang baru dengan kenangan itu sendiri," ujar Azzura yang berjalan mendekati Raka dengan menenteng raket tennis di tangan kanannya.
enjoy reading 😘
Yang penasaran sama skuter lawas nya Pak Langit boleh deh dibaca lagi karya aku Langit Jingga dan yang pengen tau gimana Arkana capeknya dorong skuter lawas dari Bilangan Kuningan sampe ke Tebet kost nya Anwa bisa juga baca karya aku yang judulnya Kiss Me 🤭 Ke-uwuan yang HQQ bakal kalian temui juga di sana 😘
__ADS_1