
" Lo jadi balik sore ini, Ra?"
"Iya, Didi minta pulang segera, kacau proyek di Kelapa Gading, gue kena semprot," sungut Azzura.
"Nggak gue anter nggak apa-apa, kan?" tanya Kalla lagi.
"Hah?" Azzura tidak sengaja beradu pandang dengan Raka yang dari tadi hanya diam saja.
"Gue meeting, pesawat lo sore, cuma kan jarak Nusa Penida ke Bali, kalo gue harus bolak-balik โ"
"Biar aku yang antar, Kal," potong Rey.
"Uhuk ... uhuk ...." Teddy tiba-tiba saja terbatuk-batuk.
"Pelan-pelan, Ted," ujar Raka menepuk-nepuk punggung Teddy.
"Uhuk ... uhuk, kenapa nggak lo yang anterin sih," bisik Teddy.
"Meeting Ted, gue bisa apa," balas Raka dengan berbisik.
"Lo nggak ikut meeting Rey?" tanya Teddy.
"Ah iya ... meeting supplier ya," ujar Rey.
"Biar nanti di antar Bli Nengah aja," ujar Azzura melirik Raka lagi.
Sarapan pagi itu hanya di warnai dengan pembicaraan seputar proyek, sedangkan Azzura asyik dengan menu yang berada di piringnya. Sesekali dia berbincang-bincang dengan Rey, tatapan mata Raka tak lepas dari gadis itu. Ingin rasanya dia menarik Azzura hingga hanya berdua saja dengannya.
"Udah siap?" tanya Kalla. "Kalo udah kita jalan sekarang aja," ujarnya lagi.
Kalla, Rey dan Teddy beranjak lebih dulu, sementara Raka masih duduk di sana.
"Jadi, pulang mendadak?" tanya Raka.
"Iya," jawab Azzura masih mengacak-acak makanan yang ada di piringnya.
"Nggak bisa di tunda?"
"Kerjaan memanggil," jawab Azzura singkat.
"Oh ... ok, hati-hati," ucap Raka beranjak dari tempat duduknya meninggalkan Azzura dengan meninggalkan pedih di hati gadis itu.
Azzura hanya menatap hingga punggung Raka tak terlihat lagi dari pandangannya. Sebenarnya kepulangan Azzura bukan karena pekerjaan, hanya saja dia ingin melihat reaksi Raka dengan keputusannya untuk pulang lebih dulu, namun ternyata yang dia harapkan pun tidak sesuai dengan yang dia pikirkan semalam, dan lagi-lagi Raka hanya mementingkan ambisi dan ego-nya saja.
"Kenapa nggak lo anterin?" tanya Teddy saat dia mempunyai kesempatan menanyakan hal itu pada Raka.
"Gue bisa apa, Ted. Ini meeting penting, gue juga nggak enak sama Kalla, dia percayain proyek ini sama kita masa gue segampang itu tinggalin," kata Raka menahan marahnya.
"Setidaknya lo bisa ngobrol sebentar kek sama dia. Gue kadang nggak habis pikir sama lo, Ka." Teddy menggelengkan kepalanya. "Ini sekarang dia udah berangkat?"
"Udah nyeberang ke Bali kayaknya," kata Raka.
"Nggak ada niatan nyusul?"
__ADS_1
"Ted ... please, lo tau posisi gue. Gue juga harus profesional,' ujar Raka.
Teddy menghela napasnya, Raka benar dia harus profesional.
"Udah lah, biar kan dulu aja, sampai Jakarta nanti gue urus." Raka lalu menghampiri Kalla dan Rey yang berdiri tidak jauh dari mereka.
"Gue cuma mau ingetin, takut lo di tikung," ujar Teddy menyamai langkah Raka.
*****
Tiga hari berlalu, Raka dan Teddy sudah kembali lagi ke Jakarta dan pagi ini mereka langsung menemui Langit Kelana.
"Ka ...." Teddy salah tingkah saat seorang perempuan cantik masuk ke ruangan Langit.
"Di tunggu sebentar, ya ... karena Pak Langit masih perjalanan kemari," ujar Siti assisten Azzura sekaligus merangkap sekretaris Langit yang membawakan dua cangkir teh hangat.
"Iya, makasih," jawab Raka menerima secangkir teh hangat.
"Namanya Siti?" tanya Teddy.
"Iya, Pak ... ada yang bisa saya bantu?" tanya Siti.
"Bisa ... bisa banget," ujar Teddy.
"Gimana, Pak ... Bapak butuh sesuatu?"
"Aku butuh tangan kamu?" tanya Teddy dengan wajah serius.
