
Azzura melangkah pelan, gaun pengantin dengan model simpel membuat lekuk tubuhnya terlihat begitu indah. Senyum terukir di wajahnya, tatapan gadis itu tertuju pada lelaki berwajah manis yang berdiri menunggunya. Keduanya saling melempar senyum, perasaan yang tadinya gundah gulana, dan rasa tegang itu pun perlahan terkikis.
Raka mengulurkan tangan pada Azzura, membantunya duduk tepat di sampingnya. Tangan Raka terasa dingin, degub jantungnya berdetak begitu kencang, hanya saja dia berusaha untuk terlihat santai.
Ikrar pernikahan terucap, dengan lantang Raka mengucapkan janji pernikahan. Berjanji saling mencintai, sehidup semati, suka dan duka, saat kaya dan miskin. Selantang Raka berucap, seketika itu juga air mata itu bergulir membasahi pipi Azzura.
Suasana haru semakin terasa ketika Azzura memeluk sang Ayah. Orang yang selalu menjadi garda terdepannya di saat apapun.
"Anak gadis Didi," ucapnya dengan suara bergetar sementara matanya mulai berkaca-kaca. "Anak gadis Didi yang cerewet, sudah menjadi seorang wanita, wanita yang sempurna," ujarnya. "Didi selalu menunggu saat-saat seperti, melihat kamu berdiri dengan anggunnya, melihat sinar mata kamu yang memancarkan kebahagiaan, Nak. Jadilah yang terbaik di istana mu, jika suatu saat kamu merasa rindu, Didi selalu menunggu kamu pulang."
Air mata itu jatuh begitu saja, pelukan itu semakin erat. Ingatan masa kecil itu berlari-lari di benaknya, pelukan ini rasanya masih sama. Pelukan yang selalu Azzura rasakan sejak kecil, menunggu Langit setiap pulang dari bekerja, menunggu Langit di ambang pintu, lalu menceritakan semua yang dia lewati sepanjang hari, dan Langit mendengarkannya tanpa menjeda sedikitpun cerita itu dari bibir Azzura kecil.
"Putri kecil Didi," ucapnya dengan tubuh bergetar menangis melepaskan tanggung jawabnya selama 26 tahun.
"Didi ... Zurra sayang, Didi," isaknya.
"Air matanya sisakan untuk Mima, Nak," ujar Jingga tersenyum haru.
"Mima ...."
"Putri kecil Mima," ucap Jingga memeluk buah hatinya, tidak ada lagi yang ingin dia sampaikan, hanya ingin memeluk putrinya lebih lama.
"Kembaran gue," kata Kalla merentangkan tangannya. "Semoga bahagia," ucap Kalla memberikan ciuman di kening Azzura lalu kembali memeluknya erat.
__ADS_1
"Jadi lelaki yang bertanggung jawab, tegas dan bisa memimpin keluargamu. Pesan Ayah, jaga Azzura perlakukan dia dengan sangat baik," ujar Pandu memeluk Raka dan memberikan tepukan di pundak putra sulungnya.
"Baik, Yah."
"Ibu hanya bisa berpesan sama kamu, terkadang rumah tangga tidak akan selalu tenang, banyak kerikil yang akan menghadang kalian. Jika itu terjadi, bicarakan tanpa emosi, turunkan sedikit ego, yang ada nanti bukan kamu dan aku ... tapi kita. Kamu dan Azzura, Nak." Citra memeluk Raka memberikan kecupan pada kening Raka. "Jaga baik-baik Azzura, karena kamu sudah meminta pada orangtuanya."
"Iya, Bu."
Momen ini tidak akan pernah lagi terulang, sejatinya manusia di ciptakan untuk saling melengkapi, saling menyayangi dan mencintai. Raka menggamit tangan Azzura, merengkuh pinggang wanita yang sekarang sudah berstatus menjadi istrinya. Satu kecupan lembut dia berikan tepat pada kening Azzura, rona merah itu menghiasi wajah Azzura.
"Kamu yang kutunggu ... terimakasih karena menerima aku, dengan segala kekurangan, kelemahan dan mungkin sedikit kelebihan," ucap Raka lali tersenyum. "Mari sama-sama belajar, memupuk cinta ini, membina keluarga ini, sama-sama menjaga hati, sama-sama—"
"Merajut asa." Senyum tulus itu terpancar dari wajah Azzura. "Terimakasih juga karena ternyata kamu juga yang aku tunggu," ujar Azzura membelai pipi Raka.
"Romantis itu namanya," celetuk Wita. "Abang romantis nggak, Mbak Siti?" tanya Wita pada Siti yang berdiri tepat di sisinya.
"Nggak," jawab Siti diikuti cubitan dari Teddy yang mendarat di pinggang gadis itu. "Kan emang," cebik Siti.
"Tapi cinta ... iya, kan?"
"Pasti Mbak Siti terpaksa ya?" Kali ini Wita yang mendapatkan tepukan di kepalanya oleh Teddy.
"Tuh kan, bener ...." Wita terkekeh lalu tiba-tiba terdiam saat matanya tak sengaja menangkap tatapan mata Reyhan yang berdiri tidak jauh dari mereka.
__ADS_1
"Ya ampun, jangan bilang bakal ada judul sinetron adik ipar mantan gebetanku sekarang menjadi pacarku." Teddy lalu tergelak membayangkan judul sinetron yang dia rangkai begitu panjang.
"Apaan sih." Wita tersipu malu.
Gelak tawa mewarnai hari bahagia itu. Raka dan Azzura sibuk menyambut ucapan selamat dari para tamu undangan. Dari kejauhan Raka mendapati sekumpulan pria-pria paruh baya yang sedang tertawa renyah. Alisnya mengernyit saat melihat salah satu yang berdiri di samping mertuanya.
"Ra, itu Dean ... siapa ya, pengacara terkenal itu kan?" Tunjuknya pada lelaki berpostur tubuh tegap dengan sedikit rambut putihnya.
"Oh, Om Dean? teman Didi ... teman Didi SMA," jawab Azzura santai.
"Serius?"
"Iya, mereka ber-empat itu berteman sejak SMA, berpisah saat kuliah setelahnya berkumpul lagi ... apa ya nama geng nya, lupa aku. Kenapa sih? biasa aja ... itu Om Tony, dia pengusaha ekspedisi terbesar di Indonesia, Om Rio raja kuliner, sepak terjangnya di bidang kuliner apalagi franchise jangan di tanya, dan Om Dean ... ih waktu dia muda ganteng banget," ujar Azzura dengan mata berbinar.
"Hhmm ...." Raka mencebikkan bibirnya, Azzura tertawa melihat ekspresi wajah suaminya.
Azzura melambaikan tangan ke arah lain dan tersenyum, keluarga kecil itu datang dengan pakaian bermotif sama. Wanita dengan balutan kain jumputan Palembang itu melangkah menuju ke arah mereka sambil tersenyum.
"Tante Zurra ...." Gadis kecil dengan dua kuncir menghiasi rambutnya itu berlari memanggil nama Azzura.
**enjoy reading 😘
sabar ya next part otw 🤭**
__ADS_1