
"Sudah berapa lama?" tanya Raka pada Reyhan saat menikmati seduhan teh hangat yang di sajikan oleh Udin sebelum lelaki itu pulang ke kediaman Langit Kelana.
Reyhan meletakkan cangkir teh yang baru saja dia sesap. " Kurang lebih dua bulan, maaf aku sudah lancang dan tanpa ijin terlebih dahulu."
Raka menyipitkan matanya, jari-jarinya bergerak seperti menghitung mundur awal pertemuan Wita dan Reyhan di acara pernikahannya beberapa bulan yang lalu.
"Aku nggak permasalahin itu, cuma aku berharap kamu benar-benar menunjukkan keseriusan dan itikad baik pada Wita."
Reyhan tersenyum, menatap ke arah Raka. "Kalo itu, kamu bisa pegang janji aku, Ka."
"Oke ... kita sudah berada dalam kesepakatan," ujar Raka menyunggingkan senyuman.
*****
"Jadi, sudah jadian?" tanya Azzura, sekilas dilihatnya wajah Wita yang merona tersipu malu. "Gerak cepat rupanya Rey."
Wita masih tersenyum malu, masih di susunnya martabak manis pesanan Azzura ke atas piring. Sesekali dia menghisap Thai tea yang dia bawa untuk Azzura.
"Di tanya malah senyam senyum," goda Azzura. "Udah jadian?"
"Kurang lebih dua bulan," jawab Wita menggigit bibirnya.
"Hah? serius? berarti dua bulan setelah pernikahan aku?" Dan Wita hanya mengangguk malu.
Ya, umur pernikahan Raka dan Azzura sudah menginjak empat bulan. Sejak mereka menikah, hanya bertemu Wita beberapa kali. Itu pun Wita tidak pernah menceritakan kehidupan pribadinya, hingga saat Raka menawarkan apartemennya agar di tempati oleh sang Adik.
"Kamu mau pindah ke apartemen kapan? Menurut aku benar kata Raka, daripada nge-kost mending nunggu apartemen Raka lumayan uang kost bisa buat di tabung."
"Iya Kak, mungkin bulan depan biar habiskan satu bulan ini, lagian harus beres-beres juga," ujar Wita.
"Semua di sana masih komplit, Ta ... kamu cuma bawa badan aja. Eh sebentar ...." Azzura menyembulkan kepalanya melihat ke arah depan tempat dimana Raka dan Reyhan tengah berbincang. "Berarti kalian LDR dong?"
Lagi-lagi Wita mengangguk, sudah dua bulan mereka berpacaran pertemuannya dengan Rey pun bisa di hitung dengan jari, kecuali satu bulan lalu karena keberadaan Rey lebih banyak berada di Jakarta.
"Bulan ini baru bertemu satu minggu belakangan, karena Abang ada kerjaan di Jakarta," terang Wita.
"Abang?" tanya Azzura sambil mengulum senyum.
"Iya, Abang Rey," ujar Wita lagi.
"Sweet banget sih. Eh, tapi bener juga dia memang harus di panggil Abang. Tapi kasian juga kalian harus jauh-jauhan ya. Nggak ada kepikiran buat ikut pindah ke Palembang, Ta?"
"Belum tau, Kak. Sampai saat ini sih masih dalam tahap jalani aja dulu." Wita mengusap tangannya dengan tisue basah.
__ADS_1
"Iya juga sih, tapi jangan lama-lama Ta. Jarak umur kalian sekitar enam tahun, kan. Pasti suatu saat Rey menuntut keseriusan," ujar Azzura menatap adik iparnya. "Ayo, ke depan mereka udah nungguin martabak, pasti."
*****
"Jangan lupa pesanan aku ya," ucap Azzura pagi itu saat mengantarkan Raka menuju mobil yang terparkir di pekarangan rumah mereka.
"Iya," jawab Raka.
"Apa?"
"Nasi uduk kebon kacang, pulang kerja," ujar Raka yang masih mengingat jelas pesanan sang istri.
"Betul, suami aku pinter," ucap Azzura memeluk tubuh suaminya.
"Hari ini pembantu baru jadi datang?" tanya Raka sebelum masuk ke dalam mobilnya.
"Jadi, makanya aku nggak kerja dulu biar bisa kasih arahan ke dia," ujar Azzura.
"Yang bawa mima?"
"Iya, kenapa?"
"Ck, aku tuh nggak begitu suka kalo ada orang. Mending yang pulang pergi aja, Sayang. Kalo aku keluar kota kan kamu bisa ke tempat mima," ujar Raka.
"Emang kenapa kalo ada orang lain di rumah kita?" tanya Azzura dengan wajah bingung.
"Ish, kirain apa. Berarti dia kita minta pulang pergi aja?"
"Iya kalo bisa, rumahnya jauh nggak?"
"Nggak tau, tapi nanti aku bicarakan aja lagi sama dia. Buruan jalan, tambah macet nanti." Azzura mencium pipi suaminya.
"Yang ini belum," ucap Raka menunjuk bibirnya.