"Biar cinta aku nggak bertepuk sebelah tangan," ujar Teddy dengan alis yang dia turun naikkan.
Wajah Siti merona merah, lalu memutar tubuhnya dengan sudut bibir yang mengembang.
"Anjriitt ... lo pagi-pagi udah bikin sekretaris orang pingsan," ujar Raka tertawa.
"Haha ... gila, cantik banget Ka. Gue harus bisa dapetin nomer telponnya." Tekad Teddy.
"Niat banget lo,"
"Selagi jalan ke Roma nggak berliku, pantang Teddy menyerah," kata Teddy.
Satu jam lebih pembahasan proyek dengan Langit Kelana selesai juga. Ada perasaan lega pada hati Raka, karena Langit mempercayakan proyek padanya dan Kalla.
"Oh ya Ka," panggil Langit saat Raka sudah berada di ambang pintu.
"Minggu nanti, gimana kalo kita skuter-an," ajak Langit. "Pake skuter yang di rumah aja, gimana?"
"Siap, Pak ... saya pasti datang," kata Raka meyakinkan dan pamit undur diri pada Langit.
"Ted," ucap Raka menepuk pundak Teddy yabg sedang berbincang dengan Siti.
"Udah?" tanya Teddy
"Udah ... oh ya, tolong cariin gue skuter," kata Raka..
__ADS_1
"Skuter?"
"Vespa, Ted ... Vespa, tau kan?"
"Sebentar, gue pamit dulu sama calon ya," kata Teddy melangkah kembali ke meja Siti dan berbincang sebentar.
"Dapet?" tanya Raka.
"Dapet dong, jangan panggil Teddy kalo nggak dapet," ujarnya yang berhasil mendapatkan nomer ponsel Siti. " Jadi gimana? Vespa? buat kapan? lo dadakan banget."
"Vespa buat hari Minggu, cari yang masih bagus mesinnya ya ... berapa aja harganya gue beli," kata Raka.
"Buset ... gitu dong, deketin bapaknya dapet anaknya," kekeh Teddy.
"Lo liat Azzura?"
"Nggak, tapi kata Siti dia ada di ruangannya, mau kesana?"
"Nggak, biar aja. Biar dia dengan waktunya."
"Tumben tahan lo, Ka ... udah seminggu ini." Lagi-lagi Teddy terkekeh.
*****
Minggu pagi, Raka sudah berada di kediaman Langit. Lelaki dengan sweater coklat dan jeans robek di bagian lututnya serta sepatu kets ala anak skuter itu sudah berdiri di antara tanaman yang sedang Jingga sirami.
"Memang mau kemana?" tanya Jingga pada Raka yang sedang mengamati tanaman keladi yang katanya berharga mahal.
"Ke komunitas Vespa, Tante," jawab Raka.
Langit muncul dengan penampilan bak seorang skuter. Sweater berwarna krem, celana jeans dan sepatu kets seperti layaknya anak muda jaman sekarang.
""Didi mau nge date bareng Raka," kekeh Langit. "Ah, Didi lupa ...." Lalu dia memanggil Azzura meminta untuk diambilkan topi pet yang biasa dia pakai. "Makasih ya," kata Langit menerima topi dari Azzura.
Mata dua orang yang sekarang statusnya menggantung itu pun saling berbalas. Azzura mengerutkan keningnya, sementara Raka tersenyum tipis.
"Ayo Ka, kita jalan," ajak Langit. "Wah, kamu sampe beli motor baru," kata Langit. "Vespa keluaran tahun yang sama dengan punya saya, ya," ujar Langit mengitari Vespa yang Raka beli. "Udin ... bawa kesini," titah Langit pada Udin agar membawa Vespanya mendekat.
"Tante, kita jalan dulu," pamit Raka. "Ra ... jalan dulu," ujarnya menatap Azzura dengan tersenyum.
Melepas kepergian Raka dan Langit, Jingga melirik Azzura, seakan menunggu jawaban dari putrinya.
"Mima suka loh sama Raka, ngingetin Mima sama Didi waktu muda ... manis," ujar Jingga membuat Azzura tersenyum. "Tapi Didi dulu mudanya kelewat cuek sih, sukanya maksa ...," kenang Jingga.
"Maksa tapi suka," cebik Azzura meraih selang air lalu menyirami rumput hijau di pekarangan itu.
"Iya dong, Didi itu cinta pertamanya Mima," ujar Jingga.
"Pantesan bucin," kekeh Azzura.
"Em ... nggak mau cerita sama Mima, ada apa dengan kalian berdua?" tanya Jingga yang membuat Azzura menoleh padanya.
enjoy reading ๐
__ADS_1