
"Cerita apa? nggak ada yang mau Zurra ceritain," ujar Azzura lalu mematikan kran air dan duduk di pinggiran teras sambil memperhatikan Udin mencuci motor gede milik Langit.
"Kali aja mau cerita, kali aja Mima bisa bantu," kata Jingga.
Azzura menghela napasnya. "Kenapa sih, Didi suka banget sama motor?"
"Tanya Didi dong. Kamu mukanya kesel gitu, jelek banget." Jingga duduk di sebelah Azzura. "Mima itu dulu kalo lagi siram tanaman gini, biasanya Didi sama Papa Fajar main basket, dulu Didi sering banget tidur di rumah."
"Didi sama Mima mah kayak teman," kata Azzura.
"Kamu sama Raka bukannya awalnya teman?"
"Hhmm ...."
"Iya, kan teman?"
"Teman dalam hal mendapatkan keuntungan," cebik Azzura.
"Hhmm ... ketauan, kenapa bisa gitu? kamu memanfaatkan Raka? biar apa? untungnya apa?"
"Gak jadi cerita deh." Azzura merajuk.
"Kan Mima nanya, untungnya apa? dalam hal apa?"
"Janji nggak marah, ya?"
"Hhmm ...."
"Tuh kan, kalo udah jawab hhmm ... pasti ntar ngomel," sungut Azzura.
"Udah cerita aja ... Mima liat situasi nanti apa perlu ngomel atau perlu marah," kata Jingga.
"Ya sama aja itu mah," kekeh Azzura.
"Jadi gimana ceritanya?"
"Mima inget waktu Zurra minta ijin ke Bromo?" tanya Azzura di jawab anggukkan oleh Jingga.
"Raka bantu Zurra untuk minta ijin sama Didi, biar Zurra bisa pergi berlibur dengan Bima," jelas Azzura.
"Hah? gimana?"
"Iya, jadi Raka bantu Zurra ijin sama Didi, Raka bilang dia yang nemenin selama di Malang tapi ternyata Zurra perginya sama Bima," ujar Azzura takut.
"Astaga." Jingga menepuk keningnya. "Jadi, kamu cuma berdua dengan Bima? Raka nggak ikut? terus nggak ada yang nemenin kamu?"
"Eh, bukan gitu ...." Azzura gugup. "Bukan Mima, tadinya memang Raka nggak ikut, tapi waktu kita udah mau jalan, tiba-tiba Raka datang, jadi ya Raka tetap ikut," kata Azzura menjauhkan tubuhnya dari Jingga.
"Tapi, Mima nggak terima, kalian udah bohongin Mima sama Didi."
__ADS_1
"Iya, tapi dengan cara itu Zurra bisa bantu Raka, Mima."
"Bantu apa?"
"Biar dia lolos tender proyek 28 M di Bali." Azzura tersenyum.
"Ya ampun." Lagi-lagi Jingga menepuk keningnya. "Didi tau?" Azzura terdiam dan hanya mengangkat kedua bahunya.
"Terus sekarang mau-nya Zurra apa?"
"Nggak tau," jawab Azzura tak bersemangat.
"Mima cuma mau kasih tau, jangan melakukan kesalahan yang nantinya menjadi boomerang untuk diri kamu sendiri. Contohnya, berteman demi keuntungan kedua belah pihak, dan akhirnya kalian saling jatuh cinta, lalu setelah jatuh cinta, marah saling ungkit, kenapa begini kenapa begitu, kayak lagu Doraemon," kekeh Jingga.
"Mima ...."
"Ayo, bantu Mima masak di dapur, kita bikin dendeng balado untuk Didi, nanti ajak Raka makan siang sekalian," ujar Jingga lalu beranjak meninggalkan Azzura yang masih duduk di sana.
*****
"Saya sudah lama sekali ingin ikut komunitas Vespa seperti ini," kata Langit. "Cuma nggak ada waktu dan teman yang bisa di ajak dengan hobi yang sama," ujarnya lagi.
"Kalo Kalla?"
"Kalla itu selepas kuliah, dia sibuk dengan pekerjaannya, hanya hobi bermain basket saja yang menurun dari saya, kalo untuk otomotif apalagi barang antik seperti ini dia kurang tertarik," jelas Langit.
"Beda, kalo Zurra itu ceria, bawel, suka semua hal apalagi photography, dia suka melihat senja persis ibunya. Kalo Kalla, lebih pendiam, nggak terlalu banyak bicara dan kadang terkesan cuek. Setelah lulus kuliah saja dia memilih tinggal sendiri di apartemen, katanya dia butuh privasi. Namanya anak muda, di larang salah nggak di larang tambah salah, yang penting masih terpantau."