"Genit," kata Azzura tapi tetap saja dia tautkan bibirnya pada bibir Raka, meluumatnya sebentar hingga dia harus menarik dirinya agar Raka sadar jika mereka ada di pekarangan rumah. "Kebiasaan," ujar Azzura mengusap bibir suaminya.
Baru saja Raka memasuki ruang kerjanya, Teddy datang dengan wajah sumringah.
"Wuih, wajah lo cerah Ted." Raka meletakkan tas kerjanya lalu menatap wajah sepupu, sahabat serta rekan kerjanya itu. "Jangan-jangan Siti udah lo—"
"Nggak lah, gila apa gue. Masih segel, nggak jadi kan waktu itu lo bak malaikat yang menjaga kekasih hati gue." Teddy kembali teringat peristiwa satu bulan lalu saat dia dan Siti berada di Nusa Penida.
"Makasih lo sama gue," cibir Raka.
__ADS_1
"Hehe," kekeh Teddy. "Makasih ya, lo syaiton yang baik."
"Jadi apa ceritanya, sampe muka lo begitu bentuknya," ujar Raka menyandarkan punggungnya pada kursi.
"Semalem, gue ketemu bapaknya Siti. Selama ini kan yang gue tau bokapnya dingin banget. Setiap ke rumah dia, senyumnya aja kecut. Lo bayangin hubungan gue sama Siti udah berapa lama, baru kali ini bapaknya senyum, baik banget ke gue."
"Terus?" Raka mulai membuka laptopnya sambil mendengarkan cerita Teddy pagi itu.
"Karena gue liat moodnya bagus, jadi gue memberanikan diri."
"Ngelamar?"
Teddy lalu kembali tersenyum. "Iya, gue nggak mau melewatkan kesempatan itu. Gue bilang, gue sama Siti sudah dalam tahap menjalin hubungan yang serius, kalo bapak membolehkan dan merestui, saya mau melamar Siti jadi istri saya. Gitu Ka, dan lo tau jawabannya." Teddy bercerita begitu menggebu.
"Lo di terima dong."
"Iya, dan gampang banget dia bilang, saya restui kamu. Tapi ya lo tau lah, janji seorang lelaki ketika melamar wanita untuk dinikahi, berjanji membahagiakan, ya kan."
"Makanya Ted, lo harus berubah lebih baik lagi. Berat jadi Siti itu, dia harus menahan hati dan harus legowo menerima lo yang notabene nya mantan Casanova, mana udah nggak perjaka lagi."
"Sialan lo!"
"Loh, bener dong gue. Siti, cewek yang mau nerima lo apa adanya. Dia juga harus menahan rasa sakit hatinya dengan masa lalu lo. Cewek kayak gini harus benar-benar lo pertahankan," ujar Raka dengan ekspresi wajah serius. "Dan gue, Azzura adalah orang pertama yang akan melindungi dia, kalo lo macem-macem, ngerti nggak lo!"
"Buset, kenapa jadi lo lebih galak dari bapaknya. Tapi gue serius Ka, gue juga capeklah. Gue juga nggak mau yang aneh-aneh, ketemu Siti aja gue udah bersyukur banget, kayak ngerasa ini udah saatnya gue insaf."
"Casanova insaf," kekeh Raka.
"Terus, Azzura udah hamil?"
"Dia belum cek, katanya santai aja. Dia nggak mau terlalu berharap banyak, gue juga bilang jalani aja. Kalo belum di kasih ya di coba terus," ujar Raka mengerlingkan matanya.
"Halal ye kan, jadi beda. Kapan aja mau, tinggal hajar," kekeh Teddy. "Eh tapi, nggak ada tanda-tanda?"
"Nggak sih, cuma dia belakangan sering banget makan, kadang jam 11 atau sudah tengah malem tiba-tiba minta keluar cari makanan," ujar Raka mengusap wajahnya. "Gue serem kalo tengah malem keluar."
"Berasa kek mau ketemu Suzanna, ya?" Teddy bergidik ngeri.
"Duh, itu yang gue takutin Ted. Bokir, satenya 100 tusuk, kebayangkan lo pas lo noleh yang lo liat apa. Astaga, merinding gue." Raka mengusap-usap tengkuk lehernya, terasa bulu kuduknya berdiri.
"Ih, serem. Tapi harusnya lo curiga sih Ka, kan nggak normal tuh. Makan tengah malem, terus minta yang aneh-aneh. Ada baiknya, lo beli testpack sore ini."
Raka mengangguk angguk, "bener juga, makasih ide lo, Ted. Sekarang lo balik ke ruangan lo, kita masih banyak kerjaan," usir Raka sambil mengibaskan tangannya menyuruh lelaki berkulit putih itu pergi dari ruangannya.
__ADS_1
Baru saja Teddy meninggalkan ruangan itu, sebuah pesan masuk pada ponsel Raka. Menggulir layar ponselnya, dan dia di buat tercengang dengan sebuah poto yang di kirimkan oleh Azzura pagi itu.
enjoy reading 😘