FRIENDS WITH BENEFITS

FRIENDS WITH BENEFITS
Cerita Yang Berulang


__ADS_3

Pagi baru saja menyapa, Azzura sudah terduduk di dapur memperhatikan pembantu rumah tangga yang sudah berumur itu meracik bumbu untuk santapan tuan rumahnya pagi itu.


"Kalo Mas Raka itu seneng nya yang manis-manis, cuka empek-empek aja dia nggak suka yang pedas sekali," ujar Bik Ijah. "Kata Ibu, hari ini Mbak Zurra mau belajar bikin empek-empek?"


"Iya, aku penasaran. Ya walaupun buatnya nggak tau kapan, yang penting tau aja dulu," kekeh Azzura. "Bibik bikin sarapan apa?"


"Nasi goreng seafood kegemaran Bapak, dulu sama pacar Mas Raka, sering sekali di buatin ... eh, maaf Mbak." Bik Ijah terdiam.


"Nggak apa-apa, santai aja. Sering kesini pacarnya Raka dulu?"


"Jarang sih, tapi kadang juga tiba-tiba datang. Seringnya kalo Mas Raka bolak balik Jakarta, Mbak Jenna sering kesini ... tapi, semenjak Mas Raka memilih menetap di Jakarta Mbak Jenna nggak pernah datang lagi, tau-tau nikah ... sama duda, lagi."


"Emang kenapa Bik, kalo sama duda?"


"Kan sempat nggak di restui," kata Bik Ijah. "Kawin Lari," ujarnya dengan sedikit berbisik.


"Pasti ada alasannya kan, Bik."


"Iya, orang-orang kira dia hamil duluan, eh nyata nya nggak."


"Susah memang kita membungkam mulut-mulut orang yang nggak tau cerita sebenarnya."


"Iya, tau nya jeleknya aja." Bik Ijah tertawa.


"Bik Ijah, mau di bantuin nggak?"


"Nggak usah, Mbak ... nanti Pak Pandu sama ibu pulang, makanan sudah harus siap."


"Oh Om dan Tante pergi?"


"Iya, biasanya keliling sekitar sini aja," ujar Bik Ijah.


"Oh gitu, aku mandi dulu ya, Bik."


"Mbak Zurra nggak bangunin Mas Raka?"

__ADS_1


"Udah gede, ntar juga bangun sendiri," ujar Azzura tersenyum lalu meninggalkan Bik Ijah sendiri.


Azzura menapaki anak tangga menuju kamarnya, baru saja dia membuka pintu sudah mendapati Raka berbaring di tempat tidurnya.


"Astaga, ngapain?" Azzura menggerakkan tubuh Raka.


"Hhmm ...."


"Raka! Nanti di liat orang kamu tidur di sini."


"Biar."


"Raka!"


"Apa, Ra?"


"Keluar nggak! nanti ada yang liat ... aku juga mau mandi."


"Mandi aja, aku tungguin."


"Raka!" Tangan Azzura tidak henti menggoyang-goyangkan tubuh Raka.


"Raka!"


"Apa?!" Nada yang hampir sama terlontar dari mulut Raka.


"Lepas nggak!"


"Masih marah?"


"Nggak ... lepas!" Azzura beberapa kali menoleh ke belakang takut jika tiba-tiba Wita masuk ke kamarnya dan melihat dia dan Raka sedang timpa tindih seperti saat ini.


"Kamu masih marah, kan? aku tau ... kamu masih marah sama aku."


"Nggak, aku nggak marah. Aku serius, aku nggak marah ... aku capek marah pada hal yang selalu terulang sama," ujar Azzura lalu melepaskan tubuhnya saat pelukan Raka melonggar.

__ADS_1


Azzura duduk di tepi tempat tidur, pandangannya menatap ujung-ujung jemarinya. Raka duduk dengan posisi yang sama, menoleh pada gadis itu. Gadis yang semalam kecewa akan sikapnya.


"Aku minta maaf, Ra. Semalam aku berlebihan, seharunya memang aku nggak bersikap seperti itu."


Azzura masih terdiam, dia masih sibuk memainkan ujung-ujung kukunya. Raka menghela napasnya, dia raih tangan Azzura menggenggamnya erat.


"Aku jadi inget, ada seseorang yang bilang ke aku, kalo hubungan yang udah selesai, ya selesai aja, kayak film gitu. Mau di ulang berapa kali juga, ya tetep aja jalan ceritanya sama," kata Azzura tanpa melihat Raka.


"Dan, yang terjadi sama kamu, itu sama dengan perumpamaan tadi. Mau setiap kali kamu bertemu Jenna, entah kamu masih sayang sama dia, atau kamu merasa bersalah dengan masa lalu kalian, ya akan tetap seperti ini berulang terus .... Dan aku— aku nggak bisa ngelakuin apa-apa, kalo dari hati kamu tidak ada usaha sama sekali untuk melupakan itu."


Azzura menghela napasnya. "Jadi, aku nggak bisa berjanji jika sewaktu-waktu aku akan merasa lelah dengan ini semua, maka—"


"Jangan, Ra. Maaf aku minta maaf ... sungguh," ujar Raka memutar dagu Azzura menghadap padanya.


"Percuma, Ka. Buat apa kita udah sampai sejauh ini kalo kamu masih terpuruk sama masa lalu kamu, selalu merasa bersalah. Aku pikir itu nggak masuk akal aja."


"Harusnya kemarin saat Didi bilang ke kamu tentang niat dia menjodohkan aku dengan Rey, kamu jawab aja kalo kamu rela, nggak usah sampai seperti sekarang."


Azzura meneteskan air matanya. Perih, jelas. Perempuan mana yang tahan mencintai lelaki, namun lelaki yang dia cintai masih berkubang pada masa lalu.


"Aku ngerasa, aku nggak kuat ngejalanin—" Azzura menghapus air matanya.


"Jangan, Ra ... jangan." Raka menangkup wajah Azzura. "Aku minta maaf, aku sadar ... aku yang salah, aku plin plan, aku nggak tegas sama pendirian aku, aku mungkin udah bikin kamu kecewa, aku minta maaf, Ra." Raka menatap mata Azzura tajam. "Maafin aku," lirihnya.


"Mbak ... Mbak Zurra," seru Bik Ijah dari balik pintu kamar. "Mbak Zurra sudah di tunggu bapak sama ibu di ruang makan," sahut Bik Ijah lagi.


Azzura terkejut, dia melepaskan tangan Raka dari wajahnya, lalu menyeka air mata di pipi. Merapikan pakaiannya, kemudian Azzura membuka pintu kamar.


"Iya Bik, nanti aku turun," ujar Azzura.


"Oh iya, kalo gitu Bibik— Mbak Zurra liat Mas Raka?" tanya Bik Ijah.


"Em ... Raka—"


"Aku di sini," ujar Raka keluar dari kamar Azzura, lalu melangkah melewati Bik Ijah yang termangu melihat Raka berjalan begitu saja.

__ADS_1


"Tadi— Raka itu—" Azzura serba salah tingkah, sementara Bik Ijah hanya tersenyum dan berlalu.


enjoy reading 😘


__ADS_2