"Benar," ujar Raka mengangguk angguk.
"Apa kabar ayah kamu? Saya sudah jarang sekali berkomunikasi dengan dia."
"Ayah baik, cuma sekarang lebih banyak istirahat di rumah setelah terkena serangan jantung kemarin," ujar Raka.
"Kalo sudah tua memang harus sadar diri," kekeh Langit. "Kerja sudah tidak bisa lagi seperti dulu, terlalu di forsir."
"Iya, Pak."
"Kenapa dari dulu kamu selalu panggil saya dengan sebutan Pak? padahal ayah kamu dan saya sudah lama kenal."
"Profesionalisme, Pak." Raka tersenyum.
"Panggil Om," ujar Langit beranjak dari tempat duduk mereka di pinggir taman komplek lalu menaiki skuter berwarna hijau telur asin itu. "Oh ya satu lagi, Ka."
"Apa itu Pak ... eh Om," ujar Raka gugup.
"Kalo kamu serius dengan Zurra, saya tunggu niat baik kamu, atau Zurra akan saya—"
"Saya serius, Om ... saya serius," ujar Raka bersungguh-sungguh. "Niat saya baik, secepatnya ... setelah proyek di Bali, saya berniat melamar Azzura," kata Raka lantang.
__ADS_1
"Bagus ...." Langit menyalakan mesin motornya. "Makan siang dulu di rumah, ayo."
Sudut bibir lelaki berumur 28 tahun itu mengembang, secercah harapan sudah ada di depan sana, tinggal bagaimana dia kembali meluluhkan hati Azzura.
*****
Suara denting sendok dan garpu menyentuh piring, mewarnai makan siang di kediaman Langit Kelana. Langit masih asyik bercerita tentang masa mudanya. Begitu bersemangat menceritakan bagaimana awal pertemuannya dengan Jingga hingga menceritakan Jingga sempat pergi darinya karena kesalahpahaman.
"Itulah kenapa sampai sekarang, sekecil apapun permasalahannya jangan pernah ada kata salah paham," ujar Langit.
"Tau kenapa?" Jingga menimpali.
"Kenapa, Mima?" tanya Azzura.
"Karena Didi nggak akan pernah bisa, kalo Mima jauh dari dia," kata Jingga memandangi lelaki yang sudah bertambah kerutan di wajahnya itu.
"Didi bisa gila," ujar Langit membalas tatapan mata Jingga.
"Didi udah selesai, mau ke kamar dulu. Kalian lanjutkan lah," ujar Langit beranjak dari tempat duduknya.
"Gimana Raka, enak kan dendeng balado nya?" tanya Jingga.
"Enak, Tante ... pas pedes nya," kata Raka meneguk segelas air dingin di hadapannya.
"Pas pedesnya ... yang buat Zurra loh," ujar Jingga melirik putrinya. "Tante tinggal dulu ya, mau nyusul si Om." Jingga membelai lembut rambut Azzura.
Hening terasa di ruangan itu, beberapa kali Raka meneguk air minumnya yang hanya tinggal beberapa inci lagi. Sesekali dia melempar pandangannya pada gadis yang sedari tadi hanya diam.
Azzura berdiri, menggeser tubuhnya menjauhkan kursi di belakangnya sedikit, lalu melangkah melewati Raka.
"Kalo sudah selesai—"
Belum sempat Azzura meneruskan perkataannya, pergelangan tangan gadis itu Raka tahan.
"Aku belum selesai ... belum selesai sama kamu," ujar Raka sedikit mendongakkan wajahnya menatap mata Azzura.
"Ini di rumah, aku nggak mau Mima sama Di—"
Raka menarik tangan gadis itu hingga mendekati tempat duduknya, merengkuh pinggang gadis itu kemudian menahan tengkuk leher Azzura.
"Aku belum mau selesai sama kamu," lirih Raka lalu menautkan bibirnya pada bibir Azzura.
Sentuhan lembut Raka membuat Azzura selalu terbuai hingga dia tersadar bahwa ada yang harus mereka selesaikan terlebih dahulu.
Raka melepaskan ciuman bibirnya, mengusap lembut pipi gadis itu. Menatap Azzura dengan tatapan yang sendu sambil menggelengkan kepalanya seakan memohon.
"Aku nggak mau selesai sama kamu, aku minta maaf Zurra," ujarnya lirih.
enjoy reading 😘
__ADS_1