
Pesawat baru saja mendarat di Bandar Udara Depati Amir. Raka dan Azzura berjalan berdampingan berpegangan tangan satu sama lain. Senyum mereka mengembang, saat seorang gadis melambaikan tangannya.
"Kak," panggil Wita dengan lambaian tangan.
"Apa kabar?" tanya Wita menautkan kedua pipinya pada Azzura.
"Baik, Wita apa kabar?"
"Baik, Kak."
"Bawa," kata Raka memberikan dua paper bag pada Wita.
"Dih, mulai," balas Wita.
"Ini pesanan kamu, yang satunya buat ibu sama ayah. Ayah gimana?" tanya Raka sambil berjalan ke parkiran mobil.
"Ayah sudah baikan, tapi udah jarang ke kantor," kata Wita. "Proyek juga udah nggak banyak kayak dulu."
"Udah nggak apa-apa, yang penting kan masih jalan perusahaan ayah."
Butuh waktu sekitar setengah jam untuk sampai di rumah Raka. Bangunan bergaya minimalis modern itu begitu terlihat nyaman.
"Ayo, turun," ajak Raka pada Azzura.
"Sebentar."
"Kenapa?"
"Deg deg an," ujar Azzura tersenyum samar.
"Biasa aja, orang tua aku sama kayak orang tua kamu, nggak kaku. Ayo." Raka mengulurkan tangannya membantu Azzura turun dari mobil.
"Rumahnya kamu yang desain?" tanya Azzura.
"Bukan, tapi ayah."
"Bagus." Azzura mengedarkan pandangannya.
"Silahkan masuk." Suara renyah yang datang dari dalam rumah itu membuat Azzura menoleh.
Wanita dengan tubuh tidak terlalu tinggi, paras yang manis mirip sekali dengan Raka itu pun tersenyum manis menerima kedatangan anaknya.
"Ayo, masuk ... anggap rumah sendiri. Kenalkan saya Citra, ibunya Raka. "Jangan malu-malu, ya." Citra mengulurkan tangannya pada Azzura di sambut Azzura dengan mencium punggung tangan wanita itu.
"Sudah sampai?"
Suara bariton itu semakin mendekat, lelaki dengan perut yang sedikit buncit, kumis yang sedikit tebal serta kain sarung yang melilit di bagian pinggang hingga ke bawah muncul menemui Azzura dan Raka.
"Delay tadi, Yah. Ayah sehat?" Raka mencium punggung tangan ayahnya diikuti oleh Azzura yang masih malu-malu.
"Ayah sehat, ini Azzura anaknya Langit Kelana? sudah besar," kekeh Pandu. "Dulu, tahun berapa Om lupa, kamu masih SMP kalo nggak salah. Ah, pasti kamu lupa kita pernah ketemu di kantor ayah kamu."
__ADS_1
"Sudah lama sekali, Om. Zurra sudah lupa," ujar Azzura tersenyum.
"Ayo, kita makan dulu ... pasti lapar kan? Wita ... si Mbak udah siap?" Citra memanggil Wita untuk melihat kesiapan di meja makan.
"Sudah, Bu ... makan yuk, Wita laper." Menarik tangan Azzura untuk mengikutinya ke ruang makan.
"Ibu masak apa?" tanya Raka merangkul pundak Ibu Citra.
"Sop iga kesukaan kamu, terus ibu buatin es buah buat kamu. Azzura ayo, jangan malu-malu."
Kesan pertama di terima di keluarga pasangan adalah hal pertama yang Azzura rasakan. Selama ini menjalin hubungan yang selalu kandas dan tidak pernah serius.
Tidak jauh beda dengan keluarganya, keluarga Pandu Wijaya ternyata keluarga yang humoris. Azzura kira selama ini, keluarga Raka adalah keluarga yang kaku mengingat Raka bukan seorang lelaki yang banyak bicara.
"Ka, Ibu sama Ayah hari ini ada acara—"
"Syukuran anaknya Kak Jenna, Kak ...." seloroh Wita.
Tatapan Raka mengarah pada Azzura yang duduk di hadapannya. Wita yang tidak sengaja berkata pun merasa tidak enak.
"Jadi sore nanti Ibu tinggal ya. Habiskan makan kalian, Zurra istirahat saja dulu."
"Iya, Tante." Azzura meneguk air putih yang berada di sisi kanannya.
"Aku tinggal sebentar ya, mau telpon Teddy," kata Raka lalu beranjak meninggalkan anggota keluarganya dan Azzura di ruangan itu.
*****
Meraih ikat rambut yang berada di sisi bantalnya, mengikatkan rambut panjangnya, Azzura beranjak dari tempat tidur itu, setengah gontai dia melangkah membuka pintu kamar.
