
Setelah di perbolehkan pulang Mirza kembali ke apartemen bersama Alishia. Kini sikapnya tidak sedingin dulu, mungkin sekarang Mirza sudah bisa menerima takdir yang menimpanya.
Alishia menghampiri Mirza yang tengah duduk di kursi roda seraya menatap pemandangan jalan dari balkon apartemen.
“Mas,” panggil Alishia.
Mirza menoleh dan menatap Alishia. “Ada apa?”
“Hari ini pemakaman Anggun,” ujar Alishia. Ia mendapat informasi dari Gunawan, dan memintanya untuk mencoba membujuk Mirza. Bagaimanapun Mirza masih suami sah Anggun.
Mirza terdiam cukup lama. “Jam berapa?”
Alishia tersenyum melihat respons Mirza. “Jam sepuluh, mau aku bantu bersiap-siap?” Alishia mendapat jawaban dari anggukkan Mirza, ia mendekatkan dan memosisikan dirinya di belakang kursi roda. Dengan perlahan Alishia mendorong kursi roda Mirza menuju kamar.
Sesampainya di kamar Mirza memperhatikan Alishia yang tengah sibuk memilih baju. Hati Mirza menghangat, ia merasa sangat beruntung memiliki Alishia. Istrinya itu terlalu baik, awalnya Mirza kira Alishia akan seperti Anggun yang menyalahkan Mirza atas kecelakaan ini, kalau pun bisa memilih Mirza tidak ingin kecelakaan ini terjadi.
Apalagi ia bagaikan beban untuk orang-orang tersayangnya, Mirza tidak bisa seperti dulu. Bahkan rasa percaya diri sebagai laki-laki sangat lah tipis, tapi di samping Alishia Mirza merasa semuanya masih sepeti dulu. Tidak ada yang berubah meskipun dirinya kini hanya duduk di kursi roda.
Setelah menyiapkan pakaian, Alishia meminta asisten Mirza untuk memakaikan pakaian. Karena terlalu sulit untuk Alishia menyiapkan semuanya sendiri. Kini ada pria yang standby membantu di segala aktivitas jika Mirza membutuhkan.
***
Meskipun mentari siang ini cukup cerah namun di acara pemakaman Anggun wajah para pelayat tampak sedih dengan kepergian Anggun. Bahkan tangis ibu Anggun tidak pernah berhenti.
__ADS_1
Alishia diam di belakang kursi roda Mirza, ikut menyaksikan pemakaman Anggun. Kematian Anggun memang sangat tragis, semuanya tidak menyangka Anggun akan mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri.
Alishia sedikit mual kala mengingat foto yang ia dapat dari nomor tidak di kenal berisi foto Anggun yang bersimbah darah.
Mirza yang mendengar Alishia mual, menengok ke belakang. “Kenapa?”
Alishia tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Setelah mendapat jawaban Mirza kembali fokus ke acara pemakaman.
Acara pemakaman Anggun berjalan dengan lancar. Alishia dan Mirza memilih kembali ke apartemen.
Alishia mendorong kursi roda Mirza masuk ke dalam kamar. Setelah menyimpan tas Alishia menyejajarkan tubuh setinggi Eduard. Jari lentiknya mulai membuka dasi yang di kenakan Mirza.
“Mas mau makan siang di luar, atau di rumah saja?”
Melihat raut wajah Mirza yang berubah mengingatkan Alishia jika suaminya tidak percaya diri berada di luar dengan keadaan duduk di kursi roda.
Senyum lebar Averyl di jawab anggukan kepala Mirza. Satu hal yang membuat Mirza merasa masih berguna di dunia ini adalah Averyl. Wanita itu selalu berhasil membuat Mirza merasa berguna, meskipun nyatanya ia hanya merepotkan orang-orang di sekelilingnya.
Mirza melepaskan jas yang di kenakannya. Alishia menerima jas dari Mirza lalu menaruhnya ke tempat cucian.
Alishia duduk di atas pangkuan Mirza. “Aku lelah kalau harus berjalan ke dapur,” ucap Alishia dengan wajah lesu sambil menyandarkan kepalanya ke dada Mirza.
“Kalau begitu kita pesan makanan saja,” usul Mirza.
__ADS_1
Alishia kembali duduk dengan tegak. Bibirnya mengerucut kesal. “Mas harus bisa memutar kursi rodanya sendiri.”
“Untuk apa? Ada kamu dan asisten yang siap siaga mendorong kemana pun aku mau pergi.”
Alishia mendekatkan wajahnya pada telinga Alishia. “Banyak mengeluarkan tenaga di bagian tangan bisa menimbulkan otot-otot. Aku suka pria berotot,” bisik Alishia.
“Baiklah, tapi kalau nanti tanganku pegal. Kamu yang harus pijit.”
“Itu bisa di atur, selama saldo rekeningku bertambah.”
Mirza mencubit hidung Alishia dengan sangat kencang. “Kamu berubah setelah menikah, jadi mata duitan.”
“Ayok cepat jalan Mas, perutku sudah mulai kelaparan.”
Baru satu meter Mirza bersusah-payah menggerakkan kursi rodanya akhirnya ia memilih berhenti dan menyerah. “Mas ini belum keluar dari kamar loh.”
“Kamu makan aku saja, aku tidak kuat lagi.”
“Tidak romantis,” ejek Alishia. Ia bangkit dan mulai mendorong kursi roda Mirza.
Alishia menghentikan langkahnya saat telepon genggamnya bergetar. Ia merogoh saku dan melihat sebuah pesan berisi video dari nomor yang tidak di kenal.
Alishia memutar video tersebut. Di layar tampak TKP tempat pembunuhan Anggun. Di dalam video tersebut Anggun tampak naik ke atas kursi. mengambil tali yang tampak sudah di siapkan sebelumnya.
__ADS_1
Saat tali tersebut sudah masuk dengan sempurna, tiba-tiba kursi yang menjadi pijakan Anggun terlepas begitu saja. Alishia menjadi saksi bisu yang kini mengetahui akhir kematian Anggun.
Alishia ingin segera menutup video tersebut namun tali yang melingkar di leher Anggun terlepas begitu saja. Saat tubuh Anggun ambruk ke lantai video tersebut mendekat ke arah tubuh Anggun. Yang membuat tubuh Alishia lemas seketika saat sebuah pisau menyayat bagian nadi Anggun.