"Lama banget tidurnya," ujar Raka yang langsung saja memasuki kamar itu.
"Eh." Azzura menengok ke kanan dan ke kiri, alih-alih takut jika ada yang melihat Raka masuk ke dalam kamarnya.
"Ibu, ayah sama Wita baru aja pergi." Raka merebahkan tubuhnya di kasur berukuran single itu.
"Kamu nggak ikut? ke rumah Jenna, kan? bukannya dia tinggal di Jakarta, ya?" tanya Azzura yang sudah duduk di pinggiran tempat tidur.
"Usaha suaminya juga ada di sini," kata Raka.
"Oh ... terus kenapa nggak ikut?"
"Nggak mau, nggak di undang," ujar Raka mendekat memeluk tubuh Azzura dengan kepala Raka menghadap perut gadis itu.
"Aku mau mandi, ajak aku jalan-jalan dong," ujar Azzura melepaskan tangan Raka yang melingkar.
"Di sini aja, nggak usah jalan-jalan," kata Raka kembali mengeratkan pelukannya.
"Ka," rengek Azzura. "Ayo, lagian kamu tidur di kamar aku, apa kata ibu nanti."
"Paling di nikahin." Raka terkekeh.
__ADS_1
"Maunya."
"Mau dong," ujar Raka yang akhirnya mengubah posisinya menjadi duduk di samping Azzura.
"Mau nggak?" tanya Raka.
"Apa?"
"Nikah, yuk," ujar Raka menyematkan juntaian rambut ke balik daun telinga Azzura.
"Ini ngajakin nikah, nggak romantis banget,", kekeh Azzura mengatup mulutnya takut terdengar ke luar.
"Aku serius loh, ngajakin kamu ke sini bukan cuma ngenalin kamu ke ibu sama ayah, tapi sekalian minta restu mereka untuk kita."
Mata Azzura menatap tidak percaya apa yang dia dengar, bukan hanya keseriusan di netra itu yang dia tangkap namun juga ketulusan hati Raka.
"Aku sudah dapat izin dari Didi Langit," ujar Raka lagi.
"Hah?"
"Didi kamu sudah tau hubungan kita, dan dia nggak mau aku hanya setengah hati menjalani ini. Dia minta aku nikahi kamu dan aku terima dengan senang hati, itu lah kenapa kita sekarang berada di sini, bertemu calon mertua kamu."
"Didi tau?" Mata Azzura berkaca-kaca, gadis itu belum juga menceritakan keseriusan hubungan mereka pada Langit namun lelaki paruh baya itu sudah memberi restu.
"Iya, jadi apalagi yang kita tunggu." Raka mengusak kepala Azzura.
"Ah, aku terharu," ujar Azzura memeluk Raka.
Raka membalas pelukan itu sama eratnya, akhirnya lelaki itu berani dan memantapkan hatinya memilih Azzura sebagai tempat melabuhkan cinta terakhirnya.
Ciuman lembut pun Raka berikan pada Azzura, ciuman yang saling berbalas itu seakan melampiaskan rasa bahagia di hati mereka. Raka mendorong tubuh Azzura perlahan, mata mereka saling menatap, tangan Raka sudah menyusup masuk melalui celah kaos yang Azzura kenakan.
"Kamu nggak jadi ngajakin aku jalan-jalan," ucap Azzura lembut sambil melingkarkan tangannya di leher Raka.
"Kamu mau jalan-jalan di sini atau di luar." Sudut bibir Raka mengembang.
"Ka," lirih Azzura saat tangan Raka sudah berada di puncak dadanya.
Raka tersenyum, lalu menyesap bibir Azzura kembali. Satu tangan Raka membawa kedua tangan Azzura ke atas kepala gadis itu. Bibir Raka menyusuri leher Azzura, membuat suara lembut Azzura lolos begitu saja. Kaos yang seharusnya menutup bagian dada Azzura kini sudah tersingkap.
Mata mereka sama-sama sayu, tangan Raka masih diatas dada berbalut renda berwarna coklat.
"Lepas, ya?" Azzura hanya diam, menolak pun tidak.
Dalam hitungan detik, pembungkus dada itu terlepas dari pengaitnya. Raka kembali mencium bibir Azzura, memainkan lidahnya di sana. Ciuman yang semakin liar itu kembali turun, tubuh Azzura meremang. Gadis itu hanya bisa menikmatinya.
"Kaaaak ... Kak Raka, ini aku bawain empek-empek kesukaan kakak, yang di simpang empat itu loh."
Suara Wita terdengar begitu nyaring, semakin lama semakin terdengar jelas.
enjoy reading 😘
__ADS_1